Sejarah

Pengantar Wahdatul Wujud Membedah Dunia Kamal

(Tulisan ini merupakan pengantar editor untuk buku Wahdatul Wujud Membedah Dunia Kamal)

Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, yang besertanya diisi dengan seperangkat “alat” pengendali. Ada ruh, hati, nafsu, dan akal. Kirikah atau kanankah kendali itu, terserah pada manusianya. Tapi Allah dengan janji dan ancamannya telah menegaskan arah yang benar untuk diikuti.

Kelebihan yang diberikan Allah pada manusia tidak hanya sebatas laqad khaladnaa al-insaana fii ahsani taqwiimin semata. Tapi juga selain sebaik-baik bentuk itu, manusia diberi kesempatan menuju kesempurnaan (dunia kamal). Seperangkat alat tadi hanya media untuk pencapaian kesempurnaan. Seperangkat alat itu juga bisa menjadi penjerumus kepada ketaksempurnaan dan kenistaan.

Buku ini mengajak kita pada kajian kesempurnaan itu. Apa yang biasanya menjadi kajian tingkat tinggi, kini bisa dibaca di warung kopi. Semula saya menduga buku ini akan mengetengahkan perselisihan antara Syeikh Hamzah Fansuri yang membawa faham Wahdatul Wujud (wujudiah) dengan Syeikh Nuruddin Ar Raniry yang berfaham Isnainiyatul Wujud, seperti beberapa penulis sebelumnya yang larut dalam kajian itu. Tapi kali ini Kamaruzzaman Bustaman – Ahmad (selanjutnya disebut KBA) cukup jitu memposisikan diri tidak berada dalam pusaran pertentangan tersebut.

Bisa jadi juga ketika membaca judul buku ini, akan terbayang bahwa KBA akan membawa kita pada kajian kitab-kitab ulama-ulama tasawuf zaman dulu, semisal Mir'atul Mukmin (akhlak dan llmu tasawuf), Mir'atul Muhaqiqin (tarikat dan wahdatul wujud) karya Syeikh Syamsuddin Sumatrani. Atau kita menduga akan dibawa kedalam bahasan kitab-kitabnya Syeikh Hamzah Fansuri semisal Asyrabul 'Asyiqin Wa Zinatul Muwahhidin (berisi tentang filsafat, membahas tarikat, syariat, hakikat dan ma'rifat), Asrarul Arifin Fi Ilmis Suluk Wat Tauhid (akhlak dan ketuhanan), Al-Muntahi (kandungan ajaran wahdatul wujud yang diungkapkan dalam bentuk puisi), dan Ruba'i Hamzah Fansuri (berbentuk puisi yang merupakan inti ajaran wahdatul wujud).

Bayangan lainnya ketika membaca judul buku ini adalah, KBA akan mempertemukan kita dengan kupasan Syeikh Nurruddin Ar Raniry dalam Tabyan fi ma’rifat al-Adya, Ma’a al-hayat Li al-Mamat, Hujjah as-Siddiq Lidaf az-Zindik sebagai jawaban terhadap isi kitab Al-Munthi karya Hamzah Fansuri yang ditentangnya.

Namun sekali lagi, KBA memilih jalan aman untuk tak terlibat dalam kajian “pertikaian” itu. Buku ini dengan bahasa yang mengalir mencoba mengubah cara pandang kita terhadap wahdatul wujud. Ia mengajak kita untuk faham bahwa siapa saja bisa menuju pada kesempurnaan (dunia kamal) dengan potensi dalam jiwa dan raganya. Dalam buku ini seolah KBA berpesan hanya dengan Allah manusia bisa sampai pada kesempurnaan. Janganlah berpaling dari taqwa, apalagi meninggalkannya dalam bisikan. Karena sesungguhnya para pembisik itu adalah musuh segala musuh yang berjalan dalam aliran darah kita. Itulah syaitan.

KBA dalam istilahnya mengajak kita untuk menatap langit sambil melihat bumi, serta mengenal diri sendiri dengan keakuan dan kedirian sebagai hamba. Ia juga mencoba menganalisa antara manusia biasa dengan manusia luar biasa. Tidaklah mudah menuju kadar luar biasa itu. Pun demikian, tantangan ini merupakan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang tidak biasa. Tidak ada yang lebih bernilai bagi manusia sebagai manusia, selain apa yang didapatnya dengan susah payah. Syaitan selalu hadir menjadi penghalang bagi siapa saja yang berusaha menuju kesempurnaan.

Kita harus benar-benar mampu menyingkirkan syaitan dan kaumnya di jalan itu. Bagaimana menyingkirkan mereka? Tentunya harus terlebih dahulu mengenal lebih jauh seluk beluk mereka. Kita harus mampu menelanjangi syaitan agar ia tak menjadi penghalang. Inna alsysyaythaana lakum 'aduwwun faittakhidzuuhu 'aduwwan innamaa yad'uu hizbahu liyakuunuu min ash-haabi alssa'iiri. “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir : 6).

Al Imam Ibrahim Bin Muhammad Bin Muflih al Maqdisi al Hambali telah menelanjangi syaitan dalam kitab Mashaibul Insan Min Makaidisy Syaitan. Dalam kitab ini dengan lugas ia mempretelir seluk beluk dan tabiat syaitan. Maka dengan mengetahui musuh, akan mudah membersihkan jalan menuju dunia kamal.

Dalam mukaddimah kitab itu, ia mengajak kita untuk mengejar nasib baik sebelum matahari kehidupan terbenam, melepaskan baju riya dan tamak, serta cinta dunia. Berbuatlah untuk mencari ridha Allah. Perbanyak mengamalkan apa yang kita ketahui, karena Allah akan mengajarkan ilmu-ilmu yang belum diketahui kepada orang yang mengamalkan ilmu-ilmu-Nya.

Nafsu adalah lawan selanjutnya dalam proses menuju kesempurnaan. Pada saat hati kosong syaitan membisikkan padanya perbuatan dosa, lalu dibuatlah cara melakukan dosa tersebut pada jiwanya, sehingga dia tertarik dan bernafsu, kemudian tergoda dan berkehendak untuk mewujudkannya. Akhirnya ia lupa akan bahaya dan akibat buruk yang akan terjadi. Saat itulah jalan menuju kesempurnaan terhalang.

Menariknya, buku ini membawa kita pada “perkawinan” Timur dan Barat. KBA dengan jitu mampu menyanding sufi dengan filsafat dan ragam disiplin ilmu lainnya dalam buku ini, seperti antara ilmu sosial dengan ilmu ke-Islam-an, sosiologi dengan antropologi serta fenomenologi dalam kajian tentang manusia dan kemanusiaannya. Ia mengajak kita untuk menggali misteri dalam diri manusia untuk lebih mengenal diri sendiri.

Dalam hal ini KBA telah mampu mengaduk ragam disiplin ilmu untuk kajian dunia kesempurnaan. Cara seperti ini telah dilakukan oleh ulama-ulama sebelumnya dalam berbagai karya mereka. Syech A. Bakar Al-Juzairie misalnya yang mampu menghimpun hampir 40 cabang ilmu dalam karyanya Al-Illm wa Al-‘Ulamaa (Ilmu dan Ulama). Hal yang sama juga dilakukan As-Sakkadi dan Al-Khawarizmi dalam kitab Miftaah al-‘Uluum, serta As-Suyuthi dalam kitabnya Imamad – Dirayaah.

KBA telah mampu menyederhanakan pembahasan objek kajiannya ini dari beragam sudut pandang pengetahuannya. Bahasa yang mengalir membuat buku ini lebih ringat untuk dicerna, meski objek kajiannya bukanlah sesuatu yang ringan.

Akhir kalam, semoga buku ini menjadi mutiara hikmah yang mampu mengangkat derajat pemiliknya dengan ilmu yang dikandungnya, karena ilmu adalah kemuliaan dan kebodohan merupakan kenistaan. yu/tii alhikmata man yasyaau waman yu/ta alhikmata faqad uutiya khayran katsiiran wamaa yadzdzakkaru illaa uluu al-albaabi. “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al-Baqarah : 269)


Share this post

Post a comment

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post