Friday, November 4, 2011 6:23 AM

Etos Politik

Memberi uang dan kekuasaan kepada pemerintah, sama halnya dengan memberi wiski dan kunci mobil pada seorang remaja. Apa yang dikatakan oleh PJ O Rourke tersebut dalam Parliament of Whores, sedang terjadi di Aceh.

Konflik seputar Pemilukada telah menyeret eksekutif dan legislatif Aceh berada pada sengketa politik yang “memuakkan”. Dibutuhkan etos politik keacehan untuk menyelesaikannya. Berbagai kepentingan ikut bermain dalam konflik ini, yang kemudian menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan oleh keduanya (eksekutif dan legislatif) lebih kental nuansa politisnya tinimbang menyahuti keinginan rakyat banyak.

Hal ini selaras betul dengan apa yang disampaikan oleh Peter L Berge pada tahun 1974, yang mengatakan bahwa kebijaksanaan politik tidak dibuat dengan memahami akar masalah yang sesungguhnya, lantaran para pengambil kebijakan memang tidak memahami sosiologi masalah, yakni peta-peta sosial di seputar masalah. Di Aceh lebih dari itu, lebih kepada kepentingan kelompok dengan egonya masing-masing.

Eep Saefulloh Fatah pun kemudian menyebutkan hal itu sebagai bentuk ketidak pahaman pada sosiologi masalah. Hal itulah yang kemudian membuat masalah dan pemecah masalah menjadi dua hal yang berjauhan, bahkan tak berkaitan sama sekali. Kalau memang kepentingan rakyat yang didahulukan, maka tak perlu ada sengketa Pemilukada, kedua pihak harus bersikap arif untuk menyimpan ego kelompok dan mendahulukan kepentingan rakyat. Apapun ceritanya, kedamaian Aceh masih sangat berharga untuk dikacaukan dengan politik praktis jelang Pemilukada.



Kisruh Pemilukada di Aceh ini tidak lepas dari berbagai kekeliruan para penguasa yang mengambil kebijaksanaan tanpa mengerti sepenuhnya permasalahan yang dihadapi. Inilah yang oleh Robert Barn dikatakan sebagai gagasan bodoh. Penyair Scotlandia yang hidup pada abat 18 tersebut (1759-1796) dalam puisinya berjudul “To a Louse” menulis, “O wat some powr’r the giftie gleus, to see oursels as other seeus! It wat frae many a blunder freeus, and foolish nation.”

Katanya, jika kita bisa melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita. Kita bakal terbebas dari banyak kekeliruan dan gagasan-gagasan bodoh. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan harus mampu melihat kemampuan diri sendiri sebagai suatu entitas bangsa, dan mengaplikasikan kebijakan tersebut sesuai dengan keinginan rakyat yang dimaksud dalam kebijakannya itu.

Kita tentu mengharapkan agar eksekutif dan legislatif Aceh bisa bersikap dewasa, bukan malah terus larus dalam sengketa tak berujung. Pun demikian, mempertemukan sepenuhnya keinginan dua pihak yang sedang bersengketa tidaklah mudah. Selain banyak hal yang menjadi pertimbangan, berbagai kepentingan pun turut bermain. Tapi lupakan itu. Satu hal yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana membangkitkan etos politik keacehan, yang benar-benar memikirkan kepentingan jangka panjang untuk Aceh.

Etos kadang juga muncul dari mitos. Lihatlah, bagaimana Yahudi membangun jaringannya dalam perpolitikan dunia dengan lima kata yang menjadi etos politik mereka. Orang-orang Yahudi berpegang pada kalimat we are the chosen people, dari sinilah etos politik mereka bangkit, karena menganggap dirinya sebagai orang-orang pilihan. Mereka menyatu dalam mitos itu untuk kepentingan politiknya.

Hal yang sama juga berlaku di Jerman. Mereka mengatakan Deutc uberaless, ras Aria (rasnya bangsa Jerman) adalah ras tertinggi. Amerika lain lagi, mereka menganut etos nasionalisme yang sangat besar pengaruhnya dalam pembangunan negara tersebut menjadi adi daya. Falsafah mereka dalam membangun Amerika adalah, We keep America on top of the word.

Aceh juga memiliki banyak falsafah yang menjadi etos politik pemerintahan sejak zaman dahulu. Melalui kearifan hadih maja kita diajarkan untuk bisa bersikap yang patut dalam segala hal, termasuk dalam menyelesaikan sengketa, sangsui beuneuéng tawoë bak pruét, karu buét tawoë bak punca. Untuk menyelesaikan konflik regulasi Pemilukada ini, baik eksekutif maupun legislatif harus sama-sama kembali ke induk persoalan untuk mencari penyelesaiannya secara terhormat.

Kedua pihak harus sama-sama bisa mundur selangkah agar mencapai titik temu, suröt lhèi langkah tasuét tupi, mangat geuturi ngat samporeuna. Kalau itu dilakukan, maka tak ada pihak yang kalah dan menang, sama-sama sejajar bahu di dalamnya, ibarat kata tamsè tumpoë ngon bulukat, miseuè meuseukat ngôn asoë kaya, serasi tak bisa dipisahkan.

Namun, untuk menuju ke sana, baik elsekutif maupun legislatif Aceh harus bercermin dulu melihat diri sendiri, tidak di kaca yang retak, agar tidak terjebak pada “pendewaan” kekuasaan. Meski berat itu harus dilakukan demi kelangsungan perdamaian. Walaupun susah untuk melepaskan kekuasaan yang sudah di tangan, karena kata Milan Kudera, penulis besar Cheko dalam novelnya, “The Book of Lougther abd Forgetting” melalui tokoh Mirek ia berkata. “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawean lupa.”

Malah Jhon Adam, Presiden ke dua Amerika berpendapat lebih radikal lagi. Katanya, semua manusia adalah monster yang serakah ketika nafsu gagal dijaga. Pun demikian, mari sama-sama merawat damai Aceh ini dengan tindakan nyata, jangan pasif dan terlena dalam kepentingan sesaat. Publikis Syrus pernah berkata agar kita jangan menggatungkan diri pada keberuntungan, melainkan pada tindakan.

Kemudian, mari sama-sama kita berbuat, sambil menghayati apa yang pernah dikatakan oleh Muhammad Hatta. “Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku, ia berkembang dengan amal, dan itu adalah amalku.” Mari membangun Aceh dengan amal. Kalau eksekutif dan legislatif Aceh tidak mau melakukan itu, maka saya hanya bisa berkata, umông meuateuéng nanggroë meusyaraq, pakôn buét sinyak meubeualaga?[]

Selengkapnya

Tuesday, October 4, 2011 12:11 AM

Riwayat Para Pendiri Negeri Idi

Tak banyak literatur tentang Negeri Idi yang kini menjadi pusat ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Tulisan H M Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara sedikit memberi jawaban.

Menurut H M Zainuddin, riwajat negeri Idi di zaman purbakala sangat gelap. Pada masa dahulu kemungkinan Idi masuk ke daerah Kerajaan Peureulak. Penghuni kawasan Idi tempo dulu hanya kaum nelayan saja.

Kemudian dalam buku, Singa Atjeh, yang juga karya H M Zainuddin (1957) disebutkan bahwa nama Idi bermula dari kata “Ma ie dhiet” yang kemudian dalam perlembagannya tinggal disebut Idi saja.

Selain itu kata H M Zainuddin, dalam riwayat perjalanan Marco Polo dalam abad XIII antara negeri Peureulak dan Pasai, terdapat satu bandar yang bernama Basma. Tetapi tidak diketahui yang mana negeri itu sekarang.

Setelah dibuka bandar Pulau Pinang oleh Raffles dalam abad XIX, kira-kira sejak tahun 1805, Idi jadi ramai karena kedudukan Kuala Idi di selat Melaka setentang dengan teluk Pulau Pinang dan Seberang Perai, maka kemajuan hubungan lalu lintas laut terjadi. Keramaian semakin bertambah setelah Terusan Suez (Suez Kanal) dalam tahun 1869, maka bandar Pulau Pinang jang telah mendjadi pusat Pasar dagang antara bandar-bandar kecil di Tanah Atjeh (Sumatera). Hasil-hasil lada diekspor dari pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir Aceh ke Pulau Pinang dan Singapura dengan kapal-kapal dari perkongsian Inggris dan Belanda.



Dalam perkembangan pelayaran inilah negeri Idi dan sekitarnya yang dahulu tidak begitu dikenal kemudian menjadi daerah singgahan kapal-kapal untuk mengangkut lada, sehingga pelabuhan Kuala Idi menjadi maju.

Mereka yang Membangun Idi
Masih menurut H M Zainuddin, sebuah sumber yangdidaptakannya yakni sahibul hikayat T Syahbandar Suleiman, ada beberapa orang yang berperang membangun Kuala Idi menjadi pelabuhan yang maju.

Ketika perdagangan rempah-rempah sudah dilakukan melalui Kuala Idi ke semenanjung Malaya, datang beberapa orang yang mengkoordinir perdagangan tersebut, diantaranya : Panglima Perang Nyak Sim dari Blang Me, Teuku Itam yang dikenal sebagai Panglima Muda Sikeling, dan Tok Nale dari Gampong Blang.

Awalnya meraka datang dengan perahu membawa puat untuk mencari ikan di perairan Idi. Tapi dari usaha mencari ikan saja tidak cukup, mereka kemudian membuka Seuneubok untuk menaman berbagai jenis tanaman yang laku dijual ke luar negeri.

Panglima Perang Njak Sim mendjadi pemimpin rombongan itu, ia pada mulanya memegang jabatan Panglima Besar dari T. Muda Njak Beueng Uleebalang Blang Me.
Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah T Chik Idi Daudsjah sekarang.

Panglima Muda Sikeling, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi sekarang. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Seukuci. Lalu T Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.

Setelah itu kemudian datang pula Said Idrus yang membawa orang-orang dari Aceh Besar ke Idi juga untuk membuka kebun. Diikuti pula oleh orang-orang dari Pidie yang dibawa oleh T Bukit Batee, dan orang-orang dari Pasai yang dibawa oleh T Itam yang membuka ladang di Blang Seukuci.

Dinamani BlangSeukuci karena waktu mulai menebas hutan untuk membuka ladang, T Itam bermimpi melihat sebuh guci dalam blang (sawah-red). Guci itu kemudian ditemukannya terkubur adlam tanah, tapi ketika hendak diambil guci itu hilang masuk ke dalam tanah.

Saat ramai-ramai membuka perkebunan tersebut, Panglima Nyak Sim pernah disambar halilintar, tapi ia tidak apa-apa. Belakangan diketahui kalau dia memiliki ilmu kebal. Setelah tak mempan disambar petir, namanya mulai diperbincangkan, hingga ia menjadi terkenal dan disegani banyak orang. Pembukaan perkebunan dan ladang itu membuat kawasan Idi bertambah ramai. Apalagi setelah orang-orang dari negeri Pidie, Pasai, Peusangan dan Aceh Besar kembali datang.

Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion sekarang. Ladang juga dibukanya mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukana lahan itu dilakukan olej T Cut Lambo ayah dari T Usman Idi Cut. Kemudia di bagian utara, perkebunan dibuka oleh T Digureb ayah dari Banta Giureb. Lalu ke selayan Dama Pulo dibuka lahan oleh Thk Paya Raman.

Setelah banyak orang yang membuka perkebunan, maka diadakanlah musyawarah Seuneubok, yaitu mufakatnya para peladang untuk mementukan jenis tanaman apa yang harus ditaman serentak yang bernilai jual tinggi ke luar negeri. Saat itu diputuskan untuk menaman lada. Karena tak ada bibit lada di Idi maka diutuslah beberapa orang untuk pergi ke negeri Pidie dan Aceh Besar mencari bibit lada.

Beberapa tahun kemudian, Idi menjadi salah satu daerah penghasil lada di Aceh. Orang-orang dari luar Idi semakin banyak yang datang, hingga membuat daerah itu menjadi ramai. Apalagi setelah lada dari Idi diekspor ke Pulau Pinang, Malaysia.

Karena Idi semakin maju, maka Uleebalang Peureulak jadi marah karena Kuala Idi merupakan batas kiri masuk ke negeri Peureulak dan bagian kanannya menjadi pintu masuk ke Julok, maka terjadilah peperangan. Uleebalang Julok dan Peureulak sama-sama berhasrat untuk menguasai Idi yang sudah maju dalam bidang perkebunan.

Tapi saat itu T Panglima Prang Nyak Sim sudah memiliki banyak pengikut, sehingga mampu melawan seranandari Julok dan Peureulak. Usai peperangan itu didirikanlah Keude Idi sebagai pusat perdagangan, yang sekarang menjadi Kota Idi ibu kota Kabupaten Aceh Timur.

Sementara orang-orang lain seperti Panglima Kaum Blang Kabu dari Blang Me, T mlaim Suloe yang berasal dari Pidie, diangkat menajdi penasehat T Panglima Prang Nyak Sim karena kecakapannya.

Menjalin Hubungan dengan Sulthan Aceh
Ketika T Panglima Prang Nyak Sim meninggal dunia, ia digantikan oleh anaknya T Ben Guci, kemudian adiknya, T Panglima Banta diangkat menjadi panglima perang. Untuk menjamim kemanan di Idi dari serangan ulebalang sekitarnya, mereka sepakat untuk menjalin hubungan langsung dengan Sulthan Aceh.

Beberapa orang diutus untuk menghadap Sultan Aceh. Delegasi dari Idi itu terdiri dari T Panglima Blang Kabu, T Malim Suloe, T Itam Blang Seukuci, T Tihi Ben Guci dan ibunya H Ma Rampang asal Buloh. Delegasi ini diantar oleh Panglima Perang Besar T Muda Cut dari Meureudu sampai dipertemukan dengan Sultah Aceh, Sulthan Ibrahim Mansur Syah (1841 – 1870 M).

Oelh Sulth Aceh kemudian mengangkat T Chik Ben Guci menjadi Uleebalang Idi dan kepadanya diberikan cap sikureung, sebagai stempel sah kerajaan. Ketika mereke kembali ke Idi dan itu diketahui oleh Ulebalang Julok dan Simpang Ulim, kedua uleebalang itu bertambah marah, karena Idi sudah menjadi daerah ulebalang tersendiri. Maka perang pun kembali terjadi.

Untuk menghadapi serangan dari dua uleebalang tersebut, T Chik Ben Guci menjalin hubungan dengan uleebalang Blang Me, T Muda Angkasah. Atas anjuran T Muda Angkasah pada akhir tahun 1871 dikirim beberapa orang ke Riau untuk membangun kerja sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda yang sudah berkuasa di sana. Utusan yang dikirim ke Riau itu adalah Tok Pang Kaum Kabu, T Malim Suloe, T Itam. T Muda Angkasah sendiri menjadi pimpinan rombongan itu.

Di Riau mereka mengikat tali persahabatan dengan Pemerintah Belanda. Bebrapa lama sesudah itu datanglah orang Belanda ke Idi dan mendirikan benteng di Kuala pada 17 Mei 1875 memakai bendera Belanda. Waktu itu Idi bertambah ramai, karena terlalu banjak penghasilan lada, dengan kapal-kapal : Pigu, Hok Kwaton dan yang mengangkut lada ke Pulau Pinang.

Pada satu waktu terdjadilah perang Gureb atau perang T. Di Bukit, yang bermula dari perselisihan kecil antara orang-orang Pasai dengan Aceh Besar. Orang Aceh Besar mengatakan sama orang Pasai : Pasai sikin brok: dan karena itu orang Pasai marah lalu masuk ke kedai-kedai, siapa saja yang ditemuia disuruh sebut breueh, kalau tidak bisa sebut breueh lalu diamuk dan akibatnja banyak orang Aceh Besar yang meniggal, karena logat bicaranya orang Aceh Besar mudah ditandai.

Hal itu membuat T. Paya Uleebalang Tanjung Seumanto marah dan menuntut balas, maka terdjadi perang antara T Paya dan T. Chik Idi. T Chik Idi membuat Kota di bukit Leusong. Kapal (seukuna ) T. Paja Raman yang bernama Djikasi dan Seukana Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar.

Mula-mula T. Paja Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah T. Paya Raman, maka negeri Tandjung “Seumanto” diberikan kepada T. Muda Angkasah. Kemudian benteng Belanda di Kuala dipindahkan ke Benteng Arun juga ditempatkan rumah dan kantor Controleur.

Bandar Idi makin bertambah ramai karena banyak hasil lada dan Gouvernemnt Belanda, banyak memeberi bantuan kepada T. Chik Ben Guci, sehingga diberikan satu tanda kehormatan Nederlandsche Leeauw. Hasil pelabuhan waktu itu dibahagi dua dengan T. Chik Idi.

Meninggalnya T. Chik Ben Gutji, diangkat anaknya yang tertua T. Chik Hasan Ibrahim dan selama T. Chik Hasan Ibrahim mendjadi Uleebalang Idi, pengahasilan lada makin bertambah banjak sampai 5000 kojan, (± 200.000 pikul), karena T. Mat Said yang datang dari Meulaboh sudah memasukkan banjak orang, jaitu 186 Peutua dengan hutang pangkal sendiri tatkala masih hidup T. Chik Ben Gutji. Sesudah T. Hasan Brahim pindah ke Pulau Penang diangkat adiknja T. Chik Muhammad Hanafiah sebagai pengantinya.[iskandar Norman]

Selengkapnya

Sunday, September 18, 2011 11:51 PM

Kuta Reh


Pembantaian di Kuta Reh kembali diperbincangkan di luar negeri. Sebagaimana dikatakan Asnawi Ali, masyarakat Aceh di Swedia. Mereka akan menuntut pemerintah Belanda terkait pembantaan paling mengerikan tersebut [Harian Aceh, 18 September 2011]

Banyak hal yang membuat pembantaian itu terjadi, mulai dari kelelahan para marsose, nafsu biologis yang tak terpenuhi, perselingkuhan di antara para istri marsose, hingga silang membunuh antara tentara elit Belanda itu pasa masa tesrebut. Hal itu diperparah dengan serangan dadakan dari pejuang Aceh yang tak mampu dihadapi. H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh” mengambarkan para pelaku penyerangan itu sebagai “hantu-hantu di Blang”.

Menurut Asnawi Ali, pembantaian pada 14 Juni 1904 itu membuat 2.992 rakyat Aceh di Gayo tewas, 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Tapi menurut catatan Kempes dan Zentgraaff korban pembantaian itu mencapai 4.000 orang. Usaha untuk menggugat pemerintah Belanda tersebut sangat terbantu dengan adanya pengakuan-pengakuan dari pihak Belanda sendiri tentang kekejaman Belanda di Kuta Reh, seperti Zentgraaff dan Kempes. Ditambah lagi dengan dukungan foto-foto setelah pembantaian terjadi. Salah satunya adalah foto dengan keterangan “hier werd iets groots verricht” yang menunjukkan ratusan marsose berdiri di salah satu sisi benteng Kuta Reh dengan gelimpangan ratusan mayat di dalamnya.



Kempes juga mendokumentasikan sisi lain di Benteng Kuta Reh dengan mayat-mayat bergelimpangan di dekat sebuah lubang. Yang paling sadis adalah foto Kempes yang memotret hampir seluruh isi benteng Kuta Reh dengan bangunan-bangunan di dalamnya di bawah pohon durian. Sekeliling bangunan itu sudah digali dan mayat-mayat di susun di dalam galian tersebut. Mungkin Kempes mendokumentasikannya ketika mayat-mayat itu hendak dikuburkan.

Foto lainnya menunjukkan seorang pria renta dengan perempuan dan anak-anak tergeletak tak bernyawa di dekat bangunan krong (tempat penyimpanan padi) dan sebuah rumah. Melalui foto-foto itu, Kempes sudah lebih dari cukup bercerita tentang kekajaman Belanda di Kuta Reh.

Pembantaian di Kuta Reh itu bermula dari keinginan Gubernur Militer Belanda di Aceh, Van Huetsz untuk menaklukkan seluruh Aceh seteplah raja Aceh Sulthan Muhammad Daud Syah menyerah pada 1903. Ia memerintahkan Van Daalen untuk menyerang daerah Gayo Lues pada 1904.

Perjalanan menuju ke Gayo tidaklah mudah. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, mereka selalu di serang oleh pejuang Aceh di beberapa tempat, ditambah lagi mereka harus naik turun bukit. Untuk menghibur para marsose itu, Van Huetsz merasa perlu mengirim istri-istri mereka ke sana melalui Kuala Simpang. Para wanita itu dikirim oleh Rammerswall, kepala depot 800 pekerja paksa di Kuala Simpang.

Pengiriman itu sangat merepotkan Rammerswall. Dari Kuala Simpang, transportasi barisan perempuan-perempuan itu dilakukan dengan naik perahu sampai ke Kalue. Dari sana para pekerja paksa mengangkut barang-barang mereka sampai ke Pinding, terus melewati Gunung Burni Gajah. Namun, di tengah perjalanan melelahkan itu, sebelum sampai ke Blangkejeren banyak istri marsose yang memilih kembali ke Langsa.

Sementara perempuan-perempuan yang melanjutkan perjalanannya ke Blangkejeren merupakan perempuan-perempuan tua Ambon yang oleh Zentgraaff digambarkan sebagai perempuan-perempuan kasar jenis “tartar” yang berwajah kusam yang tidak lagi menggoda, bahkan bagi pengawal rombongan itu sekalipun. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru, hingga menimbulkan perselingkuhan antara marsose dengan istri kawannya. Banyak marsose yang prustasi hingga menembak komandan dan kawan sepasukannya sendiri.

Keberingasan marsose itu berdampak pada penyerangan-penyerangan selanjutnya ke berbagai daerah operasi. Mereka menjadi pasukan yang di luar kendali dan bertindak brutal. Mulai dari penyerangan ke Gayo Laut, Gayo Deret, sampai kemudian Van Daalen dan pasukannya pada 9 Maret 1904 menyerang Gampong Kela sebuah daerah terpencl di Gayo Lues pada masa itu.

Mulai dari kampung itulah penaklukan demi penaklukan dilakukan Van Daalen, dimulai dari benteng pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904), Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904).

Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.

Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten).

Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.

Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.[]

Selengkapnya

Saturday, July 30, 2011 5:30 AM

Meugang Tak Sekedar Tradisi

Perayaan meugang di Aceh menarik perhatian berbagai pihak untuk mengupasnya. Selain unik dan religius juga mengandung nilai kebersamaan. Sebuah situs masyarakat melayu www.melayuonline.com malah mengupas nilai-nilai yang terkandung dalam tradis meugang.

Dalam situs tersebut disebutkan, tradisi meugang tidak hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi, melainkan juga memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh.

Pelaksanaan tradisi Meugang memang bermula dari upaya masyarakat Aceh untuk merayakan datangnya bulan puasa dan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi masyarakat muslim pada umumnya, datangnya bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh.



Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban.

Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu.

Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi. Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.

Tradisi meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.

Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya, sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.

Tradisi meugang juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya.[]

Selengkapnya

Friday, July 15, 2011 5:30 AM

Keuneunong, Almanak Aceh

Dalam membagi bulan, musim dan iklim, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu mempunyai penanggalan tersendiri, yang disebut dengan keunong atau keuneunong.

Dalam penanggalan Aceh, ada dua belas keunong selama satu tahun. Sama dengan jumlah bulan dalam setahun menurut penanggalan masehi. Tapi, penanggalan keunong tidak sama dengan tahun masehi, baik jumlah hari maupun perhitungannya.

Penanggalan menurut keunong ini sudah berlaku sejak zaman dahulu di Aceh. Bahkan sebelum kerajaan Aceh terbentuk–sebelumnya hanya ada kerajaan-kerajaan kecil, seperti kerajaaan Lamuri di Aceh Besar sekarang, Kerajaan Daya di Meureuhom Daya, Kerajaan Pohela di Peureulak, Kerajaan Seroja di Aceh Timur sekarang, dan berbagai kerajaan lainnya.

Ketika Kerajaan Aceh Darussalam kuat di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Kerajaan-kerajaan itu disatukan menjadi federasi dari kerajaan Aceh. Rangkaian keunong yang semuanya ganjil, dari dua puluh tiga sampai satu. Hal ini lebih kepada tradisi untuk membedakan dengan penanggalan-penanggalan di luar Islam. Dan, Allah lebih menyukai bilangan ganjil.



Menurut Snouck Hurgronje dalam bukunya “The Atjeher” terjemahan NG Singarimbun (Eds), terbitan Yayasan Soko Guru, 1985. Snouck menyatakan bahwa keunong diawali dengan keunong dua ploh lhee (23 Jumadil Akhir, menurut tahun Hijriah). Pada keunong ini, biasanya padi-padi di sawah mulai menguning, banyak yang rebah dan menjadi puso karena angin timur yang sangat kencang.

Bahkan mengenai hal ini dalam sebuah idiom pun orang Aceh sering menyebutkan musem timu jak tarek pukat, musem barat jak meuniaga.Yang artinya musim timur (angin timur) lebih baik pergi melaut, musim barat (angin barat) lebih baik untuk berdagang, karena pada musim timur ombak tidak ganas. Sementara pada musim barat ombaknya ganas dan sering datangnya badai.

Keunong selanjutnya adalah keunoeng dua ploh sa (21 Ra’jab). Pada musim ini biasanya padi di sawah mulai panen, atau khanduri blang (kenduri turun ke sawah) untuk memulai penyemaian benih. Dekade ini sering juga disebut sebagai musem luah blang dalam artian sawah-sawah sudah selesai panen.

Kemudian keunong sikureung blah, biasanya keadaan iklimnya hampir sama dengan keunong dua ploh sa. Para petani mulai turun ke sawah. Selanjutnya keunong tujoh blah, pada dekade ini awal bertiupnya angin barat. Mengawali musim ini, para nelayan biasanya mengadakan khanduri laot (kenduri turun ke laut) karena pada musim barat ombak tidak besar.

Lalu keunong limong blah. Pada musim ini sawah-sawah sudah siap digarap dan siap tanam dan di laut mulai ada badai. Pada pertengahan bulan Zulkaidah akan beralih ke keunoeng lhee blah, berlanjut ke keunong siblah dan terus ke keunong sikureung. Suatu hal yang sangat ganjil, mungkin juga fenomena alam, keunong sikureung ini menurut masyarakat pedesan, ditandai dengan banyaknya keureungkong (ketam darat) yang keluar dari lubangnya (keureungkong woe), entah sejauh mana korelasi antara keunong sikureung ini dengan keureungkong woe, tapi yang jelas pada dekade ini, suhu sangat panas.

Keunong tujoh lain lagi, pada dekade ini, ditandai dengan banyaknya anjing yang menggonggong di malam hari. Karena biasanya jatuh pada bulan Safar, pada keunong tujoh biasanya tidak diadakan acara-acara pesta pernikahan, khitanan dan lain sebagainya, karena dianggap bulan yang naas.

Pada akhir bulan ini biasanya masyarakat akan berbondong-bondong pergi untuk mandi ke laut, manoe rabu abeh istilahnya (mandi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar untuk membuang sial). Tapi tradisi tersebut kini sudah agak hilang, karena ada suatu pendapat yang katanya bertentangan dengan ajaran Islam, sebab kemalangan itu merupakan ketentuan dalam qada dan qadar, itu merupakan rahasia Tuhan yang tidak diketahui hamba, bukan terletak pada bulan-bulan tertentu.

Kemudian keunong limong, ditandai dengan mulai bertiupnya angin timur dan para nelayan mulai melaut kembali. Terus beralih ke keunong lhee. Terakhir keunong sa, pada musim ini, hujan sangat lebat dan cangguek poe (katak) akan bersuara di setiap kubangan. Bahkan kaitan antara keunong sa dengan katak ini diabadikan oleh masyarakat Aceh dalam sebuah teka-teki. Ta ek u gle ta koh bak jeumeureu, keudeh ta sadeu bak kayee raya, blet kilat khum geulanteu, kabeh meusiseu lam blang raya. Kaitan tersebut ada dalam jawaban teka-teki di atas, Bak ta jak-jak meuteumei situek, bak ta duek-duek ta cop keu tima, phop le di chen phop le di duek, nyan keuh cangguek musem keunong sa.

Para petani dan nelayan tradisional Aceh pun sampai kini memakai penanggalan tersebut sebagai dasar perkiraan melaut dan bertani. Hal ini seperti terungkap dalam hadih maja Keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung rata-rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba. Maksudnya pada keunoeng siblah baiknya benih padi disemai agak jarang sedikit. Keunong sikureung ditabur rata. Keunong tujoh¸ juga masih bisa, keunoeng limoeng itu sudah musim datangnya ulat daun.

Selain keunong ada juga penanggalan Aceh yang berdasarkan tahun Hijriah. Bisa dikatakan penanggalan ini adalah penanggalan Arab yang di-Aceh-kan, yaitu; Bulan Muharram, menurut penanggalan Arab dalam penaggalan Aceh disebut Asan-Usen, hal ini diambil dari nama cucu nabi Hasan dan Husen. Bulan Safar menurut tahun Hijriah di Aceh disebut Safa. Bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Aceh disebut buleun Molot, diambil dari kata maulud yakni memperingati hari lahirnya nabi Muhammad. SAW.

Rabiul Akhir, dalam bahasa Aceh disebut adoe molot atau rabi’oy akhe. Jumadil Awal dalam penanggalan Aceh disebut molot seuneulheuh. Dulunya para pemelihara barang antik di Aceh, juga menamakan bulan ini dengan madika pho, yang bearti “yang pertama bebesa”.

Kemudian Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriah, dalam bahasa Aceh disebut buleun khanduri boh kayee yaitu kenduri atau persembahan buah-buahan secara keagamaan. Bulan Rajab tahun Hijriah, dalam penanggalan Aceh disebut buleun khanduri apam, yaitu bulan kenduri kue apam. Bulan Sya’ban disebut buleun khanduri bu (kenduri nasi).

Bulan Ramadhan, dalam bahasa Aceh disebut langsung buleun puasa, karena pada bulan inilah puasa diperintahkan. Bulan Syawal, disebut uroe raya, karena pada awal bulan inilah perayaan hari raya idul fitri dilaksanakan. Selanjutnya bulan Zulkaidah, dalam bahasa Aceh disebut sebagai buleun meuapet.

Terakhir. bulan Zulhijjah. Disebut buleun haji, karena pada bulan inilah umat Islam melakukan ibadah haji. Meski penanggalan tersebut tidak dibuat langsung dalam bentuk kalender, tapi sampai kini masih digunakan oleh masyarakat Aceh, sebagai sebuah ciri ke-Aceh-an yang patut dipertahankan. Semoga saja tidak hilang ditelan zaman.[]

Selengkapnya

Pengunjung terakhir

Buku Tamu


Free chat widget @ ShoutMix
Blogger Templates

About Me

My Photo
Iskandar Norman
Aku lahir disebuah desa pesisir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Desa itu bernama Buangan, makanya aku dipanggil anak Buangan. Tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Meureudu pada tahun 1998, kuliah ke Diploma III Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Di Kampus aktif di majalah Perspektif dengan jabatan terakhir sebagai Pimpinan Redaksi. Maret 2003 menjadi wartawan di Tabloid Modus Aceh. Empat bulan bekerja langsung diangkat menjadi Sekretaris Redaksi. Setelah lima tahun di Modus, pada 1 Maret 2008 mengundurkan diri dan bergabung di Harian Aceh Independen sebagai Redaktur.Selain sebagai wartawan juga aktif menulis tentang seni dan budaya. Pada April 2005 menerbitkan buku "Nuga Lantui" yang berisi tentang plesetan dan kritik budaya melalui hadihmaja. Bersama seniman Aceh juga menerbitkan buku antologi "Keranda-keranda" dan antologi "Putroe Phang". Bersama pemerhati sejarah dan dosen Universitan Syiah Kuala, Banda Aceh,atas biaya BRR pada tahun 2007 menulis buku "Ensiklopedi Aceh".
View my complete profile