<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267</id><updated>2012-02-08T01:35:01.159-08:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Cang Panah'/><category term='Feature'/><category term='Kriminal'/><category term='Nuga Lantui'/><category term='Editorial'/><category term='Budaya'/><category term='cerpen'/><category term='Berita'/><category term='Peh Tem'/><category term='artikel'/><category term='sastra'/><title type='text'>Iskandar Norman</title><subtitle type='html'>berbagi wacana dan berdiskusi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>298</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-5760143706741223419</id><published>2011-11-04T06:23:00.001-07:00</published><updated>2011-11-04T06:24:17.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Etos Politik</title><content type='html'>Memberi uang dan kekuasaan kepada pemerintah, sama halnya dengan memberi wiski dan kunci mobil pada seorang remaja. Apa yang dikatakan oleh PJ O Rourke tersebut dalam Parliament of Whores, sedang terjadi di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik seputar Pemilukada telah menyeret eksekutif dan legislatif Aceh berada pada sengketa politik yang “memuakkan”. Dibutuhkan etos politik keacehan untuk menyelesaikannya. Berbagai kepentingan ikut bermain dalam konflik ini, yang kemudian menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan oleh keduanya (eksekutif dan legislatif) lebih kental nuansa politisnya tinimbang menyahuti keinginan rakyat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini selaras betul dengan apa yang disampaikan oleh Peter L Berge pada tahun 1974, yang mengatakan bahwa kebijaksanaan politik tidak dibuat dengan memahami akar masalah yang sesungguhnya, lantaran para pengambil kebijakan memang tidak memahami sosiologi masalah, yakni peta-peta sosial di seputar masalah. Di Aceh lebih dari itu, lebih kepada kepentingan kelompok dengan egonya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eep Saefulloh Fatah pun kemudian menyebutkan hal itu sebagai bentuk ketidak pahaman pada sosiologi masalah. Hal itulah yang kemudian membuat masalah dan pemecah masalah menjadi dua hal yang berjauhan, bahkan tak berkaitan sama sekali. Kalau memang kepentingan rakyat yang didahulukan, maka tak perlu ada sengketa Pemilukada, kedua pihak harus bersikap arif untuk menyimpan ego kelompok dan mendahulukan kepentingan rakyat. Apapun ceritanya, kedamaian Aceh masih sangat berharga untuk dikacaukan dengan politik praktis jelang Pemilukada.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisruh Pemilukada di Aceh ini tidak lepas dari berbagai kekeliruan para penguasa yang mengambil kebijaksanaan tanpa mengerti sepenuhnya permasalahan yang dihadapi. Inilah yang oleh Robert Barn dikatakan sebagai gagasan bodoh. Penyair Scotlandia yang hidup pada abat 18 tersebut (1759-1796) dalam puisinya berjudul “To a Louse”  menulis, “O wat some powr’r the giftie gleus, to see oursels as other seeus! It wat frae many a blunder freeus, and foolish nation.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, jika kita bisa melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita. Kita bakal terbebas dari banyak kekeliruan dan gagasan-gagasan bodoh. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan harus mampu melihat kemampuan diri sendiri sebagai suatu entitas bangsa, dan mengaplikasikan kebijakan tersebut sesuai dengan keinginan rakyat yang dimaksud dalam kebijakannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu mengharapkan agar eksekutif dan legislatif Aceh bisa bersikap dewasa, bukan malah terus larus dalam sengketa tak berujung. Pun demikian, mempertemukan sepenuhnya keinginan dua pihak yang sedang bersengketa tidaklah mudah. Selain banyak hal yang menjadi pertimbangan, berbagai kepentingan pun turut bermain. Tapi lupakan itu. Satu hal yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana membangkitkan etos politik keacehan, yang benar-benar memikirkan kepentingan jangka panjang untuk Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos kadang juga muncul dari mitos. Lihatlah, bagaimana Yahudi membangun jaringannya dalam perpolitikan dunia dengan lima kata yang menjadi etos politik mereka. Orang-orang Yahudi berpegang pada kalimat we are the chosen people, dari sinilah etos politik mereka bangkit, karena menganggap dirinya sebagai orang-orang pilihan. Mereka menyatu dalam mitos itu untuk kepentingan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga berlaku di Jerman. Mereka mengatakan Deutc uberaless, ras Aria (rasnya bangsa Jerman) adalah ras tertinggi. Amerika lain lagi, mereka menganut etos nasionalisme yang sangat besar pengaruhnya dalam pembangunan negara tersebut menjadi adi daya. Falsafah mereka dalam membangun Amerika adalah, We keep America on top of the word.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh juga memiliki banyak falsafah yang menjadi etos politik pemerintahan sejak zaman dahulu. Melalui kearifan hadih maja kita diajarkan untuk bisa bersikap yang patut dalam segala hal, termasuk dalam menyelesaikan sengketa, sangsui beuneuéng tawoë bak pruét, karu buét tawoë bak punca. Untuk menyelesaikan konflik regulasi Pemilukada ini, baik eksekutif maupun legislatif harus sama-sama kembali ke induk persoalan untuk mencari penyelesaiannya secara terhormat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pihak harus sama-sama bisa mundur selangkah agar mencapai titik temu, suröt lhèi langkah tasuét tupi, mangat geuturi ngat samporeuna. Kalau itu dilakukan, maka tak ada pihak yang kalah dan menang, sama-sama sejajar bahu di dalamnya, ibarat kata tamsè tumpoë ngon bulukat, miseuè meuseukat ngôn asoë kaya, serasi tak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk menuju ke sana, baik elsekutif maupun legislatif Aceh harus bercermin dulu melihat diri sendiri, tidak di kaca yang retak, agar tidak terjebak pada “pendewaan” kekuasaan. Meski berat itu harus dilakukan demi kelangsungan perdamaian. Walaupun susah untuk melepaskan kekuasaan yang sudah di tangan, karena kata Milan Kudera, penulis besar Cheko dalam novelnya, “The Book of Lougther abd Forgetting”  melalui tokoh Mirek ia berkata. “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawean lupa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah Jhon Adam, Presiden ke dua Amerika berpendapat lebih radikal lagi. Katanya, semua manusia adalah monster yang serakah ketika nafsu gagal dijaga. Pun demikian, mari sama-sama merawat damai Aceh ini dengan tindakan nyata, jangan pasif dan terlena dalam kepentingan sesaat. Publikis Syrus pernah berkata agar kita jangan menggatungkan diri pada keberuntungan, melainkan pada tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, mari sama-sama kita berbuat, sambil menghayati apa yang pernah dikatakan oleh Muhammad Hatta. “Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku, ia berkembang dengan amal, dan itu adalah amalku.” Mari membangun Aceh dengan amal. Kalau eksekutif dan legislatif Aceh tidak mau melakukan itu, maka saya hanya bisa berkata, umông meuateuéng nanggroë meusyaraq, pakôn buét sinyak meubeualaga?[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-5760143706741223419?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/5760143706741223419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=5760143706741223419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5760143706741223419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5760143706741223419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/11/etos-politik.html' title='Etos Politik'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-3060981964555458828</id><published>2011-10-04T00:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T00:12:45.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Riwayat Para Pendiri Negeri Idi</title><content type='html'>Tak banyak literatur tentang Negeri Idi yang kini menjadi pusat ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Tulisan H M Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara sedikit memberi jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut H M Zainuddin, riwajat negeri Idi di zaman purbakala sangat gelap. Pada masa dahulu kemungkinan Idi masuk ke daerah Kerajaan Peureulak. Penghuni kawasan Idi tempo dulu hanya kaum nelayan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam buku, Singa Atjeh, yang juga karya H M Zainuddin (1957) disebutkan bahwa nama Idi bermula dari kata “Ma ie dhiet” yang kemudian dalam perlembagannya tinggal disebut Idi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kata H M Zainuddin, dalam riwayat perjalanan Marco Polo dalam abad XIII antara negeri Peureulak dan Pasai, terdapat satu bandar yang bernama Basma.  Tetapi tidak diketahui yang mana negeri itu sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuka bandar Pulau Pinang oleh Raffles dalam abad XIX, kira-kira sejak tahun 1805, Idi jadi ramai karena kedudukan Kuala Idi di selat Melaka setentang dengan teluk Pulau Pinang dan Seberang Perai, maka kemajuan hubungan lalu lintas laut terjadi. Keramaian semakin bertambah setelah Terusan Suez (Suez Kanal) dalam tahun 1869, maka bandar Pulau Pinang jang telah mendjadi pusat Pasar dagang antara bandar-bandar kecil di Tanah Atjeh (Sumatera). Hasil-hasil lada diekspor dari pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir Aceh ke Pulau Pinang dan Singapura dengan kapal-kapal dari perkongsian Inggris dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan pelayaran inilah negeri Idi dan sekitarnya yang dahulu tidak begitu dikenal kemudian menjadi daerah singgahan kapal-kapal untuk mengangkut lada, sehingga pelabuhan Kuala Idi menjadi maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang Membangun Idi&lt;br /&gt;Masih menurut H M Zainuddin, sebuah sumber yangdidaptakannya yakni sahibul hikayat T Syahbandar Suleiman, ada beberapa orang yang berperang membangun Kuala Idi menjadi pelabuhan yang maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perdagangan rempah-rempah sudah dilakukan melalui Kuala Idi ke semenanjung Malaya, datang beberapa orang yang mengkoordinir perdagangan tersebut, diantaranya : Panglima Perang Nyak Sim dari Blang Me, Teuku Itam yang dikenal sebagai Panglima Muda Sikeling, dan Tok Nale dari Gampong Blang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya meraka datang dengan perahu membawa puat untuk mencari ikan di perairan Idi. Tapi dari usaha mencari ikan saja tidak cukup, mereka kemudian membuka Seuneubok untuk menaman berbagai jenis tanaman yang laku dijual ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Perang Njak Sim mendjadi pemimpin rombongan itu, ia pada mulanya memegang jabatan Panglima Besar dari T. Muda Njak Beueng Uleebalang Blang Me.&lt;br /&gt;Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah T Chik Idi Daudsjah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Muda Sikeling, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi sekarang. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Seukuci. Lalu T Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kemudian datang pula Said Idrus yang membawa orang-orang dari Aceh Besar ke Idi juga untuk membuka kebun. Diikuti pula oleh orang-orang dari Pidie yang dibawa oleh T Bukit Batee, dan orang-orang dari Pasai yang dibawa oleh T Itam yang membuka ladang di Blang Seukuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamani BlangSeukuci karena waktu mulai menebas hutan untuk membuka ladang, T Itam bermimpi melihat sebuh guci dalam blang (sawah-red). Guci itu kemudian ditemukannya terkubur adlam tanah, tapi ketika hendak diambil guci itu hilang masuk ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ramai-ramai membuka perkebunan tersebut, Panglima Nyak Sim pernah disambar halilintar, tapi ia tidak apa-apa. Belakangan diketahui kalau dia memiliki ilmu kebal. Setelah tak mempan disambar petir, namanya mulai diperbincangkan, hingga ia menjadi terkenal dan disegani banyak orang. Pembukaan perkebunan dan ladang itu membuat kawasan Idi bertambah ramai. Apalagi setelah orang-orang dari negeri Pidie, Pasai, Peusangan dan Aceh Besar kembali datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang  di Gampong Baro dekat stadion sekarang. Ladang juga dibukanya mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukana lahan itu dilakukan olej T Cut Lambo ayah dari T Usman Idi Cut. Kemudia di bagian utara, perkebunan dibuka oleh T Digureb ayah dari Banta Giureb. Lalu ke selayan Dama Pulo dibuka lahan oleh Thk Paya Raman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah banyak orang yang membuka perkebunan, maka diadakanlah musyawarah Seuneubok, yaitu mufakatnya para peladang untuk mementukan jenis tanaman apa yang harus ditaman serentak yang bernilai jual tinggi ke luar negeri. Saat itu diputuskan untuk menaman lada. Karena tak ada bibit lada di Idi maka diutuslah beberapa orang untuk pergi ke negeri Pidie dan Aceh Besar mencari bibit lada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, Idi menjadi salah satu daerah penghasil lada di Aceh. Orang-orang dari luar Idi semakin banyak yang datang, hingga membuat daerah itu menjadi ramai. Apalagi setelah lada dari Idi diekspor ke Pulau Pinang, Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Idi semakin maju, maka Uleebalang Peureulak jadi marah karena Kuala Idi merupakan batas kiri masuk ke negeri Peureulak dan bagian kanannya menjadi pintu masuk ke Julok, maka terjadilah peperangan. Uleebalang Julok dan Peureulak sama-sama berhasrat untuk menguasai Idi yang sudah maju dalam bidang perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu T Panglima Prang Nyak Sim sudah memiliki banyak pengikut, sehingga mampu melawan seranandari Julok dan Peureulak. Usai peperangan itu didirikanlah Keude Idi sebagai pusat perdagangan, yang sekarang menjadi Kota Idi ibu kota Kabupaten Aceh Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara orang-orang lain seperti Panglima Kaum Blang Kabu dari Blang Me, T mlaim Suloe yang berasal dari Pidie, diangkat menajdi penasehat T Panglima Prang Nyak Sim karena kecakapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalin Hubungan dengan Sulthan Aceh&lt;br /&gt;Ketika T Panglima Prang Nyak Sim meninggal dunia, ia digantikan oleh anaknya T Ben Guci, kemudian adiknya, T Panglima Banta diangkat menjadi panglima perang. Untuk menjamim kemanan di Idi dari serangan ulebalang sekitarnya, mereka sepakat untuk menjalin hubungan langsung dengan Sulthan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang diutus untuk menghadap Sultan Aceh. Delegasi dari Idi itu terdiri dari  T Panglima Blang Kabu, T Malim Suloe, T Itam Blang Seukuci, T Tihi Ben Guci dan ibunya H Ma Rampang asal Buloh. Delegasi ini diantar oleh Panglima Perang Besar T Muda Cut dari Meureudu  sampai dipertemukan dengan Sultah Aceh, Sulthan Ibrahim Mansur Syah (1841 – 1870 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oelh Sulth Aceh kemudian mengangkat T Chik Ben Guci menjadi Uleebalang Idi dan kepadanya diberikan cap sikureung, sebagai stempel sah kerajaan. Ketika mereke kembali ke Idi dan itu diketahui oleh Ulebalang Julok dan Simpang Ulim, kedua uleebalang itu bertambah marah, karena Idi sudah menjadi daerah ulebalang tersendiri. Maka perang pun kembali terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi serangan dari dua uleebalang tersebut, T Chik Ben Guci menjalin hubungan dengan uleebalang Blang Me, T Muda Angkasah. Atas anjuran T Muda Angkasah pada akhir tahun 1871 dikirim beberapa orang ke Riau untuk membangun kerja sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda yang sudah berkuasa di sana. Utusan yang dikirim ke Riau itu adalah Tok Pang Kaum Kabu, T Malim Suloe, T Itam. T Muda Angkasah sendiri menjadi pimpinan rombongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riau mereka mengikat tali persahabatan dengan Pemerintah Belanda. Bebrapa lama sesudah itu datanglah orang Belanda ke Idi dan mendirikan benteng di Kuala pada 17 Mei 1875 memakai bendera Belanda.  Waktu itu Idi bertambah ramai, karena terlalu banjak penghasilan lada, dengan kapal-kapal : Pigu, Hok Kwaton dan yang mengangkut lada ke Pulau Pinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu waktu terdjadilah perang Gureb atau perang T. Di Bukit, yang bermula dari perselisihan kecil antara orang-orang Pasai dengan Aceh Besar.  Orang Aceh Besar mengatakan sama orang Pasai :  Pasai sikin brok: dan karena itu orang Pasai marah lalu masuk ke kedai-kedai, siapa saja yang ditemuia disuruh sebut breueh, kalau tidak bisa sebut breueh lalu diamuk dan akibatnja banyak  orang Aceh Besar yang meniggal, karena logat bicaranya orang Aceh Besar mudah ditandai. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal itu membuat T. Paya Uleebalang Tanjung Seumanto marah dan menuntut balas, maka terdjadi perang antara T Paya dan T. Chik Idi. T Chik Idi membuat Kota di bukit Leusong.  Kapal (seukuna ) T. Paja Raman yang bernama  Djikasi dan Seukana Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mula-mula T. Paja Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah T. Paya Raman, maka negeri Tandjung “Seumanto” diberikan kepada T. Muda Angkasah. Kemudian benteng Belanda di Kuala dipindahkan ke Benteng Arun juga ditempatkan rumah dan kantor Controleur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar Idi makin bertambah ramai karena banyak hasil lada dan Gouvernemnt Belanda, banyak memeberi bantuan kepada T. Chik Ben Guci, sehingga diberikan satu tanda kehormatan Nederlandsche Leeauw. Hasil pelabuhan waktu itu dibahagi dua dengan T. Chik Idi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya T. Chik Ben Gutji, diangkat anaknya yang tertua T. Chik Hasan Ibrahim dan selama T. Chik Hasan Ibrahim mendjadi Uleebalang Idi, pengahasilan lada makin bertambah banjak sampai 5000 kojan, (± 200.000 pikul), karena T. Mat Said yang datang dari Meulaboh sudah memasukkan banjak orang, jaitu 186 Peutua dengan hutang pangkal sendiri tatkala masih hidup T. Chik Ben Gutji. Sesudah T. Hasan Brahim pindah ke Pulau Penang diangkat adiknja T. Chik Muhammad Hanafiah sebagai pengantinya.[iskandar Norman]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-3060981964555458828?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/3060981964555458828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=3060981964555458828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3060981964555458828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3060981964555458828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/10/riwayat-para-pendiri-negeri-idi.html' title='Riwayat Para Pendiri Negeri Idi'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6528304860222066749</id><published>2011-09-18T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-09-18T23:54:07.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kuta Reh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-6r5dzWQlKBw/TnbnCSu7KtI/AAAAAAAAAZM/YIMGg__erQA/s1600/kempees2%2B%2528kekejaman%2Bbelanda%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-6r5dzWQlKBw/TnbnCSu7KtI/AAAAAAAAAZM/YIMGg__erQA/s320/kempees2%2B%2528kekejaman%2Bbelanda%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653960408784644818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembantaian di Kuta Reh kembali diperbincangkan di luar negeri. Sebagaimana dikatakan Asnawi Ali, masyarakat Aceh di Swedia. Mereka akan menuntut pemerintah Belanda terkait pembantaan paling mengerikan tersebut [Harian Aceh, 18 September 2011]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang membuat pembantaian itu terjadi, mulai dari kelelahan para marsose, nafsu biologis yang tak terpenuhi, perselingkuhan di antara para istri marsose, hingga silang membunuh antara tentara elit Belanda itu pasa masa tesrebut. Hal itu diperparah dengan serangan dadakan dari pejuang Aceh yang tak mampu dihadapi. H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh” mengambarkan para pelaku penyerangan itu sebagai “hantu-hantu di Blang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asnawi Ali, pembantaian pada 14 Juni 1904 itu membuat 2.992 rakyat Aceh di Gayo tewas, 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Tapi menurut catatan Kempes dan Zentgraaff korban pembantaian itu mencapai 4.000 orang. Usaha untuk menggugat pemerintah Belanda tersebut sangat terbantu dengan adanya pengakuan-pengakuan dari pihak Belanda sendiri tentang kekejaman Belanda di Kuta Reh, seperti Zentgraaff dan Kempes. Ditambah lagi dengan dukungan foto-foto setelah pembantaian terjadi. Salah satunya adalah foto dengan keterangan “hier werd iets groots verricht” yang menunjukkan ratusan marsose berdiri di salah satu sisi benteng Kuta Reh dengan gelimpangan ratusan mayat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kempes juga mendokumentasikan sisi lain di Benteng Kuta Reh dengan mayat-mayat bergelimpangan di dekat sebuah lubang. Yang paling sadis adalah foto Kempes yang memotret hampir seluruh isi benteng Kuta Reh dengan bangunan-bangunan di dalamnya di bawah pohon durian. Sekeliling bangunan itu sudah digali dan mayat-mayat di susun di dalam galian tersebut. Mungkin Kempes mendokumentasikannya ketika mayat-mayat itu hendak dikuburkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto lainnya menunjukkan seorang pria renta dengan perempuan dan anak-anak tergeletak tak bernyawa di dekat bangunan krong (tempat penyimpanan padi) dan sebuah rumah. Melalui foto-foto itu, Kempes sudah lebih dari cukup bercerita tentang kekajaman Belanda di Kuta Reh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantaian di Kuta Reh itu bermula dari keinginan Gubernur Militer Belanda di Aceh, Van Huetsz untuk menaklukkan seluruh Aceh seteplah raja Aceh Sulthan Muhammad Daud Syah menyerah pada 1903. Ia memerintahkan Van Daalen untuk menyerang daerah Gayo Lues pada 1904.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju ke Gayo tidaklah mudah. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, mereka selalu di serang oleh pejuang Aceh di beberapa tempat, ditambah lagi mereka harus naik turun bukit. Untuk menghibur para marsose itu, Van Huetsz merasa perlu mengirim istri-istri mereka ke sana melalui Kuala Simpang.  Para wanita itu dikirim oleh Rammerswall, kepala depot 800 pekerja paksa di Kuala Simpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengiriman itu sangat merepotkan Rammerswall. Dari Kuala Simpang, transportasi barisan perempuan-perempuan itu dilakukan dengan naik perahu sampai ke Kalue. Dari sana para pekerja paksa mengangkut barang-barang mereka sampai ke Pinding, terus melewati Gunung Burni Gajah. Namun, di tengah perjalanan melelahkan itu, sebelum sampai ke Blangkejeren banyak istri marsose yang memilih kembali ke Langsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara perempuan-perempuan yang melanjutkan perjalanannya ke Blangkejeren merupakan perempuan-perempuan tua Ambon yang oleh Zentgraaff digambarkan sebagai perempuan-perempuan kasar jenis “tartar” yang berwajah kusam yang tidak lagi menggoda, bahkan bagi pengawal rombongan itu sekalipun. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru, hingga menimbulkan perselingkuhan antara marsose dengan istri kawannya. Banyak marsose yang prustasi hingga menembak komandan dan kawan sepasukannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberingasan marsose itu berdampak pada penyerangan-penyerangan selanjutnya ke berbagai daerah operasi. Mereka menjadi pasukan yang di luar kendali dan bertindak brutal. Mulai dari penyerangan ke Gayo Laut, Gayo Deret, sampai kemudian Van Daalen dan pasukannya pada 9 Maret 1904 menyerang Gampong Kela sebuah daerah terpencl di Gayo Lues pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari kampung itulah penaklukan demi penaklukan dilakukan Van Daalen, dimulai dari benteng pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904), Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6528304860222066749?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6528304860222066749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6528304860222066749' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6528304860222066749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6528304860222066749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/09/kuta-reh.html' title='Kuta Reh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-6r5dzWQlKBw/TnbnCSu7KtI/AAAAAAAAAZM/YIMGg__erQA/s72-c/kempees2%2B%2528kekejaman%2Bbelanda%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6576588606872934931</id><published>2011-07-30T05:30:00.000-07:00</published><updated>2011-07-30T05:32:18.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Meugang Tak Sekedar Tradisi</title><content type='html'>Perayaan meugang di Aceh menarik perhatian berbagai pihak untuk mengupasnya. Selain unik dan religius juga mengandung nilai kebersamaan. Sebuah situs masyarakat melayu www.melayuonline.com malah mengupas nilai-nilai yang terkandung dalam tradis meugang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situs tersebut disebutkan, tradisi meugang tidak hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi, melainkan juga memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan tradisi Meugang memang bermula dari upaya masyarakat Aceh untuk merayakan datangnya bulan puasa dan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi masyarakat muslim pada umumnya, datangnya bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara Meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging Meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari Meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan Meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi. Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan Meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya tradisi Meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya, sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi Meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi meugang juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6576588606872934931?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6576588606872934931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6576588606872934931' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6576588606872934931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6576588606872934931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/07/meugang-tak-sekedar-tradisi.html' title='Meugang Tak Sekedar Tradisi'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-406480089477588521</id><published>2011-07-15T05:30:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T05:31:13.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Keuneunong, Almanak Aceh</title><content type='html'>Dalam membagi bulan, musim dan iklim, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu mempunyai penanggalan tersendiri, yang disebut dengan keunong  atau keuneunong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penanggalan Aceh, ada dua belas keunong selama satu tahun. Sama dengan jumlah bulan dalam setahun menurut penanggalan masehi. Tapi, penanggalan keunong tidak sama dengan tahun masehi, baik jumlah hari maupun perhitungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggalan menurut keunong ini sudah berlaku sejak zaman dahulu di Aceh. Bahkan sebelum kerajaan Aceh terbentuk–sebelumnya hanya ada kerajaan-kerajaan kecil, seperti kerajaaan Lamuri di Aceh Besar sekarang, Kerajaan Daya di Meureuhom Daya, Kerajaan Pohela di Peureulak, Kerajaan Seroja di Aceh Timur sekarang, dan berbagai kerajaan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kerajaan Aceh Darussalam kuat di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Kerajaan-kerajaan itu disatukan menjadi federasi dari kerajaan Aceh. Rangkaian keunong yang semuanya ganjil, dari dua puluh tiga sampai satu. Hal ini lebih kepada tradisi untuk membedakan dengan penanggalan-penanggalan di luar Islam. Dan, Allah lebih menyukai bilangan ganjil.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Snouck Hurgronje dalam bukunya “The Atjeher” terjemahan NG Singarimbun (Eds), terbitan Yayasan Soko Guru, 1985. Snouck menyatakan bahwa keunong diawali dengan keunong dua ploh lhee (23 Jumadil Akhir, menurut tahun Hijriah). Pada keunong ini, biasanya padi-padi di sawah mulai menguning, banyak yang rebah dan menjadi puso karena angin timur yang sangat kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mengenai hal ini dalam sebuah idiom pun orang Aceh sering menyebutkan  musem timu jak tarek pukat, musem barat jak meuniaga.Yang artinya musim timur (angin timur) lebih baik pergi melaut, musim barat (angin barat) lebih baik untuk berdagang, karena pada musim timur ombak tidak ganas. Sementara pada musim barat ombaknya ganas dan sering datangnya badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunong selanjutnya adalah keunoeng dua ploh sa (21 Ra’jab). Pada musim ini biasanya padi di sawah mulai panen, atau khanduri blang (kenduri turun ke sawah) untuk memulai penyemaian benih. Dekade ini sering juga disebut sebagai musem luah blang dalam artian sawah-sawah sudah selesai panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keunong sikureung blah, biasanya keadaan iklimnya hampir sama dengan keunong dua ploh sa. Para petani mulai turun ke sawah. Selanjutnya keunong tujoh blah, pada dekade ini awal bertiupnya angin barat. Mengawali musim ini, para nelayan biasanya mengadakan khanduri laot (kenduri turun ke laut) karena pada musim barat ombak tidak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keunong limong blah. Pada musim ini sawah-sawah sudah siap digarap dan siap tanam dan di laut mulai ada badai. Pada pertengahan bulan Zulkaidah akan  beralih ke keunoeng lhee blah, berlanjut ke keunong siblah dan terus ke keunong sikureung. Suatu hal yang sangat ganjil, mungkin juga fenomena alam, keunong sikureung ini menurut masyarakat pedesan, ditandai dengan banyaknya keureungkong (ketam darat) yang keluar dari lubangnya (keureungkong woe), entah sejauh mana korelasi antara keunong sikureung ini dengan keureungkong woe, tapi yang jelas pada dekade ini, suhu sangat panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunong tujoh lain lagi, pada dekade ini, ditandai dengan banyaknya anjing yang menggonggong di malam hari. Karena biasanya jatuh pada bulan Safar, pada keunong tujoh biasanya tidak diadakan acara-acara pesta pernikahan, khitanan dan lain sebagainya, karena dianggap bulan yang naas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir bulan ini biasanya masyarakat akan berbondong-bondong pergi untuk mandi ke laut, manoe rabu abeh istilahnya (mandi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar untuk membuang sial). Tapi tradisi tersebut kini sudah agak hilang, karena ada suatu pendapat yang katanya bertentangan dengan ajaran Islam, sebab kemalangan itu merupakan ketentuan dalam qada dan qadar, itu merupakan rahasia Tuhan yang tidak diketahui hamba, bukan terletak pada bulan-bulan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keunong limong, ditandai dengan mulai bertiupnya angin timur dan para nelayan mulai melaut kembali. Terus beralih ke keunong lhee. Terakhir keunong sa, pada musim ini, hujan sangat lebat dan cangguek poe (katak) akan bersuara di setiap kubangan. Bahkan kaitan antara keunong sa dengan katak ini diabadikan oleh masyarakat Aceh dalam sebuah teka-teki. Ta ek u gle ta koh bak jeumeureu, keudeh ta sadeu bak kayee raya, blet kilat khum geulanteu, kabeh meusiseu lam blang raya. Kaitan tersebut ada dalam jawaban teka-teki di atas, Bak ta jak-jak meuteumei situek, bak ta duek-duek ta cop keu tima, phop le di chen phop le di duek, nyan keuh cangguek musem keunong sa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani dan nelayan tradisional Aceh pun sampai kini memakai penanggalan tersebut sebagai dasar perkiraan melaut dan bertani. Hal ini seperti terungkap dalam hadih maja Keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung rata-rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba. Maksudnya pada keunoeng siblah baiknya benih padi disemai agak jarang sedikit. Keunong sikureung ditabur rata. Keunong tujoh¸ juga masih bisa, keunoeng limoeng itu sudah musim datangnya ulat daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keunong ada juga penanggalan Aceh yang berdasarkan tahun Hijriah. Bisa dikatakan penanggalan ini adalah penanggalan Arab yang di-Aceh-kan, yaitu; Bulan Muharram, menurut penanggalan Arab dalam penaggalan Aceh disebut Asan-Usen, hal ini diambil dari nama cucu nabi Hasan dan Husen. Bulan Safar menurut tahun Hijriah di Aceh disebut Safa. Bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Aceh disebut buleun Molot, diambil dari kata maulud yakni memperingati hari lahirnya nabi Muhammad. SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabiul Akhir, dalam bahasa Aceh disebut adoe molot atau rabi’oy akhe. Jumadil Awal dalam penanggalan Aceh disebut molot seuneulheuh. Dulunya para pemelihara barang antik di Aceh, juga menamakan bulan ini dengan madika pho, yang bearti “yang pertama bebesa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriah, dalam bahasa Aceh disebut buleun khanduri boh kayee yaitu kenduri atau persembahan buah-buahan secara keagamaan. Bulan Rajab tahun Hijriah, dalam penanggalan Aceh disebut buleun khanduri apam, yaitu bulan kenduri kue apam. Bulan Sya’ban disebut buleun khanduri bu (kenduri nasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan, dalam bahasa Aceh disebut langsung buleun puasa, karena pada bulan inilah puasa diperintahkan. Bulan Syawal, disebut uroe raya, karena pada awal bulan inilah perayaan hari raya idul fitri dilaksanakan. Selanjutnya bulan Zulkaidah, dalam bahasa Aceh disebut sebagai buleun meuapet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir. bulan Zulhijjah. Disebut buleun haji, karena pada bulan inilah umat Islam melakukan ibadah haji. Meski penanggalan tersebut tidak dibuat langsung dalam bentuk kalender, tapi sampai kini masih digunakan oleh masyarakat Aceh, sebagai sebuah ciri ke-Aceh-an yang patut dipertahankan. Semoga saja tidak hilang ditelan zaman.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-406480089477588521?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/406480089477588521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=406480089477588521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/406480089477588521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/406480089477588521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/07/keuneunong-almanak-aceh.html' title='Keuneunong, Almanak Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2372590396497608321</id><published>2011-07-02T03:01:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T03:02:59.314-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nuga Lantui'/><title type='text'>Tuha Tuhö, Tuha Tusoë Droë</title><content type='html'>Nyak Kaoey kemaren kedatangan rakan sahbat dari jauh. Dia juga cucu Endatu yang mengabariku akan keresahannya. Belum sempat kutanya apa pasal resahnya, ianya mendahuli jawab. Katanya, ini Aceh negeri warisan Endatu yang saleh telah dimiliki oleh generasi yang salah. Generasi yang disebutnya serba paléh  alias celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini serba paléh sudah katanya. Tak mau terus-terusan mendengar kata paléh dari mulutnya, Nyak Kaoey bertanya pasal apa yang disebutnya paléh  itu? Sambil tersenyum dia menjawab bahwa karena adanya sifat paléh,  maka tak ada lagi demokrasi di Aceh. Mulai dari anak muda sampai orang tuha sudah terkotak-kotak, sudah pecah belah, macam barang pelah belah di peukan  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyak Kaoey mengangguk, kalau tak ada lagi musyawarah dalam demokrasi, kata Nyak Kaoey itu cocok dikatakan untuk orang-orang dana anak muda seperti itu adalah, paléh agam han jeut duék banja, paléh aneuék muda han löp pakat. Celakanya lagi ketika para pemimpin di Aceh mendengar pembisik-pembisiknya tanpa penyaringan, ini namanya paléh raja geudeungo haba sibeurangkasoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya lagi katanya, dalam keadaan Aceh yang carut marut sekarang, banyak orang pintar yang tidak mau berbuat. Bagi mereka Nyak Kaoey lakab ngôn hadihmaja ini, Paléh ureuéng carông beuó buet, paléh ureuéng pubuet hana mupakat, paléh ureuéng kuat peusuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kata kawanku itu, soal jika ditanyai orang kita, dalam suasana serba paléh  ini orang mana yang berhak dipilih jadi pemimpin Aceh, maka itu jawab bahwa olehmu wahai Nyak Kaoey, pintanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil garoë-garoë ulèi Nyak Kaoey menjawab, terhadap soal seperti itu maka perlu dijawab bahwa, pilihlah pemimpin Aceh itu ureuéng nyang tuha. Makna tuha  itu bukanlah tuha umu, tapi tuha segalanya. Lalu bertanya lagi ianya pada Nyak Kaoey,  apa makna tuha itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab bahwa, untuk memilih pemimpin Aceh itu, maka olehmu pilihlah ureuéng tuha nyang beutoi-beutoi tuha. Makna tuha  itu adalah, tuha bijéh, tuha ulèii, tuha bulé, tuha pangkéi. Bila lagi ditanya apa makna dari semua tuha itu, maka jawab bahwa, tuha bijéh maknanya adalah orang yang jelas keturunannya bukan aneuék darohaka bukan pula aneuék haramjadah. Lalu lagi makna tuha ulèi adalah ianya itu orang pandai yang cukup ilmunya untuk memimpin nanggroë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tuha bulèi bermakna ianya itu merupakan orang yang disegani uleh sibeurangkasoë yang berwibawa dan memiliki nilai ketokohan dan bisa jadi panutan bagi siapa sahaja. Lanjut dari pada itu lagi adalah tuha pangkéi makna darinya itu adalah ianya itu orang yang cukup dari segi ekonomi bukan orang miskin, jadi ketika ianya itu dipilih jadi pemimpin ia sudah punya uang banyak sehingga tak lagi makan uang rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih penting dari itu, sabda Nyak Kaoey, pilihlah olehmu ureuéng nyang tuha tuhöe, tuha tusö droë, maknanya orang yang tahu siapa dirinya secara agama. Artinya ia tahu bahwa ianya sebagai pemimpin memegang amanah rakyat, dan apa yang dipimpinnya akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di yaumilmasya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lagi bisa dimaknai bawha tuha tuhöe, tuha tusö droë itu adalah orang yang tahu bahwa ianya hidup di dunia sebagai hamba Tuhan dan sadar bahwa ia hidup dalam aturan Tuhan. Nah, kalau orang yang memiliki macam-macam sifat tuha seperti Nyak Kaoey sebutkan tadi ada, maka pilihlah ianya untuk memimpin Aceh.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2372590396497608321?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2372590396497608321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2372590396497608321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2372590396497608321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2372590396497608321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/07/tuha-tuho-tuha-tusoe-droe.html' title='Tuha Tuhö, Tuha Tusoë Droë'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-7485146916413599202</id><published>2011-06-29T06:11:00.000-07:00</published><updated>2011-06-29T06:16:34.436-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pesan Soekarno dan Abu Beureueh di Kuta Asan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggal 17 Juni 1948 Presiden Soekarno berkunjung ke Sigli dan berpidato bersama Tgk Muhamamd Daod Beureueh di Lapangan Kuta Asan, stadion sepak bola kebanggaan masyarakat Pidie sekarang. Orang-orang tua di Pidie masih menyimpan memori itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Soekarno berangkat dari Banda Aceh sekitar pukul sembilan pagi. Ia sengaja memilih jalan darat untuk bisa langsung ribuan masyarakat yang menyambutnya di sepanjang jalan. Di beberapa tempat Soekrano segaja berhenti untuk memberi salam dan pidato singkatnya kepada masyarakat yang menantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di Simpang Montasik. Dalam buku Prekundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh diceritakan, di Simpang Montasik itu Soekarno menyampaikan terimakasihnya kepada warga Montasik yang telah mempersiapkan jalan menuju Blang Bintang untuk persiapan pembukaan Bandar Udara (Bandara). Kini, Bandara itu telah berdiri dan dikenal sebagai Bandara Internasional Sulthan Iskandar Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno juga meminta maaf, karena tidak menggunakan bandara tersebut sebagai tempat pendaratan pesawat yang membawa rombongannya dari Jakarta dua hari sebelumnya; 15 Juni 1948, tapi mendarat di lapangan terbang Lhok Nga. “Saudara-saudara tentu merasa kesal, karena lapangan Blang Bintang tidak dipakai, dan dipakai lapangan terbang Lhok Nga, oleh karena lapangan itu lebih sempurna. Tetapi saya tetap berterima kasih kepada saudara-saudara, saya terharu atas persediaan saudara-saudara kepada kepala negara. Marilah kita sekarang menyorakkan merdeka,” kata Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ratusan warga yang memadati Simpang Montasik membalas teriakan “merdeka” yang dari Soekarno. Dari sana Soekarno kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sigli. Jam satu siang rombongan presiden memasuki Kota Sigli dan disambut puluhan ribu rakyat Pidie di sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno langsung menuju ke Pendopo Bupati Pidie untuk makan siang. Jam dua siang, Soekarno menuju ke Lapangan Kuta Asan untuk menyampaikan pidatonya. Di bawah terik matahari ribuan rakyat sudah memadati lapangan tersebut, mulai dari jalan sampai ke tengah lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Pidie, Tgk Abdul Wahab naik ke mimbar untuk menyampaikan sambutannya dengan terikan Allahu Akbar dan pembacaan Fatihah dilanjutkan dengan penghormatan kepada presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Bupati Tgk Abdul Wahab mempersilahkan Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia, Soerjo untuk menyampaikan pidato susulan. Soerjo menyampaikan kekagumannya kepada rakyat Pidie yang menyambut rombongan presiden. “Waktu mula-mula ke sini, saya tidak mengetahui bagaimana Sigli, tapi sekarang saya berdiri diantara masyarakat Pidie,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya Soerjo meminta rakyat Pidie untuk berjuang terus mempertahankan republik yang disebutnya sebagai jembatan emas untuk mencapai kebahagiaan bersama. “Sekarang mari kita berpikir satu hal saja, yakni negara republik Indonesia,” teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pesan Abu Beureueh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tgk Muhammad Daod Beureueh sebagai Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo selanjutnya tampil berpidato. Ia meminta agar seluruh rakyat Pidie mengumpulkan harta, tenaga dan pikiran untuk mempertahankan republik Indonesia dari rongrongan bangsa luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan ribuan rakyat Pidie Abu Beureueh berkata. “Masa penjajahan Belanda dan Jepang telah kita lalui, sekarang telah datang masa kemerdekaan. Saudara-saudara yang terhormat, saya adalah manusia adalah manusia yang kosong, hanya dua perkara yang dapat saudara-saudara terima,” kata Abu Beureueh. Ia kemudian membayat dua ayar Alquran dan menjelaskan dua perkara yang disebutnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, yang pertama dan yang kedua telah sampai, alangkah baiknya kalau saudara-saudara sendiri dapat mengerti apakah pesan tersebut, tetapi apa boleh buat, demikian lama Tuhan megiriman Alquran kepada kita, hingga sekarang belum dapat mengerti. Ayat pertama yang ringkas saya bacakan maksudnya adalah; Tuhan memerintahkan kepada ummt Nabi Muhammad SAW penghubi bumi Indonesia, diperintahkan kepada kita supaya sedia, mengumpulkan segala tenaga yang ada pada kita, terutama tenaga persatuan. Kedua, tenaga kekuatan harta, ketiga kekuatan pikiran, keempat kekuatan apa saja yang dapat kita bulatkan untuk menanti saat datangnya musuh. Sebelum musuh datang, kita terlebih dahulu memperlihatkan bagaimana kekuatan kita, supaya mereka gentar. Musuh kita musuh Nabi, musuh kita musuh Tuhan. Belanda yang angkara murka yang kembali hendak menjajah kita,” jelas Abu Beureueh penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya Abu Beureueh juga menekankan pentingnya menolak segala bentuh penjajahan. Berjuang untuk melawan penindasan sebagaimaan suruhan agama. Ia mengulang kembali apa yang telah terjadi di Aceh semasa melawan penjajahan Belanda dan Jepang, yang disebutnya sebagai kafir, musuh agama. Dalam pidatonya ia melanjutkan pesannya kepada rakyat Aceh di Pidie,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudah barang tentu tidak mau dijajah. Kalau memang kita tidak mau dijajah, bersedia untuk menangkis, untuk menolak, untuk menggetarkan hati mereka sendiri, Ini ialah pesan Tuhan yang pertama. Saya yakin saudara-saudara memang sudah siap sedia lengkap dengan segala tenaga yang ada pasa saudara-saudara,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan yang telah diraih menurut Abu Beureueh merupakan nikmat yang harus disyukuri. Rakyat Aceh harus beryukur atas karunia Tuhan tersebut, tak boleh mengingkarinya. Dalam pidatonya Abu Beureueh melanjutkan. “Sebagai bukti kepada Tuhan, untuk mensyukuri Tuhan, menghilangkan kafir Belanda, kafir Jepang, dan meninggalkan bahan-bahan yang menguntungkan. Sekarang mau dilihat oleh Tuhan apa yang kamu lakukan. Kalau kamu ingkar kepada Tuhan, tidak kamu insyafi, tentu kamu akan mendapat kutuk,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Beureueh yakin rakyat Aceh di Pidie akan siap untuk menentang musuh yang akan kembali untuk menjajah. Di ujung pidatonya ia berpesan kepada para pejuang untuk selalu melindungi dan memberi kenyamanan bagi rakyat, meski dalam keadaan perang sekalipun. Tentang itu, Abu Beureueh berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara, pesan Tuhan yang kedua, saya yakin saudara-saudara telah siap menentang musuh, menangkis Belanda. Maka, sambutlah pesan Tuhan yang kedua yakni bekerja dengan baik. Bawalah rakyat ke medan keamanan, bahkan ke medan kebahagiaan, kenikmatan. Sampai kini sekarang telah datang masa untuk saudara-saudara menerima wajangan dari paduka yang mulia presiden kita. Sambutlah dengan hati yang riang gembira. Demikianlah saya sudahi dengan doa selamat, mudah-mudahan saudara dalam aman dan tentram,” Abu Beureueh mengakhiri pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pesan Soekarno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah Abu Beureueh berpidato, tiba giliran Presiden Soekarno untuk naik ke podium utama menyampaikan pesan dan wejangannya kepada rakyat Aceh di Pidie. “Saudara-saudara sekalian, lebih dahulu sebagai seorang yang beragama Islam, saya mengucapkan kepada saudara-saudara salam Islam, Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu,” kata Soekarno membuka pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Soekarno dijawab dengan suara gemuruh oleh masyarakat Pidie yang memadati lapangan Kuta Asan. Setelah itu kata Soekarno, “Kemudian sebagai kepala negara saya hendak menyampaikan pekik merdeka. Minta disambut dengan sura yang membelah bumi, merdekaaa,” teriak Soekarno sambil mengacungkan tanganya yang tergepal ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu juga dijawab dengan terikan yang sama dengan gemuruh seisi stadion. Ini merupakan pengalaman pertama masyarakat Pidie berhadapan langsung dengan Presiden Soekarno. Mereka menyambutnya dengan suka cita dan penuh semangat. Soekarno selanjutnya menjelaskan tentang arti penting sebuah negara (Indonesia) yang baru didirikan, yang menuntut kedisiplinan dalam menjalankannya dengan segala peraturan perundang-undangan. “Negara ini adalah suatu negara yang berorganisasi, bertata tertib. Oleh karena itu saya minta agar juga tata tertib dijalankan, dihormati peraturan-peraturan dan tata tertib itu,” pinta Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Soekarno menjelaskan kepada rakyat Pidie tentang pengakuat dunia internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Katanya, surat kabar di luar negeri seperti New York, Washington, London dan Paris menulis tentang lahirnya Indonesia sebagai sebuah negara republik yang merdeka dari penjajahan Belanda. “Every thing in the Republik of Indonesia is well,” katanya dalam bahasa Inggris. “Hal yang demikian mengangkat nama republik. Inilah yang membuat seluruh dunia menghormati kemerdekaan kita,” lanjut Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pemuda di Pidie, Soekarno meminta untuk mengingat sumpah pemuda dan memperkokoh persatuan, serta patuh dan setia kepada negara. Menutup pidatonya, Soekarno mengatakan, “Aku hendak meminta supaya dijaga tata tertib, dijaga persatuan dengan segenap bangsa kita semua. Semua bangsa yang mencintai kemerdekaan. Marilah, marilah, marilah saudara sekalian menyusun persatuan. Dengan adanya persatuan yang demikian kita dapat meneruskan perjuangan kita. Dengan demikian tidak ada kans sedikit juga bagi musuh untuk mejajah kembali. Sekianlah, Wassalamualaikumwarahmatullahwabaratuh, merdekaaa,” teriaknya menutup pidato. Teriak yang dijawab dengan teriakan yang sama oleh ribuan rakyat Pidie di Kuta Asan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari Sigli Soekarno ke Bireuen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Usai pidato di Kuta Asan, sekitar pukul 14.45 WIB, Soekarno melanjutkan perjalanan ke Bireuen melalui jalan Peukan Pidie, Garot, Gle Gapui, Beureuneun, Meureudu hingga sampai ke Bireuen. Sepanjang jalan yang dilalui itu rakyat Aceh berbaris di samping jalan sambil melambaikan bendera merah putih. Di Bireuen Presiden Soekarno menginap di rumah Kolonel Husein Joesoef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, 18 Juni 1948, Presiden Soekarno memberi kursus politik kepada para pejabat di Bireuen dan sekitarnya. Kuliah umum itu diberikan Soekarno di Bioskop Murni pada jam sebelas. Sorenya, ia kembali memberikan kursus politik kepada para pemuda di sana. Dalam pidatonya, Soekarno memberikan kursus politik yang sama dengan apa yang disampaikannya di Kutaradja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, Soekarno menyampaikan pidato untuk rakyat Aceh di Bireuen. Pidato itu digelar di lapangan Cot Gapu yang dihadiri oleh lebih dari 100 ribu orang. Pidato yang disebut sebagai rapat umum tersebut dibuka oleh Bupati Aceh Timur T A Hasan selaku ketua panitia penyambutan presiden di Bireuen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembicara pertama tampil Komisaris Negara Mr T Mohammad Hasan, dilanjutkan Gubernur Militer Aceh Langkah dan Tanah Karo Tgk Muhammad Daod Beureueh. Setelah itu baru Soekarno. Usai rapat umum di Cot Gapu itu, Presiden Soekarno dan rombongan kembali ke rumah  Kolonel Husein Joesoef untuk menonton pertunjukan dan hiburan yang disajikan masyarakat Bireuen. Esoknya Soekarno kembali ke Kutaraja dan tiba di sana pukul 18.30 WIB.[] &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-7485146916413599202?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/7485146916413599202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=7485146916413599202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7485146916413599202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7485146916413599202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/06/pesan-soekarno-dan-abu-beureueh-di-kuta.html' title='Pesan Soekarno dan Abu Beureueh di Kuta Asan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8934191728454831063</id><published>2011-06-17T03:07:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T03:10:36.057-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Rapat Samoedera Esplanade Koetaradja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PnIC3PfEfos/TfsoDfgheaI/AAAAAAAAAZE/n1eHQm2oIxc/s1600/soekarno.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 237px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PnIC3PfEfos/TfsoDfgheaI/AAAAAAAAAZE/n1eHQm2oIxc/s320/soekarno.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619129000537455010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada 15 Juni 1948 pukul 12.45, pesawat Seulawah RI 002 yang membawa Presiden Soekarno dan rombongan mendarat di lapangan terbang Lhoknga. Sehari kemudian Soekarno mengadakan Rapat Samoedra di Esplanade Koetaradja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Soekarno ke Aceh pada 15 Juni 1948 itu ikut membawa beberapa pejabat tinggi. Dalam rombongan presiden itu ikut serta Menteri Dalam Negeri Dr Soekiman, Komisaris Negara Mr T Mohammad Hasan, ikut pula Panglima TNI bagian Sumatera Djendar Major Soehardjo. Semuanya ada 17 petinggi negara yang dibawa Soekarno ke Aceh hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lhoknga mereka disambut oleh  Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin, Gubernur Militer Djendral Major Tgk M Daud Beureueh, Residen Inspektur Toekoe Mahmoed, Residen Aceh T M Daoedsjah, serta Djendral Major Amir Hoesin al Moejahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku “Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh” terbitan Djabatan Penerangan Atjeh, Djoeli 1948. Ketika tiba di Lapangan Udara Lhoknga, Soekarno berpidato berpidato beberapa saat membakarkan semangat ribuan rakyat Aceh yang datang untuk melihat kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Lhonga Sokearno diantar ke Kutaraja. Malamnya, ia memberikan kursus politik kepada para pejabat Aceh di Atjeh Bioskop di Kutaraja. Gedung yang kemudian berubah nama menjadi Garuda Theater. Di tempat itu Soekarno menyampaikan kuliah umum kepada 800 orang dari berbakai kalangan. Sementara di luar gedung sampai ke lapangan Blang Padang ribuan orang mendengar kursus politik Soekarno dari pengeras suara.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah umum Soekarno di Garuda itu disampaikan pada pukul 21.00 WIB, setelah Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin menyampaikan kata sambutan. Berbeda dengan pidato yang disampaikan siang hari di lapangan terbang Lhok Nga, kali ini Soekarno tampil tidak lagi berapi-api, tapi dengan sedikit datar dan canda. Pada halaman 18 buku itu ditulis pernyataan Soekarno seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara saya ini malam mau berbicara, saya tidak harus berpidato secara agitatie, secara berkobar-kobar, tetapi terutama sekali harus berpidato secara yang menuju kepada ketenangan pikiran….jangan kita mendengar pidato yang bergelora-gelora saja, melainkan lihatlah akan isinya pidato, jikalau sekarang pada ini malam saya hendak berbicara kepada saudara-saudara tentang hal-hal yang penting sekali tentang perjuangan kita di saat sekarang ini,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai membuka mukaddimah itu, Soekarno kemudian melanjutkan kursus politiknya tentang syarat-syarat untuk pemimpin. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus berpikir panjang tanpa melupakan sejarahnya. Soekarno mengungkapkannya dalam istilah Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Soekarno, seorang pemimpin harus berpikir secara historisch feiten, berpikir dengan ukuran puluhan tahun, bukan dalam hitungan hari atau pekan. “Kita harus berpikir secara in decennia en in risch, berpikir secara garis sejarah, jangan berpikir secara kejadian sehari-hari,” tegasnya dalam kuliah umum di Garuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rapat Samoedera di Esplanade Koetaradja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pagi 16 Juni 1948, rakyat Aceh kembali datang berduyun-duyun ke lapangan Esplanade Koetaradja. Tapi mereka tidak bisa masuk ke lapangan, hanya berjubel di pinggiran saja. Pasalnya, di lapangan itu dilakukan defile angkatan perang dan persenjataan militer di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 09.00 WIB, Soekarno masuk ke lapangan dengan mobil pengantar. Di sana ia disambut Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian naik ke tribun. Di tribun itu, dibelakang presiden berdiri Komandan Divisi X TNI Kolonel Husin Jusuf, Gubernur Militer Aceh Langkah dan Tanah Karo Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Panglima Sumatera Djendral major Soehardjo, dan Komisaris Negara Mr T M Hasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian melapor kepada presiden bahwa pasukan siap mengikuti rapat Samoedera. Usai menerima laporan itu, Presiden Soekarno bersama Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Husein Jusuf dan Kolonel H Sitompoel melakukan pemeriksaan pasukan. Setelah itu kembali lagi ke tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10.00 WIB, rapat kemudian dibuka oleh T Oesman Raliby dan dilanjutkan dengan sambutan dari Pejabat Tinggi Residen Aceh T M Daoedsjah. Ia meminta kepada seluruh rakyat Aceh yang hadir di lapangan Esplanade Koetaradja itu untuk mendengar baik-baik pidato-pidato yang akan disampaikan oleh beberapa pejabat tinggi negara dalam rapat Samoedera tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, naik ke podium utama untuk berpidato Mr Nazir DT Pamotjak. Ia berbicara tentang pentingnya membangun hubungan luar negeri. Untuk itu harus disiapkan dipolomat-diplomat ulung. Usaha meretas hubungan luar negeri itu sudah dirintis oleh sebuah tim diplomat Indonesia yang dikepalai Menteri Luar Negeri H Agoes Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan sambutan hangat dari beberapa negara yang dikunjungi para diplomat Indonesia itu. “Bukan main hebatnya sambutan dari luar negeri. Kita ketahui bahwa di India, telah begitu lama mereka memperhatikan perjuangan kita. Juga di India rombongan diplomat kita mendapatkan perhatian besar,” jelasnya dalam pidato itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia bercerita tentang sambutan Mufti besar Palestina yang menerima kunjungan tim diplomat Indonesia dan dijamu makan bersama. Begitu juga di Maroko, dan Sultan El Atras dari Syria. “Mesir juga mengakui negara kita sebagai negara yang merdeka,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran selanjutnya berpidato Menteri Dalam Negeri (Mendagri) DR Soekiman. Di hadapan ribuan rakyat di lapangan Esplanade Koetaradja ia mengelu-elukan patriotisme rakyat Aceh dalam melawan Belanda. Semangat yang masih diwarisi oleh rakyat Aceh untuk menentang politik deviden et impera yang dilakukan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu baru giliran Presiden Soekarno berpidato dalam rapat terbuka tersebut. Ketika Soekarno berdiri di depan mikrofon untuk berpidato, teriakan merdeka membahana di lapangan esplanade Koetaradja. Soekarno membalas teriakan merdeka itu dengan meneriakkan kata “Medeka” berkali kali. Ia kemudian membakar semangat rakyat Aceh untuk memekikkan kata “Merdeka” denan suara yang lebih lantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan rakyat di lapangan itu Soekarno berkata, “Kata orang Amerika Let Freedom Ring. Kalimat pertama dari lagu Nasional Amerika bunyinya Let Freedom Ring, artinya gegap gempitakan pekikan kemerdekaan, jangan setengah-setengah, jangan tertahan-tahan jiwa,” katanya. Ia kemudian memekikkan kembali kata “Merdeka” yanmg dijawab dengan pekikan yang sama oleh ribuan rakyat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya, Soekarno juga memuji Aceh sebagai pelopor dan kampium perjuangan kemerdekaan. Ia mengatakan kerinduannya yang sudah sangat lama untuk berkunjung dan bertatap muka langsung dengan rakyat Aceh. Kepada rakyat Aceh Soekarno berpesan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam menghadapi imperialisme barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pidatonya Soekarno mengingatkan rakyat Aceh bahwa revolusi belum selesai. “Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang, sebagai yang tadi malam telah kuceritakan jangan bercerai berai, jangan berpecah belah, jangan dengki mendengki, tetap perilahara persatuan bangsa, tetaplah bekerja bersama-sama, golongan Islam, golongan Pesindo, golongan apapun, tetap bersatu menyelesaikan kita punya Nationale Revolutie yang sekarang belum selesai, yang sekarang baru menghasilkan Republik, yang sekarang malah menjadi kecil, tapi cita-cita kita lebih besar dari pada itu,” pesan Soekarno.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8934191728454831063?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8934191728454831063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8934191728454831063' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8934191728454831063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8934191728454831063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/06/rapat-samoedera-esplanade-koetaradja.html' title='Rapat Samoedera Esplanade Koetaradja'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-PnIC3PfEfos/TfsoDfgheaI/AAAAAAAAAZE/n1eHQm2oIxc/s72-c/soekarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-7502140031655443945</id><published>2011-06-07T23:05:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T23:08:38.874-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-4Aqz9eXAHZU/Te8RveBvDVI/AAAAAAAAAY8/ZknYaFU_NP0/s1600/Said%2BAbdullah%2BDi%2BMeulek.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4Aqz9eXAHZU/Te8RveBvDVI/AAAAAAAAAY8/ZknYaFU_NP0/s320/Said%2BAbdullah%2BDi%2BMeulek.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615726767566163282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wazir Rama Setia atau Sekretaris Kerajaan merupakan jabatan sangat penting dalam Kerjaan Aceh. Ia yang mengatur administrasi kerajaan. Jabatan itu terakhir dipegang oleh Said Abdullah Di Meulek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa mudanya, Said Abdullah di Meulek sudah aktif dalam perpolitikan kerajaan Aceh. Pada masa Aceh dipimpin oleh Sulthan Sulaiman Alaiddin Ali Iskandar Syah (1251-1273 Hijriah = 1836-1857 Masehi) ia  diperbantukan pada badan Wazir Badlul Muluk (Kementrian Luar Negeri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1271 Hijriah (1855 Masehi) ia menjadi anggota delegasi Aceh ke Padang untuk melakukan perundingan dengan Belanda, yang telah mencaplok wilayah Kerajaan Aceh di pesisir barat dan timur Sumatera. Pengalaman di kementrian luar negeri itu kemudian kemudian mengantarnya menjadi salah seorang mentri di kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Sulthan Ibrahim Alaiddin Mansur Syah, ia diangkat menjadi Wazir Rama Setia Keurukon Kitabul Muluk (Menteri Sekretaris Negara). Jabatan itu dipegangnya hingga masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Mahmud Syah (1286-1290 Hijriah = 1870-1874 Masehi). Kemudian pada masa perang Aceh melawan Belanda ia merangkap jabatan sebagai Wakil Panglima Besar Perang Aceh dengan pangkat Letnan Jendral.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meulek banyak menulis naskah-naskah penting dari Kerajaan Aceh. Naskah itu disimpan dalam Darul Asar (mesium) Kerajaan Aceh yang terletak di samping Mesjid Baiturrahim dalam Kraton Daruddunia. Mesium itu pada masa perang dengan Belanda dimusnahkan oleh Belanda bersamaan dengan diruntuhkannya istana kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said Abdullah Di Meulek merupakan keturunan dari Syarif Hasyim Jamalullail Di Meulek,  yang merupakan sulthan Aceh pertama dari dinasti Syarif setelah menggantikan dinasti wanita (para sulthanah-red) yang memerintah di Kerjaaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Hasjmy dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh” mengungkapkan, kekaknya Said Abdullah Di Meulek tersebut naik tahta menjadi sulthan Aceh melalui perebutan kekuasaan tanpa pertumpahan darah, pada Rabu 20 Rabiul Awal 1109 Hijriah (1699 Masehi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia naik tahta mengantikan Sulthanan Aceh yang terakhir, Sri Ratu Kamalatsyah yang diturunkan dari jabatannya akibat perebutan kekuasaan yang dilakukan Syarif Hasyim. Setelah diangkat menjadi raja, Syarif Hasyim digelar Sulthan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalulail. Ia memerintah sejak 1110 – 1113 Hijriah (1699-1702 Masehi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Syarif Hasyim merupakan anggota delegasi Syarif Mekkah yang diutus ke Aceh pada zaman pemerintahan Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 Hijriah = 1678 -1688 Masehi). Ketika delegasi itu kembali ke Mekkah, Syarif Hasyim memilih untuk menetap di Aceh. Ia kemudian diangkat menjadi penasehat kerajaan, sampai pada masa Sultanah Kamalatsyah. Ia kemudian menjatuhkan ratu itu dari tampuk kekuasaan dengan alasan perempuan tidak boleh menajdi raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Dinasti Syarif ini berlangsung hingga tahun 1139 Hijriah (1726 Masehi) dengan sulthan terakhir yang bergelar Shultan Syamsul Alam Wandi Teubeng yang memerintah hanya satu bulan.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-7502140031655443945?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/7502140031655443945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=7502140031655443945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7502140031655443945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7502140031655443945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/06/wazir-rama-setia-kerjaan-aceh.html' title='Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4Aqz9eXAHZU/Te8RveBvDVI/AAAAAAAAAY8/ZknYaFU_NP0/s72-c/Said%2BAbdullah%2BDi%2BMeulek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-9001768899123741181</id><published>2011-05-14T03:52:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T03:53:51.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pawang Rimeung di Mata HC Zentgraff</title><content type='html'>Cerita mistik lainnya adalah kemampuan orang Aceh manaklukkan harimau menyisakan rasa penasaran bagi penulis Belanda, H C Zentgraaff. Rasa penasaran itu semakin memuncak saja, ketika Putra Cut Mutia yang masih kanak-kanak, Teungku Raja Sabi, hidup dalam belantara bersama harimau, menghindar dari kejaran marsose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Aceh, harimau merupakan lambang kekuatan dan kelihaian. Pejuang-pejungan Aceh yang militan semasa perang melawan pemerintah kolonial Belanda, sebelum mempersiapkan diri untuk berperang, maka bila ada kesempatan akan memakan sepotong hati harimau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diyakini akan melahirkan sifat-sifat buas dan beringas dari harimau ke pejuang tersebut, yang dalam bahasa Aceh disebut dengen ceubeuh,  yakni garang dan berani. Dalam perang dengan Belanda, harimau pulalah yang kerap menyelamatkan pejuang Aceh dari kejaran Belanda, dengan memberikan isyarat. Maka diantara gerombolan pejuang Aceh yang bergerilya di belantara, akan selalu ada satu dua orang pawang harimau (pawang rimueng-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tentang hal ini diakui oleh penulis Belanda, H C Zentgraaff, yang juga mantan serdadu dalam perang Aceh. Menurutnya, sikap harimau yang selalu menghindar bila berjumpa dengan gerombolan manusia dalam belantara, dipandang oleh masyarakat Aceh sebagai kewaspadaan yang lihai dalam mengelak resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Aceh, keberadaan harimau punya arti khas tersediri. Malah kuburan-kuburan tokoh-tokoh yang diyakini keramat, dijaga oleh binatang buas tersebut atas kodrta dan kekuatan ghaib. “Di dekat kuburan Teungku Cot Bada di Geulumpang Payong, Pidie, dia (harimau-red) dapat dilihat sekali-kali oleh orang-orang yang percaya, pada saat menjelang senja atau setelah magrib,” tulis Zentgraaf dalam buku “Atjeh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mneurut Zentgraaff, harimau hitam dan harimau putih bergantian menjaga kuburan tersebut, yang letaknya tidak jauh dari pertemuan Krueng Geumpang dan Krueng Tangse. Malah menurut Zentgraaff, orang tua khadam (penjaga) kuburan itu tidak pernah sekali pun diganggu oleh harimau-harimau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang harimau lainnya, adalah kisah Teungku Raja Sabi, putra Cut Mutia yang sejak kecil sudah bergerilya di hutan karena diburu oleh Belanda, setelah Cut Mutia dan Pang Nanggroe yang mengasuhnya meninggal dalam sebuah pertemburan. Raja Sabi yang masih bocah menjadi simbol perjuangan rakyat Aceh di Keuretoe, Aceh Utara. Dalam masa kanak-kanak itu, Raja Sabi terus berpindah dari satu rimba ke rimba yang lain, bersama harimau dan Raja Tampeu, seorang yang sudah sangat akrab dengan binatang-binatang hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Zentgraaff juga mengisahkan tentang keganjilan-keganjilan yang dilakukan oleh Pawang Rimueng  (Pawang harimau-red) di Aceh, yang sangat mengerti tentang kebiasaan, tingkah laku dan seluk beluk binatang buas tersebut. “Kalau saya ceritakan beberapa dari cerita-cerita orang-orang yang dapat dipercaya mengenai pekerjaan-pekerjaan pawang-pawang harimau, maka beberapa dari kita menggelengkan kepalanya. Kita bertanya sejenak, apakah yang diketahui oleh seorang penjinak binatang di dalam sebuah sirkus Barat, mengenai sifat-sifat, watak dan kebiasaan-kebiasaan dari hewan-hewan yang dipeliharanya sehingga merasa dapat sebanding dengan manusia-manusia seperti pawang-pawang Aceh ini, yang seluruh hidupnya, dimulai dengan ilmu yang dimusyawarahkan dan diturunkan secara rahasia oleh orang tua-tua, untuk mepelajari segala apa yang hidup dan mengembara dalam hutan rimba. Mereka jauh lebih mengenal kebiasaan-kebiasaan dan sifat dari harimau serta badak, dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam semua buku barat.” Tulis Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan pawang rimueng  sangat dihargai dalam masyarakat. Bahkan bagi pawang harimau yang berhasil menghela harimua yang mengganggu ternak dan tanaman masyarakat, akan selalu mendapat sumbangan dari hasil ternak atau pertanian warga tersebut sebagai upah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kampung di Aceh, dulu malah mempunyai aturan tersendiri tentang keberadaan pawang rimueng. Dari hasil menjaga dan menjinakkan binatang buas itu pula pawang rimueng  dapat hidup layak. Diantara sekian banyak pawang rimueng di Aceh, dulu yang paling tersohor adalah pawang rimueng di Daya (Aceh Barad Daya-red). Sebuah daerah yang dikenal memiliki banyak harimau yang lebih buas dibandingkan daerah-daerah lain. “Mereka terkenal  karena sangat culas dan buas, dan sekiranya orang hendak menunjukkan dengan jelas betapa takutnya mereka terhadap harimau Daya,” jelas Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zentgraaff mengaku penasaran tentang kemampuan para pawng harimau  dalam menghadapi bintang buas tersebut. Kemampuan itu merupakan warisan turun temurun kepada anak cucu para pawang rimueng. “Betapapun riilnya pengetahuannya tentang harimau, namun hal itu diselubunginya dengan formula-formula mistik serta agama, karena harimau pun adalah ciptaan Tuhan pula, dan berhak untuk diperlakukan dengan semestinya, sesuai dengan cara-cara yang baik, sebgaimana yang diberikan oleh kekuatan yang satu kepda yang lainnya,” lanjut Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Schimid dan Veltman, perwira Belanda yang bertugas di Aceh dalam perang kolonial. Anak lelaki dari pawang secara berangsur-angsur dilekatkan segala keilmuan ini, dan semua ini sebagian besar diselenggarakan dalam hutan menyendiri, sebagaimana halnya dengan bertapa bagi orang Jawa. Mereka yang berhasrat untuk masuk ke dalam dunia kerohanian, hendaklah dengan mulai melepaskan dirinya dari kebendaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memancing hariamu liar agar menuju ke arah tertentu di dalam hutan, untuk memaksanya membuang naluri buasnya dan menuntun jasadnya yang perkasa itu melalui jalan yang dikehendaki sampai ke dalam perangkap, memerlukan hal-hal lain selain dari pada menggunakan jampi-jampi suci saja, walaupun ini dilakukan dengan hati yang betul-betul bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak dari masa kanak-kanaknya, sang pawang mempelajari segala kebiasaan harimau, bukan hanya perlu mengetahui bagaiman cara-caranya ia bergerak di dalam hutan, namun juga; mengapa ia berlaku demikian dan bukan lainnya. “Begitulah si anak muda  dengan bimbingan pawang tua, belajar memahami harimau di tempat terpencil dari dalam hutan, hanyalah dia yang seorang diri berada di dekat bunda alam, yang dapat belajar memahami jalan ilmu kebatinan,” tulis Zentgraaff.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-9001768899123741181?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/9001768899123741181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=9001768899123741181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9001768899123741181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9001768899123741181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/05/pawang-rimeung-di-mata-hc-zentgraff.html' title='Pawang Rimeung di Mata HC Zentgraff'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6181340914347362456</id><published>2011-05-12T06:58:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:36:03.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Mistik Rante Bui</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-s4yCR3_Wbho/TcvnhQN8DZI/AAAAAAAAAYo/OakY6fd3NdM/s1600/rante%2Bbabi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 315px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-s4yCR3_Wbho/TcvnhQN8DZI/AAAAAAAAAYo/OakY6fd3NdM/s320/rante%2Bbabi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605828719667842450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat  rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Tgk Chik Di Tiro. Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kelewang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tak mau kejadian itu terus menerus menimpa pasukannya, Schmist pun mencari seorang mata-mata handal. Baginya, tidaklah sulit mencari mata-mata itu. Yang sulit baginya adalah merahasiakan hubungannya dengan mata-mata tersebut. Apalagi, di daerah itu ia berhadapan dengan kelompok Teungku Puteh, yang juga punya banyak mata-mata handal untuk mengecoh dan menyusup ke bivak-bivak Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka “perang” antar spionase pun terjadi. Antara Schmist dan Teungku Puteh saling mengirim mata-mata ke lapangan. Sebagaimana Schmist mempunyai banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh, maka sebanyak itu pula ada mata-mata Teungku Puteh disekitar Schmist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap peristiwa saling mengintai lawan tersebut, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh”  mengungkapkan. “Ini adalah permainan licin melawan licin, yang setiap saat dapat menetas menjadi salah satu serangan kelewang yang amat terkenal dan sangat fanatik serta serba mendadak. Sehingga penduduk Seunagan terkenal sangat buruk pada pasukan kita (Belanda-red). Kita tidak pernah merasa yakin akan hari esok,” tulis mantan serdadu belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mantan redaktur Java Bode itu mengisahkan, diantara sekian banyak mata-mata Teungku Puteh, terdapat seorang pedagang yang membuka sebuah toko kecil di Keude (pasar-red) Seunagan. Zentgraaff menyebutnya seorang badut yang sangat lihai, yang sekali-kali juga datang kepada Schmist untuk sekedar ngomong-ngomong sebagai basa-basi. “Padahal ia ingin menggali informasi sekitar Schmist untuk kemudian disampaikannya pada Teungku Puteh,” jelas Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Schmidt menerima berita baik dari salah seorang mata-matanya. Ia segera menelaah informasi yang diberikan oleh mata-mata tersebut. Pada saat yang bersamaan, datang pula pedagang dari Keude Seunagan itu ke sana, yang tak lain merupakan  mata-mata dari Teugku Puteh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya pun dibawa masuk kedalam sebuah ruangan oleh Schmist. Si mata-mata tadi segera menceritakan informasi yang dibawanya. Sementara si pedang mendengarnya dengan seksama. Namun keberadaan mata-mata Teungku Puteh tersebut akhirnya diketahui Schmist, setelah ia membongkar rencana Schmist dan pasukannya yang akan menyeran gerilayawan Aceh. Esokya sipedagang itu pun disuruh tangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Schmist dan Teungku Puteh, selain juga sama-sama punya kekuatan mistik. Konon menurut Zentgraaff, Schmist merupakan putra Aceh yang sejak kecil diasuk dan disekolahkan oleh Belanda sampai ke Nezerland, sehingga anak Aceh tersebut menjadi orang Belanda tulen yang sangat mengerti tentang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kekuatan mistik yang dimiliki Schmist, Zentgraaff mengaku pernah mendengar hal itu dari Cut Fatimah, janda dari Teungku Keumangan, yang selama hayatnya memberikan perlawanan yang gigih terhadap pasukan-pasukan Belanda di Jeuram. “Ia telah bercerita pada saya, bahwa Schmist adalah salah seorang dari orang-orang yang tidak banyak jumlahnya. Ia memiliki rante bui, yang membuatnya menjadi kebal. Ia juga megetahui hal-hal yang mistik,” ungkap Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Zentgraaff tidak yakin Schmist memiliki rante bui  tersebut. Menurutnya, yang memiliki benda yang bisa menjadi ajimat tersebut hanyalah Teungku Brahim di Njong, Teungki Chik Samalangan dan Teungku Cot Plieng. Mereka adalah pemimpin-pemimpin spiritual di Aceh (ulama) yang mengobarkan semangat jihat untuk melawan Belanda. “Teungku Cot Plieng merupakan yang paling utama diantara mereka itu. Komandan-komandan patroli kita (Belanda-red) yang paling ulung sekali pun, tak punya harapan menghadapi dia. Tak ada seorang Aceh pun yang berani memberitahukan dimana tempat persembunyian segerombolan dari ulama yang sangat keramat itu,” tulis Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, pasukan Belanda terus memburunya, sampai kemudian pada Juni 1904, pasukan Belanda pimpinan Kapten Stoop berhasil menemukan jejaknya diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Ia pun disergap, tapi Teungku Cot Plieng berhasil lolos dari “lubang jarum” dengan meninggalkan Al Qur’an dan jimat stempelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimat stempel yang ditemukan dari Teungku Cot Plieng itu, disebut-sebut merupakan warisan dari Teungku Syeh Saman Di Tiro, yang dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Karena tak lagi memiliki jimat stempel tersebut Teungku Cot Plieng pun akhirnya berhasil disergap oleh sebuah pasukan patroli pimpinan Letnan Terwogt. Dalam penyergapan tersebut, ulama karismatik itu pun tewas tertembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayatnya kemudian diusungkan ke salah satu bivak, untuk keperluan identifikasi. Belanda heran, karena mayat tersebut tidak membusuk. Untuk memastikan kalau itu adalah Teungku Cot Plieng, Belanda akhirnya memanggil Panglima Polem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana, Panglima Polem memberi hormat pada mayat itu dengan melakukan sujud di tengah orang-orang Aceh yang terdiam karena rasa hormatnya. “Ketika kami berjumpa, Panglima Polem bilang hal itu merupakan rahasia tuhan,” jelas Zentrgaaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Polem pun kemudian melepaskan rante bui  dari mayat Teungku Cot Plieng dan memberikannya kepada Van Daalen, seorang perwira Belanda. Tapi Van Daalen menolaknya, karena tak suka terhadap hal-hal yang berbau mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah operasi pembersihan besar-besar dilakukan pasukan Belanda di Pidie, ajimat itu kemudian dihadiahkan kepada Veltman perwira Belanda lainnya yang kerap dipanggil sebagai “Tuan Pedoman”. Ia tidak juga memakai ajimat itu. Ia lebih percaya kepada sebilah besi baja tajam dan sepucuk revolver, ketimbang ajimat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya rante bui  itu dihadiahkan kepada Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda, yang hingga kini masih disimpan dalam etnografia Aceh. “Saya berhasil memperoleh sebuah gambar potretnya berkat bantuan seorang bekas opsir marsose kawakan bernama Lamster,” jelas Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6181340914347362456?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6181340914347362456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6181340914347362456' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6181340914347362456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6181340914347362456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/05/mistik-rante-bui.html' title='Mistik Rante Bui'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-s4yCR3_Wbho/TcvnhQN8DZI/AAAAAAAAAYo/OakY6fd3NdM/s72-c/rante%2Bbabi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1216694914055268589</id><published>2011-05-03T19:38:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T19:40:13.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Penyerahan Kedaulatan Jepang di Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-LcwBpuwPB2Q/TcC8huX8_GI/AAAAAAAAAYg/fCSv--5Utvc/s1600/barisdan%2Btentara%2Bjepang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-LcwBpuwPB2Q/TcC8huX8_GI/AAAAAAAAAYg/fCSv--5Utvc/s320/barisdan%2Btentara%2Bjepang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602685224019098722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jepang menyerah kalah pada sekutu. Bebepa petingi Jepang di Aceh didesak untuk melakukan penyerahan kekuasaan. Rapat penyerahan kekuasaan itu berlangsung di Meuligoe gubernur sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat penyerahan kekuasaan itu digambarkan oleh Teuku Ali Basyah Talsya dalam tulisan “Bagaimana Mulanya Aceh Membentuk Negara Merdeka”.  Tulisan itu dimuat di majalah Sinar Darussalam Januari 1969 edisi 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya Talsya menyebutkan beberapa pimpinan Aceh yang ikut dalam pertemuan itu adalah: Teungku Muhammad Daod Beureueh, Teuku Nyak Arif, Taunku Mahmud, Ali Hasjmy dan Syamaun Gaharu. Sementara di pihak Jepang antara lain: pejabat Aceh Syu Cokan yakni S Iino, Matubuti, Keimubuco, Boe-ei Tanco dan Kempei Taico. Dalam pertemuan itu, pihak Aceh menuntut penyerahan kekuasaan dari Jepang dan penyerahan persenjataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan di Kota Banda Aceh para pemuda bekas tentara bentukan Jepang, Gyugun, Heigo dan Tokobetu Keisatutei menggabungkan dan membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) di bawah pimpinan Syamaun Gaharu. Sebagian lagi membetuk Gerakan Pemuda Aceh Sinbun yang kemudian menjadi Barisan Pemuda Indonesia (BPI) di bawah pimpinan Ali Hasjmy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus melakukan provokasi terhadap masyarakat untuk membangkitkan semangat anti Jepang. Gerakan masyarakat tersebut dilakukan untuk mendesak pemerintah Jepang di Aceh menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat Aceh. Gerakan itu terus menjalar hingga ke daerah lain di Aceh setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Hasjmy dalam buku Peranan Islam dalam Perang Aceh, mengungkapkan,  berita proklamasi kemerdekaan Indonesia secara resmi disampaikan melalui kawat dari pemerintah pusat yang dikirim melalui Gubernur Sumatera Utara, tapi tidak diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, rakyat Aceh sudah mengetahui hal itu sebelum kawat itu dikirim. Pemuda pemuda Aceh yang bekerja di Sinbun dan Hodoka lebih cepat mengetahui hal itu dan menyampaikannya kepada khalayak ramai. Awalnya berita kepada pemuda di Aceh itu disampaikan oleh Ghazali Yunus dan Bustamam yang bekerja di kantor berita Domei. Apa yang disampaikan Ghazali Yunus dan Bustaman itu disebarkan secara luar oleh kelompok pemuda Aceh di Aceh Sinbun/Domei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampainya berita itu ke daerah membuat gelombang massa untuk menuntut penyerahan kedaulatan Jepang di Aceh semakin kuat. Di ruang depan kantor Ren-tai Hon-bu Fojoka di Bireuen, warga menulis dengan huruf kanji dan katakanan: 17 Agustus 2605 Dokuritsu Indonesia (17 Agustus 1945 Indonesia Merdeka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang kemudian menyerahkan kekuasaan dan pesenjataannya kepada rakyat Aceh.  Senjata peninggalan Jepang itu digunakan oleh pemuda API dan BPI. Meski demikian saat itu masih ada golongan orang yang meragukan kemerdekaan Indonesia, terutama mereka yang sebeumnya menjadi kaki tangan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menepis keraguan tersebut, pada 15 Oktober 1945, empat ulama besar atas nama seluruh ulama di Aceh mengeluarkan sebuah maklumat yang berisi seruan untuk terus berperang karena Belanda akan kembali mencoba masuk ke Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dilakukan karena Belanda sudah berhasil kembali ke Indonesia untuk mengambil alih pendudukan setelah Jepang menyerah pada sekutu. Hanya Aceh satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak mampu dikuasai oleh Belanda kala itu. Karena itu pula, Aceh kemudian oleh Soekarno disebut sebagai daerah modal bagi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklumat ulama itu diutandatangani oleh Tgk Haji Hasan Krueng Kale, Tgk Muhammad Daod Beureueh, Tgk H Jakfar Sidik Lamjabat, Tgk H Ahmad Hasballah Indrapuri. Seruan ulama itu dituangkan dalam surat berisi delapan alinia. Pada alinia keempat sampai alinia terakhir tertulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Jawa Bangsa Belanda dan kaki tangannya telah melakukan keganasan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia hingga terjadi pertempuran di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan berada di pihak kita. Sungguhpun begitu, mereka belum juga insaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh berdiri di belakang maha pemimpin Ir Soekarno untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keyakinan kami bahwa perjuangan ini adalah perjuangan suci yang disebut perang sabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka percayalah wahai bangsaku, bahwa perjuangan ini adalah sebagai sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin oileh Almarhum Teungku Chik Di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebab itu, bangunlah wahai bangsaku sekalian, bersatu padu menyusun bahu, mengangkat langkah maju ke muka untuk mengikuti jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segara perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan tanah air, agama, dan bangsa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluat maklumat tersebut, para pemuda di berbagai daerah di Aceh menggabungkan diri dalam API dan BPI. Apalagi setelah salah satu ulama yang mendantangani maklumat itu, Tgk Haji Hasan Krueng Kale pada 18 Zulkaidah 1364 H mengeluarkan seruah untuk berjihat bagi seluruh rakyat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan itu ditulis dalam huruf Arab dan kemudian dicetak oleh para pemuda di markas besar Pemuda Republik Indonesia (PRI)---organisasi yang kemudian menjadi BPI—sebanyak seribu lembar dan disebarkan ke berbagai daerah. Seruan itu disebarkan bersama surat pengantar dari Pimpinan Daerah PRI tanggal 8 November 1945 nomor 116/1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seruan itu beredar, beberapa ulama kemudian menjumpai Ketua Umum PRI, Ali Hasjmy, antara lain: Tgk Umar Tiro cucu Tgk Chik Di Tiro yang melaporkan bahwa telah mendirikan barisan mujahidin di Tiro. Tapi Ali Hasjmy menyartankannya untuk menyampaikan hal itu kepada Tgk Daod Beureueh. Laporan itu kemudiam diterima oleh Tgk Daod Buereuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dibentuk markas besar mujahidin di Mesjid Raya Baiturrahman dengan TGk Daod Beureueh sebagai ketua umum. Dari situ kemudian barisan mujahidin terus dibentuk sampai ke daerah-daerah untuk menghadapi kemungkinan masuknya kembali Belanda ke Aceh, sebagaimana telah dilakukan belanda di luar Aceh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1216694914055268589?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1216694914055268589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1216694914055268589' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1216694914055268589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1216694914055268589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/05/penyerahan-kedaulatan-jepang-di-aceh.html' title='Penyerahan Kedaulatan Jepang di Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LcwBpuwPB2Q/TcC8huX8_GI/AAAAAAAAAYg/fCSv--5Utvc/s72-c/barisdan%2Btentara%2Bjepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1633416356904100907</id><published>2011-05-02T19:49:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T19:52:25.805-07:00</updated><title type='text'>Gagalnya Maarten Knottenbelt  di Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nIHXxYEfeTM/Tb9t4wCPYFI/AAAAAAAAAYY/GohEVY1v7mE/s1600/Copy%2Bof%2Bto%2Bbang%2Biskandar%2Bnorman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 242px; height: 235px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nIHXxYEfeTM/Tb9t4wCPYFI/AAAAAAAAAYY/GohEVY1v7mE/s320/Copy%2Bof%2Bto%2Bbang%2Biskandar%2Bnorman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602317283206586450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Mata Rantai yang Hilang (1996) M Nur El Ibrahimi menjelaskan Maarten Knottenbelt merupakan perwira Belanda pertama yang diterjunkan ke Sumatera setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya ke Aceh setelah Jepang menyerah diterima oleh Residen Aceh, Teuku Nyak Arif. Hubungan keduanya terungkap dalam tulisan Knottenbelt di majalah Vrij Nederland, edisi 26 tahun VI, terbitan London 19 Januari 1946, dengan judul “Contact met Atjeh” Knottenbelt menybutkan Residen Aceh, Teuku Nyak Arif sebagai salah seorang yang dihubunginya di Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Teuku Nyak Arif dengan Knottenbell, juga disingung Dr Anthony Reids dalam buku The Blood of the People, serta Dr A J Piekar dalam buku Atjeh en de oorlog met Japan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Knottenbell terpaksa harus kembali ke Medan pada 10 November 1945, setelah rakyat Aceh mengetahu identitasnya sebagai perwira Belanda yang memboncengi sekutu. Saat itu juga mencuat isu bahwa Teuku Nyak Arief punya hubungan khusus dengan Knottenbelt terus bergulir. Kecurigaan terhadap Teuku Nyak Arief waktu itu sangat besar. Apalagi Teuku Nyak Arief pernah menjadi anggota Volksraad, dewan rakyat buatan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu pula yang kemudian memicu sentimen anti feodal. Kaum Uleebalang dianggap sebagai jaroe uneuen (tangan kanan) Belanda. Hal yang kemudian membuat Teuku Nyak Arif diturunkan dari jabatannya sebagai residen Aceh. Ia diasingkan ke Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bentukan Husein Al Mujahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamaun Gaharu yang kemudian menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda, dalam seminar di Medan, 22-25 Maret 1976 mengatakan hubungan Teuku Nyak Arif dengan Knottrnbelt itu ada. Namun sembilan tahun kemudian, Januari 1985, Syamaun Gaharu mencabut pernyataannya itu melalui surat kabar Waspada, setelah muncul beragam reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan hal itu, M Nur El Ibrahimi menghubungi kawannya di Belanda. Ia kemudian mendapat balasan sepucuk surat tiga halaman kuarto yang diketik rapi satu spasi. Surat itu merupakan laporan yang dikirim Mayor Knottenbell dari Kutaraja pada 4 November 1946 ke majalah Vrij Nederland di London, yang dimuat pada edisi 26 tahun VI, 19 Januari 1946 dengan judul “Contact met Atjeh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat itu, terungkap bahwa pertemuan Knottenbelt dengan Teuku Nyak Arif tidak hanya terjadi sekali. Setelah pertemuan mereka pada15 Oktober 1945, Knottenbelt megutus Goh Moh Wan, warga keturuna Tionghoa yang mahir berbahasa Inggris, sebagai peghubungnya dengan Teuku Nyak Arief. “…Berhubungan dengan ini saya beberapa kali mendapat kunjungan dari seorang pemimpin pribumi, bernama Nyak Arief, yang oleh Soekarno diangkat menjadi Residen Aceh,” tulis Knottenbelt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam versi aslinya berbahasa Belanda Knottenbelt menulis. “…In verband hiermede werd ik enkele maal bezocht door een inlandse hoogwaardigheiddsbekleeder, genaamd Nyak Arif, die door Soekarno als ‘residen’ van Atjeh benoemd…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anthony Reid dalam buku The Blood of The People kemudian memperjelas hal itu. Menurutnya, angkatan laut Inggris menduduki Sabang tanpa perlawanan pada 7 September 1945. Satu pasukan kecil sekutu (force 136) dikirim dari Medan ke Kutaraja dibawah pimpinan Mayor M J Knottenbelt dan oleh tentara Jepang ditempatkan di sebuah vila berbendera Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya, mengobservasi dan memberi laporan serta berusaha agar senjata yang berada di tangan Jepang tetap terkendali, tidak boleh diserahkan ke pihak lain. Dalam hal ini Knottenbelt bekerja sama dengan Teuku Nyak Arief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reid menulis. “…and even signed apetition to the Britis Commandand that the Dutchman’s presence was ‘at this moment…indispensable to the maintenance of law and order.” Terjemahannya, dan kemudian beliau (Teuku Nyak Arief-red) megirim sebuah petisi kepada komando Inggris, menyatakan bahwa kehadiran Knottenbelt pada saat-saat yang penting ini sangat dibutuhkan untuk tegaknya hukum dan terpeliharanya ketertiban serta keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, M Nur El Ibrahimi menilai hubungan Teuku Nyak Arief dengan Knottenbelt itu bermanfaat. Setidaknya untuk mengusahakan agar sebagian senjata milik Jepang bisa diperoleh oleh Pemerintah Aceh untuk mempersenjatai Angkatan Pemuda Indonesia (API) sebagai cikal bakal Tentara Kemanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia di Aceh.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1633416356904100907?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1633416356904100907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1633416356904100907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1633416356904100907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1633416356904100907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/05/gagalnya-maarten-knottenbelt-di-aceh.html' title='Gagalnya Maarten Knottenbelt  di Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nIHXxYEfeTM/Tb9t4wCPYFI/AAAAAAAAAYY/GohEVY1v7mE/s72-c/Copy%2Bof%2Bto%2Bbang%2Biskandar%2Bnorman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-7657732718257779107</id><published>2011-04-29T06:32:00.001-07:00</published><updated>2011-05-01T03:06:41.833-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Peucicap dalam Budaya Aceh</title><content type='html'>Masyarakat Aceh memiliki adat tersendiri dalam memperlakukan anak yang baru lahir. Adat peucicap dan peutron bak tanoh salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat peucicap ini biasanya dilakukan pada hari ketujuh bayi lahir, yang disertai dengan cuko ok (cukur rambut) dan pemberian nama terhadap si bayi. Acara peucicap dilakukan dengan cara mengoles madu pada bibir bayi disertai dengan doa dan pengharapan dengan kata-kata agar si bayi kelak tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 44 hari sejak lahir, ibu bayi banyak menjalani pantangan-pantangan. Ia harus tetap berada di kamarnya, tidak boleh berjalan-jalan apalagi keluar rumah. Tidak boleh minum yang banyak, nasi yang dimakan juga tanpa gulai dan lauk pauk. Begitu juga dengan makanan yang peda-pedas sangat dilarang. Selama pantangan tersebut ibu bayi selalu dihangatkan dengan bara api yang terus menerus di samping atau dibawah ranjang tidurnya. Masa pantangan inu disebut madeung.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga badan dan perut si ibu yang baru melahirkan tidak melar dan agar tetap langsing, dilakukan cara tradisonal yakni dengan toet bateei (memanasi batu). Batu dibakar lalu di balut dengan kain dan diletakkan di perut wanita yang baru melahirkan. Rasa hangat atau panas dari batu tersebut akan membakar lemak sehingga tubuh wanita yang baru melahirkan tersebut setelah menjalani masa pantangan akan tetap langsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa madeung selesai, ibu bayi akan dimandikan oleh bidan yang merawatnya dengan air yang dicampur irisan boh kruet (limau perut). Acara mandi ini disebut manoe peu ploh peut, yang bermakna mandi setelah 44 hari menjalani masa madeueng. Pada hari ini mertuanya akan datang membawakan nasi pulut kuning, ayam panggang, dan bahan-bahan untuk peusijuek ro darah (keluar darah) menantunya pada saat melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara itu selesai, kepada bidan yang merawat ibu hamil tersebut diberikan hadiah berupa: pakaian satu salin, uang ala kadar, uang penebus cincin suasa, beras dua bambu, padi dua bambu, pulut kuning, ayam panggang, dan seekor ayam hidup. Setelah itu selesaikan kewajiban bidan dan tanggung jawab terhadap ibu hamil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa 44 hari ibunya menjalani madeueng, bayi akan diturunkan untuk menginjang tanah pertama kalinya. Prosesi adat ini disebut peutron bak tanoh. Ada juga yang melakukannya dengan mengadakan pesta besar-besaran untuk, apalagi pada kelahiran anak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada upacara adat ini bayi digendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangai maupun budi pekertinya. Orang yang mengendongnya memakai pakaian yang bagus-bagus. Waktu bayi diturunkan dari tangga dipayungi dengan selembar kain yang dipegang oleh empat orang pada setiap sisi kain. Di atas kain tersebut dibelah kelapa agar bayi menjadi pemberani. Suara saat batok kelapa dibelah ditamsilkan sebagai suara petir, si bayi nantinya tidak takut terhadap petir dan berbagai tantangan hidup lainnya. Ia akan menjadi seorang anak yang ceubeh dan beuhe (gagah berani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belahan kelapada tadi sebelah akan dilemparkan ke arah para wali si bayi, sebelah lagi kepada karong. Wali merupakan saudara dari pihak ayah si bayi, sedangkan karong saudara dari pihak ibu. Setelah itu salah seorang anggota keluarga bergegas menyapu halaman dan yang lain menampi beras bila bayi yang diturunkan ke tanah perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bila bayi laki-laki, keluarga tadi akan mencangkul tanah, mencencang batang pisang atau batang tebu. Perlakuan ini sebagai maksud agar si bayi kelak menjadi anak yang rajin dan giat berusaha. Setelah itu bayi akan di jejakkan ke tanah, kakinya menyentuh tanah untuk pertama kali, lalu digendong dibawa berkeliling rumah atau mesjid. Setelah itu baru dibawa pulang kembali ke rumah.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-7657732718257779107?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/7657732718257779107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=7657732718257779107' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7657732718257779107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7657732718257779107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/masyarakat-aceh-memiliki-adat.html' title='Peucicap dalam Budaya Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1153419472400807645</id><published>2011-04-18T00:23:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T00:25:06.796-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Rapat Sulthan di Negeri Meureudu</title><content type='html'>H M Zainuddin dalam buku Singa Atjeh terbitan Pustaka Iskandar Muda, Medan, 1957 megnisahkan,  sepanjang perjalanan dari pusat kerajaan di Bandar Darussalam sampai ke Negeri Pidie dan Meureudu, parade tentara kerajaan bersama Sulthan singgah untuk rehat di beberapa tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat yang disinggahi itu di antaranya Paru yang saat itu sebagai pusat perkebunan lada, dari sana Sulthan menuju Kuala Keurandji yang suanginya berair jernih. Rombongan Sulthan istirahat di pantai pinggir kuala tersebut. Pantai itu kemudian dimanai Panteraja, yang bermakna pantai tempat raja singgah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di muara sungai  terletak satu benteng peningalan Portugis ketika menyerang Negeri Pidie. Di atas bukit dekat kuala tersebut terdapat bekas kota atau bandar tempat penjualan lada dari perkebunan antara Kuala Njoeng dan Kuala Panteraja. Di kaki bukit tersebut terdapat kuburan Tu Uleegle yang tewas ketika menyerang benteng Portugis sekitar tahun 1521.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tu Uleegle merupakan kakek dari Meuntroe Adan dan Bentara Seumasat Geulumpang Payong. Meuntroe Adam kemudian diangkat menjadi Laksamana oleh Sulthan Alaaddin Djohan Sjah (1742-1767). Sementara Potjut Muhammad diangkat menjadi Wali Nanggroe Pidie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Panteraja Sulthan Iskandar Muda melatih lagi tentara baru di sebuah tanah lapang yang dinamai Blang Peurade. Daerah itu sampai kini dikenal dengan nama Peurade yakni daerah bekas dilakukan parade pasukan oleh Sulthan Iskandar Muda yang diambil dari berbagai daerah yang dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah parade pasukan, Sulthan Iskandar Muda terus bergerak bersama ribuan prajurit ke arah timur.  Daerah yang diallui pertama oleh parade pasukan itu dinamia Juroeng Beurangkat, yang artinya lorong (jalan) berangkatnya Sulthan. Sampai di suatu daerah, rombongan Sulthan diminta untuk singgah dan istirahat oleh penduduk yang menantinya. Di tempat itu Sulthan dipersilahkan duduk (Puduek) dan dijamu dengan tebu dan kelapa muda. Daerah itu kemudian dinamai Puduek yang artinya dipersilahkan duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Puduek Sulthan Iskandar Muda bersama bala tentaranya terus bergerak ke arah Timur hingga sampai ke sebuah daerah yang di pinggir jalannya terdapat pohon besar. Di bawah pohon itu Sulthan melihat sebuah umpang (karung). Tetapi pemilik karung itu tidak berada di situ. Sulthan memerintahkan bawahannya untuk mencari pemilik karung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang-orang di sekitar itu ditanyakan siapa pemilik karung itu.  Seorang warga memberitahu bahwa karung itu milik seorang pria tua. Orang Aceh menyebutnya eumpang wa, yang berjalan lebih dahulu dari bawah pohon tersebut. Daerah itu kemudian dinamai Eumpang Wa, lama-lama berubah pengucapannya, hingga kini dikenal sebagai daerah Pangwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang prajurit kemudian menjinjing karung itu untuk menyusul pemiliknya, namun setelah sekitar satu jam perjalanan, tak ditemukan, hingga Sulthan dan rombongan kemudia kembali istirahat di pinggir sungai kecil. Karena tak berhasil mencari pemilik karung tersebut, Sulthan memerintahkan prajurit itu untuk membukanya. Saat dibuka ternyata isinya beulacan (belacan). Sungai dan daerah pun dinamai Beulacan, yang kini dikenal sebagai Kemukiman Beuracan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Beuracan rombongan Sultan Iskandar Muda terus berjalan untuk menjumpai Tgk Jalaluddin Pakeh yang akan diangkatnya menjadi panglima perang. Sampai di suatu tempat, gajah yang ditunggangi Sulthan berhenti di sebuah bukit. Gajah yang dipanggil Meurah itu duduk di bukit itu di bawah pohon rindang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah duduk dalam bahasa Aceh disebuh Meurah Du, maka daerah itu pun dinamai Meurah Du, yang lama kelamaan pengucapannya berubah menjadi Meureudu, kota yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Pidie Jaya. Negeri Meureudu dulu diperintahkan oleh seorang Keuhruen Syik dengan 12 uleebalang di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah sore, Sulthan menginap di negeri Meureudu untuk menjemput Tgk Japakeh dan Malem Dagang. Sulthan dan rombongan menginap agak ke timur dari daerah gajah duduk. Daerah itu dinamai dom sinaroe, yang bermakna bermalam bersama. Kini dikenal sebagai daerah Naroe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, Sulthan Iskandar Muda mengadakan rapat dengan Uleebalang dan panglima di negeri tersebut yakni: Tgk Jalalauddin Fakih (Tgk Japakeh) Tgk Malem Dagang dan Teungki Chik Pante Geulima di Meureuedu, Bentara Blang Ratna Wangsa, Meuntroe Adam, Bentara Keumangan, Bentara Seumasat Geuleumpang Payong, Bentara Puteh Mukim VIII, serta para petinggi negeri dan ulama di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan dengan Tgk Ja Pekeh di Meureudu, kepada Sulthan Iskandar Muda diusulkan agar Malem Dagang diangkat menjadi Panglima perang menyerang Semenanjung Malaya. Hal itu diterima olehg Sulthan  dan Malem Dagang pun diangkat menjadi panglima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat itu juga menghasilkan kesepakatan bahwa seluruh rakyat negeri Meureudu dan Pidie mendukung perang yang akan dilakukan Sulthan. Sulthan Iskandar Muda mengangkat dan mengambil sumpah pejabat pemerintahan di Negeri Meureudu dan Pidie. Kepada mereka diberikan gelar kehormatan Mentroe (Menteri) dan Bentara (perwira), serta panglima dan keujruen bagi Uleebalang yang menjabat di Kuala dan Rimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan kehormatan Meuntroe diberikan kepada, Meuntroe Banggalang, Aree, Garot Metareum dan Krueng Seumideun. Sedangkan jabatan kehormatan Bentara diberikan kepada Bentara Rubee, Tjembo, Titue Keumala, Gigieng, Pineung, Blang Gapu, Gampong Asan, Ndjong, Tanoh Mirah dan Luengputu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jabatan kehormatan Keujruen diberikan kepada, Keujruen Teurusip, Aron Langieng, Musa, Pante Raja, Pangwa. Dan panglima yang menjaga perintah turun ke sawah diangkat Panglima Meugoe Unoe. Untuk memimpin armada dan tentara kerajaan yang akan menyerang Semenanjung Malaya itu, Malem Dagang dari Negeri Meureudu diangkat menjadi Panglima dengan jabatan panglima besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginap beberapa hari di Negeri Meureudu dan mengumpulkan lagi pasukan di sana, rombongan Sulthan Iskandar Muda bergerak lagi menuju ke arah timur. Pada tengah hari rombongan itu tiba disebuah kelokan sungai yang berair dingin dan jenih. Air sungai yang deras mengalir di celah batu-batu besar yang disebut Batee Ile, batu dengan air mengalir. Daerah inilah dinamai Batee Ile yang sekarang dikenal sebagai tempat wisata Batee Iliek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi dan sembahyang di Batee Ilek, rombongan Sulthan menuju ke sebuah perkampungan dekat sungai itu. Daerah itu terdapat sebuah tumpukan rumah yang jumlah rumahnya ada enam puluh. Sulthan menamai daerah itu Tumpok Namploh, yakni desa dengan enampuluh rumah. Di kampung itu rombongan Sulthan juga bermalam. Kampung itu ramai karena letaknya di aliran Krueng Batee Iliek yang jernih. Di Tumpok Namploh Sulthan juga merekut para pemuda untuk memperkutan barisan tentaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi harinya, prajurit dan para perwira mandi di sungai. Saat berenang datanglah seekor elang yang menyambar tali pinggang putih di atas pantai, milik salah seorang perwira. Tali pinggang itu mungkin dikira ular oleh elang sehingga disambar. Elang itu terbang dan kemduian berhenti di atas bak nga (pohon kenang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwira yang sedang berenang itu terkejut, lalu mereka beramai-ramai mengejar elang itu. Karena takut elang itu terbang lagi dan menyambar pohon kenanga. Maka elang itu disebut kleung sama bak nga, artinya elang yang menyambar pohon kenanga. Hal itu pula yang menurut H M Zainuddin sebagai asal usul dari nama Samalanga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Samalanga rombongan Sulthan kemudian berangkat lagi menuju pesisir timur. tidak berapa jauh dari Samalanga di tengah jalan rombongan itu dilintasi oleh sekawan kera (bue). Mereka menyeburnya ditham le bue,  yakni dilintasi oleh kera. Karena itulah daerah padang yang dilalui itu dinamai Tham Bue, yang kini dikenal sebagai daerah Tambue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan Suthan kemudian berjalan sampai menjumpai sebuah kuala. Karena sudah sore mereka bermalam di situ. Warga sekitar kemudian mengantarkan hidangan ala kadar untuk rombongan Sulthan dan tentaranya. Di antaranya hidangan dan sarapan itu terdapat isi satu piring sambal yang diantar oleh seorang wanita. Sambal itu terbuat dari ikan dan direbus seperti petis udang. Orang Aceh menamai sambal itu “peuda” dan karena rasanya sangat pedas maka mereka itu menyebut terlalu pedas dengan kata peuda da yang kemudian menjadi nama daerah tersebut; Peudada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya Sulthan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke suatu kuala besar yang dijaga oleh kapal perang raja di dekat daerah Jangka. Daerah itu pun dinamaka Kuala Raja, kuala yang dijaga oleh kapal perangnya raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ Seri Sulthan memanggil pula para uleebalang  untuk meminta orang ikut pergi menjerang Malaka. Tapi banyak yang takut dan tak ingin ikut dalam rombongan tersebut mereka takut akan terlibat dalam perang besar. Mereka melarikan diri ke dalam rimba. Orang-orang yang ketakutan itu dipanggil ka yo (sudah takut). Pengucapannya lama kelamaan berubah menjadi ga yo. Kelompok orang-orang yang lari dari ajakan perang inilah yang disebut H M Zainuddin sebagai orang-orang Gayo sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uleebalang daerah itu merasa malu karena para pemudanya tidak berani ikut berperang. Karena itu, uleebalang minta maaf dan mempersilahkan suthan dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Timur. Namun uleebalang itu berjanji akan menyuruh orang-orang yang lari ke rimba itu untuk menangkap gajah dan akan dipersembahkan kepada Sulthan nanti setelah pulang dari perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rombongan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan itulah, timbul olok-olok dari kalangan tentara kerajaan yang ramai-ramai berteriak peusak ngon, yang atrinya mendesak kawan. Hal itu diucapkan karena uleebalang itu mendesak para tentara untuk melanjutkan perjalanannya, sementara uleebalang itu sendiri tidak memberikan pemudanya untuk menjadi tentara yang akan berperang ke Malaka. Dari kata peusak ngon itulah asal usul nama daerah Peusangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Peusangan, bala tentara dan Sulthan terus melanjutkan perjalanan sampai ke suatu negeri yang bernama Kandang. Mereka berhenti di situ. Sulthan kembali meminta para pemuda di sana untuk bergabung dalam angkatan perang untuk diberangkatkan menuju Malaka. Tapi warga di sana meminta keberangkatan di tunda dulu, mereka belum siap berangkat karena tanaman padinya belum dipanen. Karena itulah daerah itu dinamai tunda  yang bermakna menunda keberangkatan, sebuah daerah yang kini kita kenal dengan nama Cunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orang-orang di Cunda siap untuk berangkat, rombongan menuju sebuah teluk yang indah, tapi sepi karena ditinggal pergi penduduknya. Di daerah itu hanya tinggal seorang nelayan tua yang sedang memancing. Rombongan Sulthan bertanya pada nelayan itu kemana para penduduk. Ia menjawab bahwa para penduduk sudah pergi, “Seuma-seuma ka iweh, (kuman-kuman sudah pergi),” jawab nelayan itu. Daerah itupun dinamai Seuma weh, daerah yang kini dikenal sebagai Lhok Seumawe.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1153419472400807645?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1153419472400807645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1153419472400807645' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1153419472400807645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1153419472400807645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/rapat-sulthan-di-negeri-meureudu.html' title='Rapat Sulthan di Negeri Meureudu'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-4743699267550228121</id><published>2011-04-16T21:36:00.000-07:00</published><updated>2011-04-16T21:37:48.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Iskandar Muda Menjemput Tgk Japakeh</title><content type='html'>Penyerangan Kerajaan Aceh terhadap Semenanjung Malaya dilakukan dengan Ghali, yakni kapal perang besar dan Djong (perahu) yang dibeli dengan keuntungan dari perniagaan lada, Tgk Japakah ikut serat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hikayat Sulthan Aceh Iskandar Muda diceritakan, setelah saran-saran dari Putroe Phang, Sulthan Iskandar Muda meninggalkan istananya. Ia berangkat diiringi para menteri dan uleebalang serta bala tentaranya. Mereka berjalan melalui darat dana akan naik kapal di Kuala Jambo Aye. Kapal-kapal perang menyusuri pantai mengikuti rombongan Sulthan Iskandar Muda. Armada perang itu dinamai Cakra Donya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Negeri Pidie rombongan beristirahat. Panglima Pidie berserta rajanya menyatakan dukungan dan bergabung dengan armada Cakara Donya. Dari Pidie mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Negeri Meureudu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Hal yang sama juga diungkapkan H M Zainudidn dalam buku “Singa Atjeh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, Medan, 1957. Dalam buku setebal 198 halaman itu perjalanan Sulthan Iskandar Muda ke beberapa daerah untuk mengumpulkan kekuatan menyerang Johor dan Malaka. Dalam perjalanannya, Iskandar Muda memberi nama beberapa daerah yang dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerangan terhadap Semenanjung Malaya itu akan dilakukan dengan Ghali, yakni kapal perang besar dan Djong (perahu) yang dibeli dengan keuntungan dari perniagaan lada. Untuk mengumpulkan bala tentara tambahan maka perjalanan ke daerah-daerah dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembesar negeri, ulama dan para panglima dikumpulkan untuk menyokong penyerangan tersebut. Sulthan juga melakukan pertemua dengan empat kepala kaum di Aceh yaitu, kaum imum peut, kaum tok batee, kaum lhee reutoh dan kaum ja sandang. Tujuannya, bersepakat untuk menyerang Portugis yang telah lama mengganggu Kerajaan Aceh dan Semenanjung Malaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat kaum itu dipertemukan dalam sebuah pertemuan, para pemuda direkrut menjadi angkatan perang untuk menambah barisan tentara kerajaan. Sulthan juga mengirim surat rahasia kepada para panglima di pelosok-pelosok Aceh untuk menyiapkan pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika persiapan dengan pusat kerajaan sudah dirasa memadai, dilakukan kenduri besar bersama rakyat. Para panglima berpidato membakar semangat tentara kerajaan untuk menuju Semenanjung Malaya. Sulthan memerintahkan  angkatan lautnya untuk berangkat terlebih dahulu ke pesisir Timur dan berkumpul di Teluk Aru (Pulau Kampai) dan Asahan yang diiringi bersama oleh Panglima Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sulthan dan rombongannya mengambil jalan darat dengan menggunakan gajah. Sepanjang perjalanan ia mengumpulkan para prajurit dari setiap daerah yang sudah disiapkan oleh para panglimanya masing-masing. Sulthan Iskandar Muda ingin mengajak Panglima Pidie dan Panglima Meureudu untuk membantunya dalam misi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para panglima asal negeri Meurueudu dikenal sebagai orang yang berkarakter, suaranya keras, matanya kadang terbelalak kalau sedang marah. Maka orang-orang dari Meureudu dikenal sebagai orang yang mata hu su meutaga, yakni mata terbelalak dan bersuara keras. Hal ini secara historis menjadi karakter masyarakat di Negeri Meureudu yang bersikap tegas, disiplin dan konsekwen. Golongan dari merekalah yang banyak menjadi panglima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sikap yang mata hu su meutaga  itu kadang juga muncul dalam kemarahan, emosional, mudah tersinggung, bahkan bengis ketika melawan musuh. Orang-orang yang mampu menjaga karakter itu pada tempatnyalah yang lebih banyak lulus sebagai perwira militer setingkat panglima di pusat pelatihan Raweu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusdiklat Raweu itu dibangun oleh Tgk Japakeh, ulama besar di Negeri Meureudu yang diangkat sebagai penasehat kerajaan pada masa Sulthan Iskandar Muda memerintah Aceh. Kala itu Sulthan Iskandar Muda hendak menyerang Johor dan Malaka, ia bergerak menuju Negeri Meureudu untuk menjumpai Tgk Japakeh yang akan diangkat sebagai penasehat perang, ahli siasat militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Pusdiklat Raweu di Negeri Meureudu membuat Kerajaan Aceh begitu tergantung padanya. Untuk mengembangkan Pusdilkat Raweu menjadi pusat pelatihan yang lebih baik, Sulthan Aceh menjalin kerjasama dengan Turki. Malah Tgk Japakeh yang bernama asli Jalaluddin merupakan ulama dan diplomat yang memiliki garis keturunan dengan Bangsa Turki. Ia berasal dari Khoja Faqih Turki, namun orang-orang di Meureudu suka memanggilnya dengan nama yang singkat Japakeh yang bermakna Tgk Jalaluddin dari Faqih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama datang ke Negeri Meureudu, Tgk Japakeh menetap di Raweu di lembah hulu sungai Meureudu, sekitar 40 kilometer arah selatan pusat pemerintahan Negeri Meureudu, yang berbatasan langsung dengan Aceh Barat. Sulthan Iskandar Muda datang ke Negeri Meureudu untuk menjemput Tgk Japakeh. Ia akan diangkat sebagai penasehat militer dalam misi perang menyerang Johor dan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgk Japakeh bersama rakyat Raweu membawa hasil pertanian, turun ke pusat Negeri Meureudu untuk menyambut kedatangan Sulthan Iskandar Muda, tapi sampai pada waktu yang ditentukan, Raja Aceh itu tidak muncul. Tgk Japakeh memerintahkan masyarakat Raweu untuk kembali, sehingga ketika Sulthan Iskandar Muda tiba, tak ada yang menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulthan Iskandar Muda kemudian mengirim utusan ke Raweu untuk menjemput Tgk Japakeh. Rakyat Raweu pun kembali turun bersama Tgk Japakeh membawakan hasil pertanian sebagai persembahan bagi raja agung itu. Ia meminta maaf tentang hal itu. Namun Sulthan Iskandar Muda menolaknya, ia marah besar karena sudah seminggu berada di Meureudu tak ada yang menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Sulthan Iskandar Muda marah, maka Tgk Japakeh dengan bersuara lantang di hadapan raja memerintahkan kepada warga Raweu untuk mengambil kembali barang bawaannya. “Ambil kembali barang itu, mari kita kembali ke Raweu, tak perlu kita memuliakan orang yang tidak mau menerima hormat kita. Raja yang ingkar janji yang datang tidak pada waktu yang dijanjikannya,” perintah Tgk Japakeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara Tgk Japakeh yang bengis dan lantang itu, Sulthan Iskandar Muda menyadari kesalahannya. Ia membujuk Tgk Japakeh agar tidak kembali ke Raweu dan mau ikut dengannya sebagai penasehat militer untuk misi menyerang Johor dan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgk Japakeh mengiyakan permintaan Sulthan Iskandar Muda tersebut dengan syarat, orang Meureudu harus diangkat menjadi panglima dalam perang tersebut. Ia merekomendasikan Tgk Chik Pante Geulima, yang setelah penyerangan ke Johor dan Malaka itu menulis hikayat Malem Dagang dengan 2.695 bait yang menceritakan kisah armada Iskandar Muda dalam perang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgk Japakeh dan Malem Dagang memiliki watak keras, dua ulama Negeri Meureudu tersebut, yang berani bersikap lantang di hadapan Sulthan selama sikap yang diyakininya itu benar. Sebagaimana lantangnya Tgk Japakeh terhadap Sulthan Iskandar Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tgk Chik Pante Geulima lahir pada tahun 1839 di kampung Pante Geulima. Ia pernah belajar di Pusat Pendidikan Islam Dayah Pante Geulima yang dipimpin ayahnya sendiri Teungku Chik Ya’kub. Selain itu itu, ia juga pernah mengikuti pendidikan militer di pusat pelatihan Askar (tentara) Aceh, Makhad Baital Makdis di Raweu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-4743699267550228121?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/4743699267550228121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=4743699267550228121' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/4743699267550228121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/4743699267550228121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/iskandar-muda-menjemput-tgk-japakeh.html' title='Iskandar Muda Menjemput Tgk Japakeh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-3648108184022153585</id><published>2011-04-15T00:40:00.000-07:00</published><updated>2011-04-15T00:43:13.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Lihatlah Rosihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ze6slXCh4L8/Taf3BhFmMXI/AAAAAAAAAYQ/F2NjZrnbqNY/s1600/rosihan%2Banwar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 201px; height: 261px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ze6slXCh4L8/Taf3BhFmMXI/AAAAAAAAAYQ/F2NjZrnbqNY/s320/rosihan%2Banwar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595712667464905074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul tulisan singkat ini saya ambil dari judul buku  Friedrich Nietzsche “Ecce Homo” lihatlah dia. Kali ini mari kita melihat Rosihan Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosihan Anwar memang telah pergi pada Kamis, 14 April 2011. Tapi ia tidak benar-benar pergi. Ia masih di sini bersama kita, di meja kita, di layar monitor komputer jinjing kita, di ingatan generasi setelahnya. Ia tak pergi tanpa meninggalkan secercah rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang pergi, tapi masih berada bersama orang-orang setelahnya sampai sekian puluh tahun bahkan berbilang abad, menembus segala masa. Inilah yang disebut Peter Ustinov dalam Aftertaste, 1958, tidak ada gunanya mati jika Anda tidak menghantui ingatan seseorang, jika tidak meninggalkan secercah rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelintir orang berhenti menjadi manusia dan mulai menjadi gagasan, menjadi monumen adalah bukti mereka meninggalkan rasa tertentu di benak generasi setelahnya. Dan Rosihan Anwa telah melakukan hal itu melalui buku-bukunya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosihan sebelum berangkat, telah lebih dulu pergi Ke Barat dari Rumah (1952), India dari Dekat (1954). Ia juga ada pada laman-laman Dapat Panggilan Nabi Ibrahim (1959), yang kemudian mulai bertanya pada kita semua dalam Islam dan Anda (1962).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosihan juga da di Ihwal Jurnalistik (1974), lima tahun sebelumnya Raja Kecil (1967) juga menggentarkan kita dalam novelnya. Ia juga meniggalkan secercah rasa itu dalam Kisah-kisah Zaman Revolusi (1975). Yang paling membekas adalah ketika ia Menulis Dalam Air (1983). Itu hanya sebagian dari rasa yang ditiggalkan Rosihan di ujung penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Rosihan, kita tak perlu menulis panjang lebar, banyak sudah yang membahas kehidupannya. Tapi mari kita berpaling untuk melihatnya dari apa yang ditinggalkannya dalam buku-buku tadi. Wartawan segala zaman itu memang telah sampai pada apa yang dikatakan Nietzshe, how one become what one is: bagaimana orang menjadi apa adanya dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rosihan menjadi dirinya sendiri yang setia pada profesinya sampai akhir hayat, ketika banyak orang-orang seangkatannya yang menyebarang ke ranah politik dengan kepopulerannya. Mereka yang mampu meraih pencapaian di ranah lain setelah “murtad” pada profesi jurnalisnya, tapi tak mampu menjadi monumen dalam ingatan sebagaimana Rosihan “menghantui” ingatan generasi setelahnya. Maka wajarlah dia mendapatkan anugrah Bitang Mahaputra III (1974), Kesetiaan Berkarya Sebagai Wartawan (2005)  dan Life Time Achievement (2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan rasanya ketika ia hampir empat dekade dipercayakan sebagai wakil ketua dewan film nasional, anggota dewan pimpinan Harian YTKPI, Commite Member AMIC Singapore,  sampai menjadi dosen tetap di fakultas sastra Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Rosihan, bagaimana kentalnya rasa yang ditinggalkannya sampai ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Ramai petinggi negeri yang angkat tabik untuk sepuh para jurnalis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya…lihatlah Rosihan, ia memang tak memanggul senjata ketika nusantara dirampas kolonial. Tapi penanya melebihi senjata segala senjata masa itu. Apa yang terjadi di meja konferensi semisal konferensi meja bundar pada 1946 antara petinggi negerinya yang baru lahir dengan penjajahnya di Denhag dikabarkan di ujung penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran 10 Mei 1922 di Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat telah hidup dalam ragam zaman selama 88 tahun. Hingga kemudian ketokohannya sebagai jurnalis yang idealis membuatnya pantas untuk berpaling melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, lihatlah Rosihan tidak lagi di rupanya, tapi di 21 buku dan ratusan artikel yang ditinggalkannya di hampir semua media cetak terkemuka di Indonesia. Itu semua merupakan pondasi dari rancangan monumen dirinya dalam ingatan kita. Seperti kata Nietzsche, ia telah menjadi apa adanya dia dengan tidak menjadi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk orang-orang seperki kita (jurnalis) yang mengikuti Rosihan, tak perlu mengupas panjang lebar kehidupannya. Tapi mari kita mencari dia di monumen ingatan yang ditinggalkannya, karena Rosihan bukanlah golongan megalomania yang menulis hanya untuk dirinya, yang mengira bahwa kehidupanya cukup istimewa untuk dibaca orang. Tapi mari membaca dia dan semangatnya sebagai jurnalis segala zaman. Rosihan memang telah pergi, salvo dan lambaian saja tidak cukup untuk mengantar kepergiannya. Jauh dari itu, mari kita mencari dia di “monumen” yang ditiggalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup tulisan singkat ini, saya kutip apa yang dikatakan Nietzsche dalam Sabda Zarathustra, kalian menghormati aku, namun bagaimana jika suatu hari nanti rasa hormat itu harus tumbang? Jagalah agar sebuah patung yang tumbang jangan sampai menjatuhimu sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita menjaga penghormatan kita itu untuk Rosihan. Jangan sampai semangat yang ditinggalkannya sebagai jurnalis segala zaman memudar. Mari menjaganya agar ia tetap menjadi monumen di ingatan kita.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-3648108184022153585?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/3648108184022153585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=3648108184022153585' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3648108184022153585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3648108184022153585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/lihatlah-rosihan.html' title='Lihatlah Rosihan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ze6slXCh4L8/Taf3BhFmMXI/AAAAAAAAAYQ/F2NjZrnbqNY/s72-c/rosihan%2Banwar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2210927636512494362</id><published>2011-04-13T22:54:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T22:56:04.919-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>De Jong Atjeher</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagi sejarawan Aceh, H M Zainuddin  sering menajdi rujukan. Karya-karyanya sampai kini masih jadi referensi. Namun siapa sangka ternyata dia awalnya sarjana pertanian, ahli perbankan, bisnisman dan wartawan yang menggunakan nama pena De Jong Atjeher.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan H M Zainuddin sebagai penulis buku-buku sejarah Aceh tidak diragukan lagi. Berbagai karangannya tentang sejarah Aceh, kini menjadi rujukan dan referensi bagi generasi setelahnya. Tulisan singkat ini mencoba mengungkap kembali siapa sebenarnya De Jong Atjeher itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H M Zainuddin merupakan putra dari H Abu Bakar, seorang pedagang hasil bumi yang sering meekspor barang dagangannya ke luar negeri. Ia sering ikut berlayar membawa barang dagangannya berlayar ke Sailon, Kalkuta dan Penang dengan menggunakan kapal sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat singkat di halaman akhir buku “Singa Atjeh” yang berisi boigrafi Sulthan Iskandar Muda, ia mengugkap sedikit perjalanan hidupnya hingga menjadi sejarawan. Ia lahir pada 15 Muharram 1310 Hijriah, bertepatan dengan 10 Mei 1983di Keude Ndjong, Kewedanan Sigli, kini menjadi Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pendidikan pertama diperolehnya di Inl School Sigli. Tamat sekolah tersebut ia dikirim oleh ayahnya ke Pulau Pinang, Malaysia untuk berdagang. Di sana ia menjadi anak muda yang serba kecukupan dengan penghasilan dari bisnis dagangnya. Dari usahanya itu pula ia kemudian bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1913.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menunaikan ibadah haji ia kembali ke Sigli pada Januari 1914, sementara usahanya di Pulau Pinang dilanjutkan oleh orang kepercayaannya. Kembalinya ia ke Sigli kala itu karena Pemerintah Hindia Belanda membuka Landbouwschool,  sekolah pertanian di Beureunuen. Ia melanjutkan pendidikan di sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tamat Landbouwschool pada tahun 1916, ia diangkat menjadi asisten di sekolah pertanian tersebut dan diperbantukan pada Leider Landbouwschool (Landbouwkundige Ambtenar B. Dj. Rasad). Di sana ia belajar bahasa Belanda pada Alb Kroes Bandung melalui korepodensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kesibukannya di sekolah itu, ia juga menjadi wartawab (koresponden) Dagblag terbitan Medan. Tulisan pertamanya di koran tersebut mengupas tentang verslag lengkap dari konggres Vereeniging Atjeh yang diadakan pada 16 Januari 1916. Pada waktu itu ia juga menjadi penulis pada majalah politik Sama Rata yang juga terbit di Medan. Penerbitan majalah itu dipimpin oleh Mangun Atmodjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1918 ia menjadi Beherder Centrale Proeftuin dari Landbouwvoorlichtingsdienst di Uleekareng, dan merangkap sebagai assistent leider Sekolah Pertanian Uleekareng. Ia juga menjadi anggota Nederlandssche Verbond  di Kutaraja. Pada masa itu ia H M Zainuddin masuk ke kancah politik dengan bergabung menajdi anggota Insulinde  cabang Kutaraja dengan jabatan sebagai Secretaris Vereeningin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah masuk dalam kancah politik, ia tetap melanjutkan profesinya sebagai wartawan dengan menjadi spesial korespoden untuk koran Neratja pimpinan H A Salim, setelah koran Neratja/Hindia Baru tidak terbit. Pada masa yang sama ia juga menjadi spesial korespoden Bintang Timur pimpinan Parada Harahap. Di Bitang Timur  inilah ia mengunakan nama De Jong Atjeher dalam setiap tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahun 1921 sampai 1926 menjadi Beheerder pada Proef en Demonstatietuinen Peureulak Langsa dan Idi yang berkedudukan di Peureulak untuk memperluas sawah dalam afdeeling Aceh Timur. Bekas-bekas kebun lada dalam Landschap Peureulak dirubah menjadi areal persawahan. Meski sibuk mengurus pertanian di Peureulak, H M Zainuddin tetab menjalani profesi sebagai wartawan di Warta Timur terbitan Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindahnya H M Zainuddin ke Peureulak pada tahun 1921 itu atas permintaan Uleebalang (Zelfbestuur) Peureulak Tgk Chik Muhammad Thaib kepada Gubernur Aceh agar dikirim ahli pertanian ke sana. Perluasan sawah itu dengan penanaman bibit unggul setelahnya mampu membuat daerah Aceh Timur swasembada beras, sehingga tak lagi harus mendatangkan beras dari Aceh Utara dan Pidie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun Tgk Chik Muhammad Thaib di Tualang seluas tiga hektar dijadikan sebagai lahan penelitian dan pengembangan oleh H M Zainuddin. Di kebun itu ia mengajarkan kepada warga cara pengcangkokan tanaman. Berbagai jenis tanahan buah yang dicangkokkan itu kemudian dipamerkan pada acara hiburan pasar malam di Langsa dan dijual seharga Rp1 perbatang. Tak lama kemudian selain berhasil memperluas sawah, H M zainuddin juga berhasil mengembangkan perkebunan rakyat, dengan berbagai bibit unggul yang dicangkokkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dinilai sukses dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di Aceh Timur, maka H M Zainuddin kemudian diminta oleh Beheerlamdbouwconsulen Medam, Profesor J H Heijl untuk melakukan hal yang sama di Tuinbouwkundige Abtenar J Bange  di Kaban Jahe, Sumatera Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 1925 mendapat cuti selama empat bulan untuk mengurus kesehatannya ke Sanatorium Semplak (Bogor). Dari sana ia memperdalam ilmu pertaniannya tentang percangkokan dan perkawinan silang tumbunan di Sukabumi dan Pasar Minggu. Di sana ia juga sebagai spesial koresponden persbiro Al Pena dan  harian Bintang Timur pimpinan P Harahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Novel dan Sejarah&lt;br /&gt;Pada tahun 1926 H M Zainuddin meminta berhenti dari jawatan pertaninan (Opeigen verzoek eervol Ontslagen) dan membuka perusahaan dagang sendiri Atjehsche Producten Handel  dan Annemery di Peureulak. Di sela-sela kesibukannya mengurus perusahaan tersebut  H M Zainuddin menulis  roman Djeumpa Atjeh  yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka di Betawi (Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu ia mulai mengumpulkan bahan-badan dan melakukan penelitian untuk penulisan buku Tarick Aceh yang melambungkan namanya dari bisnismen dan ahli pertanian menjadi sejarawan yang dikenal hingga sekarang. Meski demikian aktivitasnya menulis di media tidak ditinggalkan. Setelah mundur dari jawatan pertanian ia masih terus menulis dan menjadi Reizende Redactuur harian Tjinpo  terbitan Medan. Di media itu setiap satu ia menulia tajuk rencana (editorial) tentang politik dan ekonomi yang terjadi di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1931 H M Zainuddin menjadi sekretaris School Vereeniging Pusaka  yang dibangun bersama T Muhamamd Thajeb dan T Muhammad Nurdin di Peureulak. Ia menjabat disekolah tersebut sampai tahun 1938. Semasa menjadi sekretasi di sekolah itu ia juga mulai menulis novel Dharma (toneelstuk), dan Bunga Berduri  yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang menjadi korban asmara karena melepaskan seorang gadis dari penyiksaan ibu tirinya. Kemudian ia juga menulis novel Lila Atjeh  yang mengisahkan perjalanan Sulthan Iskandar Muda menyerang Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hasil dari penulisan novel itu digunakan untuk membantu biaya sekolah Pusaka  (School Vereeniging Pusaka) Peureulak dan Onze Shool di Langsa. Cerita-cerita dari novel yang ditulisnya itu kemudian dipentaskan dalam pergelaran sandiwara keliling yang H M Zainuddin sendiri menjadi sutradaranya (toneeldirectuur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sejak 1935 sampai 1941 H M Zainudidn diminta untuk bekerja di perbankan dengan surat pengangkatan Besluit Hoofd der Centrale Commisie der Volkscrediet Bank tanggal 25 Maret 1935 nomor 5. Ia diangkat menjadi Lid Plaatselijke van Toezicht en Bij Stand der A.V. Bank Langsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun pekerjaan baru yang dijalani H M Zainuddin, ia tak pernah meningalkan profesinya sebagai wartawan. Karena itu pula sampai tahun 1938 ia menjadi Medemerker majalan politik Penjedar  di Medan dan menjadi pengisi rubrik “Atjeh Problem”  yang beiri tulisan tentang sosial politik dan kehakiman di Aceh. Di majalah itu ia mengunakan nama Atjeher. Pada waktu yang sama ia juga menjadi koresponden Pewarta Deli dan  Pelita Andalas terbitan Medan. Ketika menulis di media-media itu, H M Zainuddin tinggal di Langsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mengembangkan bisnisnya dengan membuka Expeditie Kantoor Atjeh (EKA)  di Medan. Di sela-sela kesibukannya itu, ia menulis buku tentang pertanian “Ilmu Tanah”  buku itu kemudian diterbitkan oleh Indiche Drukkery  yang kemudian berubah menjadi percetakan Indonesia di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun 1939 sampai 1941 H M Zainuddin juga menjadi Manager Firma Wahab di Medan yang bergerak dalam bidang perdagangan dan distribusi beras asal Aceh ke berbagai daerah di Sumetera Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada masa awal penjajahan Jepang (1941) ia kembali ke Aceh Timur dan bekerja di kantor Bunsuchu Atjeh Timur  sebagai Kepala Tikisan merangkap pengurus distribusi beras untuk kawasan Kota Langsa dan Kuala Simpang. Setahun kemudian (1942) ia dipindahkan ke Kutajara (Banda Aceh) dan diangkat menjadi Zansankutjo pada kantor Kusai Kyoko merangkap kepala bagian ekonomi yang bertugas memperbanyak logistik dan bahan-bahan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama memegang jabatan itu, ia diangkat menjadi Boai Butjo dari Koshi Kuku (Badan Pertanahan Daerah) bersama Teuku Nyak Arief dan Teuku Panglima Polem Muhammad Ali yang ditugaskan untuk mengurus soal-soal Gaygun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan TKR dan Gasida&lt;br /&gt;Pada awal kemerdekaan (1945)  Teuku Nyak Arief sebagai Residen Aceh dengan pangkat Brigadeir Jendral membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam laskar TKR, H M Zainuddin mengumpulkan bekas-bekar tentara Gyugun  dan Heiho bentukan Jepang untuk masuk menjadi TKR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha mengumpulkan bekas-bekas tentara bentara Jepang itu dilakukan H M Zainuddin bersama Kolonel Syamaun Gaharu, T A Hamid, Said Usman, Said Ali, T Ahmad Syah, Muhammad Hussain dan Kamarusid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga ditugaskan untuk membeli persenjataan dengan dana yang diberikan oleh Teuku Nyak Arief dari penjualan emasnya. Setelah berdiri Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), H M Zainudidn dipilih menjadi anggota badan eksekutif di DPR sampai Juni 1946. Saat itu ia juga menjabat sebagai Vice Consul Muhammadiyah Aceh (1943 - 1946).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada tahun 1946 H M Zainuddin diangkat menjadi Kepala Kantor urusan Bahan Makanan Residen Aceh di Kutaraja sampai ia berhenti di kantor tersebut pada tahun 1947. Ia kemudian menyalurkan dana pribadinya sebesar Rp35.000 untuk modal pendirian Bank Dagang Nasional di Kutaraja, karena uang peninggalan Jepang sudah habis digunakan oleh Residen Aceh untuk pembelian senjata bagi Tentara Keamanan Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H M Zainuddin kemudian berhenti sebagai pegawai pemerintah dan membuka kerja sama bisnis (perkongsian) dengan Firma Pribumi dan menjadi anggota Gabungan Saudagar Gasida di Kutaraja. Di lembaga ini ia dipilih menjadi Ketua Majelis Komisaris Pengurus Besar Gasida. Jabatan itu dipegangnya dari tahun 1948 sampai 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima Kunjungan Soekarno&lt;br /&gt;Pada tahun 1948 untuk pertama kalinya Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh. sebagai Komisaris Gasida, H M Zainuddin bersama para saudagar Aceh melakukan jamuan khusus terhadap presiden pertama Indonesia itu di Atheh Hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jamuan itu, Soekarno meminta kepada saudagar-saudagar Aceh untuk membeli dua pesawat terbang demi kelancaran tugas preside ke luar negeri. Untuk tujuanya itu Soekarno pada saat yang sama juga khusus menjumpai Gubernur Militer Langkat dan Tanah Karo, Tgk Muhammad Daod Beureueh. Malah di hadapan Abu Beureueh itu Soekarno bersumpah dan menangis meminta agar dibelikan dua pesawat terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Beureueh kemudian memerintahkan para saudara Gasida untuk mengumpulkan dana pembelian pesawat tersebut. Hari itu juga Gasida memberikan sumbangan uang tunai US$ 120.000 kepada Soekarno untuk pembelian pesawat terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulangnya Soekarno dari Aceh, saudagar Gasida selama 27 hari terus mengumpulkan dana tambahan untuk pembelian pesawat.  Mereka turun ke daerah-daerah. Pulang dari daerah, Gasida kembali menyerahkan cek senilai US$120.000 kepada Resdien Aceh untuk diserahkan ke presiden. Cek itu harus di cairkan pada Firma Permai di Penang, Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pada 1949, H M Zainuddin menjadi Presiden Direktur NV Petraco. Jabatan itu dipegangnya sampai Juli 1957. Ia berhenti dari perusahaan itu untuk lebih fokus pada penulisan buku-buku sejarah Aceh, di antaranya Singa Atjeh  yang berisi biografi Sulthan Iskandar Muda, dan buku Tarick Aceh dan Nusantara dalam dua jilid. Jilid pertama berisi tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Aceh, sementara jilid kedua tentang sejarah kerajaan-kerajaan Melayu di nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai merampung buku tersebut, ia kemudian menulis Sejarah dan Kesusastraan Indonesia, Ilmu Tanah, Muharram, dan beberapa hikayat Aceh, serta kumpulan pantun dan pribahasa Aceh. buku-buku itu ditulisnya di Medan, di sana ia diminta untuk membantu secara berkala di jawatan sejarah militer dan Majalah Iskandar Muda yang diterbitkan di Medan dan Kutaraja. Ia juga mejadi penasehat Himpunan Peminat Sastra Islam Sumatera Utara dan penasehat Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) cabang Medan.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2210927636512494362?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2210927636512494362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2210927636512494362' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2210927636512494362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2210927636512494362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/de-jong-atjeher.html' title='De Jong Atjeher'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-615632860123369298</id><published>2011-04-12T21:48:00.000-07:00</published><updated>2011-04-12T21:49:28.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pulo Gayo di Pulo Puep</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Satu lagi bekas purba kala di Kabupaten Pidie Jaya menurut catatan H M Zainuddin ada di Gampong Pulo Puep, sekitar dua sampai tiga kilomter arah utara pasar Luengputu.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gampong itu juga ditemukan kuburan dengan batu nisan yang sama seperti ditemukan di makam raja raja Pasai dan makan di Keulibeut. Kuburan itu ditemukan di sebuah tempat yang dinamai Pulo Gayo. Pada tahun 1939 H M Zainuddin pernah melakukan penelitian lansung ke tempat itu. Ia mengaku penasaran mengapa tempat itu dinamai Pulo Gayo sementara umumnya orang mengetahuyi Gayo itu berada di Aceh bagian tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pedududuk di Pulo Puep H M Zainuddin memperoleh informasi bahwa dahulu kala di daerah itu hanya ada beberapa gampong diantaranya: Pulo Piuep, Pulo Pisang dan Pulo Angkoi di dekat Kuala Putu (Luengputu) yang menyatu dengan Kuala Ndjong. Suatu waktu seorang raja dari Gayo datang ke daerah itu untuk menghadap raja Ndjong. Tapi sampai di kuala itu ia sakit dan beberapa hari kemudian meninggal. Ia dikuburkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian ahli waris Raja Gayo itu datang berziarah. Kuburan itu diperbaiki dan dipasang batu nisan yang berukir dengan huruf arab yang artinya “Di sini ada kuburan Raja Gayo”. Setelah itulah daerah di kuburan itu dinamai Pulo Gayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meneliti keberadaan kuburan tersebut, H M Zainuddin menemukan potongan-potongan batu nisan yang sudah runtuh dan jatuh ke dalam sebuah sungai kecil (alue). Dua potongan nisan itu diambil oleh H M Zainuddin. Ia merekam tulisan di potongan nisan tersebut dengan menggunakan karbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penduduk Pulo Pueb H M Zainuddin juga memperoleh kabar bahwa tidak jauh dari Pulo Gayo itu nelayan di sana sering menemukan rantai suah kapal dan papan bekas perahu zaman dahulu. H M Zainuddin pun kemudian melanjutkan penelitiannya ke sana. Kesimpulannya, daerah itu merupakan salah satu daerah pelabuhan penting zaman dahulu di Kerajaan Pedir, malah jauh sebelum kerajaan itu terbentuk, yakni pada masa Pedir masih bernama Kerajaan Sama Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, H M Zainuddin tidak bisa memastikan bagaimana bentuk dan susunan pemerintahan di kerajaan tersebut. Hanya saja ketika Kerjaan Aceh Darussalam telah terbentuk dan Pedir menjadi bagian federasi di dalamnya, diketahui bahwa Pedir yang saat itu sudah dipanggil dengan sebutan Pidie diperintahkan oleh banyak uleebalang di berbagai wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para uleebalang itu bergelar meuntroe, panglima, imum, keujruen dan bentara, seperti: Meuntroe Banggalang, Meuntroe Garot, Bentara Rubee, Imum Peutawoe Andeue, Meuntroe Gampong Are, bentara Po Puteh Mukim VIII, Imum Lhokkadju, Meuntroe Metarem (Metareuem), Meuntroe Krueng Seumideum, Bentara Pinueng, Bentara Gigieng, Bentara Blang Ratnawangsa, panglima Meugeu, Bentara Keumangan, Meuntroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Bentara Blang Gapu (Ie Lubeu), Bentara Gampong Asan, Bentara Ndjong, Bentara Putu, Bentara Alue, Keujruen Aron, Keujruen Pencalang Rimba Truseb, Bentara Djumbo’, Bentara Titue, Bentara Keumala, Kejrueng Panteraja, Kejrueng Peurambat Pangwa, dan Keujrueng Chik Meureudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para uleebalang tersebut memerintah sendiri negerinya yang langsung berhubungan dengan Sulthan Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan beberapa uleebalang diangkat oleh raja Kerajaan Aceh Darussalam pada masa diperintah oleh Sulthan Iskandar Muda. Mereka yang diangkat langsung oleh Sulthan Iskandar Muda merupakan para uleebalang baru untuk memimpin daerah yang baru dibuka waktu itu, seperti: Bentara Pineung, Bentara Gigieng, Panglima Meugeu, Imuem Peutawoe Andeue dan Ilot, Bentara Cumbo’, Bentara Titue dan Bentara Keumala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah itu dibuka oleh Sulthan Iskandar Muda untuk memperluas persawahan dan mengatur irigasi. Air dari Keulama dialirkan hingga ke persawahan melalui sungai kecil (lueng)  ke setiap wilayah pertanian seperti Rubee, Iboh (Lueng Bintang), Ie Lubeu (Lueng Djaman), Mangki (Lueng Busu/Lueng Rambayan). Air dari Keumala itu juag ditersukan ke Lueng Alue Batee, Glumoang Payong, Unoe (Lueng Glumpang Minyeuk/Lueng Trueng Campli), Ndjong dan Lancok (Lueng Putu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua jalur irigasi (lueng)  itu digali secara bersama-sama oleh rakyat atas perintah Sulthan Iskandar Muda. Karena itulah negeri-negeri di Pidie dan Meureudu waktu itu kaya dengan berbagai hasil pertanian dan perkebunan. Malah pada zaman Sulthan Iskandar Mudan, negeri Meureudu dijadikan sebagai daerah lumbung pangan bagi Kerajaan Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan irigasi ke sawah-sawah di semua daerah itu juga melibatkan ulama-ulama setempat, seperti Tgk Di Waido (Lueng Bintang) atau sering disebut Tgk Di Pasi, kemduian Tgk Treung Campi di Glumpang Minyek yang membuka irigasi ke blang raya Glumpang Payong. Tgk Rubiah (Rubieh) di Meureudu dan beberapa tempat lainnya. Sampai sekarang para petani sebelum turun ke sawah melakukan khanduri blang di makam ulama-ulama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentara Luengputu Diserang&lt;br /&gt;Pada masa kerajaan Aceh Darusalam diperintah oleh Sulthan Alauddin Mahmud Syah (1767 – 1787) terjadi kekacaun di berbagai dearah akibat perang saudara. Uleebalang yang satu menyerang wilayah uleebalang lainnya untuk memperluas daerah kekuasaan dan menguasai perkebunan. Untuk menghadapi hal tersebut, dibentuklah dua federasi uleebang di Pidie, yakni federasi uleebalang duablah (12) dan federasi uleebang nam (6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Federasi uleebalang duablah meliputi Teuku  Raja Pakeh, Teuku Bentara Ribee, Meuntroe Banggalang, Teuku Bentara Blang, Bentara Tjumbo’, Bentara Titue di bagian barat yang dipimpin oleh Teuku Raja Pakeh. Kemudian di bagian timur Meuntroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Keujrueun Aron, Keujruen Truseb, Bentara Ndjong, Bentara Putu, Bentara Gampong Asan yang dipimpin oleh Meuntroe Adan yang bergelar Meuntroe Polem kemudian menjadi Lakasama Polem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara federasi uleebalang nam terdiri dari: Bentara Keumangan (Panghulee Peunareu), Bentara Sama Indra (Mukim VIII), Bentara Pineung, Bentara Keumala, Panglima Meugeu, dan Bentara Gigieng. Federasi ini dipimpin oleh Bantara Keumangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksamana Polem kemudian mengawinkan anaknya yang bernama Teuku Muhammad Hussain dengan anak Teuku Bentara Ndjong. Ketika Teuku Bentara Ndjong meninggal ia tidak memiliki anak laki-laki, maka diangkatlah menantunya itu sebagai penggantinya oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Teuku Muhammad Hussain menikah lagi dengan anaknya Teuku Bentara Gampong Asan, karena perkawinan itu pula Gampong Asan berhasil dipengaruhinya. Dari sana ia menunaikan haji ke Mekkah. Sepulangnya dari Mekkah ternyata Laksamana Polem ayahnya sudah meninggal, maka diangkatlah dia menjadi laksamana dengan gelar Laksamana Tuan Haji Muhammad Hussain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksamana Hussain sangat giat membangun perkebunan lada. Pada masa itu Bandar Pulau Pinang di semenanjung Malaka sudah dibuka oleh Raffles, maka Laksamana Hussain berangkat ke sana bersama rombongannya untuk misi dagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari sana, ia memperluas perkebunan, uyntuk tujuan itu maka Bentara Putu diserang. Ia ingin mengambil dan menguasai perkebunan di perbukitan Paru, Musa dan Panteraja yang saat itu juga sudah mengembangkan perkebunan lada. Setelah menaklukkan daerah tersebut, Laksamana Hussain mendatangkan orang-orang Cetti dari Pulau Pinang untuk bekerja di perkebunan tersebut. Perkebunan itu di atas perbukitan Musa itu diatur oleh Haji Lam Ara, kawannya Laksamana Hussain ketika sama-sama naik haji ke Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksama Hussain memmiliki 17 anak, anak-anaknya itu diminta untuk mengatur dan membuka wilayah perkebunan baru. Teuku Rajeu’ Main disuruhnya menjaga pantai sepanjang Blang Gapu, Ie Luebeu sampai ke Kuala Ndjong. Ia memerintah di sana dengan membuka peternakan sapi dan pertambakan, serta memperbanyak pukat (jaring) bagi para nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Laksamana Hussain lainnya, Teuku Sjahbuddin disuruh untuk menetap di Panteraja. Di sana ia membuka perkebunan lada dan menikah dengan  anak Kejrueng Beuracan. Anak Laksamana Hussain ada juga yang dinikahkan dengan Keujruen Chik Samalanga. Sementara anaknya yang tua, Teuku Mahmud membantunya memerintah di Kuala dan Keude Ndjong. Karena perkawinan anak-anaknya itulah pengaruh kekuasaannya Laksamana Hussain semakin melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian anaknya yang peempuan bernama Pocut Atikah dikawinkan denan Teuku Raja Pakeh Dalam. Karena giatnya Laksamana Tuan Haji Muhammad Hussain membangun perkebunan dan memperluas kekuasan, ia menjadi uleebalang terkaya di Pidie melalui politik perkawinan anak-anaknya, hingga ia mendapat dukungan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Laksamana Tuanku Muhamamd Hussain mangkay, maka diangkatlah Tueku Mahmud, anaknya sebagai pengganti degan gelar Laksamana Mahmud. dDalam pemerintahannya terjadi perang dengan negeri Meureudu, karena Meureudu menyerang untuk merebut wilayah Pangwa dan Trienggadeng. Panglima Siblok yang diangkat oleh Laksamana Mahmud untuk memerintah di Kejreuen Pangwa tak mampu melawan. Ia ditangkap dan dikirim ke Bentara Keumangan oleh panglima Meureudu karena negeri Meureudu waktu itu telah mengkat hubungan dengan federasi uleebalang nam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Keumangan, Panglima Siblok dibunuh. Karena itu Laksamana Mahmud marah besar. Ia menghimpun pasukannya untuk menuntut balas dan menyerang Negeri Meureudu. Dalam perang itu penglima perang negeri Meureudu Teuku Muda Cut Latif ditawan dan dikirim ke Bandar Aceh Darussalam untuk disidangkan oleh Sulthan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulthan kemudian mendamaikan dua negeri tersebut dan panglima Meureudu dibebaskan, sementara wilayah Pangwa dan Trienggadeng diserahkan dalam pengawasan federasi uleebalang duablah yang dipimpin oleh Laksamana Mahmud. Dari perdamaian itu kemudian anak Laksamana Mahmud dinikahkan dengan anak panglima besar negeri Meureudu, Teuku Muda Cut Latif.[] &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-615632860123369298?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/615632860123369298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=615632860123369298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/615632860123369298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/615632860123369298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/pulo-gayo-di-pulo-puep.html' title='Pulo Gayo di Pulo Puep'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-680149383204391999</id><published>2011-04-10T06:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-10T06:12:09.805-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pertalian Meureudu dengan Pedir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Negeri Meuredu denga Pedir memiliki kesatuan sejarah. Meski kini telah pecah menjadi dua daerah tingkat dua. Berbagai riwayat pernah terjalin di sana. Salah satunya tentang benteng Portugis yang keberadaan tidak diketahui hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Aceh, H M Zainuddin dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara (1961) menyebutkan, Negeri Pedir termasuk Meureudu di dalamnya pada zaman dahulu merupakan sebuah kerajaan yang berbatasan sebelah dengan Kuala Batee sampai ke Kaula Ulim di sebelah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, dalam kisah pelayaran bangsa Portugal menyebut Pidie sebagai Pedir, sementara dalam kisah pelayaran bangsa Tiongkok disebut sebagai Poli. Asumsinya, orang Tiongkok tidak dapat menyebut kata “Pidie” seperti yang kita ucapkan, seperti orang Tiongkok menyebut Meureudu dengan sebutan Meuleulu, Kutaraja disebut Kutalaja dan lain sebagainya. Sama halnya dengan lidah orang Arab yang tidak dapat menyebut huruf “qa” dan “cing” mereka menyebut ka dengan gha, misalnya qalu disebut ghalu, kucing disebut  kusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah pelayaran bangsa Tiongkok  pada masa dinasti Liang sekitar abad kelima (413 M) disebutkan, pada masa itu seorang pelayar dari Tiongkok yang bernama Fa Hian telah melawat ke Jeep Po Ti singgah di Sumatera. Diantara daerah yang disinggahinya adalah Poli (Pedir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan pelayat Tiongkok itu disebutkan Kerajaan Pedir luasnya sekitar seratus kali dua ratus mil, atau sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalanan dari utara ke selatan. Pedir digambarkan pada masa itu memiliki 136 daerah perkampungan (pemukiman), kehidupan penduduknya makmur dari hasil bercocok tanam padi dua kali setahun.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Cara bertani di negeri Pedir sama seperti di Persia (Iran) dan India di lembah Sungai Indus dan Gangga. Para penduduk Pedir juga memelihara  ulat sutera untuk kebutuhan tenun kain. Kalangan pembesar di Pedir waktu itu sudah memakai kain sutera ketika ada perhelatan tertentu, sementara masyarakat umum di pedesaan masih menggunakan pakaian dari kulit kayu yang disebut sebagai cawat. Penduduk Pedir masa itu juga sudah mulai beternak kambing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 518 M raja Pedir mengirim utusan ke Tiongkok untuk perkenalan dan hubungan diplomatik. Kunjungan itu dibalas oleh raja Tiongkok pasa tahun 617 M dengan mengirim utusannya yang bernama I Thing untuk mengunjungi kerajaan-kerajaan di pesisir Aceh sekarang. Dalam kunjungan selama lima bulan itu, I Thing melawat kedelapan kerjaan yang ada di Aceh waktu itu. Dalam kunjungannya ia menemukan kampung-kampung yang berpagar bambu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan-kerajaan yang dikunjunginya antara lain: Peureulak, Samudra/Pasai, Pedir (Poli), Lamuri dan Dagroian. Kerajaan yang disebut terakhir (Dagroian) tidak jelas keberadaannya dan tidak terungkap sejarah sampai sekarang. Ia hanya menggambarkan bahwa kehidupan penduduk di kerjajaan-kerajaan yang dikunjunginya itu masih liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar lain menurut H M Zainuddin, Pedir dalam cataan Pa Hin (Fa Hian) musafir Tiongkok disebutkan sebagai sebuah negeri yang makmur yang rajanya mengendarai gajah dan berpakaian sutra. Pelabuhan Pedir letaknya disebuah teluh yang genting. Tidak jauh dari pelabuhan itu terdapat sebuah perkampungan yang bernama Panei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung itu dulu dihuni oleh orang Hindu pembuat parang, serta membakar kapur dan menanam bawang. Di rimba sekitar kampung itu banyak tumbuh pohon gaharu dan kayu kapur (geuruphai). Di kampung Panei itu diyakini oleh H M Zainuddin masih terdapat bekas-bekas purbakala Hindu. Seorang ahli purbakala dari Belanda pernah meneliti keberadaan kampung tersebut sekitar daerah Batee dan Geurilia Atieh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 82 hijriah atau 717 masehi, 35 kapal Adjam/Persia yang dipimpin Zahid melakukan ekspedisi. Mereka berangkat dari Teluk Adjam kemudian berkumpul di Ceylan. Dari sama 35 armada itu membagi rute pelayaran. Ada yang menuju Canton (Tiongkok), ke semananjung Malaya, Kedah, Siam, Kamboja, Annam (Hindia belakang) dan beberapa daerah lain penghasil rempah-rempah, termasuk ke Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ekspedisi selanjutnya kira-kira tahun 724 masehi, kapal-kapal Persia itu kembali ke Aceh untuk membeli barang dagangan seperti emas, perakm kapur barus, kemenyan, cendana, dan berbagai rempah-rempah. Kemudian pada tahun 322 hijrian/950 masehi, para penjelajah Arab juga singga di Rami, sebuah daerah yang tidak jauh dari Pedir. Daerah Rami ini kemudian dikenal sebagai Lamri yang kemudian menjadi Lamuri. Sebuah kerajaan di Aceh Besar sebelum munculnya kerajaan Aceh Darussalam. Setelah itu mulai ramailah orang-orang luar singgah di berbagai pelabuhan di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H M Zainuddin berpendapat bahwa tanaman merica yang paling subur dengan kualiats baik berasal dari perkebunan di daerah Pedir. Ia mengutip pendapat seorang ahli sejarah dan pertanian J H Heijl yang menyebutkan, sejak abat VII tumbuhan lada sudah dikembangkan di Pedir, Pasai dan Peureulak. Tentang kualitas lada di Pedir diungkap dalam sebuah pepatah Melayu lama di Semenanjuk Malaka yang menyebutkan “Berat orang ini seperti berat lada Pedir,” yang menunjukkan bahwa dari banyak lada yang diperdagangkan di semenanjung tersebut, lada asal Pedir yang sangat digemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benteng Portugis antara Ndjong dan Panteraja&lt;br /&gt;Dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara (1961) H M Zainuddin juga menyinggung tentang sejarah purbakalai Pedir yang kekuasaannya juga termasuk wilayah Pidie Jaya sekarang. Bukti sejarah purbakala Pedir ditemukan di Kampung Keleubeut (Labui). Di sana ditemukan makam raja-raja, di antaranya ada makam Sulthan Ma’ruf Syah, anak dari Sulthan Sulaiman Nur yang mangkat pada tahun 916 hijriah (1511 masehi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di Gampong Sangeu dekat mesjid Labui terdapat makam Putroe Balee yang mangkat pada tahun 970 hijriah (1588 masehi). Bentuk makam-makan itu sama dengan makam raja-raja di Pasai, Aceh Besar, Daya. Nisan makam itu terbuat dari pualam bertulis huruf Arab. Datu-batu nisan itu ada yang didatangkan dari Hindi ada pula yang dibuat di Meuraksa Ulee Lheu sekarang. Karena itu H M zainuddin yakin, keberadaan Kerajaan Pedir waktu itu serupa dengan Kerajaan Pasai dan kerjaan-kerajaan di Aceh Besar sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat pelayaran bangsa Portugis diterangkan bahwa sebelum Portugis datang pada tahun 1509, kerjaan di Aceh Besar ditaklukkan oleh kerajaan Pedir, tapi penaklukkan itu hanya sementara waktu, hingga kemudian saling menyerang. Portugis kemudian membangun benteng pertahanan di wilayah Pedir. Namun Pedir kemudian dikalahkan kembali oleh raja Aceh Besar, Raja Ali dan adiknya Raja Ibrahim. Usai menaklukkan Pedir mereka menyerbu benteng-benteng Portugis di Pedir yakni di Kuala Gigieng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benteng itu hingga kini tidak diketahui keberadaannya. Namun menurut H M Zainuddin, dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Kuta Asan di Sigli merupakan bekas benteng Portugis. Namun cerita lain menyebutkan benteng Portugis itu terdapat di sebuah bukit daerah antara Panteraja dan Kuala Ndjong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan letak benteng Portugis tersebut, perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Kalau benar benteng tersebut terletak antara kawasan Panteraja dan Ndjong, maka sebuah sisi baru sejarah Pidie Jaya bisa diungkap lebih jauh. Untuk itu butuh kepedulian semua pihak, terutama Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya untuk menggali kembali sejarah yang belum terungkap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kuburan Tu Uleegle &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1905, ketika Belanda menjajah Aceh, pemerintah Belanda di Sigli, Overste Van Dallen membuka jalan dari Sigli ke Glumpang Payong tembus ke Gampong Musa dan Panteraja. Jalan itu juga melalui Keude Paru, pusat perniagaan rempah-rempah kala itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun jalan tersebut batu-batu besar dibongkar sepanjang jalur pembangunan. Di kaki bukit daerah itu ditemukan sebuah kuburan lama. Kuburan itu kemudian diketahui sebagai malam Tu Uleegle. Nenek moyang dari Mentroe Adan dan Bentara Seumasat Glumpang Payong. Mentroe Adan ini kemudian digelar sebagai Laksamana Negeri Ndjong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H M Zainuddin menjelaskan, kuburan Tu Uleegle itu sebelumnya dijaga oleh keturunannya secara turun temurun. Dari mereka diperoleh keterangan baha Tu Uleegle meniggal waktu penyerangan benteng Portugis di daerah Panteraja. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Glumpang Payong dan dikebumikan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu masyarakat sering datang untuk melepaskan nazar (kalul) di tempat Tu Uleegle baik di Panteraja maupun di kuburannya di Glumpang Payong. Jadi berdasarkan keterangan tersebut, keberadaan benteng Portugis zaman dahulu juga bisa jadi terletak antara Uleegle dan Panteraja. Artinya biula sebelum disebutkan keberadaan benteng Portugis itu antara Ndjong dan Panteraja, kini lebih luas ke arah timur yakni dari Ndjong ke Uleegle. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, untuk mengetahui keberadaan benteng Portugis tersebut pada zaman dahulu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mulai dari Ndjong dibagian barat Kabupaten Pidie Jaya sampai ke Uleegle di bagian timur. H M zainuddin menilai hal itu masuk akal karena letak dua daerah di bagian barat dan Timur Pidie Jaya itu dari dulu sudah sangat strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, diantara dua daerah itu dialiri oleh beberapa sungai yang muaranya (kuala) menjadi pelabuhan masa dahulu, yakni Kuala Ndjong, Kuala Panteraja, Kuala Meureudu. Alasan lainnya menurut H M Zainuddin, di daerah itu terdapat bukit-bukit yang dulunya dijadikan perkebunan lada, yakni di Paru, Panteraja, Peudue (Peuduek sekarang) dan Trienggadeng. Perkebunan lada di kawasan itu terkenal hingga masa terbukanya bandar Pulau Pinang di semenanjung Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang membangun perkebunan di kawasan itu adalah Teuku Sjahbuddin, anak dari Laksamana Hadji Muhammad Hussain, Uleebalang negeri Ndjong. Ia merupakan keturunan dari Tu Uleegle. Pada masa Belanda menjajah Aceh, Teuku Sjahbuddin menolak untuk diperintah oleh Belanda. Ia lari ke Pulau Pinang, Malaysia dengan membawa harta bendanya. Di sana ia tinggal di kawasan Jalan Hatim (Hoton Lane) dan mendirikan perumahan di sana dengan harta benda yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih jauh tentang sejarah keturunan Tu Uleegle ini, maka sudah seharusnya dilakukan penelitian hingga ke Malaysia. Dari sana juga nanti bisa terungkap silsilah Tu Uleegle yang sebenarnya, serta peranannya pada masa dahulu bagi daerah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pidie Jaya.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-680149383204391999?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/680149383204391999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=680149383204391999' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/680149383204391999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/680149383204391999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/pertalian-meureudu-dengan-pedir.html' title='Pertalian Meureudu dengan Pedir'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1133183550469769156</id><published>2011-04-07T21:49:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T21:50:32.570-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Silopsisme</title><content type='html'>Silopsisme kini melanda pikiran sebagian golongan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Mereka hanya percaya apa yang mereka yakini, sehingga menolak percaya apa saja di luar keyakinan politik mereka sendiri. Imbasnya hak rakyat terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sampai sekarang belum disahkan. Pro-kontra calon independen pada pemilihan gubernur/wakil gubernur dan kepala pemerintah daerah tingkat dua sampai kini belum tuntas. Dua hal ini saja merupakan hak paling asasi bagi rakyat Aceh untuk menikmati dan menjalankannya, belum terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum itu, silopsisme golongan juga diperlihatkan oleh sekelompok anggota dewan mayoritas di DPRA pada ‘perebutan’ satu jabatan wakil ketua. Aturan undang-undang diaduk-aduk dan dibenturkan untuk membernarkan pendapatnya. Hasilnya, perangkat pimpinan di DPRA lowong dengan tidak adanya satu wakil ketua.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka yang disebut wakil rakyat itu larut dalam silopsismenya, maka hak-hak masyarakat banyak yang harus diperjuangkan terabaikan. Aceh kini benar-benar kekurangan pemimpin yang berpengetahuan tentang kerakyatan. Mereka yang dulu dalam gerakan perlawanan kini terjebak pada pemenuhan misi kelompok semata. Gerakan mereka berhasil membangun pemerintahan baru, tapi gagal dalam mewujudkan cita-cita kepemimpinan yang dijanjikannya kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempatan seorang pejabat masih kentara faktor suka tidak suka plus berapa setoran yang sanggup dipenuhi sebagai ‘mas kawin’ untuk satu kursi. Imbasnya, berbagai jabatan kini dipimpin oleh orang-orang yang tidak pada tempatnya. Banyak tenaga dan biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pemerintahan pada jabatan tertentu, tapi hasilnya untuk rakyat masih jauh dari memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang lima puluh empat tahun lalu, pada 11 Juni 1957 diwanti-wanti oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pertama; Muhammad Hatta dalam pidatonya pada hari alumni pertama Universitas Indonesia (UI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak proklamator itu menyentil tentang silopsisme yang melanda para pejabat di nusantara yang hanya berpikiran golongan, sehingga politik bangsa terkotak-kotak, hingga kemudian silopsisme muncul diantara kelompok-kelompok yang mengklaim dirinya sebagai yang paling benar dan menolak yang lain di luar kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti itu kini masih terjadi di Aceh, baik di legislatif maupun di eksekutif. Sekarang sebagian besar mereka yang duduk di tampuk pimpinan di Aceh adalah mereka-mereka yang dulunya mengatasnamakan rakyat dalam pertentangan Aceh dengan Jakarta dalam waktu tiga dekade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah damai, para pemanggul senjata itu menceburkan diri dalam politik dengan pemahaman politik yang seadanya. Jadilah sekarang politik di Aceh digerakkan oleh segolongan orang yang berkepentingan dengan  tiada pengetahuan yang cukup. Dampaknya, politik dan demokrasi di Aceh tidak lagi diartikan sebagai usaha melaksanakan tanggung jawab terhadap kepentingan dan kebutuhan rakyat, tapi telah dipandang sebagai jalan untuk mencari keuntungan dan membagi-bagi rejeki jabatan kepada golongan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan kita lebih sibuk memperjuangkan dana aspirasi Rp5 miliar per orang, tinimbang mengurus perut rakyat yang masih keroncongan. Ratusan miliar dana aspirasi itu pun bukannya dinikmati oleh rakyat yang memilihnya, tapi ke kantong-kantong rekan, sejawat, dan famili dari kelompok mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Hatta menyebut ini sebagai tabiat politik yang menimbulkan efek komulatif, tidak saja partai yang berpengaruh di lembaga legislatif yang dipenuhi oleh orang-orang yang tidak pada tempatnya di situ, tidak saja kursi di parlemen itu diisi oleh orang-orang yang tidak memenuhi syarat, tapi jiwa partai mereka sendiri telah rusak karena perbedaan antara cita-cita pendiriannya dengan praktek yang dijalankan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila kemudian rakyat bersuara. Berulang kali sudah lembaga terhormat yang dihuni oleh mereka yang dinamai wakil rakyat itu didemo, tapi pekak mungkin masih mereka rasakan hingga tuntutan demi tuntutan itu tak terdengar di telinga mereka. Selasa (5/4/11) lalu malah Rizwan, seorang mahasiswa dari Mahasiswa Peduli Rakyat (MPR) pecah bibir hingga berdarah setelah bentrok dengan aparat kepolisian di gedung dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal para mahasiswa itu datang untuk menyuarakan tuntutan yang sangat lumrah, yakni meminta Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2011 segera disahkan dan pemilihan kepala pemerintahan di Aceh dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan; Oktober 2011. Ironisnya memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kondisi di Aceh sekarang. Wakil rakyat seolah tak lagi mewakili rakyat, tapi utusan kelompok dan golongan tertentu, hingga antara rakyat dan wakilnya terdapat jurang pemisah. Ketika wakil rakyat yang mereka pilih tak lagi memihak kepada kepentingan mereka, maka wakil rakyat itu bukan lagi mereka (rakyat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup catatan singkat ini saya kutip pernyataan Aristoteles, “Terhadap dirinya sendiri rakyat tidak akan berontak.” Maka, berusahalah menjadi wakil rakyat yang merakyat, agar rakyat tak memberontak. Jangan melulu terjebak dalam silopsisme kelompok.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1133183550469769156?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1133183550469769156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1133183550469769156' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1133183550469769156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1133183550469769156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/silopsisme.html' title='Silopsisme'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-5978834762462061669</id><published>2011-04-06T22:49:00.000-07:00</published><updated>2011-04-06T22:51:41.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Dari Sanghela ke Meureudu</title><content type='html'>Untuk mencari asal-usul masyarakat Pidie Jaya yang dulu dikenal sebagai Negeri Meureudu, masih membutuhkan penelitian yang mendalam. Salah satunya adalah tentang keberadaan Kerajaan Sahe/Sanghela yang pernah disinggung oleh sejarawan H M Zainuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika Meureudu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kerajaan Poli (Pedir) sebagai cikal bakal daerah Pidie. Keberadaan dan sejarah kerajaan-kerajaan tersebut masih perlu ditelusuri lagi. Catatan-catatan sejarah yang ada sekarang, hanya sedikit yang menjelaskan tentang hal itu. Meski demikian, kedatangan Sultan Iskandar Muda ke Negeri Meureudu sebelum menyerang Pahang di Semenanjung Malaya bisa membuka sedikit tabir informasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tentang kerajaan-kerajaan di Pidie dan Pidie Jaya sekarang lebih banyak didominasi oleh sejarah daearh tersebut setelah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam. Malah Negeri Meureudu dalam Kerajaan Aceh Darussalam memiliki peranan penting sebagai lumbung pangan. Informasi-informasi tentang keberadaan Negeri Meureudu sebelum Kerajaan Aceh Darussalam masih perlu penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Untuk membuka tabir informasi ke arah sana, keterangan dari sejarawan H M Zainuddin bisa menjadi informasi awal. H M Zainuddin dalam makalahnya Aceh Dalam Inskripsi dan Lintasan Sejarah pada seminar sejarah dan budaya Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II Agustus 1972 mengungkapkan, sebelum Islam masuk ke Aceh, di Aceh telah berkembang kota-kota kerajan hindu seperti : Kerajaan Poli di Pidie yang berkembang sekitar tahun 413 M. Kerajan Sahe sering juga di sebut Sanghela di kawasan Ulei Gle dan Meureudu, kerajan ini terbentuk dan dibawa oleh pendatang dari pulau Ceylon. Kerajaan Indrapuri di Indrapuri. Kerajaan Indrapatra di Ladong. Kerajaan Indrapurwa di Lampageu, Kuala pancu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kota-kota Hindu tersebut setelah islam kuat di Aceh dihancurkan. Bekas-bekas kerajaan itu masih bisa diperiksa walau sudah tertimbun, seperti di kawasan Paya Seutui Kecamatan Ulim (perbatasan Ulim dengan Meurah Dua), reruntuhan di Ladong. Bahkan menurut H M Zainuddin, mesjid Indrapuri dibangun diatas reruntuhan candi. Pada tahun 1830, Haji Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Tuanku Tambusi juga meruntuhkan candi-candi dan batunya kemudian dimanfaatkan untuk membangun mesjid dan benteng-benteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengungkap tentang keberadaan Kerajaan Sahe/Sanghela itu, maka perlu diadakan penelitian secara arkeologi ke daerah Paya Seutui yang disebut H M Zainuddin tersebut. Dalam makalahnya H M Zainuddin mengatak pernah ada temuan sisa-sisa kerajaan Sahe/Sanghela itu di kawasan persawahan di Paya Seutui, namun ia tidak jelas menyebutkan di Paya Seutui bagian mana itu ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui keberadaan para pendiri dan penduduk Kerajaan Sahe/Sanghela tersebut, informasi dari asal-usul kerajaan Poli/Pedir di Kabupaten Pidie sekarang mungkin bisa membantu, karena keberadaan negeri Meureudu dan Negeri Pedir keduanya tak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-5978834762462061669?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/5978834762462061669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=5978834762462061669' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5978834762462061669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5978834762462061669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/dari-sanghela-ke-meureudu.html' title='Dari Sanghela ke Meureudu'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6178665299000705766</id><published>2011-04-04T03:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-04T03:58:24.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Perseorangan</title><content type='html'>Tahun ini, 16 kabupaten/kota harus memilih kepala daerah baru. Plus gubernur/wakil gubernur. Pemilihan hanya akan menjadi legitimasi politik bagi partai besar semata, bila calon perseorangan (independen) tidak disertakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro kontra tentang calon perseorangan pada pemilihan gubernur/wakil gubernur Aceh kian menghangat. Banyak dampak yang akan muncul bila pemilihan diundur dari jadwal semula; Oktober 2011. Melihat kondisi kekinian, tanpaknya target pelaksanaan pemilihan kepala daerah sesuai jadwal sulit tercapai. Ini artinya akan ada pejabat sementara memimpin setiap daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pemilihan kepala daerah merupakan hak individu setiap warga negara, bukan hanya hak untuk memilih saja, tapi juga hak untuk dipilih--termasuk calon perseorangan—yang dijamin kebebasannya oleh undang-undang. Bukan itu saja, masyarakat juga berhak menolak atau memboikot pemilihan kepala daerah jika tidak memiliki calon yang memenuhi syarat kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila calon perseorangan tidak diakomodasi pada pemilihan kepala daerah nanti, maka demokrasi di Aceh sudah terbonsai. Nantinya hanya partai berkuasa dengan kursi dominan di legislatif saja yang bisa mengajukan calon gubernur/wakil gubernur, atau calon dari gabungan partai yang sekurang-kurangnya memiliki 15 persen kursi di legislatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini  akan menyebabkan pasangan calon nanti didominasi oleh Partai Aceh (PA) selaku pemilik dominan kursi di dewan. Partai-partai lain tentu harus menggalang kekuatan bersama untuk bisa memunculkan calonnya, sehinga bukan mustahil mekanisme check and balance antara eksekutif dan legislatif tidak berjalan karena legislatif dan eksekutif dikuasi oleh Partai Aceh selaku patai dengan kursi dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari itu, maka calon perseorangan mutklak harus ada pada pemilihan kepala daerah nantinya. Sudah saatnya pro kontra tentang hal itu dihentikan demi memenuhi hak politik maysrakat banyak yang ingin memilih dan dipilih. PA selaku partai besar di Aceh tidak perlu terlalu khawatir dengan hal ini. Bila PA masih diminati oleh rakyat Aceh maka akan menang. Begitu juga sebaliknya. Sudah saatnya demokrasi dikembalikan ke tangan rakyat, bukan di tangan wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lainnya mengapa calon perseoragan penting adalah, pengajuan calon yang hanya memalui partai politik tidak akan mampu menjamin penguatan aspirasi dan partipasi masyarakat banyak. Sistem kepartaian sekarang sangt sentralistis, apalagi PA selaku partai yang dihuni oleh para mantan panglima, sistim komando masih sangat mempengaruhi keputusan di tingkat elit partai. Penetapan calon gubernur/wakil gubernur bisa didikte oleh petinggi partai dengan mengenyampingkan suara partai di tingkat bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sudah terlihat ketika PA menyatakan mencalonkan Zaini Abdullah dengan Muzakkir Manaf sebagai calon gubernur/wakil gubernur periode 2012-2017. Keputusan yang diambil pada awal Februari 2011 itu kemudian ditentang oleh beberapa pimpinan wilayah. Malah untuk ‘memaksakan’ calon tersebut, para penentang diberhentikan dari kepengurusan partai. Adalah Tgk Linggadinsyah orang pertama yang merasakan imbasnya. Ia diberhentikan dari jabatannya sebagai juru bicara PA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi singkatnya, ketika elit partai mentukan calonnya tanpa konvensi, imbasnya nanti pemilihan kepala daerah hanya untuk melegalkan jalannya calon yang mereka ajukan. Suara rakyat pada pemilihan nanti hanya menjadi legitimasi politik belaka bagi calon yang diajukan partai besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun nanti calon perseorangan disetujui, maka pemilihan tidak akan berjalan sempurna, karena terkendala dengan waktu. Para calon hanya akan disibukkan dengan pengurusan berbagai proses administrasi, kesibukan ini akan bertambah bila syarat dukungan harus dibubuhkan materai. Ketika calon perseorangan sibuk dengan berbagai persoalan administrasi tersebut, calon dari parai dalam hal ini PA bisa dengan leluasa melakukan langkah-langkah untuk pemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, tentu kembali kepada rakyat Aceh, siapa yang akan mereka pilih. Apakah memilih karena karisma, pesona, ketokohan, ekonomi yang melimpah dari calon, atau memilih karena kapasitas kepemimpinan seorang calon. Untuk itu tentu masyarakat rakyat harus mendapat informasi yang jelas dan transparan terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan para calon yang diajukan pada pemilihan nanti. Jangan lagi kita terjebak pada apa yang pernah dikatakan oleh endatu kita dulu, bloe mie lam umpang sira. Kenali calon sebelum kita memilih agar tak disebut sebagai orang yang membeli kucing dalam karung.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6178665299000705766?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6178665299000705766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6178665299000705766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6178665299000705766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6178665299000705766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/04/perseorangan.html' title='Perseorangan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8856701842017569968</id><published>2011-03-31T22:21:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T02:42:13.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Penumpukan Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Pertumbuhan jumlah ras manusia sebanding dengan penyusutan rasa peduli mereka”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan dari filsuf Perancis kelahiran Jenewa, Jean Jacques Rousseau  itu seolah mempertegas hancurnya peradaban manusia dari masa ke masa. Penumpukan manusia di palet bernama bumi ini telah membawa pengaruh yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk dunia setiap tahun terus mengalami peningkatan. Data yang dikeluarkan Bank Dunia menyebutkan, pada tahun 1960 manusia penghuni bumi ini hanya sekitar tiga miliar orang. dalam kurun waktu 49 tahun meningkat menjadi 6,7 miliar pada 2009. Dan kini di tahun 2011 jumlah populasi manusia di bumi sudah mencapai tujuh miliar jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti dari Pew Forum on religion an Public Life memprediksikan pertumbuhan penduduk bumi setiap tahun meningkat sekitar 2,2 persen. 1,5 persen diantaranya merupakan penduduk muslim, sisanya 0,7 persen non muslim.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “On the Origin and Foundation of the Inequality of Mankins”  Rousseau menyentil pertumbuhan penduduk bumi itu akan membawa pertentangan sesama manusia dengan corak yang berbeda. Ia mempertentangkan antara orang-orang tak berperadaban dengan orang-orang yang berperadaban di kota populis. Ia mengambil contoh Perancis dengan Jenewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, kepadatan populasi manusia menyebabkan terjadinya penignkatan dalam pembagian kerja dan perubahan dalam kebudayaan. Rousseau menilai itu terjadi karena tidak adanya rasa cinta dan tanggung jawab diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Profesor Sosiolog di Universitas Essez, Brya S Turner pada salah satu sub bab bukunya “Agama dan Teori Sosial”  menilai apa yang dikatakan Rousseau itu terjadi akibat seluruh penduduk—terutama di perkotaan—telah terjangkit penyakit yang mementingkan diri sendiri. Reputasi lebih diutamakan dalam kriteria penilaian seorang pria atau manusia, ketimbang kebaikan pribadinya. Ia menegaskan dengan kalimat “Di dalam ruang kota yang sumpek, nilai-nilai kekeluargaan menjadi terlecehkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Durkhein menilai penyebabnya adalah hilangnya nurani kolektif, tapi bagi sosialog dan pilsuf lainnya Levi – Stauss, itu semua terjadi akibat matinya tatanan natural. Turner menyarankan manusia untuk kembali pada agama, karena agama memiliki fungsi kontrol sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mecintyre (1967) menambahkan, agama selalu merupakan ekspresi kesatuan moral dalam masyarakat. Norma-norma agama membangun kehidupan sosial adalah suatu yang universal dan kosmik, dan merupakan anugerah tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tinggi peradaban manusia maka semakin terkikis rasa peduli terhadap sesama. Peradaban sekarang telah berjalan pada upaya penguasaan suatu negara dengan alasan demokrasi untuk menguasai sumber daya alamnya. Apa yang dilakukan Amerika dan sekutnya di Lybia sekarang seolah mempertegas hal itu. Lybia akan menjadi Irak kedua yang peradabannya dihancurkan dengan dalih demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dipengaruhi oleh tingginya laju pertumbuhan penduduk bumi, yang menyebabkan kebutuhan terhadap pemenuhan hajat hidup juga meningkat. Manusia disibukkan dengan usahanya memenuhi kebutuhan, bahkan dengan merebut milik orang lain secara paksa, kemudian mengenyampingkan kebersamaan untuk perdamaian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Rousseau, mencermati tingginya pertumbuhan penduduk bumi, jauh-jauh hari ia sudah membaca akibat sosial dari pertumbuhan tersebut. Ia mempertentangkan antara penduduk di Paris dengan Jenewa. Di ibu kota Perancis para warganya dinilai sangat bobrok. Mereka kebingungan kemana harus melampiaskan kebebasan mereka. Satu-satunya jawaban waktu itu adalah ke teater. Hingga teater menjadi bagian dari kebijakan negara. Sebaliknya, di republik kecil seperti Jenewa, warganya masih jujur dan lugu (kala itu). teater malah berdampak buruk pada moralitas publik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota besar menurut Rousseau dipenuhi oleh orang-orang yang bodoh yang tak beragama dan tak berprinsip. Segala sesuatu dinilai berdasarkan penampakannya, karena di sana tak ada lagi waktu untuk menilai sesuatu secara mendalam. Dan manusia terus saja menumpuk di muka bumi ini dengan angka yang semakin hari semakin meningkat. Dan rasa peduli mereka terhadap sesama pun semakin menuruh. Hinga kemudian manusia menjadi “musuh” bagi dirinya sendiri.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8856701842017569968?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8856701842017569968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8856701842017569968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8856701842017569968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8856701842017569968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/penumpukan-manusia.html' title='Penumpukan Manusia'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6965618819133522496</id><published>2011-03-30T03:41:00.000-07:00</published><updated>2011-03-30T03:43:59.677-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Ketika Bule Menjajal Geudeu-geudeu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ry4IsdTBa3Y/TZMJWCpSs6I/AAAAAAAAAYI/ozmi3oJjptE/s1600/Copy%2Bof%2BBulek%2BGeudeu2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 208px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ry4IsdTBa3Y/TZMJWCpSs6I/AAAAAAAAAYI/ozmi3oJjptE/s320/Copy%2Bof%2BBulek%2BGeudeu2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589821836768752546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bermain geudeu-geudeu bagi masyarakat Pidie Jaya sudah biasa, tapi menjadi luar biasa ketika Jonathan bule asal Inggris ikut menjajalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari belum sepenggalah, Rabu pagi (30/3) puluhan pemuda Gampong Paya Leumo, Rawasai, Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya sudah tumpah ke sawah yang baru selesai dipanen. Sisa-sisa batang padi yang sudah dipotong diratakan. Di atasnya ditumpuk jerami. Setelah semua rata dan tertutup jerami, sekelilingnya ditarik tali pastik (tali rafia-red) sebagai pembatas. Arena pertaurangan geudeu-geudeu pun siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enambelas pemuda berbadan kekar masuk arena. Delapan duduk berbari di ujung utara, delapan lagi di ujung selatan. Hanya ikatan kain kecil di pinggang yang membedakan kelompok mereka. Yang di utara berwarna kuning, di selatan merah. Dua kelompok ini akan diap bertarung. Bukan delapan lawan delapan, tapi secara bergiliran, satu lawan dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekeliling lapangan bermatras jerami itu, pulahan warga berdiri menyaksikan pertandingan. Salah satu diantaranya adalah Jonathan, bule asal Inggris yang sengaja datang ke Paya Leumo bersama dua kameramen dan satu pemandu. Bule ini akan ikut bermain dan direkam untuk acara salah satu stasiun televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat pria paruh baya juga masuk, mereka berdiri di setiap sisi lapangangan. Pinggang mereka juga terikat kain berwarna biru muda. Mereka disebut ureueng seumeugla (juri pelerai) yang akan mengawasi pertandingan dari empat sisi lapangan. Hanya empat juri ini yang berpakaian lengkap. Sementara para petarung hanya mengenakan celana. Pertandingan akan segera di mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri pelerai di bagian barat mengangkat tangan dan mengacungi jempol sambil menoleh ke tiga juri lainnya. kemduian ia memberi isyarat, yang merah yang harus lebih dulu menyerang. Satu dari delapan pria dengan kain merah di pinggangnya bangkit untuk menantang (tueng) dua orang dari kelompok lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjalan melenggang lenggok sambil mengetip jari. Ia begitu mahir memainkan ujung jari, sehingga suara ketipannya sangat jelas terdengar. Ia terus berjalan mengelilingi arena dan sesekali bertepuk tangan memancing lawan untuk maju. Tapi delapan orang yang ditantang itu belum juga bangkit, mereka masih melirik kiri kanan, seolah membuat kesepakatan siapa dua orang diantara mereka yang akan  maju untuk menjawab tantangan itu (pok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria dengan ikat pinggang kain merah masih melenggak lenggok, provokasinya belum dijawab pihak lawan. Secara tiba-tiba ia berlari dan menjatuhkan badannya dan telungkup di hadapan delapan lawan. Matanya menatap tajam ke delapan lawan yang masih belum bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh pria berkain merah di bagian selatan ikut memprovokasi agar lawan bangkit menyerang kawan mereka yang menentang. “Wajada han ditijeut pok…wajada han ditiejeut pok..” teriak mereka berulang ulang. Maknanya kira kira lawan tak berani menjawab tantangan. Penonton ikut bertepuk tangan dan mengucapkan kalimat yang sama. Kali ini lawan baru terprovokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pemuda berikat pinggang kuning bangkit berpegang tangan. Mereka memutar mutar tubuh lawannya yang di atas jerami. “Rimueng tapa beraksi,” teriak penonton. Rimueng tapa merupakan sebutan untuk pria penantang tadi, ia mengangkat badannya dari jerami bertumpu dengan kedua tangannya, dan berputar seperti harimau mengelilingi mangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan ia bangkit melihat tajam ke dua pemuda yang mencoba menghalaunya. Pertarunganpun terjadi. Kedua pria itu menyerang, mencoba meraih badan rimueng tapa untum membantingnya. Tapi rimueng tapa terlalu cekatan. Ia berhasil mengelak dan serbuan dua lawan. Dengan gerak cepat ia bergeser beberapa langkah dan memukul punggul salah satu lawannya. Tapi yang dipukul tidak jatuh, ia masih memegang tangan kawannya. Punggungnya tampak memar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pria itu terus coba menyerang. Tapi pertahanan rimueng tapa masih kuat dengan kuda kudanya, badannya condong ke depan sedikit membungkuk. Matanya megawasi langkah kedua lawan, ia mencoba mencari mencari celah untuk menyerang. Dalam hitungan detik dua pria itu menyerang secara bersamaan, satu memukul bagian atas, satu lagi menyerang bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rimueng tawa terlihat gesit menangkis serangan, tapi pertahanan kakinya akhirnya goyah ketika lawan berhasil merangkul pinggangnya. Tubuhnya diangkat sesaat kemudian rimueng tapa dibanting hingga tubuhnya tertindih kedua lawan. Ketika petarung itu masih bergumul di matras jerami. Empat juri dari empat sisi lapangan kemudian berlari ke tengah dan melerainya. Rimueng tapa sang penantang dinyatakan kalah dari dua lawannya. Ketiga petarung bersalaman dan kembali ke tempat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandingan babak kedua kemudian dilanjutkan. Kelompok yang sebelumnya pok  akan menjadi tueng, begitu juga sebaliknya. Yang tadi menantang kali ini akan ditantang. Salah seorang petarung dari kelompok berikat pinggang kuning bangun melangkah meliuk liuk dan mengayunkan tangannya di hadapan kelompok berikat pinggang merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pria dari kelompok merah bagkit menjawab tantangan, mereka menyerang memutari tubuh lawan, lawan yang diserang juga melakukan hal yang sama, sampai kemudian tubuh pria itu didekap dan punggungnya dipukul. Mereka terus bergumul hingga kemudian leher penantang itu dirangkul dan tubuhnya dibanting. Skor kini satu sama. “Wajada ka jiseumpom, (wajada sudah dibanting-red)” teriak penonton sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bule Ikut Main&lt;br /&gt;Melihat itu, Jonathan, tiba-tiba masuk arena. Salah seorang juri menghampiri dan memegang tangannya. Kepada juri bule asal Inggris itu mengatakan ingin ikut main gulat ala Aceh tersebut. Juri mengizinkannya, tapi harus membuka sepatu, cincin dan gelangnya. Jonathan pun membuka sepatu, cincin dan gelangnya. Ia kemudian duduk di barisan delapan pemuda berikat pingang kain merah. Ia menyatakan ingin menantang dua lawan di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonathan berjalan pelan melenggak-lenggok mengayunkan tangannya. Kemudain menjatuhkan badannya tepat di hadapan delapan pria yang ditantangnya. Melihat itu penonton sekeliling lapangan tertawa dan bertepuk tangan. Dua pemuda bangkit, berpegang tangan mengelilingi Jonathan, pria bule itu pun bangkit dan agak membungkuk mengajun tangannya ke arah dua pria yang ditantangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonathan tiba-tiba kaget ketika seorang lawan menyerang pinggangya, sementara seorang lagi menyerang wajahnya. Tubuhnya kemudian terangkat dan dia dibanting. Bule itu memegang punggungnya menahan sakit. Ia kemudian tertawa setelah juri melerai pertarungan tersebut. Ronde selanjutnya Jonathan yang ditantang, ia bangkit bersama seorang pria berikat pinggang kain merah dan menyerang penantang tersebut. Jonathan mencoba menyerang dari bawah, tapi ia gagal meraih pinggang lawan, malah badannya yang jatuh ke matras jerami. Beruntung kawannya berhasil menjatuhkan lawan, sehinggan sekor mereka satu sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pertarungan itu terus berlanjut dari ronde ke ronde hingga keenambelas pemain plus Jonathan semua mendapat girian menantang dan menjawab tantangan. Benar-benar sebuah hiburan yang menggembirakan, meski para pemain harus keluar arena dengan badan memar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6965618819133522496?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6965618819133522496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6965618819133522496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6965618819133522496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6965618819133522496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/ketika-bule-menjajal-geudeu-geudeu.html' title='Ketika Bule Menjajal Geudeu-geudeu'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ry4IsdTBa3Y/TZMJWCpSs6I/AAAAAAAAAYI/ozmi3oJjptE/s72-c/Copy%2Bof%2BBulek%2BGeudeu2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-810229475150426961</id><published>2011-03-26T01:17:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T01:19:13.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>138 Tahun Invansi Belanda ke Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-hwSmzdgExBQ/TY2hensvx4I/AAAAAAAAAYA/Nk67xk6A8wE/s1600/Jendral%2BKohler.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 251px; height: 305px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hwSmzdgExBQ/TY2hensvx4I/AAAAAAAAAYA/Nk67xk6A8wE/s320/Jendral%2BKohler.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588300260061464450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari ini, 26 Maret 2011, tepat 138 tahun peristiwa paling bersejarah bagi Aceh terjadi; Belanda menyatakan perang terhadap Aceh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Maret 1873, di atas kapal Citadel van Antwerpen, Kerjaan Belanda menyatakan maklumat perang dengan Kerajaan Aceh. Setalah itu serangan besar-besaran dilakukan ke daratan Aceh. Belanda gagal total, Panglima Perang Belanda, JHR Kohler tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat pernyataan perang oleh Belanda itu ditulis pada 26 Maret 1873, dan disampaikan kepada Sultan Aceh pada 1 April 1873. Pernyataan perang itu antara lain berbunyi. “Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia atas nama Pemerintah, menyatakan perang kepada Sulthan Aceh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan perang pihak Belanda itu dijawab dengan tegas oleh Sulthan Alaiddin Mahmud Syah pada hari itu juga. “…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa…,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan secara halus itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangan ke Aceh setelah membacakan maklumat perang terhadap Aceh. Maklumat itu dibacakan setelah beberapa kali surat menyurat yang tegang antara sultan Aceh dengan Komisaris Pemerintah Belanda, Niewenhuijzen yang berlindung di atas kapal perang Citadel van Antwerpen.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ali Hasjmy  dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh” isi surat penolakan itu terkesan lembut, tapi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan keteguhan hati dan iman seorang muslim sejati yang hanya mengakui kekuasaan dan perlindungan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi ancaman Belanda itu, maka Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Daruddunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu Sulan Aceh menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni datangnya imperialis Belanda yang akan memerangi Aceh.  Terhadap ancaman itu, muasyawarah melahirkan kesepakatan dan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanda kesepakatan tekad itu, maka para peserta musyawarah mengucapkan sumpah. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh. Sumpah tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami thaat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini thaat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah ini kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka Ali Hasjmy di Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda Menyerang Aceh&lt;br /&gt;Setelah maklumat perang dinyatakan pada 26 Maret 1873, sebulan kemudian, Senin, 6 April 1973, Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheue dibawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, dalam penyerangan pertama ke Aceh itu, Belanda mengerahkan enam kapal perang, yakni Djambi, Citaden van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, Soerabaya, dan kapal perang Sumatera. Ditambah Siak dan Bronbeek, dua kapal angkatan laut Pemerintah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada lima barkas, delapan kapal ronda, satu kapal komando, enam kapal pengangkut, serta lima kapal layar, yang masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut. Tiga diantaranya untuk mengangkut pasukan alteleri, kavelari, dan para pekerja, satu untuk amunisi dan perlengkapan perang, serta satu kapal lagi untuk mengangkut orang-orang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armada Belanda tersebut dipimpin oleh Kapten laut J.F Koopman dengan kekuatan 168 orang perwira yang terdiri dari 140 orang Eropa, serta 28 orang Bumiputere, 3.198 pasukan yang 1098 diantaranya orang-orang Eropa, sisanya 2.100 orang tentara dari Bumi Putera, yakni tentara bayaran Belanda dari Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan itu juga diperkuat dengan 31 ekor kuda perwira, 149 kuda pasukan, 1.000 orang pekerja dengan 50 orang mandor, 220 wanita dari Jawa yang masing-masing ditempatkan 8 orang untuk satu kompi tentara Belanda, serta 300 pria dari Jawa untuk pelayan para perwira Belanda. Dalam penyerangan perdana Belanda ke Aceh itu, Kohler dibantu oleh Kolonel E.C van Daalen, Wakil Panglima merangkap Komandan Infantri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat, pasukan Belanda langsung digempur oleh pasukan Aceh, terjadilah perang sengit. Setelah bertempur dengan susah payah, pada 10 April 1873, Belanda dapat merebut Mesjid Raya. Akan tetapi karena tekanan-tekanan dari pejuang Aceh yang dipimpin Tgk Imuem Lueng Bata, Belanda pun harus meninggalkan Mesjid Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari kemudian, 14 April 1873, Belanda kembali mencoba untuk menyerang Mesjid Raya. Dalam pertempuran tersebut Panglima Perang Belanda, Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas ditangan pejuang Aceh. Tujuan Belanda untuk menguasai Dalam (Kraton-red) gagal total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertempuran itu selain Kohler dipihak Belanda juga tewas delapan orang perwira. Belanda benar-benar mendapat tamparan dari perlawanan gigih pejuang Aceh. Tiga hari setelah Kohler tewas, Belanda mengundurkan diri ke pantai, setelah mendapat izin dari Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta-red) pada 23 April 1873. Kapal-kapal angkatan perang Belanda itu pun meninggalkan Aceh pada 29 April 1873, kembali ke Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Belanda mengalami kegagalan dalam penyerbuannya ke Aceh, tak lama kemudian Jenderal G.P Booms dalam bukunya “De Erste Atjeh Expediti en Hare Enguete”  mengecam Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia atas kegagalan tersebut, karena dinilai terlalu menganggap remeh kekuatan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu ia menulis, “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,...met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte...die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong,die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam julah besar yang sangat gesit ..... suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan.... Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat mengahadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang Palemen Belanda ada tanggal 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni, Belanda  memberikan jawaban atas interpelasi yan menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte.” Artinya “Kita telah menghadapai maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh baik pria maupun wanita. Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh”  ia menulis.  “De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya “Wanita Aceh  gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya denga gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat mehhadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zentgraaff menilai, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemuai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri. Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka para di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. “Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),” hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga diakui oleh Panglima Perang Belanda di Aceh, Jenderal Van Pel. Dalam buku ES Klerek: History of Netherland Eas Indie  ia mengakui jatuhnya mental tentara Belanda akibat perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The proclamation of direct rule over Acheh pi proper had been a mistaken idea; there could be not question of conquest for the time being, the standing army in Acheh beingdepleted by the heavy losses suffered and the consequent large drainage of force.” (Proklamasi tentang langsung dijajah/diperintah Aceh, sesungguhnya adalah cita-cita yang amat salah. Sebenarnya soal menang tidak ada waktu itu. Keadaan serdadu di Aceh sangat menyedihkan karena menderita kekalahan hebat dan akibatnya kemusnahan kekuatan yang besar).[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-810229475150426961?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/810229475150426961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=810229475150426961' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/810229475150426961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/810229475150426961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/138-tahun-invansi-belanda-ke-aceh.html' title='138 Tahun Invansi Belanda ke Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hwSmzdgExBQ/TY2hensvx4I/AAAAAAAAAYA/Nk67xk6A8wE/s72-c/Jendral%2BKohler.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2152444494773188268</id><published>2011-03-24T22:13:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T22:16:03.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pertalian Pasai dan Majapahit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ms3ZDSBFaw4/TYwlBy6r0dI/AAAAAAAAAX4/fi3_8_TE440/s1600/ratu%2Bnur%2Bilah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ms3ZDSBFaw4/TYwlBy6r0dI/AAAAAAAAAX4/fi3_8_TE440/s320/ratu%2Bnur%2Bilah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587881950437954002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ratu Nur Ilah merupakan salah satu penguasa perempuan yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Pasai. Ia mangkat pada tahun 1380 Masehi. Ia diangkat menjadi ratu setelah Pasai diserang oleh Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sejarah perempuan perkasa ini sudah banyak ditulis oleh para ahli sejarah, diantara Dr Hoesein Djajaninggrat, yang langsung meneliti pahatan tulisan beraksara Arab di makanya. Kemudian Dr Othman M Yatim pakar arkeologi Islam Malaysi bersama Abdul Halim Nasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, inskripsi yang terdapat pada nisan yang bertulisan Arab menyebutkan angka tahun mangkat sang Ratu yaitu Jumat 14 Zulhijah tahun 791 Hijrah, sedangkan yang tertera pada nisan yang berhuruf Jawa Kuno terpahat tahun 781 Hijrah. Jadi, antara kedua nisan itu terdapat selisih 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr W F Stutterheim, hal itu terjadi karena kesilapan pemahat sehingga, baginya, tahun yang tertera pada nisan yang bertulisan Jawa Kuno, yang bertepatan dengan tahun 1380 Masehi tersebut, merupakan tahun mangkatnya Ratu itu. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat pada nisan yang sebuah lagi telah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalia, Leiden, tahun 1936.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Hooykaas menerjemahkan syair di nisan itu sebagai berikut : “Ssetelah hijrah Nabi, kekasih, yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah , 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Dr T  Ibrahim Alfian adalam tulisannya dimuat dalam buku Wanita-wanita Perkasa di Nusantara, data lain yang berkaitan dengan sang Ratu, maupun yang berhubungan dengan takluknya Kedah kepada Pasai, sampai sejauh ini belumlah ditemukan, kecuali informasi dari nisan Ratu Nurilah yang tersebut di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, pertalian kebudayaan antara Pasai dan Kedah telah terjalin lama seperti yang terlihat, antara lain, dari persamaan istilah untuk menyukat hasil-hasil pertanian, misalnya padi dan beras. “Stutterheim juga menganggap penyebutan dua kerajaan itu sangat menarik karena antara Pasai dan Kedah di waktu kemudian terdapat hubungan dagang, mengingat, di Selat Malaka, letaknya berseberangan. Mungkin hubungan inilah yang masih tersisa dari kesatuan Kerajaan Sriwijaya dan Kadara masa lalu, yaitu Sumatra dan Malaya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menjadi pertanyaan baginya adalah mengapa di antara nisan Ratu Nur Ilah ini terdapat tulisan Jawa Kuno? Ratu Nurilah, sebagaimana disebutkan di atas, mangkat pada tahun 1380, masa Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk. “Patut dicatat bahwa Majapahit berada dalam puncak kejayaan pada pertengahan abad XIV berkat pimpinan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam kitab Negarakrtagama yang digubah oleh Prapanca pada tahun 1365 disebutkan bahwa Samudra, tepatnya Samudra Pasai, adalah salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia melanjutkan, sumber lain mengenai adanya serangan Majapahit terhadap Pasai terdapat dalam Kronika Pasai atau Hikayat Raja-raja Pasai. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun penyerangan itu, hikayat ini masih memberikan indikasi waktu, yaitu dengan menceritakan nama raja yang berkuasa pada waktu serangan itu terjadi, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa setelah tiga hari tiga malam berperang, kalahlah Pasai sehingga rakyat lari cerai berai. Laskar Majapahit masuk ke dalam kota Pasai dan menduduki istana Sultan Ahmad. Banyak rampasan dan tawanan yang mereka peroleh. Sultan Ahmad meninggalkan istana, melarikan diri ke suatu tempat kira-kira lima belas hari perjalanan dari negeri Pasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama di Pasai, segala menteri punggawa dan rakyat Jawa dikerahkan oleh Senapati mereka naik ke bahteranya masing-masing, kembali ke Jawa, dengan memuat segala harta rampasan yang begitu banyak. Setelah sampai ke Majapahit, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, Sang Nata bertitah, ‘’Akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, maka kesukaan hatinya’’. Titah itulah, kata Hikayat Raja-raja Pasai selanjutnya, yang menyebabkan ‘’maka banyak keramat di Tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu’’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan ini P De Roo de la Faille, dalam tulisannya ‘’Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, mengemukakan bahwa ditemukannya cungkub Puteri Cermen di desa Leran dengan candrasengkala 1313 atau 1308 Saka bertepatan dengan tahun 1391 atau 1386 Masehi menunjukkan telah adanya makam Islam di Gresik pada waktu itu. Hal itu, sesuai dengan dugaan de Roo de la Faile, bahwa koloni orang-orang Islam Gresik pada masa itu sesungguhnya berasal dari tawanan orang-orang Islam Pasai yang dibawa ke Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Ibrahim Alfian, Dalam sebuah naskah Jawa, Tapel Adam, nama Pasai tercantum dalam sejarah pendakwah-pendakwah Islam pertama. Didalamnya diceritakan bahwa Syaikh Jumadilkubra adalah keturunan Zainul Abidin, sedangkan putera Jumadilkubra yang tertua adalah Maulana Ishak. ‘’wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, dan puteranya yang kedua, Ibrahim Asmara, ‘’lumampah dateng Cempa’’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam naskah Tapel Adam juga dikisahkan tentang Batara Majapahit yang memperisterikan puteri Raja Pasai dan saudara puteri itu datang ke Majapahit serta kemudian oleh Batara Majapahit dihadiahkan tanah Ampel-denta sebagai tempat kediamannya. Cerita seumpama ini terdapat pula dalam Hikayat Banjar yang juga akan dikemukakan di bawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lanjut Ibrahim Alfian, pada akhir naskah Hikayat Raja-raja Pasai diceritakan sebagai berikut. ‘’Bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu [Raja] Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya [kalahnya] Negeri Pasai, ratunya [rajanya] bernama Ahmad.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu disertai dengan daftar nama-nama 35 buah negeri yang takluk kepada Majapahit, antara lain, untuk menyebutkan beberapa, Tiuman, Riau, Bangka, Sambas, Jambi, Kutai, Bima, Sumbawa, dan Seram. Hikayat Banjar juga menyebutkan bahwa yang takluk kepada Majapahit adalah Banten, Jambi, Palembang, Makasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, dan Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Ilah Diangkat Jadi Ratu&lt;br /&gt;Masih menurut Ibrahim Alfian, sebelum bala tentara Majapahit meninggalkan Pasai, kembali ke Jawa, rupanya pembesar-pembesar Majapahit telah mengangkat seorang raja, bangsawan Pasai, yang dapat dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasai. Raja ini tiada lain adalah Ratu Nur Ilah, keturunan Sultan Malikuzzahir, yang nisannya ditatah dengan huruf Jawa Kuno atas arahan yang diberikan oleh pembesar-pembesar Majapahit, tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Kerajaan Majapahit dan Pasai terdapat hubungan persahabatan dan perdagangan yang sangat erat. Malaka yang mulai berkembang sebagai bandar dagang yang besar sekitar tahun 1400 Masehi mengakui peranan Pasai dan Majapahit dalam bidang perdagangan di Selat Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tome Pires, yang menulis catatannya di Malaka dan India antara tahun-tahun 1512-1515 dalam Bahasa Portugis, dengan judul Suma Oriental, mengemukakan sebagai berikut. Malaka mengirim dutanya ke Majapahit untuk merayu Raja Jawa agar pedagang-pedagang Jawa mau melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Malaka. Raja Jawa mengemukakan kepada utusan Malaka itu, bahwa jung-jungnya telah lama sekali berlayar ke Pasai untuk berniaga dan ia mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Pasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pelabuhan Pasai pedagang-pedagang Jawa memperoleh kedudukan istimewa dalam bentuk pembebasan dari keharusan membayar cukai impor serta ekspor dan perolehan barang dagangan yang baik dang menguntungkan. Raja Majapahit menambahkan, meskipun Raja Pasai menjadi vasal Majapahit, penentuan kebijaksanaannya dalam bidang perdagangan terserah kepada Raja Pasai sendiri. Ia sendiri tidak hendak menghapuskan kebiasaan yang telah lama ada dan telah disepakati sejak lama antara kedua kerajaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dutanya kembali ke Malaka, Raja Malaka mengirimkan pesan kepada Raja Pasai, mengharapkan kebaikannya agar menyetujui dan tidak berkecil hati jika Jawa berhubungan dagang dengan Malaka, serta memohon kebaikan Raja Pasai untuk megirimkan pedagang-pedagangnya beserta barang-barang dagangannya ke Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Malaka juga menyampaikan bahwa ia telah mendapat jawaban dari Raja Majapahit, bahwa jika Raja Pasai bersetuju, Raja Majapahit akan berbesar hati. Raja Pasai kemudian mengirimkan utusannya ke Malaka untuk menyampaikan pesan bahwa Pasai tidak keberatan memenuhi permintaan Raja Malaka apabila Raja tersebut bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya, Raja Malaka beserta segenap rakyatnya beriman akan Allah dan rasul-Nya dan sesudah itu banyak sekali pedagang Islam dari Pasai pindah berdagang ke Malaka, terutama bangsa Arab, Parsi dan Bengal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tautan antara Pasai dan Majapahit juga diungkapkan oleh Dr J J Ras dalam desertasinya yang dipertahankan pada tahun 1968 di Rijksuniversiteit Leiden, yaitu Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Di dalamnya dikisahkan tentang Raja Majapahit yang belum Islam, yang mengirim utusannya untuk meminang putri Pasai. Meskipun raja Pasai itu beragama Islam, ia tidak kuasa menolaknya, takut diserang oleh Majapahit. Ia hendak memelihara rakyat dan negerinya dari kebinasaan. Di Majapahit puteri Pasai itu diberi tempat tinggal yang terpisah, tiada bercampur dengan gundik-gundiknya yang lain, agar tiada memakan makanan yang haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu datanglah saudara Puteri Pasai, Raja Bungsu namanya. Setelah beberapa lamanya ia di Majapahit, ia ingin kembali ke Pasai. Puteri Pasai itu tiada sekali-kali ingin saudaranya pulang ke Pasai, karena ia tidak mempunyai sanak saudara di Majapahit. Oleh karena Raja Bungsu berkeras hendak pulang juga ke Pasai maka puteri itu merasa sangat sedih. Karena Raja Majapahit sangat sayang kepada Puteri Pasai itu, dimintanya kepada Raja Bungsu agar tinggal saja di Majapahit, agar Puteri itu tidak sampai jatuh sakit. Raja Majapahit bertitah jika Raja Bungsu bersedia tinggal di Majapahit, ia dapat mendirikan rumah ditempat mana saja yang disukainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Raja Bungsu memilih Ampel sebagai tempat kediamannya dan Raja Majapahit berkenan meluluskan permohonan Raja Bungsu itu. Ketika menebas hutan di dukuh Ampel itu, Raja Bungsu menemukan kayu gading yang kemudian dijadikan tongkat. Sejak itu, dukuh itu terkenal dengan nama Ampelgading hingga sekarang ini. Karena desa Ampel hendak memeluk agama Islam, Raja Bungsu mengirim utusannya untuk menyampaikan hasrat tersebut kepada saudaranya, Puteri Pasai, yang kemudian meneruskannya kepada suaminya, Raja Majapahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Raja Majapahit menurut Hikayat Banjar, berbunyi demikian: ‘’Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan’’. Setelah suruhan Bungsu kembali ke Ampel, seluruh penduduk Ampel memeluk agama Islam.[] &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2152444494773188268?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2152444494773188268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2152444494773188268' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2152444494773188268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2152444494773188268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/pertalian-pasai-dan-majapahit.html' title='Pertalian Pasai dan Majapahit'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ms3ZDSBFaw4/TYwlBy6r0dI/AAAAAAAAAX4/fi3_8_TE440/s72-c/ratu%2Bnur%2Bilah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-684881310652418488</id><published>2011-03-24T22:11:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T22:12:18.361-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Razia Senjata</title><content type='html'>Jajaran Polda Aceh kembali menyatakan akan melakukan razia senjata ke rumah-rumah penduduk. Ini kesekian kalinya Polda Aceh mengatakan hal tersebut. Semoga bukan upaya menjatuhkan kelompok tertentu menjelang pemilihan kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, masih banyak senjata api illegal yang beredar dalam masyarakat. Meski belum jelas jadwal kapan razia itu dilakukan. Tapi Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan mengatakan akan mengambil tindakan hukum terhadap siapa saja yang menyimpan senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita merunut pernyataan-pernyataan tentang razia senjata itu selalu muncul ketika menjelang pemilihan gubernur dan pemilihan legislatif, serta setelah peristiwa kriminalitas bersenjata api terjadi, semisal peristiwa latihan teroris di Jalin, Jantho Aceh Besar pada Februari 2010 lalu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelumnya, pada 21 Oktober 2007, razia senjata juga diungkapkan oleh Kabis Humas Polda Aceh Kombes Pol Jodi Heryadi. Malah ia menetapkan Senin 22 Oktober 2007 sebagai jadwa sweeping senjata illegal dilakukan. Ia mengatakan jika ditemukan, pelaku akan diproses sesuai dengan undang-undang darurat tahun 1951 dengan ancaman hukuman paling rendah seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum razia itu dilakukan, polisi menghimbau warga yang memiliki atau menyimpan senjata api untuk menyerahkannya ke pihak kepolisian, Jodi waktu itu mengatakan ada 45 unit senjata yang diserahkan warga dari berbagai daerah sebelum sweeping  dilakukan. Polisi juga memberi batas waktu kepada sipil untuk menyerahkan senjata paling lambat 9 Oktober 2007. Bila kedapatan menyimpan senjata setelah tanggal itu maka akan ditindak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aksi kriminal bersenjata terus saja terjadi setelah itu. Perampokan toko emas di beberapa tempat, pembunuhan warga sipil, semakin mensahihkan bahwa senjata api illegal yang beredar di Aceh masih banyak. Sehingga pada upacara hari ulang tahun Bhayangkara 1 Juli 2010, Kapolda Aceh Irjen Pol Fajar Prihantono kembali menegaskan akan melakukan peningkatan razia senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama kemudian juga ditegaskan Penasehat Kapolri, Kastorius Sinaga pada September 2010 setelah terjadinya penyerangan oleh kelompok yang diduga teroris ke Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia menegaskan razia akan dilakukan di Aceh dan Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merunut pada beberapa pernyataan pihak kepolisian untuk melakukan razia senjata api illegal, itu selalu terjadi setelah adanya aksi kriminal bersenjata. Polisi lebih banyak berbicara setelah kejadian dari pada melakukan razia yang sesungguhnya untuk mencari senjata api illegal yang masih beredar dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti setelah peristiwa Jalin, polisi menggelar razia di beberapa tempat setelah tiga polisi tewas dalam penyergapan kelompok bersenjata di pegunungan Lamkeubue, Seulimum, Aceh Besar, 6 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Razia ketat itu kemudian memang berhasil menangkap 10 tesangka teroris dan menembak mati dua diantaranya di Leupeung 12 Maret 2010. Setelah itu foto dan nama DPO teroris di tempel di berbagai tempat umum. Dua orang yang diduga terlibat menyerahkan diri, yakni  Munir alias Abu Rimba alias Abu Uteun yang menyerah di Polres Jantho Aceh Besar, Rabu 17 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, Teungku Mukhtar di Blang Crum, Kandang, Aceh Utara juga melakukan hal yang sama; menyerahkan diri ke Mapolres Lhokseumawe ditemani Pimpinan Dayah Mujahidin, Blang Mangat, Lhokseumawe, Tgk Muslim At-Tahriry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyerah mereka tidak sendiri, tapi ikut membawa senjata. Abu Rimba menyerah dengan sepucuk senjata api AK 47 dengan lima magazen dan 129 butir peluru. Sementara Mukhtar setelah menyerah juga menunjukkan tempat ia menyimpan senjata. Dan polisi mengamankan sepucuk senjata M16, tiga pistol revolver, sebilah sangkur dan 1.065 butir peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini menjelang pemilihan gubernur Aceh, wacana razia senjata api illegall kembali dimunculkan oleh Kapolda Aceh Irjen Pol  Iskandar Hasan. Kita berharap, wacana ini tidak sekedar wacana saja seperti sebelumnya, tapi harus dilakukan secara efektif untuk memberi rasa aman pada masyarakat dari teror para perusak perdamaian di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, kita juga tidak ingin razia senjata dilakukan untuk menjatuhkan kelompok tertentu, seperti terjadi pada razia senjata Agustus 1951 silam. Kala itu razia senjata dilakukan  Brigade AA dengan dalih mencari senjata api yang masih disimpan oleh rakyat Aceh. Kenyataannya, hanya politik kaum feodal untuk menjatuhkan kalangan ulama dari tampuk pimpinan di berbagai instansi pemerintah di Aceh kala itu. semoga saja sejarah tidak berulang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-684881310652418488?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/684881310652418488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=684881310652418488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/684881310652418488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/684881310652418488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/razia-senjata.html' title='Razia Senjata'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-9210617803707999715</id><published>2011-03-21T21:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-21T21:35:51.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Agresi dan Kekerasan</title><content type='html'>Kekerasan atas nama agama kini kembali terjadi di Aceh. Desa Jambo Dalam, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen jadi tempatnya. Dan aliran sesat seolah menjadi alasan pembenaran amuk massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak mengklaim siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Tapi hanya menyoal akar kekerasan pada manusia, dimanapun itu. Filsuf sosial dan psikoanalisis, Eric Fromm dalam buku Akar Kekerasan yang berisi analisis sosiospikologis atas watak manusia mengungkapkan, pada diri manusia terdapat dua jenis agresi yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama desakan untuk melawan atau melarikan diri. Agresi ini juga terdapat pada hewan yang telah terpogram secara filogenetis. Agresi semacam ini akan muncul dengan sendirinya ketika ia merasa terancam.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresi ini masih bersifat defensif untuk mempertahankan diri, yang hanya muncul bila ada ancaman terhadapnya. Agresi semacam ini juga sudah menjadi fitrah bagi manusia. Siapapun dia akan melawan bila adanya ancaman terhadap dirinya. Hal ini lebih sebagai upaya melindungi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang kedua adalah agresi jahat yang memunculkan kekejaman dan destruktifitas. Agresi ini juga sudah terpogram baik pada manusia maupun hewan secara filogenetik. Erich mengungkapkan, agresi ini selalu mengalami peningkatan pada peradaban manusia dari masa ke masa karena dorongan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga diungkapkan sosiolog dan psikolog terkemuka Polandia, Zygmunt Bauman dalam tesisnya tentang tragedi holocaust, yang membantai enam juta kaum Ibrani oleh Nazi di Jerman. Ahli psikologi lainnya, Myer (1866) mendefenisikan agresi sebagai fenomena komplek yang terdiri dari sejumlah prilaku dari jenis yang lebih khusus, kekerasan salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila merunut pada defenisi Myer tersebut, maka amuk masa seperti yang terjadi di Jambo Dalam, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen sebagai bagian dari ungkapan kemarahan yang melahirkan kekerasan. Ia menyebutnya sebagai hostile aggresion. Tindakan seperti itu dianggap oleh Freud, psikolog lainnya dalam teori psikoanalisis klasiknya sebagai satu dari dua naluri dasar manusia yang dikendalikan oleh keegoannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa manusia tidak mampu menahan diri untuk meredam agresi jahatnya? Secara biologi,  ahli genetika Lagerspetz (1979) menjawab hal ini dipicu oleh frustasi akibat terhambatnya pencapaian sesuatu tujuan, sehingga agresi muncul sebagai jawaban dari pelampiasan frustasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang terjadi di Jambo Dalam, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. Ketika Tgk Aiyub yang ditengarai membawa ajaran sesat, menolak musyawarah dengan warga. Lebih parah lagi ketika ia menolak menemuai perangkat desa yang mendatangi rumahnya. Warga yang merasa Tgk Aiyub telah melakukan “pelecehan” terhadap tetua gampong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka agresi itupun menjadi agresi massa hingga pembakaran terhadap balai pengajian dan kenderaan dilakukan. Lelbih-lebih lagi setelah Tgk Aiyub menolak empat kali undangan Majelis Permuswaratan Ulama (MPU) untuk duduk bersama menyelesaikan sengketa tersebut. Ketidakhadiran Tgk Aiyub seolah menjadi alasan pembenaran dari warga bahwa ia telah menyebarkan ajaran sesat hingga tak mau berhadapan langsung dengan kalangan ulama di MPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelesaikan masalah ini, tentu dibutuhkan kesadaran para pihak untuk menekan agresinya. Membuang ego dan emosinya untuk kemudian duduk bersama membahas jalan keluarnya. Bila harus ada yang meminta maaf dan memaafkan, maka kedua pihak harus ihklas melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap kepada pihak kepolisian untuk bisa menyelesaikan kasus amuk massa ini secara arif, hingga tidak menimbulkan kekerasan lainnya. Bagaimanapun, agresi massa harus diredam dengan penyelesaian yang berkeadilan bagi kedua belah pihak. Bila tidak, maka akan selamanya muncul agresi massa sebagai akibat dari kekecewaan dan frustasi terhadap hal tersebut. Apalagi isu agama masih menjadi persoalan yang paling mendasar dalam kemarahan warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang tidak pernah sembahyang sekalipun, ketika dihadapkan pada persoalan penodaan agama, semisal aliran sesat, maka akan melakukan tindakan yang bisa memunculkan kekerasan baru, karena kebanyakan masyarakat kita adalah penganut Islam yang fanatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada kalangan ulama juga kita berharap untuk bisa meredam emosi massa. Dan menyelesaikan masalah ini melalui jalan musyawarah. Lebih dari itu, ulama harus memberi penyadaran dan pemahanam kepada warga tentang ajaran Islam yang sebenarnya melalui peningkatan iman, agar ketika ada ajaran-ajaran baru yang menyimpang, warga tidak akan terpengaruh. Semoga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-9210617803707999715?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/9210617803707999715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=9210617803707999715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9210617803707999715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9210617803707999715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/agresi-dan-kekerasan.html' title='Agresi dan Kekerasan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-3414392616781448925</id><published>2011-03-20T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-03-20T19:06:32.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Endatu Ureung Pidie</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selama ini kita mengetahui asal mula daerah Pidie sekarang adalah Kerajaan Poli atau Pedir, tapi ternyata jauh sebelumnya sudah ada Kerajaan Sama Indra sebagai cikal bakalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku lama yang ditulis sejarawan M Junus Djamil yang disusun dengan ketikan mesin tik, mengungkapkan hal itu. Buku dengan judul “Silsilah Tawarick Radja-radja Kerajaan Aceh”  Buku yang diterbitkan oleh Adjdam-I/Iskandar Muda tidak lagi  jelas tahun penerbitnya. Tapi pada kata pengantar yang ditulis dengan ejaan lama oleh Perwira Adjudan Djendral Kodam-I/Iskandar Muda, T Muhammad Ali, tertera 21 Agustus 1968.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 57 halaman itu pada halaman 24 berisi tentang sejarah Negeri Pidie/Sjahir Poli. Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas-batas kerajaan ini meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan, serta dengan selat Malaka di sebelah utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku yang mendiami kerajaan ini berasal dari Mon Khmer yang datang dari Asia Tenggara yakni dari Negeri Campa. Suku Mon Khmer itu datang ke Poli beberapa abad sebelum masehi. Rombongan ini dipimpin oleh Sjahir Pauling yang kemudian dikenal sebagai Sjahir Poli. Mereka kemudian berbaur dengan masyarakat sekitar yang telah lebih dahulu mendiami kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berlabuh dan menetap di kawasan itu (Pidie-red), Sjahir Poli mendirikan sebuah kerajaan yang dinamai Kerajaan Sama Indra. Waktu itu mereka masih menganut agama Budha Mahayana atau Himayana. Oleh M Junus Djamil diyakini dari agama ini kemudian masuk pengaruh Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan Kerajaan Sama Indra pecah mejadi beberapa kerajaan kecil. Seperti pecahnya Kerajaan Indra Purwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di Lhokseudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu Kerajaan Sama Indra menjadi saingan Kerajaan Indrapurba (Lamuri) di sebelah barat dan kerajaan Plak Plieng (Kerajaan Panca Warna) di sebelah timur. Kerajaan Sama Indra mengalami goncangan dan perubahan yang berat kala itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut M Junus Djamil, pada pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M). Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu dan budha di daerah tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kerajaan Sama Indra takluk pada  Kerajaan Aceh Darussalam, makan sultan Aceh selanjutnya, Sultan  Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra yang otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, peranan raja negeri Pidie tetap dipererhitungkan. Malah, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut M Junus Djamil, setelah Sultan Mahmud II Alaiddin Jauhan Syah raja Kerajaan Aceh Darussalam Mangkat, maka Sultan Husain Syah selaku Maharaja Pidie diangkat sebagai penggantinya. Ia memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1465 sampai 1480 Masehi. Kemudian untuk Maharaja Pidie yang baru diangkat anaknya yang bernama Malik Sulaiman Noer. Sementara putranya yang satu lagi, Malik Munawar Syah diangkat menjadi raja muda dan laksamana di daerah timur, yang mencakup wilayah Samudra/Pase, Peureulak, Teuminga dan Aru dengan pusat pemerintahan di Pangkalan Nala (Pulau Kampey).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-3414392616781448925?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/3414392616781448925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=3414392616781448925' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3414392616781448925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3414392616781448925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/endatu-ureung-pidie.html' title='Endatu Ureung Pidie'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6828785895589005687</id><published>2011-03-19T19:24:00.000-07:00</published><updated>2011-03-19T19:25:25.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Bineuh (Bines)</title><content type='html'>Bineuh, ratap perempuan akan nista. Berawal dari sebuah kemesuman, berakhir dengan keprihatinan. Sebuah iba yang melahirkan gerak bersama dalam tari. Sering juga disebut sebagai tarian Bines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian ini dimainkan oleh beberapa perempuan. Awal lahirnya bermula dari kemesuman yang dilakukan oleh Onde Ni Malelang yang berbuat mesum dengan seorang pemuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebut oleh T Alibasyah Talsya dalam Aceh yang Kaya Budaya (1972). Ketika perbuatan melanggar syariat itu diketahui umum, Onde Ni Malelang dihukum cambuk. Tak kuasa menahan dera, perempuan muda itu pun meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu si Onde Ni Malelang sangat terpukul dengan kematian anaknya. Dalam duka yang bercampur malu akibat perbuatan sang anak, ia meratap sambil mengelilingi jasad anaknya yang terbujur kaku. Ia meratap dan mengiba kepada warga agar memperlakukan mayat anaknya layaknya jasad muslim lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sambil meratap ia berjalan selangkah demi selangkah. Para gadis dan ibu-ibu yang melihat tangisan itu ikut terharu. Satu persatu mereka mengikuti gerak langkah ibu si Onde Ni Malelang, ikut meratap memohon ampunan atas dosa kemesumannya. Ratapan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal tarian bineuh atau disebut juga bines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, syair dan gerak sedih dalam bineuh dari sedih perlahan lahan berubah jadi gerak riang. Tarian bineuh dimulai dengan Bismillah, para penarinya mengenakan pakaian khas daerah yang dilengkapi dengan berbagai asesoris, mulai dari bentuk sanggul yang dihiasi dengan bunga dan berbagai kembang. Dipinggang para penari diikat kain seperti kain batik. Sambil menari dan bergerak melingkar, para penari terus bersyair dan bersajak. Isi dari syair dan sajak tersebut menyinggung berbagai segi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang bertindak sebagai pemimpin tari berdendang dengan syair-syairnya, dendang yang kemudian diikuti oleh para penari lainnya. salah satu syairnya berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ode-ode Ni Malelang&lt;br /&gt;Bukon sayang Malelang mak&lt;br /&gt;Ode-ode si madion&lt;br /&gt;Peulheuh apon madion mak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamse kubeu puteh talak&lt;br /&gt;Taboh geumbak madion mak&lt;br /&gt;Tasie kubeu bak teungoh blang&lt;br /&gt;Taboh andam malelang mak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh bineuh&lt;br /&gt;oh bineuh&lt;br /&gt;Jinoe lon balek laen&lt;br /&gt;Puteh licen suot beurata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, para penari akan melanjutkan syair tersebut. Isinya bisa berupa anjuran kepada masyarakat tentang hakikat hidup bermasyarakat yang harus tunduk pada hukum dan norma yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dimainkan oleh para wanita, bines ada juga dimainkan oleh pria yang disebut Sining Bines. Gerak tari sining bines hampir seluruhnya sama dengan tarian bines, yaitu bergerak melingkar sambil bersyair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembanganya bines maupun sining bines mulai dimasukkan kisah-kisah lain dalam syairnya sesuai dengan tuntutan waktu dan maksud pengelarannya tanpa merubah bentuk aslinya yang sudah dikenal masyarakat. Yang membedakan bines dengan sining bines adalah hanyalah pada sining bines, para pria yang menari sambil bergerak melingkar, sesekali secara serentak menghentakkan kakinya ke lantai secara bervariasi dan berirama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentakan tersebut seolah-olah telah mengelamkan retapan dalam syairnya; ratapan yang menjadi asal mula lahirnya bines. Dengan hentakan kakinya tersebut seakan-akan para penari para penari mengingatkan penonton bahwa kesedihan tidak selamanya harus dihadapi dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6828785895589005687?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6828785895589005687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6828785895589005687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6828785895589005687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6828785895589005687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/bineuh-bines.html' title='Bineuh (Bines)'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1676370086934372769</id><published>2011-03-16T22:52:00.000-07:00</published><updated>2011-03-16T22:56:59.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Novelis yang Mati di Tangan Kekasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-sVusbPTa1BY/TYGincXssyI/AAAAAAAAAXw/LsIZx9FWAYQ/s1600/joe%2Borton.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 86px; height: 94px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-sVusbPTa1BY/TYGincXssyI/AAAAAAAAAXw/LsIZx9FWAYQ/s320/joe%2Borton.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584923811430314786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Popularitas tak selamanya membawa keberuntungan, kisah Joe Orton misalnya yang mati di tangan Kenneth Halliwell, kekasih yang membangun popularitasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Greene dalam 48 Law of Power  mengisahkan kehidupan pasangan tersebut. Kisahnya bermula pada 1953, ketika Joe dan Kenneth mendaftarkan diri sebagai mahasiswa pada jurusan akting Academy of Dramatic Art di London. Dari pertemuan itu mereka hidup bersama dan menjadi sepasang kekasih. Kenneth waktu itu sudah berusia duapuluh lima tahun, tujuh tahun lebih tua dari Joe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat dari sana mereka tidak berhasil mengembangkan  karirnya di dunia akting. Hidup mereka jadi serba kekurangan. Mereka tinggal di sebuah apartemen kumuh di London dengan uang warisan orang tua Kenneth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Seperti kebanyakan seniman lainnya, masa-masa yang sulit merupakan masa yang paling bisa diandalkan untuk berkarya. Tekanan hidup membuat kedua seniman itu untuk menghasilkan karya-karya yang bermutu. Mereka harus mampu bertahan dan menghasilkan uang yang banyak sebelum harta warisan Kenneth habis untuk biaya hidup di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenneth telah menjadi kekuatan bagi Joe untuk berkarya. Mereka kemudian banting setir dari dunia akting ke dunia sastra. Mereka mulai menulis novel. Kenneth menumpahkan segala khayalnya pada Joe untuk ditulis menjadi novel. Joe saat itu hanya tukang ketik dari apa yang disampaikan Kennet. Meski demikian Kennet tidak melarang Joe memasukkan ide-idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang dihasilkan kemudian dikirim ke penerbit, namun yang mereka dapatkan hanya janji, novelnya tak pernah diterbitkan. Sampai warisan Kenneth habis, novel mereka belum juga dicetak. Dalam tekanan hidup yang semakin pelik di Kota London, mereka terus berusaha menulis bersama, tapi tetap juga gagal. Malah hubungan mereka menuju kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan kekasih ini dijebloskan ke penjara karena merusak beberapa buku di perpustakaan saat mencari ide-ide kreatif untuk nasakahnya. Keduanya merobek beberapa halaman buku yang dianggap bisa digunakan untuk pembelajaran dalam berkarya. Karena ulahnya itu, mereka harus meringkuk di penjara selama setengah tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1957, Joe mencoba menulis naskah sendiri dan berpisah dengan Kenneth setelah keluar dari penjara. Ia menulis tentang kebenciaannya terhadap masyarakat Kota London dalam bentuk pertunjukan di tetater. Namun itu juga belum mampu mendongkrak popularitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sembilan tahun berpisah, Joe akhirnya kembali pada Kenneth. Mereka kembali menulis, tapi kini sebaliknya, Joe yang mendikte, Kenneth yang mengetik ide-idenya. Hingga pada 1964, Joe merampungkan drama panjang yang ditulisnya dengan bantuan Kenneth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drama dengan judul Entertaining Mr. Sloane  itu berhasil digelar di West End London. Para pengamat mengulas drama itu sebagai karya yang brilian. Joe benar-benar telah menemukan apa yang dicarinya; ia telah menjadi penulis terkenal. Sementara Kenneth sama sekali tidak diperhitungkan. Ia malah mengalami kemunduran saat kekasih yang ditopangnya itu sukses besar. Ia menjadi rendah diri karena hanya menjadi asisten pribadi Joe. Bila sebelumnya Kenneth yang menafkahi Joe dengan warisan orang tuanya, kini sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesuksesan Joe, hubungan pasangan itu semakin buruk. Kenneth merasa terasing dan dipinggirkan. Apalagi ketiga Joe mendapat pekerjaan dari The Beatle untuk menulis sebuah naskah film dengan bayaran besar. Tak ada lagi kerja sama antara Joe dan Kenneth, Joe benar-benar telah jalan sendiri dalam berkarya. Ia berselingkuh dengan banyak wanita. Hal itu membuat hubungan pasangan kekasih itu tak bisa dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joe mencoba memperbaiki hubungannya pelan-pelan dengan Kenneth. Ia mengajak kekasihnya berlibur ke Tangier, Maroko. Selama perjalanan tersebut Joe menulis dalam buku hariannya. “Kami duduk sambil membicarakan betapa bahagia perasaan kami dan pasti perasaan itu tak akan bertahan lama. Kami harus membayar harganya atau kami akan dilanda bencana dari kejauhan karena kami mungkin terlalu bahagia. Menjadi pria muda yang tampan, sehat, terkenal, dan relatif kaya dan bahagia pasti bertentangan dengan alam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan itu tak sengaja dibaca oleh Kenneth. Dan pada tengah malam 10 Agustus 1967, setelah membantu Joe menyelesaikan  sandiwara jenaka berjudul “What the Butler Saw” Kenneth memukuli kepala Joe dengan palu hingga meniggal. Setelah itu ia bunuh diri dengan menekuk beberapa pil tidur. Sebelum bunuh diri Kennet meninggalkan pesan di bukunya. “Jika kalian membaca buhu harian Joe, segalanya pasti sudah jelas.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1676370086934372769?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1676370086934372769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1676370086934372769' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1676370086934372769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1676370086934372769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/novelis-yang-mati-di-tangan-kekasih.html' title='Novelis yang Mati di Tangan Kekasih'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sVusbPTa1BY/TYGincXssyI/AAAAAAAAAXw/LsIZx9FWAYQ/s72-c/joe%2Borton.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2142138177002367154</id><published>2011-03-14T21:09:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T21:10:20.013-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Editorial'/><title type='text'>Bencana dan Tebar Pesona</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-dMAg3vxY048/TX7moxnD3-I/AAAAAAAAAXo/cvD6uW0PxSg/s1600/Tangse.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 107px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-dMAg3vxY048/TX7moxnD3-I/AAAAAAAAAXo/cvD6uW0PxSg/s320/Tangse.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584154176172318690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita belum sepenuhnya mampu belajar dari bencana. Ragam kebijakan penanggulangan tanggap darurat pada bencana alam, semisal banjir bandang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie pada Kamis malam 10 Maret 2011. Miris ketika mengetahui bahwa warga Blang Pandak harus berjalan kaki sejauh 14 kilometer untuk memperoleh bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ironis lagi, ketika sampai ke posko bantuan di Mesjid Blang Dhoet, Kecamatan Tangse mereka tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Malah harus membeli sendiri sembako untuk bertahan hidup. Ini menggambarkan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) belum bekerja sebagaimana diharapkan. Relawan bersama bantuan yang dibawanya hanya menumpuk di pasar kecamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Belum lagi tentang data korban yang simpang siur. Di kantor BPBA di kawasan Simpang Lima Banda Aceh, wartawan diundang untuk mendengar paparan tentang kondisi Tangse. Anehnya, ketika ternyata wartawan lebih tahu tentang konidisi yang sebenarnya. Ini membuktikan bahwa pejabat kita lebih suka berbicara di belakang meja, tinimbang menginjak lumpur di lokasi bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala teori tentang penanggulangan bencana seolah tak bermakna apa-apa. Mereka yang ‘mengunyah’ mentah-mentah isi aturan penanggulangan bencana dan tanggap darurat, kalah lihai dalam aplikasi di lapangan. Masyarakat korban membutuhkan sikap reaktif dan gerak cepat dari BPBA untuk menyalurkan bantuan bagi mereka. Bukan hanya mencatat jumlah korban dan kerusakan harta benda dalam deretan angka-angka semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seharusnya belajar dari berbagai petaka yang telah terjadi. Penanggulangan seharusya dilakukan jauh-jauh hari sebelum bencana terjadi dengan cara mencengah segala hal yang bisa menyebabkan bencana itu ada. Di sinilah diperlukan ketegasan pemerintah dengan berbagai kebijakannya. Seumpama Tangse, seharusnya jauh-jauh hari pemerintah bisa mengawasi dan menindak pelaku pembalakan liar di sana. Bukan sibuk setelah itu semua terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola penanggulangan bencana yang masih bersifat reaktif tidak pernah mampu memberikan pelayanan yang memadai bagi korban. Yang dibutuhkan adalah sikap proaktif untuk merawat alam agar bersahabat dengan kita. Ini harus dilakukan secara menyeluruh dan mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana telah menggariskan hal tersebut. Tak cukup dengan itu saja, beberapa aturan pelaksana kemudian dibuat diantaranya Peraturan Presiden  (PP) nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulagan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, PP nomor 22 tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengeloaan Bantuan Bencana, dan PP nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aturan itu jelas mengatur mekanisme penanggulangan bencana secara menyeluruh, mulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi setelahnya. Namun, lagi-lagi, pemerintah melupakan pengurangan risiko bencana secara maksimal. Pemerintah lebih sibuk pada tahap penyaluran bantuan mas panik (tanggap darurat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya lagi, ini masa pesona ditebarkan menjelang pemilihan kepala daerah. Penyaluran bantuan dengan dana pemerintah itu malah dilebel sebagai bantuan “pribadi” sasarannya tentu mengharap dukungan suara pada pemilihan gubernur yang akan datang. Anehnya, media malah terjebak pada lakon tersebut; tebar pesona di tengah hiruk pikuk bencana.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2142138177002367154?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2142138177002367154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2142138177002367154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2142138177002367154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2142138177002367154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/bencana-dan-tebar-pesona.html' title='Bencana dan Tebar Pesona'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-dMAg3vxY048/TX7moxnD3-I/AAAAAAAAAXo/cvD6uW0PxSg/s72-c/Tangse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-3150089305050320038</id><published>2011-03-14T01:17:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T01:18:21.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Impunitas</title><content type='html'>Diakui atau tidak, penegakan hukum di Aceh telah dipengaruhi oleh impunitas. Bagi satu pihak penegakan hukum disegerakan, di pihak lain diundurkan—kalau tak elok disebut didiamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kasus yang kini menjadi perhatian media di Aceh dewasa ini bisa menjadi contoh. Yang pertama kasus pencemaran nama baik Gubernur Irwandi Yusuf dengan terdakwa Hamidi Arsya yang disidangkan di Pengadilan Negeri Jantho. Kemudian kasus pemukulan terhadap T Syahreza Darwin dengan tersangka Izil Azhar alias Ayah Merin, orang dekat Gubernur Irwandi Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Untuk kasus Hamidi, sudah beberapa kali sidang digelar di pengadilan. Malah Gubernur Irwandi Yusuf sendiri hadir ke persidangan memberi keterangan sebagai saksi korban/pelapor. Sementara kasus Ayah Merin berkasnya masih bolak balik dari polisi ke jaksa. Jika dalam waktu dekat kasus ini tidak dilengkapi dan dilimpahkan ke pengadilan (P21), maka patut diduga ada praktek impunitas di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum mengenal istilah actus non facis nisi mensir rea, tiada terpidana tanpa kesalahan. Para pelaku dalam dua kasus tadi, seharusnya sama-sama menuju ke situ, Hamidi sudah jadi terdakwa dan tak lama lagi akan menjadi terpidana. Sementara Ayah Merin masih belum tersentuh. Ia hanya baru sebatas tersangka, belum terdakwa apalagi terpidana. Dan disinilah punca impunitas bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impunitas  bermakna kebebasan dari hukum atau hal yang terluput dari hukum. Impunitas sama halnya dengan untouchable yang bermakna tak tersentuh atau kebal hukum. Keduanya muncul karena adanya perlindungan di ketiak kekuasaan. Karena impunitas dan ontuchable maka  pelanggaran terhadap hukum mendapat perlindungan dari kekuasaan. Hukum yang seharusnya menjadi panglima malah dikebiri oleh kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila praktik impunitas masih ada, maka istilah actus non facis reun nisi mensir rea, tak akan bermakna apa-apa. Setiap kesalahan melahirkan terpidana, pertanyaannya, sudah arifkan kita mempidanakannya. Jangan-jangan impunitas dan untouchabel telah mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impunitas adalah sebuah fenomena dalam hukum, yang selalu menyertai kasus-kasus yang melibatkan kekuasaan (pemerintah) terhadap rakyatnya. Kalangan human rights mendefinisikan impunity sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh kekuasaan. Mereka menganggap crime without punishmen is the crims itself. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab impunitas bisa terjadi oleh beberapa hal. Salah satunya adalah hilangnya “kemerdekaan” hakim dalam menyidangkan suatu kasus karena tekanan kekuasaan. Semoga saja dalam kasus Ayah Merin, pemegang kekuasaan di Aceh tidak mempraktekkan hal ini. Semoga penanganan kasus Ayah Merin tidak diulur-ulur untuk melindungi kekuasaan sang Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegakan keadilan yang diulur-ulur ini merupakan pengingkaran terhadap keadilan. Wiliam E Glandstone, Perdana Menteri Inggris (1868-1894) mengatakan hal ini sebagai, “justice delayed is justice denied” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakbebasan lagi hakim dalam menyidangkan suatu kasus juga bisa memunculkan impunitas. Dalam kasus Hamidi dan Ayah Merin kita menginginkan penegakan hukum yang sebenarnya, tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik gubernur. Apalagi ini menjelang pemilihan kepala daerah. Dan Irwandi bermaksud maju kembali. Ia tentu tak ingin citranya tercoreng dalam dua kasus tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim harus benar-benar menjaga hukum sebagai panglima, bukan runut pada kepentingan kekuasaan. Dalam banyak hal, kita melihat penegakan hukum di Indonesia masih bisa diatur oleh kekuasaan. Hukum yang sejatinya hukum telah menjadi ladang bisnis. Penegakan hukum bisa diatur melalui tipis tebalnya setoran. Hukum masih saja digagahi oleh kepentingan politik kekuasaan hingga melahirkan keputusan yang pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang oleh Goenawan Wanaradja, mantan hakim di Pengadilan Negeri Banda Aceh yang menyebutkan penegakan hukum telah mengikuti “hukum pasar”. Perselingkuhan antara kekuasaan dan penegak hukum telah membuat penegakan hukum itu sendiri menjadi “hukum pasar” yakni keadilan diatur berdasarkan permintaan dan penawaran. Berapa yang anda tawarkan dan apa yang anda janjikan akan mempengaruhi putusan hakim. Inilah yang disebut sebagai mafia peradilan (prokreor). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafia peradilan tetap saja punya celah bermain dalam penegakan hukum. Apalagi dalam aksus Hamidi dan Ayah Merin mempertaruhkan nama baik seorang gubernur. Akhirnya, penegakan hukum yang dipengaruhi oleh impunitas hanya akan melahirkan ontuchable man yang tak mampu dijerat oleh hukum yang sebenarnya. Dalam dua kasus ini kita butuh keberanian hakim untuk tidak menggadaikan hukum, dengan dan atau tanpa pengaruh kekuasaan sekalipun. Semoga.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-3150089305050320038?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/3150089305050320038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=3150089305050320038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3150089305050320038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3150089305050320038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/impunitas.html' title='Impunitas'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6652404313662172522</id><published>2011-03-12T21:27:00.000-08:00</published><updated>2011-03-12T21:30:37.430-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Vichitra</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Vichitra pernah sangat dikenal sebagai penyair Aceh pada masa awal-awal kemerdekaan. Karya-karyanya  dominan bercerita tentang perjuangan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tak banyak yang tahu tentang Vichitra, orang lebih mengenal Ali Hasjmi sebagai politisi dan penyair Aceh pada dekade awal kemerdekaan. Padahal karya-karya Vichitra tak bisa dikesampingkan dalam sejarah sastra di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vichitra berada pada suatu periode sejarah kesusastraan Aceh. Karya-karyanya banyak bercerita tentang heroisme masa perjuangan kemerdekaan di Aceh. Seperti pada puisi “Sekuntum Bunga” yang ia persembahkan kepada kakeknya, Tuanku Hasyim Bangta Muda (1558 – 1897) panglima angkatan perang Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini di tulis di Lembah Seulawah pada tahun 1949. Ia seolah berbicara dengan kakeknya tentang tentang kepiluan dari para pejuang yang tak dihargai, para pahlawan yang dilupakan oleh generasi setelahnya. Vichitra menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kakekku&lt;br /&gt;sekian lama engkau berjuang&lt;br /&gt;berkorban untuk tanah airmu&lt;br /&gt;menyambung nyawa di medan perang&lt;br /&gt;di ujung pedang serta peluru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan tahun rencong tergenggam&lt;br /&gt;dalam gumpalan asap mesiua&lt;br /&gt;laskar berbaris engkau di depan&lt;br /&gt;Bangta pahlawan gagah menyerbu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuanku Hasyim Bangta Muda yang disebut Vichitra dalam puisinya itu merupakan pimpinan pasukan Kerajaan Aceh yang mempertahankan Mesjid Raya Baiturrahman dari serangan Belanda kedua kalinya. Ia pada saat itu harus melawan angkatan perang Belanda yang dipimpin Lentan jenderal J Van Sweiten. Pensiunan tentara Hindia Belanda yang diaktifkan kembali dan didatangkan dari Belanda pada 9 Juni 1873 untuk menaklukkan Aceh dibantu Mayor Jenderal G M Verspijck. Agresi kedua Belanda ini dimulai pada 9 Desember 1873, ditandai dengan pendaratan pasukan Belanda di Kampung Lheue dekat Kuala Gigieng, Kabupaten Aceh besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi serangan Belanda itu, Tuanku Hasyim Bangta Muda dibantu oleh Teungku Imum Lueng Bata dan Teuku Nanta Setia. Selama delapan hari mereka melakukan pertahanan di pantai, kemudian mengundurkan diri untuk memperkokoh pertahanan di sekitar Mesjid Raya Baiturrahman, Peukan Bada, Lam Bheu serta komplek istana sultan Aceh (Dalam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vichitra menilai heroisme dan kegigihan kakeknya itu yang juga salah seorang adik Sultan Aceh, dilupakan oleh generasi setelahnya. Pada bait selanjutnya Vichita melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kini telah lama engkau berhenti&lt;br /&gt;melepas lelah jerih payahmu&lt;br /&gt;jasamu terpaku menjulang tinggi&lt;br /&gt;terpendam dalam timbunan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah pilu hatiku poyang&lt;br /&gt;engkau semakin di alam restu&lt;br /&gt;darma baktimu tersisip hilang&lt;br /&gt;para pujangga tiada tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena mereka tiada menggores&lt;br /&gt;meliukis rona perjuanganmu&lt;br /&gt;sukma mereka tiada menangis&lt;br /&gt;menembang sayu lagu wafatmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vichitra merasa sendirian mengenang perjuangan kakeknya itu. Ia seolah mengabarkan dalam puisinya bahwa jasa panglima besar angkatan perang Kerajaan Aceh tersebut sudah dilupakan. Pada bait terakhir ia menulis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Poyangku&lt;br /&gt;biarlah aku cucumu sejati&lt;br /&gt;menggubah indah perjuanganmu&lt;br /&gt;jasa jasamu di zaman dulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi-puisi lainnya, Vichitra juga masih bercerita tentang Tuangku Hasyim Bangta Muda, kakeknya itu. Ia begitu membanggakan kakeknya sebagai panglima perang. Seperti dalam puisi “Panglima Aceh” yang ditulisnya di Lembah Seulawah pada tahun 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi ini ia bercerita tentang watak orang Aceh yang tungang, yang mewariskan darah pejuang secara turun temurun, yang dengan sesama bangsanya sendiri sering bertikai, apa lagi dengan musuhnya. Vichitra juga bercerita tentang siasat perang dan regenerasi para panglima perang Aceh di zaman perjuangan melawan Belanda. Vichitra menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sudah bertanda sejak zuriat&lt;br /&gt;putra rencong gagah perkasa&lt;br /&gt;dalam sejarah berabad-abad&lt;br /&gt;turun temurun bangsa panglima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita sudah melihat&lt;br /&gt;setengah abad dengan Belanda&lt;br /&gt;sukar terkikis semangat kuat&lt;br /&gt;darah wasiat tetap menyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Aceh terkenal “tungang”&lt;br /&gt;pusaka moyang semenjak purba&lt;br /&gt;gagah perkasa di medan perang&lt;br /&gt;dalam berjuang membela nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama rencong sanggup digenggam&lt;br /&gt;pantang dicoba menyindir kata&lt;br /&gt;sedang sebangsa lazim bertikam&lt;br /&gt;konon berdepan dengan musuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Aceh segan ditentang&lt;br /&gt;siasat perang usah digaya&lt;br /&gt;setiap ayah rebah berjuang&lt;br /&gt;putranya tampil jadi panglima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Aceh juga dikenal tak kenal kompromi dalam peperangan. Tentang hal ini digambarkan Vichitra dalam puisi “Pantang Adatku”  yang ditulisnya di Lembah Seulawah pada tahun 1945. Orang Aceh juga digambarkan sebagai pendendam yang akan mewariskan dendamnya itu kepada generasi setelahnya. Utang nyawa harus dibalas dengan nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah gambaran Vichitra tentang pejuang Aceh yang tak kenal menyerah apalagi tunduk kepada musuhnya. Ia menulis dalam puisinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Patah seulawah terbang merata&lt;br /&gt;runtuh purnama bergugur bintang&lt;br /&gt;tergenang darah tenggelam dunia&lt;br /&gt;namun menyerah adatku pantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berguncang sawang lekang mentari&lt;br /&gt;hancur semesta menjadi debu&lt;br /&gt;bahkan tertungkup langit dan bumi&lt;br /&gt;pantang kusembah musuh poyangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah dunia tetap tak damai&lt;br /&gt;biarlah mega bercelup darah&lt;br /&gt;utang piutang mesti selesai&lt;br /&gt;ampun kujanji di ujung siwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kusimpan petaruh lama&lt;br /&gt;rencong pusaka masih bergagang&lt;br /&gt;masih terngiang amanat Poma&lt;br /&gt;selesai tikai di mata pedang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi lainnya Vichita menulis tentang dialog ibu dan anak sebelum menuju ke medan juang untuk menuntut balas kematian ayahnya. Ia bercerita tentang kerelaan seorang ibu melepas anaknya ke medan juang. Hal itu digambarkan Vichitra dalam puisi “Putra Panglima”  yang ditulisnya pada tahun 1944.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;anakku putra panglima&lt;br /&gt;dengar kukata pesan ayahmu&lt;br /&gt;ia tewas di rimba raya&lt;br /&gt;dalam perang sabil masa dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak tertekun di muka ibu&lt;br /&gt;mendengar kisah ayah kandungnya&lt;br /&gt;di hati bergema rintihan pilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku petaruh ayah&lt;br /&gt;jangan bimbang putra panglima&lt;br /&gt;ibu tinggal usah digundah&lt;br /&gt;hidup mati ada jangkanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku bunda satria&lt;br /&gt;usah dikaji berulang kali&lt;br /&gt;hamba bersumpah menyerah nyawa&lt;br /&gt;menuntut bela ayah yang mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Vichitra, penyair Aceh yang terlupakan, menulis pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda. Ia yang mengaku cucu Tuanku Hasyim Bangta Muda sangat mengelu-elukan heroisme kakeknya itu dalam melawan penjajah. Namun sayang tak ada catatan dalam khasanan kesusastraan Aceh tentang siapa sebenarnya Vichitra, yang saya yakin itu hanyalah sebuah nama alias dari seorang penulis yang hidup di zaman pergolakan.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6652404313662172522?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6652404313662172522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6652404313662172522' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6652404313662172522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6652404313662172522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/vichitra.html' title='Vichitra'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-5167354224480753496</id><published>2011-03-02T04:43:00.000-08:00</published><updated>2011-03-02T04:46:42.010-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gagalnya Perjanjian Aceh - Amerika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FrRd42C8xsU/TW48KS1oQBI/AAAAAAAAAXg/iduEjwk_j90/s1600/Arifin%252C%2Bmata-mata%2BBelanda%2Bdi%2BSingapura.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 187px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FrRd42C8xsU/TW48KS1oQBI/AAAAAAAAAXg/iduEjwk_j90/s320/Arifin%252C%2Bmata-mata%2BBelanda%2Bdi%2BSingapura.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579463135911755794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Arifin, Putra Mahkota Moko-moko, Bengkulu memainkan peran ganda dalam perang Aceh. Sebagai mata-mata Belanda ia menyeret Syahbandar Kerajaan Aceh, Panglima Muhammad Tibang membelot ke pihak Belanda di Singapura pada akhir 1872. Perjanjian Aceh dengan Amerika Serikat pun gagal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya Tengku Arifin yang berhasil membuat Belanda mempercepat invansinya ke Aceh pada Maret 1873 itu? Menurut Menurut M Nur El Ibrahimi dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, Tengku Muhammad Arifin merupakan anak seorang pangeran asal Bengkulu yang mempunyai hubungan dengan kraton Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah menikah dengan kemenakan Sultan Aceh. Ia berhasil meyakinkan Panglima Tibang untuk menggunakan jasanya sebagai penerjemah di Singapura karena mengaku kenal baik dengan Konsul Amerika di Singapura, Mayor Studer.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tengku Muhammad Arifin &lt;br /&gt;sebelumnya memang pernah bertemu dengan Studer. Ketika itu ia meminta bantuan kepada Konsul Amerika di Singapura tersebut untuk meminta bantuan agar ayahnya kembali mendapat mahkota kerajaan yang telah dicopot oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kedua dengan Studer dilakukan Tengku Muhammad Arifin ketika mencoba menyeret Amerika dalam masalah Aceh. Sebelum Panglima Tibang ke Singapura Tengku Muhammad Arifin pernah menemui Panglima Angkatan laut Amerika di Hongkong, Laksaman Jenkis. Pertemuan dengan Jenkis itu dilakukan ketika ia singah di Singapura dalam perjalannya ke Kalkuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertemu dengan Jenkis di Singapura, Tengku Muhammad Arifin berpura-pura sebagai pangeran yang mempunyai hubungan dengan kerajaan Aceh. Kepda Jenkis ia menanyakan apakah tidak mempunyai keinginan untuk mengikat suatu perjanjian dengan Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Jenkins menjawab bahwa Amerika tidak seperti Inggris dan Belanda. Amerika tidak mempunyai ambisi teritorial. Jawaban tersebut membuat Arifin tidak berani membuka mulut lagi. “Jadi, usaha Arifin untuk menyeret Amerika intervensi ke dalam hubungan Belanda dengan Aceh sudah dimulai sebelum Panglima Tibang tiba di Singapura,” jelas M Nur El Ibrahimy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Arifin terus memainkan peran gandanya. Di satu sisi ia penerjemah Panglima Tibang, di sisi lain ia adalah mata-mata Belanda yang menyampaikan segala gerak-gerik Panglima Tibang di Singapura kepada Belanda. Hal inilah salah satu penyebab meletusnya perang Aceh dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terkuak ketika Jamer Warren Gould, seorang penulis asal Amerika Serikat, ahli internasional relation dari California, melakukan penelitian untuk mengetahui sebab-musabab perang Aceh. Tahun 1957 ia berhasil meyakinkan pemerintah Belanda untuk membuka dokumen  rahasia tentang Aceh. Kisah peran ganda Arifin dan pengkhianatan Panglima Tibang pun terungkap. Sebelumnya tak ada yang tahu bagaimana peristiwa bersejarah itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian itu dimuat dalam majalah Annals of Iowa. Dunia pun terperanjat, karena peristiwa itu sudah 80 tahun ditutupi Belanda. Kisahnya bermula dari Panglima Tibang selaku utusan kerajaan Aceh dengan Konsul Amerika di Singapura, Mayor Studer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu juga dinilai sebagai gebrakan berani diplomasi luar negeri Aceh dalam mempertahankan kedaulatannya. Pertemuan itu oleh Belanda disebut sebagai Het  Veraad van  Singapore yang bermakna pengkhianatan di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Muhammad Tibang menjumpai Studer untuk membahas perjanjian kerja sama antara Aceh dan Amerika, karena itu Studer dianggap Belanda sebagai pengkhianat yang ingin berkomplotan dengan kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum hubungan Aceh dengan Belanda saat itu tidak baik. Sultan Aceh dituduh berkhianat karena melanggar perjanjian perdamaian dan persahabatan dengan kerajaan Belanda. Perjanjian itu dibuat pada tahun 1857. Panglima Tibang dan Mayor Studer dinilai Belanda bertanggung jawab terjadap meletusnya perang Aceh dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Jamer Warren Gould mengungkapkan bahwa pengkhianatan di Singapura (Het Veraad van Singapore) yang dituduh Belanda ternyata bukan Mayor Studer dan Panglima Tibang, tapi Tengku Muhammad Arifin, seorang mata-mata Belanda dan Read Konsul Belanda di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tentang Aceh itu lebih mengejutkan lagi bagi dunia internasional setelah terbitnya buku De Atjeh Oorlog  karangan Paul van’t Veer. Melalui buku itu dunia internasional lebih mengetahui apa yang sebenarnya disebutkan Belanda Het Veraad van Singapore  yang telah menjerumuskan Aceh dalam perang panjang dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana terungkap, setelah Panglima Tibang tiba di Kutaraja dari Singapura, suatu berita penting sampai ke telinga Sultan Aceh, yaitu Belanda akan menyampaikan ultimatum kepada Sultan Aceh. Atas perintah Sultan, Panglima Tibang mendadak berangkat ke Riau untuk meminta keterangan kepada Schiff, Residen Riau yang melaksanakan operasi politik ke Aceh dan sebelah timur. Sebelah barat operasi politik ke Aceh dilaksanakan oleh van Swieten, Gubernur Sumatra Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Tibang berangkat bersama delegasi Kerajaan Aceh yang terdiri dari Tgk Nyak Muhammad, Tgk Lahuda Muhammad Said, Tgk Nyak Akob, serta Tgk Nyak Agam. Panglima Tibang bertindak sebagai ketua delegasi tersebut. Kepada delegasi Aceh Schiff membantah bahwa Belanda akan menyampaikan ultimatumnya. Belanda tetap beritikad baik terhadap Sultan dan tetap memegang teguh perdamaian dan persahabatan dengan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebulan di Riau, Panglima Tibang diantar pulang ke Aceh dengan kapal perang Marnix. Tetapi ia mengatakan kepada Schiff ingin singgah ke Singapura untuk membeli sebuah kapal api guna kepentingan transportasi di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura Panglima Tibang melakukan pertemuan dengan Konsul Amerika, Mayor Studer. Seperti pada kesempatan pertama, kali ini Panglima Tibang juga ditemani oleh Tengku Muhammad Arifin, yakni mata-mata Belanda yang diutuskan oleh Konsul Belanda di Singapura, Read setelah menerima informasi dari Schiff di Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu Tengku Muhammad Arifin dipakai oleh Panglima Tibang sebagai penerjemah. Padahal sebelumnya Panglima Tibang telah menggunakan orang lain, namun atas bujuk rayu Tengku Muhammad Arifin penerjemah itu tidak dipakai. Maka muluslah usaha Tengku Muhammad Arifin untuk memata-matai pertemuan Panglima Tibang dengan Studer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Muhammad Tibang meminta kepada Studer untuk membuat naskah perjanjian di Singapura dan dikirim ke Washintong, Amerika Serikat secepatnya. Ia menilai perjanjian itu sangat mendesak untuk dibuat. Tapi Studer mengatakan ia tidak punya wewenang untuk membuat perjanjian tersebut. Meski demikain ia berjanji mengirim perjanjian yang telah ditandatangani oleh Sultan Aceh kepada Pemerintah Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian mendiskusikan masalah-masalah yang dirasakan layak menjadi isi dan perjanjian Aceh-Amerika, yakni mengenai hal-hal yang diinginkan oleh Amerika dan yang dapat diberikan oleh Aceh dalam batas-batas yang wajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin yang ternyata mata-mata Belanda, membocorkan isi pertemuan itu kepada Konsul Belanda di Singapura, Read. Namun apa yang disampaikannya berbeda jauh dengan  isi pembicaraan yang ia dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Read ia mengatakan bahwa Studer telah menyusun sebuah perjanjian antara Aceh dengan Amerika yang terdiri atas 12 pasal dan akan menulis surat kepada Laksamana Jenkis pemipin armada Amerika di Hongkong untuk berangkat ke Aceh. Dengan kebohonganya itu Arifin meminta kepada Belanda untuk segera mengirim kapal perangnya ke Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebohongan Arifin Terungkap&lt;br /&gt;Kebohongan Arifin terungkap dalam surat Read tertanggal 15 Juni 1873 kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Gericke yang isinya “Untuk memastikan isi perjanjian itu Muhammad Arifin telah membuatnya begitu katanya dalam bentuk perjanjian yang pernah dibuat antara beberapa negara dengan Siam, rancangan yang dibacakan sendiri oleh Muhammad Arifin kepada Studer, tetapi Studer kurang setuju dengan rancangan perjanjian tersebut. Ia mengambil sebuah buku, kemudian membaca teks perjanjian Brunei dalam bahasa Inggris, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh seorang kerani konsulat, sedangkan Arifin menulisnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor Studer sendiri kemudian menerangkan dalam laporannya, bahwa sama sekali tidak bermaksud mengusulkan diadakannya perjanjian dengan Aceh. Akan tetapi, Arifin lah yang mengajukan dengan membawa naskah rancangan perjanjian itu kepadanya. Panglima Tibang  hanya membawa sebuah surat dari Sultan Aceh yang meminta bantuan Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Studer ini sesuai dengan pengakuan Arifin di dalam proses verbal yang dibuat di depan Jenderal Verspijk, Kepala Biro Perbekalan Peperangan Belanda yang sedang mempersiapkan ekspedisi Belanda kedua terhadap Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancangan perjanjian yang dibuat oleh Arifin bukan diserahkan kepada Studer dalam pertemuan antara Studer dan Panglima Tibang, tetapi diserahkan pada waktu Arifin datang sendirian mengunjungi Studer beberapa waktu setelah pertemuan dengan Panglima Tibang usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, setelah pertemuan antara Panglima Tibang dan Studer usai, Arifin tidak langsung mengirimkan laporan kepada Read karena pada waktu itu Read berada di Bangkok. Samua hal yang tidak dapat dimengerti adalah mengapa Arifin tidak menyampaikan laporan tersebut kepada Meir, wakil Read. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dua minggu setelah itu Arifin menulis surat kepada Read di Bangkok mengenai pertemuan antara Panglima Tibang dan Studer. Setelah menerima surat Arifin, Read langsung kembali ke Singapura. Segera Arifin diperintahkan untuk berangkat ke Riau menyampaikan laporan tersebut kepada Residen Schiff. Ia diberi uang saku $ 2,00 permil dan $ 25,00 uang jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya Sebuah Intrik&lt;br /&gt;Setelah dua hari berada di Singapura Read mengirim kawat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Loudon mengenai pertemuan Panglima Tibang dengan Studer. Isinya, “Intrik-intrik yang sangat serius antara perutusan Aceh dan konsul Amerika di Singapura terungkap; hal ini memerlukan pertimbangan langsung. Perincian dikirim dengan kapal yang pertama.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Read mengirimkan laporan seperti berikut: “Perutusan menyampaikan kepada Konsul Italia dan Amerika surat Sultan Aceh yang meminta bantuan unruk menghadapi Belanda. Konsul Amerika berjanji akan menyurati Laksamana Jenkins di Cina dan telah menyusun sebuah perjanjian 12 pasal yang akan ditandatangani oleh Sultan dan akan mengirimkan kembali. Orang-orang Amerika siap sedia datang dalam waktu dua bulan. Informasi ini kiranya mendapat kepercayaan sepenuhnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Read tersebut menimbulkan kegemparan di Batavia. Sebuah telegram yang mengandung pokok-pokok soal yang terdapat dalam laporan Read dikirim oleh Loudon ke Den Haag. Pada tanggal 18 Februari 1873 Menteri Luar Negeri Belanda memohon kepada raja untuk menjamin keamanan di Aceh seperti yang diwajibkan oleh perjanjian 1824.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang sama Menteri Luar Negeri Belanda meminta kepada Washington dan Roma untuk menyangkal tindakan-tindakan konsulnya di Singapura dan menjernihkan permasalahan bersama dengan negara-negara besar lainnya, atas dasar bahwa perlindungan terhadap perdagangan di perairan Aceh menjadi kewajiban Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Kementerian Luar Negeri Belanda mengirimkan nota kuasa kepada Duta Besar Belanda di Washington untuk menyampaikan kepada Fish, Menteri Luar Negeri Aimerika, suatu nota yang menggambarkan bahwa Belanda telah melaksanakan kewajibannya menjamin keamanan pelayaran dan perdagangan di perairan Aceh sesuai dengan isi perjanjian yang ditandatanganinya dengan Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, disebutkan pula Belanda telah mengetahui bahwa perutusan Aceh telah mengadakan hubungan dengan Konsul Amerika di Singapura. Belanda bermaksud mengadakan suatu perjanjian dengan mereka. Bahkan lebih jauh, Amerika disebutkan sedang bersiap-siap memanggil panglima angkatan lautnya di Laut Cina agar datang membawa kapal perangnya ke perairan Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Belanda memandang tindakan-tindakan tersebut dapat meningkatkan perlawanan Aceh, dan yakin bahwa Pemerintah Amerika Serikat tidak bermaksud merintangi Belanda, bahkan sebaliknya akan bersimpati dan memberikan dukungan dalam usaha melaksanakan action civilisatrice (usaha membawa peradaban). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah selanjutnya Belanda memohon kepada Menteri Luar Negeri Amerika agar meminta Studer menghentikan usahanya mengadakan peranjian dengan perutusan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 19 Februari 1873 Den Haag mengirim kawat kepada Batavia sebagai berikut: “Jika Anda tidak merasa bimbang terhadap kebenaran informasi Konsul Singapura, kirimkan angkatan laut yang kuat ke Aceh untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban atas sikap bermuka dua dan khianat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawat tersebut merupakan lampu hijau bagi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Loudon) untuk menggempur Aceh. Memang, inilah yang ditunggu-tunggu Loudon meskipun sewaktu menjadi Menteri Jajahan menganut politik non-intervention atau tidak campur tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Loudon merupakan seorang penjajah yang sangat bernafsu untuk menaklukkan Aceh. Ia menanggapi hal itu dengan mengatakan.  “Selama kedaulatan kita tidak diakui, tetap ada campur tangan asing yang mengancam kita seperti pedang Democles.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 Februari 1873 Loudon mengadakan rapat Dewan Hindia yang dihadiri juga oleh pemimpin-pernimpin militer. Sehari kemudian ia mengirim telegram ke Den Haag, Belanda isinya: “Dewan Hindia di Batavia yang saya pimpin dengan dihadiri oleh jenderal dan laksamana, menyetujui usul saya untuk mengirim secepat mungkin komisi yang didukung oleh empat batalyon ke Aceh untuk menyampaikan ultimatum, adakala pengakuan kedaulatan, adakala perang. Kita akan hadapi Amerika dengan fait accompli. Presiden Nienwenhuijzen adalah orangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang kemudian membuat Belanda mengultimatum Aceh yang akhirnya membuat perang Aceh dengan Belanda meletus. []&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-5167354224480753496?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/5167354224480753496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=5167354224480753496' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5167354224480753496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/5167354224480753496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/03/gagalnya-perjanjian-aceh-amerika.html' title='Gagalnya Perjanjian Aceh - Amerika'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FrRd42C8xsU/TW48KS1oQBI/AAAAAAAAAXg/iduEjwk_j90/s72-c/Arifin%252C%2Bmata-mata%2BBelanda%2Bdi%2BSingapura.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2975431701380496714</id><published>2011-02-28T00:18:00.001-08:00</published><updated>2011-02-28T00:18:56.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Gubernur Perempuan</title><content type='html'>Denyut politik di Aceh menjelang Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh (Gubernur) periode 2011-2017 kian terasa. Perempuan diharapkan hadir sebagai calon alternatif di tengah dominasi kaum pria. Aceh, Inggris dan Rusia punya sejarah tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung-hitungan kasar, perempuan merupakan pemilih terbesar di Aceh, jumlah mereka melebihi jumlah pemilih laki-laki. Kalau sloglam lama “perempuan memilih perempuan” berlaku, maka sahlah Aceh dipimpin oleh gubernur perempuan. Masalahnya, sampai sekarang belum muncul kandidat calon gubernur Aceh dari kalangan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pada pemilihan legislatif tahun 2009 lalu, perempuan hanya dijadikan sebagai “magnet” bagi pemilih perempuan untuk mendongkrak perolehan suara bagi kandidat laki-laki. Kandidat dari kalanan perempuan lebih banyak berada pada nomor urut belakang. Sangat jarang—bahkan tidak ada—calon perempuan yang ditempatkan pada nomor urut pertama. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan calon perempuan dalam daftar calon anggota legislatif hanya untuk memenuhi ketentuan undang-undang semata, yakni pemenuhan quota 30 persen perempuan daftar kandidat calon anggota legislatif suatu partai. Jadinya, perempuan hanya jadi pendulang suara saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dalam  kancah politik Aceh pernah mencoba bangkit pada tahun 2006 lalu. Aktivis perempuan di Aceh membentuk partai lokal di Aceh, Partai Aliansi Rakyat Aceh (PARA) sebagai wadah untuk perjuangan politik perempuan. Namun PARA sebagai partai perempuan pertama di Indonesia itu ternyata tidak lulus verifikasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada pemilihan Gubernur Aceh tahun 2006, dua perempuan juga mencalonkan diri melalui jalur independen. Satu sebagai calon gubernur satu sebagai calon wakil gubernur. Namun juga gagal, mereka dinyatakan tidak lewat karena tidak lolos tes baca Alquran. Bagaimana dengan pemilihan gubernur akhir 2011 nanti, akankah perempuan kembali muncul, atau hanya sebagai pelengkap saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan perempuan dalam kancah politik bukanlah hal yang baru di Aceh. Kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh empat sulthanah yang melanjutkan kejayaan Sultan Iskandar Muda. Mereka adalah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675). Ia mangkat pada 23 Oktober 1675. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahta kerajaan Aceh kemudian dipegang oleh Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675 – 1678). Meski hanya tiga tahun menjabat sebagaiu sulthanah, ia mampu mengubah tatanan politik dan birokrasi Kerajaan Aceh. Atas nasehat Mufti Kerajaan Aceh waktu itu, Syeikh Abdul Rauf As Singkili (Tgk Syiah Kuala), Aceh dibagi menjadi tiga sagi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Aceh lhee sagoe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahannya kemudian dilanjutkan Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah. Sulthanah ini dikenal lihat dalam politik luar negeri. Pada masa pemerintahannya, diplomat dari Kerajaan Inggris datang ke Aceh. Untuk mengamankan misi dagang Inggris di Selat Malaka, Inggris mengajukan proposal kerja sama ke Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah. Isinya, Inggris ingin membangun benteng di Aceh untuk kepentingan dagangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu ditolak, ia menyatakan Kerajaan Aceh sanggup memberi keamanan setiap misi dagang yang singgah di pelabuhan Aceh. Inggris dibolehkan masuk ke Aceh, tapi tidak diizinkan mendirikan benteng sendiri. Setelah dia mangkat, tampuk kerajaan Aceh dipegang oelh Sulthanan Zainatuddin Kemalat Syah. Pada masa pemerintahannya, berbagai misi dagang Eropa datang ke Aceh, seperti dari Persatuan Dagang Perancis, Serikat Dagang Inggris, dan East Indian Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para perempuan Aceh zaman itu mampu memegang kendali kerajaan sampai empat orang secara turun temurun?. Inilah yang menjadi bahasan dalam berbagai literatur sejarah pergerakan perempuan dunia abad ke-17. Kala itu Aceh telah menjadi contoh rujukan emansipasi perempuan di dunia. Ini yang disebut  Robern Green sebagai kelebihan perempuan dalam memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan para sulthanah di Aceh lebih fleksibel. Sama seperti yang kelak dilakukan oleh Ratu Elizabeth di Inggris dan Kaisar Chaterine the Great dari Rusia. Di Aceh, ketika terjadi pertentangan antara paham wujudiah dengan ahlulsunnah waljamaah, para sulthanan mengambil jalan tengah, yang membuat kekuasaannya langgeng. Mereka memimpin tidak meledak-ledak seperti kaum pria yang langsung menyatakan sikap dukungannya terhadap salah satu golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika di Inggris terjadi pertentangan antara golongan katolik dengan protestan, Ratu Elizabeth melaju lewat jalur tengah. Ia menghindari persekutuan-persekutuan yang bisa menyebabkan dirinya memihak salah satu golongan. Dengan tetap berada di jalur tengah, ia bisa menggunakan pengaruhnya pada kedua golongan tersebut, dan kekuasaannya akan langgeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaterin the Great juga melakukan hal yang sama di Rusia, setelah menggulingkan suaminya Kaisar Peter II dan mengambil alih kendali Rusia pada tahun 1762. Gaya kepemimpinan perempuan yang feminim seperti Chaterin sangat susah ditebak. Ia selalu selangkah lebih maju dari langkah politik lawannya. Ia mampu beradaptasi dengan perlawanan lawan-lawan politiknya dengan tak pernah memaksa rakyat. Kepemimpinannya juga langgeng, dan dia bisa mereformasi Rusia dalam kurun waktu yang singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan perempuan-perempuan yang telah tercatat sejarah itu, selalu muncul sebagai alternatif di tengan pertentangan politik kaum pria. Kondisi politik Aceh hari ini juga menjurus pada hal demikian. Pertanyaannya sekarang, adakah perempuan di Aceh yang maju sebagai calon gubernur di tengah pertentangan politik kaum pria selama ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2975431701380496714?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2975431701380496714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2975431701380496714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2975431701380496714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2975431701380496714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/gubernur-perempuan.html' title='Gubernur Perempuan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8610618633029633005</id><published>2011-02-24T18:20:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T18:23:45.469-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pocut Di Biheu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-tkYPTW4DCw4/TWcSp7JAelI/AAAAAAAAAXY/3nWks0ycK_A/s1600/pocut%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 257px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-tkYPTW4DCw4/TWcSp7JAelI/AAAAAAAAAXY/3nWks0ycK_A/s320/pocut%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577447174981057106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ia menyerang seorang diri patroli 18 marsose di Padang Tiji. Belanda menggelarnya heldhaftig.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heldhaftig bermakna yang gagah berani, gelar itu diberikan Veltman, perwira Belanda yang melihat sendiri keberanian Pocut Di Biheue menyerang patroli pasukan Belanda ketika hendak ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biheue merupakan sebuah desa di Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Di desa itulah sejarah itu bermula. Pocut Di Biheue berarti Pocut yang berasal dari Biheue, sementara nama aslinya Pocut Meurah Intan. Namanya kini ditabalkan pada taman hutan raya (Tahura) antara perbatasan Kabupaten Pidie dan Aceh Besar di ketinggian gunung Seulawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kerajaan Aceh, Biheue berada di bawah wilayah sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad XIX, kenegerian ini kemudian menjadi bagian wilayah XII Mukim, yang mencakup Pidie, Batee, Padang Tiji, Kalee dan Laweung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Prominent Women in The Glimpse of History (Wanita-wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah) riwayat singkat dan asal usul Pocut Di Biheue dijelaskan oleh T Ibrahim Alfian dkk. Dalam buku yang diterbitan Bank Exim pada tahun 1994 itu dijelaskan, Pocut Di Biheue merupakan keturunan keluarga Bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Keterangan itu sesuai dengan keterangan Veltman dalam “Nota over de Geschiedenis van het Landscap Pidie (1919). Keteragan lainnya juga diungkap Zentgraaff, dalam buku Atjeh, terbitan Beuna, Jakarta, 1983 terjemahan Aboe Bakar. Selain itu, Aboe Bakar juga mengambil sumber dari De Atjeh-Oorlog, yang ditulis Paul Van’t Veer yang memuat tentang Koloniaal Verslag, 1905, terbitan Uitgeverij De Arbeiderspres, Amsterdam 1969.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa sumber yang jadi rujukan Aboe Bakar itu disebutkan, suami Pocut Di Biheu bernama Tuanku Abdul Majid, putra Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid merupakan salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh yang tidak mau berdamai dengan Belanda. Ia gigih melawan Belanda di Selat Malaka sekitar Laweung dan Batee, yang kerap menyerang kapal-kapal dari maskapai berbendera Beanda. Karena itu pula ia dicap Belanda sebagai Zeerover, yakni perompak laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan itu dipopulerkan oleh  C Snouck Hourgronje dalam buku De Atjeher, untuk memojokkan orang Aceh dengan sebutan perompak dan pengganggu keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Malaka. Padahal apa yang dilakukan Tuanku Abdul Majid sesuai dengan tugasnya dari Kesultanan Aceh, yakni sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di Pelabuhan Kuala Batee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Muerah Intan memperoleh tiga orang putra yaitu Tuanku Muhammad yang dipanggil Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin. Dalam Koloniaal Veslag  tahun 1905 diriwayatkan, Pocut Di Biheue merupakan figur dari keluarga kerajaan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Ia satu-satunya  tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang tidak tunduk pada Belanda hingga tahun 1904.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika dalam tahun dan tangal yang tak disebutkan, Tuanku Abdul Majid ditawan Belanda. Hal itu tidak menyurut langkan Pocut Di Biheue untuk melanjutkan perlawanannya. Ia mengajak serta ketiga puteranya untuk terus melawan Belanda di daerah kekuasaannya di Biheue. Mereka berperang secara gerilya. Dua dari tiga putra Pocut Di Biheue kemudian terkenal sebagai pemimpin perlawanan yang menjadi buronan Belanda yakni Tuanku Muhamamd Batee dan Tuanku Nurdin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda bersama pasukan marsosenya terus menyerang Biheue dan wilayah XII Mukim, Pidie dan sekitarnya. Namun gagal menemukan Pocut Di Biheue bersama putra-putranya itu. Sejumlah perwira Belanda bersama pasukannya ditugaskan ke Pidie untuk melacak keberadaan Pocut Di Biheue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doup, penulis Belanda dalam tulisannya, Gedenkboek van het Marechausse van Atjeh en Onderhoorigheden (1940), menulis sejumlah nama komandan pasukan marsose yang bertugas melacak dan mengejar kedua putra Pocut Di Biheue itu. Para komandan marsose yang kebagian tuga itu antara lain Letnan J J Burger, Letnan Jhr J J Boreel, dan Sersan Feenstra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Diri Melawan 18 Marsose&lt;br /&gt;Untuk mengejar Pocut di Biheue dan putranya, Belanda terus meningkatkan aktivitas patrolinya. Karena itu ruang gerak gerilyawan Aceh jadi sempit. Akhirnya, setelah sekian lama melakukan pengejaran, pada Februari 1900,  Tuanku Muhammad Bate tertangkap di kawasan Tangse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ditawan Belanda, Tuanku Muhamamd Batee tetap menolak untuk mengakui Belanda. Ia tetap bersikukuh tak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial tersebut. Karena itu, berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda nomor 25, ia dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, keberadaan Pocut Di Biheue juag diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli marsose. Karena terdesak oleh belasan tentara Belanda, Pocut Di Biheue mencabut rencong dari pinggangnya, ia menyerang patroli itu seorang diri. “Kalau begini, biarkan aku mati,” teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Melihat Pocur Di Biheue yang sudah tak berdaya, seorang sersan bertanya pada Veltman komandannya. Ia minta ijin untuk mengakhiri penderitaan Pocut Di Biheue, ia ingin menembaknya hingga meninggal. “Bolehkan saya melepaskan tembakan pelepas nyawa?” tanya sersan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veltman kemudian membentak sersan tersebut. “Apa kau sudah gila.” Veltman kemudian membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludasi, “Jangan kau pegang aku kaphe,” kata Pocut Di Biheue sambil setelah meludah wajah Veltman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veltman yang dikenal sebagai tuan pedoman, perwira Belanda yang bisa berbahasa Aceh itu kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dugaan Veltman bahwa Pocut Di Biheue akan meninggal karena lukanya itu ternyata meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji mendengar bahwa Pocut Di Biheue bukan saja masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veltman pun mencari tahu bagaimana wanita perkasa itu bisa bertahan dari lukanya. Dari warga di sana diketahui bahwa untuk menyembuhkan lukanya, Pocut Di Biheue mengoleskan kotoran lembu di lukanya. Veltman kagum dengan keberanian Pocut Di Biheue, karena itu ia membawa seorang dokter bersamanya ketika menjenguk Pocut Di Biheue dalam masa penyembuhan di kediamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Veltman sampai, Pocut Di Biheue masih sangat lemah akibat banyak kehilangan darah. Tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan. Meski begitu, ia tetap menolak bantuan dokter yang dibawa Veltman untuk merawatnya. “Jangan kau sentuh aku, lebih baik aku mati dari pada tubuhku dipegang kaphe,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veltman yang fasih berbahasa Aceh terus membujuk Pocut Di Biheue agar mau diobati. Akhirnya ia menerima juga bantuan dokter itu, tapi tentara pribumi dari pasukan marsose pimpinanVeltman yang mengobatinya. Ia tidak mau tubuhnya dipegang oleh Belanda. Lukanya yang sudah berulat dibersihkan diobati dan dibalut dengan perban. Masa penyembuhan Pocut Di Biheue berlangsung lama. Meski demikian, ia akhirnya sembuh wajau pincang seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang Pocut Di Biheue akhirnya sampai kepada Scheuer, komandan militer Belanda. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemua dengan perempan yang dinilainya sangat luar biasa, yang menyerang 18 tentara Belanda dengan 18 karaben seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Scheuer sampai ke kediaman Pocut Di Biheue, wanita gagah perkasa itu belum sembuh betul. Di hadapan Pocut Di Biheue, Scheuer, komandan militer Belanda itu mengambil sikap sebagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat dengan meletakkan ujung jari-jarinya di ujung topi petnya. “Katakan padanya, bahwa saya sangat kagum padanya,” kata Scheuer pada Veltmant. Veltman pun menterjemahkan apa yang dikatakan Scheuer terhadap Pocut Di Biheue itu. Pocut Di Biheue yang sudah kelihatan kurus pun tersenyum. “Kaphe ini boleh juga,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sembuh dari luka, Pocut Di Biheue bersama putranya, Tuanku Budiman dipenjarakan di Kutaraja. Sementara Tuanku Nurdin putra Pocut Di Buheue lainnya terus melanjutkan perjuangan melawan Belanda di kawasan Laweung dan Kale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Koloniaal Verslag, 1905 dijelaskan, setelah ibunya tertangkap Tuanku Nurdin melakukan siasat perlawanan baru. Pada Juni 1904, ia melapor kepada Belanda di Padang Tiji seolah-olah menyerahkan diri agar Pocut Di Biheue dan Tuanku Budiman dibebaskan, tapi di tolak Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian pada Agustus tahun itu juga kembali ke Biheue, bergabung kembali dengan rekan-rekan seperjuangannya untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Tapi pada 1 November 1904, pasukan marsose yang dipimpin J J Burger mengepung tempat persembunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat persembunyian itu terdapat wanita dan anak-anak. Burger memerintahkan agar anak-anak dan wanita keluar. Ketika semua perempuan dan anak-anak keluar, Burger mendekati tempat persembunyian Tuanku Nurdin. Melihat itu, Tuanku Nurdin menembak Burger hingga terjerembah ke tanah. Pasukan marsose jadi panik. Dalam kepanikan itu, Tuanku Nurdin menyelinap dan meloloskan diri dari blokade Belanda. Ia meninggalkan empat pengikutnya yang gugur di tempat itu, dua marsose juga tewas tertembak. Sementara J J Burger sendiri menderita luka parah.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8610618633029633005?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8610618633029633005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8610618633029633005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8610618633029633005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8610618633029633005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/pocut-di-biheu.html' title='Pocut Di Biheu'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tkYPTW4DCw4/TWcSp7JAelI/AAAAAAAAAXY/3nWks0ycK_A/s72-c/pocut%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8842201780390539856</id><published>2011-02-22T03:21:00.000-08:00</published><updated>2011-02-22T03:22:04.795-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Politik Cangkang</title><content type='html'>Cangkang politik yang dibangun Partai Aceh telah mampu memenangkan partai tersebut pada pemilihan legislatif 2009 lalu. Kini cangkang yang sama akan digunakan pada pemilihan kepala pemerintahan Aceh akhir 2011. Meski sudah agak retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkang itu adalah para mantan kombatan di setiap daerah, yang jaringannya sampai ke desa-desa terpencil. Mereka yang dibangun dengan organisasi yang rapi semasa konflik,  mampu memobilisasi dan mengarahkan suara pemilih di daerah-daerah. Merekalah yang membungkus kepentingan organisasi dengan idealisme dan ideologi gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak selamanya cangkang itu memberi hasil yang diharapkan partai. Apalagi ketika muncul keretakan dalam hal dukung mendukung kandidat gubernur pada pemilukada yang akan datang. Mereka terpecahkan antara yang pro dengan mualim dalam hal ini pasangan Zaini Abdullah dengan Muzakkir Manaf, dan yang pro pada Irwandi Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irwandi Yusuf masih punya pengaruh dan potensi untuk memecahkan cangkang yang retak tersebut. Apalagi selama ini, dengan kekuasaannya sebagai gubernur, banyak diantara cangkang-cangkang itu yang memperoleh keuntungan ekonomi melalui berbagai proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Meski demikian, politik bukanlah ilmu pasti, segala sesuatu bisa saja berubah secara tiba-tiba. Dan cangkang dalam tulisan ini hanya sebuah perumpamaan dari realita yang terjadi dewasa ini. Mengutip apa yang disebutkan Robert Greene dalam The 48 Law of Power, pada hukum ke-48 disebutkan, politik yang menggunakan cangkang sebagai pelindung akan selalu menyebabkan bencana. Cangkang sering menjadi jalan buntu bagi yang bersembunyi di dalamnya. Cangkang akan memperlambat langkah dan sulit untuk bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik cangkang merupakan sistem yang kaku yang dikembangkan untuk melindungi diri, suatu hari nanti akan menjadi penyebab kekalahan. Apalagi bila cangkang itu benar-benar pecah. Kenyataannya dewasa ini para mantan kombatan di lapangan sebagai cangkang politiknya Partai Aceh, sudah mulai retak. Keretakan bukan hanya dalam urusan politik semata, tapi dalam hal ekonomi juga, semisal perebutan berbagai proyek pemerintah. Hal inilah yang membuat cangkang politik Partai Aceh lalai dalam pengejaran kepuasan ekonomi sesaat, hingga lupa pada tujuan perjuangannya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghancuran cangkang melalui pemenuhan hasrat politik dan ekonomi ini akan terus dimainkan oleh pihak lain sebagai lawan politik untuk merebut dukungan massa pada pemilihan nanti. Pihak lain akan menggunakan kekutan uang yang dinamis. Mereka akan meraup keuntungan dari lambannya gerak politik cangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah politik cangkang dalam politik dunia berabad-abad silam pernah dilakoni Bangsa Athena ketika meruntukan kekuasaan Sparta pada tahun 431 sebelum masehi. Bangsa Sparta mampu mendidik tentara infantri terkuat di masa itu. Mereka mempunyai keberanian yang tak tertandingi waktu itu, mereka mampu mengalahkan pasukan lawan yang jumlahnya berkali lipat dari jumlah mereka, seperti ketika mengalahkan pasukan Persia di Thermopylae. Jika lawan melihat pasukan Sparta, mereka pasti ngeri, seolah-olah tak ada kelemahan dari pasukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patai Aceh dulu juga memiliki kombatan yang tangguh, yang mampu melawan Jakarta dalam konflik tiga dekade. Karena itu GAM waktu itu menjadi kekuatan yang diperhitungkan dengan Teuntara Nanggroe Aceh (TNA) sebagai cangkangnya. Tak ada sebuah pemberontakan daerah di Indonesia yang mampu membawa negara untuk berdialog di luar negeri, tapi GAM dengan cangkangnya mampu melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya sekarang, bagaimana dengan keberadaan cangkang itu? Jakarta memang luluh dan turut ketika dibawa ke meja perundingan di luar negeri. Tapi setelah itu, dengan kekuatan politik dan uang, cangkang itu dibuat retak. Jakarta malakukan pembiaran perebutan lahan antar cangkang-cangkang politik GAM. Yang dengan itu pengaruh cangkang tersebut dalam masyarakat Aceh sedikit demi sedikit memudar. Itulah kemenangan Jakarta dari politik pemecahan cangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya politik cangkang ditinggalkan, karena ia tidak mampu bertahan lama. Ia akan selalu hancur dalam godaan ekonomi. Sparta telah mengalami itu di Athena. Sparta pata tahun 431 sebelum masehi memang mampu menaklukkan Athena dengan pasukan terbaiknya. Tapi, pasukan terbaik di dunia yang dijadikan cangkan politik Sparta itu, tak memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi, sehingga ketika Athena yang kaya raya direbut, mereka sibuk dengan harta yang melimpah. Dan dari sinilah mereka runtuh sehingga Athena mampu mengalahkan Sprata kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh hari ini juga mengalami hal yang sama. Para panglima yang dulu garang memimpin kombatan di berbagai wilayah, kini lelap dalam gelimangan harta, malah ada kombatan yang terabaikan. Mereka sibuk dengan proyek, melupakan pasukan lama. Inilah awal dari kekalahan sebuah ideologi. Cangkan retak itu akan dihancurkan lawan.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8842201780390539856?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8842201780390539856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8842201780390539856' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8842201780390539856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8842201780390539856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/politik-cangkang.html' title='Politik Cangkang'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-196536009796603536</id><published>2011-02-19T21:03:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T21:04:58.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Perampasan Harapan</title><content type='html'>Politik dan kebijakan pemerintah lebih banyak merampas harapan kaum lemah, tinimbang mengayominya. Rakyat dilalaikan dengan satu program yang mengatasnakannya, sementara di balik itu mereka ‘’ditikam’’ dengan kebijakan yang menyengsarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarty Sen, ekonomo Indi peraih nobel tahun 1998 mengungkap praktik semacam itu dalam On Ethics and Economic, yang dalam versi Indonesia buku diubah menjadi “Masih Adakah Harapan Bagi Kaum Miskin.” Sen merupakan ekonom tulen dan sekaligus filosof sosial dan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya banyak menyorot tentang kemiskinan akibat kesalahan kebijakan pemerintah. Studinya terhadap masalah ini mencakup kasus-kasus sejarah kelaparan di India, Banglades, Ethiopia, dan negara-negara sub-Sahara Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diungkapkan Sen, mari kita tarik dalam kenyataan di Aceh dewasa ini. Pemerintah Aceh kita akui telah memberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi rakyatnya, di sinilah rakyat “didamkan” dengan pemuasan satu hal saja. Sementara di sisi lain, rakyat kelas bawah masih kepayahan menghidupkan asap dapurnya. Harga beras terus melonjak, meski Aceh dikenal sebagai lumbung pangan dengan sawah yang menghampar luas.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan pangan ini merupakan penyebab utama kurang terpenuhinya kesehatan rakyat. Jadi pemerintah Aceh hanya memberi pemenuhan sementara terhadap kesehatan rakyatnya, bukan menghilangkan penyebabnya. Mereka hanya memangkas akibat yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sen jauh-jauh hari telah mewanti-wanti tentang hal ini. Aceh setidaknya harus belajar pada apa yang diungkapkan orang India tersebut. Sen berpendapat, berbagai bencana kelaparan di dunia bukan disebabkan oleh kelangkaan pangan, tapi kebijakan pemerintah yang tak mencegah kelangkaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkesimpulan bahwa berbagai bencana kelaparan itu sesungguhnya bisa dicegah, seandainya ada kebebasab pers, yang mengontrol pemerintah. Ia merujuk pada kasus di India. Ternyata setelah adanya kebebasan pers di India sejak tahun 1974, India tidak lagi mengalami peristiwa kelaparan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah memiliki kebebasan pers itu, tapi kerap dikebiri oleh kekuasaan dengan berbagai kepentingannya. Mengkritik pemerintah saja bisa disomasi, memberitakan sebuah ketimpangan diancam dengan gugatan hukum, bagaimana pers bisa menikmati kebebasan itu. Boleh saja itu dilakukan bila pers membawa fitnah, bukan sebaliknya. Itu pun ada mekanisme penyelesaiannya yang santun sesuai aturan hukum yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembaki ke Amartya Sen, ia merumuskan pembangunan sebagai kebebasan dalam Developmen as Freedom (1999). Dalam buku ini ia menulis tentang konsep yang menyeluruh tentang pembangunan. Prof M Dawan Raharjo mengulas pemikiran Sen tersebut dalam pengantarnya Ekonom dari Shantiniketan. Shantiniketan merupakan sebuah lembaga pendidikan di India yang dimaknai sebagai tempat yang damai. Dari tempat ini pula pernah lahir peraih nobel bidang sastra, Rabindranath Tagore pada tahun 1913.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Developmen as Frededom, Sen mengatakan, pembangunan dapat dilihat sebagai proses perluasan kebebasan yang nyata yang dinikmati oleh rakyat. Artinya, pemerintah tidak merampas harapan rakyat untuk memperoleh haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan bukan hanya diukur dari pertumbuhan produk nasional bruto yang saban bulan dan tahun dirilis oleh badan pusat statistik. Tidak pula pada peningkatan pendapatan pribadi. Kita lihat di Aceh setelah perdamaian yang mampu meningkatkan pendapatannya dengan mencolok hanyalah golongan-golongan yang dekat dengan kekuasaan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, satu gubernur berganti harus tumbuh minimal sepuluh pengusaha baru, bukan sekian banyak orang kaya baru, yang kekayaannya diperoleh dari “penjarahan” proyek-proyek pemerintahan. Aceh hari ini masih terjebak pada fenomena ini, pada upaya keut pade lam reudôk, selagi sebuah kelompok berkuasa, maka kelompok itulah yang muncul sebagai kumpulan orang kaya baru. Sementara rakyat terus mengucur peluh dalam harapan-harapannya yang disemukan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tak merampas harapan rakyat, seharusnya pemerintah Aceh memperluas kebebasan yang dinikmati oelh rakyat. Kebebasan yang bergantung pada determinan-determinan yang lain semisal pengaturan sosial-ekonomi, penyediaan fasilitas pendidikan yang bagus bukan sekedar memadai, serta pemeliharaan kesehatan. Yang terakhir mungkin sudah dilakukan melaluli Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Sen, dalam konsepnya, pembangunan juga butuh pemberatasan sumber-sumber utama ketidakbebasan, baik kemiskinan maupun tirani, peluang ekonomi yang sempit maupun perampasan hak-hak sosial yang sistematis. Kekurangan kebebasan ini akan membuat rakyat termiskinkan secara ekonomi dan merampok rakyat dari kebebasannya untuk menolak kelaparan. Jadi jangan ada lagi perampasan harapan rakyat oleh kelompok-kelompok yang mengakui dirinya sebagai bagian dari siberkuasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-196536009796603536?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/196536009796603536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=196536009796603536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/196536009796603536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/196536009796603536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/perampasan-harapan.html' title='Perampasan Harapan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2029989885212011076</id><published>2011-02-18T23:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T23:25:42.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kita Ini Para Pelakon</title><content type='html'>Dalam panggung kehidupan hanya tuhan dan malaikat saja yang jadi penonton, selebihnya hanya pelakon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan pernyataan Aristoteles di atas bermakna manusia dalam panggung kehidupan hanya pelakon. Tuhan dan Malaikat yang akan menikmati lakonan tersebut, kirikah atau kanankah gerak kita dalam skenario Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sutradara, Tuhan memberi dua pilihan surga atau nerakakah ending sandiwara yang dimainkan, meski  kita tak mengetahui kapan layar akan diturunkan atas nama kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan dan Malaikatnya akan menilai tontonannya. Rakib dan Atib di dua sisi akan membubuhkan catatannya. Sebagai pelakon kita menentukan sendiri berapa nilai yang layak. Tak ada nilai ketiga selain surga dan neraka.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pelakon, manusia harus mampu melihat dirinya sendiri seperti orang lain melihat dirinya. Penyair berdarah Scotlandia, Robert Barn (1759-1796) dalam puisinya ”To a Louse”.  Mengingatkan akan hal itu. Ia menulis, ..//O wad some pow’r the giftie gieus / to see oursels as others see us! / It wat frae many a blunder free us / and foolish notion // Jika kita bisa melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, maka kita bakal terbebas dari banyak kekeliruan dan gagasan-gagasan bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menurunkan agama untuk manusia agar tebebas dari kebodohan itu. Mengutip kata Jhon Adam, presiden kedua Amerika, semua orang adalah monster ketika nafsu gagal dijaga. Sementara Milan Kudera penulis besar Cheko dalam novelnya ”The Book of Laughter and Forgetting”  dalam novel itu, melalui tokoh Mirek, ia menyebutkan, perjuangan manusia melawan nafsu dan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama manusia tidak lupa bahwa ia hanyalah pelakon dalam sandiwara dunia yang ditonton Malaikat dan Tuhan, ia tak akan tergelincir. Tapi kadang-kadang manusia lalai dengan kekuasaannya, hingga melahap yang tidak berhak, tidak hanya melalui korupsi tapi juga kemesuman sesamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal kekuasaan, Prof. Dr Franz Magnis Suseno mengatakan kekuasaan itu selalu berwajah ganda. Ada kalanya begitu mempesona, tapi tak jarang juga sangat menakutkan. Sang profesor itu menambahkan, legitimasi kekuasaan tertinggi adalah legitimasi religius. Tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu legitimasi religius ini didobrak, maka muncullah pertanyaan mengenai legitimasi kekuasaan. Selubung ghaib yang melindungi raja (baca pemimpin) dari tuntutan pertangungjawaban pun tersobek, karena raja juga juga manusia biasa, maka raja pun akan berhadapan dengan hukum sebagaimana rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi legitimasi religius (baca agama-red) menurut Emile Durkheim dalam buku The Elementary Forms of Religion Life (1961) hanya bisa dipahami dengan melihat peran sosial yang dimainkannya dalam menyatukan komunitas suatu masyarakat dibawah satu kesatuan ritual dan kepercayaan umum. Dan disinilah nafsu dijaga, agar lakon yang dimainkan tidak pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat lakonan yang dimainkan para pemimpin kita selama ini, legitimasi religius seolah telah didobrak seenak hati. Nafsu akan kekuasaan mengalahkan akal sehat. Jadilah tontonan yang memuakkan dengan beragam ketimpangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lakon sederhana tapi sangat bermakna dimaikan oleh Amartya Sen, peraih nobel ekonomi tahun 1998. Ia yang dengan kepakarannya masih mau “berlakon” untuk memikirkan kaum miskin yang tertindas. Karya-karyanya mencakup kasus-kasus sejarah kelaparan di India, Bangladesh, Ethiopia, dan Negara-negara sub-Sahara Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan sederhana dilontarkannya; masih adakah harapan untuk kaum miskin? Melalui perannya sebagai intelektual, ia bangun kembali harapan-harapan tersebut. tujuannya, menghindari krisis kelaparan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Andrianof A. Chaniago, dalam bukunya Gagalnya Pembangunan, mengungkapkan bahwa krisis terjadi bukan disebabkan oleh mismanagemen, bukan pula oleh kesalahan menerapkan. Selain perilaku pemimpin yang tidak accountable, akar persoalan yang menimbulkan keterpurukan ekonomi mesti dicari dari strategi pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kenyataannya dari banyak konsep lakonan, kita lebih banyak melihat manusia pemegang kekuasaan begitu berhasrat untuk menguasai aliran dana publik. Sandiwara kekuasaan yang mereka lakoni lebih banyak kekirian, hingga rakyat terus saja nestapa dalam ketakberdayaan. Akhirnya, ketika rakyak muak dengan lakonan itu, mereka akan tampil bersama merebut panggung untuk lakonan yang berbeda.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2029989885212011076?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2029989885212011076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2029989885212011076' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2029989885212011076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2029989885212011076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/kita-ini-para-pelakon.html' title='Kita Ini Para Pelakon'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8840704382799911116</id><published>2011-02-17T02:57:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T03:00:02.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Penggiringan Pers Pada Penaklukan Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nLBx0mKWVtE/TVz_qUPHgNI/AAAAAAAAAXQ/P4cisRK1jQ0/s1600/Sumatra%2BEmpire%2Bd%2BAtjeh1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nLBx0mKWVtE/TVz_qUPHgNI/AAAAAAAAAXQ/P4cisRK1jQ0/s320/Sumatra%2BEmpire%2Bd%2BAtjeh1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574611541229535442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aceh terikat kerja sama dengan Inggris, Belanda mencoba mempengaruhi Inggris untuk menguasai Aceh. Pers dimanfaatkan untuk mengatur siasat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diungkap Paul Van T Veer  dalam buku Perang Belanda di Aceh. menurutnya, pada pertengahan abad sembilan belas pers banyak mengkritik usaha perluasan kekuasaan Belanda di nusantara yang mengabaikan cara-cara beradab. Tinggal Aceh yang belum dikuasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harian Algemeen Dagblad van Nederland Indie, yang diasuh C Busken Huet sebagai redaktur kepala juga menyorot hal itu. Intinya Aceh harus dikuasai untuk kepentingan ekonomi Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busket Huet berangkat ke Batavia pada tahun 1866, setelah mengalami kesulitan dengan koran “De Gids”  yang terkenal di Belanda. Meski wartawan, ia memberi keyakinan kepada pemerintah Belanda, bahwa di daerah jajahan Belanda tidak perlu sama sekali kebebasan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Menteri jajahan Belanda, JJ Hanselman yang menjabat 1867 sampai 1868 menggantikan De Waal, menyetujui hal itu. Malah ia berpendapat, pers di Betawi yang saat itu hanya ada tiga koran yang terbit dua minggu sekali, sedang mengalami kebebasan yang dinilai akan menggerogoti pemerintah Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran mantan gubernur jenderal, Rochussen Hasselman akhirnya Busker Huet dikirim ke Jawa untuk menjadi redaktur koran Java Bode. Tugas rahasianya, mengajukan usul-usul untuk melakukan reorganisasi pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Huet yang pertama di Java Bode berjudul Wenschen entegenstrijdigheden (keinginan dan pertentangan) berisi anjuran diadakannya sensus pers secara preventif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Van T Veer  menilai sikap Huet sebagai pandangan aneh seorang wartawan. Huet juga pernah mengalami banyak kesulitan akibat  tulisannya di “De Gids” pada tahun 1865 yang berjudul “Een avond aan het Hof (semalam di istana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diketahui bahwa Huet datang ke Betawi dengan memperoleh bantuan keuangan serta perintah rahasia pemerintah konservatif Belanda, maka secara terang-terangan misi itu digagalkan kelompok pemerintah liberal. Meski demikian Huet tetap manjadi redaktur kepala koran Java Bode sampai mendirikan korannya sendiri pada tahun 1872.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan-tulisannya seperti Het land van Rembrandt (negeri Rembrad) dan Het land van Rubens (negeri Ruben) jelas sikap politik Huet yang mendukung penaklukan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Paul Van T Veer menentang hal itu. Sikap yang sama juga disampaikan Multatuli. Pada Oktober 1872 ia menulis surat terbuka berjudul Brief aan den Koning (surat kepada raja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya Multatuli menulis, “Tuanku, Gubernur jenderal taunku dengan dalih yang dicari-cari sekurang-kurangnya dengan alasan-alasan provokasi yang dibuat-buat, kini sedang memaklumkan perang kepada Sultan Aceh dengan maksud hendak merampas kedaulatan tanah pusakanya. Tuanku, perbuatan ini bukan saja tidak tahu berterima kasih, tidak satria ataupun tidak jujur, melainkan juga tidak bijaksana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multatuli menyatakan peran agen provokato yang ingin menaklukkan Aceh itu dimainkan oleh Sir Max Haveelaar yang saat itu berkuasa di Bogor. Usaha lain juga dilakukan melalui lobi politik. Pada akhir musim panas 1869, Menteri Jajahan Belanda, De Waal berjalan di Haagsche Boch, sebuah taman di kota Den Haag. Di sana ia bertemu Duta Besar Inggris, Harris. Lobi agar Ingris membatalkan perjanjian dengan Aceh dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas permintaan itu, pada 9 Desember 1869 Harris menjawab penaklukan Aceh oleh Belanda akan disetujui bila mendatangkan keuntungan bagi perniagaan Inggris di selat Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Belanda berkuasa di Aceh juga mendapat sorotan media di semenanjung melayu. Penang Gazette pada 10 November 1871 menulis. “Semakin cepat suatu kekuasaan Eropa mengintervensi Aceh, semakn cepat pula daerah-daerah yang terkenal subur untuk tanaman Timur berkembang dan jaya lagi dari keruntuhannya.” &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8840704382799911116?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8840704382799911116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8840704382799911116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8840704382799911116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8840704382799911116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/penggiringan-pers-pada-penaklukan-aceh.html' title='Penggiringan Pers Pada Penaklukan Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nLBx0mKWVtE/TVz_qUPHgNI/AAAAAAAAAXQ/P4cisRK1jQ0/s72-c/Sumatra%2BEmpire%2Bd%2BAtjeh1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2977650693098323497</id><published>2011-02-13T19:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-13T19:42:28.477-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Proposal Snouck Untuk Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pSwnt8tZrqg/TVikm0rlTaI/AAAAAAAAAXI/ity9rk3XdBA/s1600/atjeh-snouck%2B%2528Christiaan%2BSnouck%2BHurgronje%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pSwnt8tZrqg/TVikm0rlTaI/AAAAAAAAAXI/ity9rk3XdBA/s320/atjeh-snouck%2B%2528Christiaan%2BSnouck%2BHurgronje%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573385525754416546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk penaklukan Aceh, H C Snouck Hourgronje menawarkan proposalnya tentang Aceh kepada Gubernur Jenderal Belanda. Proposal yang kemudian didukung Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian serta Menteri Urusan Jajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Snouck tentang Aceh sudah dimulai sejak ia berada di Mekkah. Ia tertarik terhadap Aceh ketika orang-orang Arab sering memperbincangkan sikap fanatik rakyat Aceh melawan Belanda. Sebagai orang Belanda, Snouck tergerak untuk menyumbangkan usulan ilmiah tentang Aceh kepada pemerintah Belanda, maka penelitian itu pun dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengusulkan kepada Pemerintah Belanda untuk memisahkan Islam dan politik di Aceh. Para jamaah haji yang berangkat dari Aceh harus diawasi, karena ditakutkan ketika pulang dari Arab mereka akan membawa ide panislamisme yang bertentangan dengan kepentingan Belanda di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dari Arab Snouck kemudian kembali ke Leiden, Belanda. Dua tahun di sana, ia menawarkan diri untuk ditugaskan ke Aceh. Pada 9 Februari 1888, Snouck mengajukan proposal penelitiannya tentang Aceh kepada Gubernur Jenderal Belanda. Niatnya itu didukung oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP) serta Menteri Urusan Negeri Jajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Snouck ke Aceh sebenarnya atas perintah sangat rahasia dari pemerintah Belanda. Ia naik kapal  pos di Inggris sampai Ke Sumatera melalui Pelabuhan Penang. Ia sampai di Penang pada 1 April 1889, kemudian masuk ke pedalaman Aceh sampai ke istana sultan dengan cara memanfaatkan orang Aceh yang dikenalnya di Mekkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Belanda di Aceh Van Teijn melarangnya masuk ke Aceh, karena Snouck dinilai punya hubungan dengan kaum pelarian Aceh dan berusaha masuk ke Aceh secara gelap. Ia pun kemudian menuju Batavia (Jakarta) dan tiba di sana pada 11 Mei 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batavia Snouck bekerja sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Disana ia terus membangun lobi untuk bisa masuk kembali ke Aceh. Karena kepiawaannya dan pengetahuan tentang Islam yang cukup, Direktur Pendidikan Agama dan perindustrian kemudian mendesak Gubernur Jenderal C Pijnacker Hordijk untuk mengabulkan penelitian Snouck soal Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari kemudian, 16 Mei 1889 ia mendapat izin untuk melakukan penelitian. Izin itu kemudian diperkuat oleh Raja Belanda pada 22 Juli 1889. Bukan itu saja, pada 15 Maret 1891 Snouck diangkat menjadi penasihat urusan bahasa-bahasa timur dan hukum Islam. Snouck pun kemudian beralih dari seorang ilmuan menjadi politikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 Juli 1891 Snouck masuk ke Aceh dan menetap di Kutaraja. Ia menjadi orang kepercayaan Van Huetz, seorang jenderal yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Aceh (1904-1909). Setelah melakukan penelitian di Aceh, Snouck kemudian menulis Atjeh Verslag yang berisi laporan kepada Belanda tentang alasan perang Aceh. Tujuh bulan kemudian ia kembali ke Batavia menjadi penasihat urusan pribumi dan Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penasihat Snouck sangat berperan dalam memberikan berbagai usulan mengenai perang Aceh. Salah satunya adalah strategi menaklukkan rakyat Aceh yang diberikannya kepada Gubernur Militer Belanda, Johannes Benedictus van Huetsz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi tersebut adalah mengenyampingkan golongan sultan yang berkedudukan di Keumala, Pidie, setelah kraton dikuasai Belanda. Sebaliknya terus memerangi kaum ulama. Snouck juga menyarankan untuk tidak mau berunding dengan panglima-panglima Aceh pemimpin gerilya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ia menyarankan untuk mendirikan pangkalan militer Belanda di Aceh, serta membangun mesjid dan merperbaiki jalan serta irigasi untuk meraup simpati rakyat Aceh. Siasan Snouck itu pun diterima Van Huetzs dan ia mengangkat Snouck sebagai penasehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Huetsz juga meniru taktik perang gerilya Aceh dengan membentuk pasukan masrose yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macan yang menjelajah gunung-gunung seantore Aceh mengejar para gerilyawan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik lain yang diberikan Snouck adalah melakukan penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Taktik ini berjalan mulus, seperti pada tahun 1902, Christoffel menculik permaisuri sultan Aceh dan Teuku Putroe di Geulumpang Payong, Pidie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pasukan pimpinan Van Der Maaten menawan Putra Sultan Tuanku Ibrahim dan memaksa Tuanku Ibrahim untuk menyerah. Ia pun menyerah dan berdamai dengan Belanda pada 5 januari 1902 di Sigli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Van Der Maaten juga menyerang Tangse untuk menyerga kelompok Panglima Polim. Tapi Panglima Polem berhasil meloloskan diri. Sebagai gantinya Belanda menangkap Putera Panglima Polim, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga dekatnya. Akibatnya, Panglima Polim pun menyerah di Lhokseumawe pada Desember 1903. setelah itu banyak para Ulee Balang yang menyerah karena keluarganya ditawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para Ulee Balang yang menyerah Van Huetsz menulis Korte Verklaring,  yaitu surat pendek yang harus ditandatangi oleh para Ulee Balang dan pemimpin Aceh yang menyerah. Dalam surat itu kepada mereka disuruh mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah jajahan Belanda, berjanji untuk tidak mengadakan hubungan dengan luar negeri, serta patuh terhadap perintah-perintah yang ditetapkan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beberap pimpinan wilayah telah menyerah akibat keluarganya ditahan, perlawanan sengit rakyat Aceh terus berlangsung dalam perang baik frontal maupun gerilya. Menghadapi hal itu Snouck kemudian mengusulkan pembersihan dengan taktik membunuh rakyat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik ini dilakukan oleh Van Daalen yang menggantikan Van Huetzs. Salah satunya adalah pembunuhan yang terjadi di Kuta Reh pada 14 Juni 1904, hari itu 2.922 orang dibunuh yang terdiri dari 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Namun taktik itu juga tak juga membuat perang Aceh berakhir, perlawanan pecah dimana-mana, sampai akhirnya pada 1906 Snouck kembali ke Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian, ia menikah dengan Ida Maria, seorang putri pensiunan pendeta di Zutphan, Dr AJ Gort. Tiga tahun setelah menikah ia dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Leiden, Belanda dan menekuni profesi sebagai Penasihat Menteri Urusan Koloni sampai ia meninggal pada 16 Juli 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bertemu Habib Abdurrahman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Habib Abdurrachman Az-zahir dengan Snouck Hourgronje di Mekkah adalah awal penelitian akademis berujung politik tentang Aceh. Banyak keterangan Habib tentang Aceh yang menjadi dasar bagi Snouck dalam menyusun Atjeh  Verslag untuk memecah belah Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cristian Snouch Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Ia besar dalam lingkungan keluarga penseta protestan, karena itu pula sejak kecil Snouck sudah belajar teologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat sekolah menengah pada tagub 1875, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sinilah ia mendalami teologi dan sastra Arab. Ia berhasil tamat dalam kurun waktu lima tahun dengan predikat cum laude  atas desertasinya tentang Makaansche Feest  (Perayaan di Makkah-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbakal kemampuan bahasa Arab, pada tahun 1884 Snouck melanjutkan pendidikan ke Makkah, untuk mempelajari Islam. Di sana ia berhasil menarik hati para ulama setelah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama di Aceh terjadi perang besar-besaran dengan Belanda. Pada 13 Oktober 1887, setelah terjadi perang sengit, Mangkubumi merangkap Menteri Luar Negeri Kerajaan Aceh, Habib Abdurrachaman Az-zahir menyerah dengan syarat kepada Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya, ia akan menetap di Mekkah dengan menerima uang tahunan atas tanggungan pemerintah Kolonial Belanda, senilai 10.000 dollar Amerika. Bagi Belanda, menyerahnya Habib Abdurrahman merupakan sebuah kesuksesan besar. Pada 24 November 1887, Habib Abdurrahman dikirim ke Jeddah dengan menumpang kapal Hr Ms Cuaracao. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Belanda pun eforia terhadap keberhasilan tersebut. Malah, Mayor Macleod, seorang opsir Belanda, memplesetkan lagu “Faldera dera”  yang popular saat itu, untuk menggambarkan kesuksesan itu. Bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun di sana terapung istana samudra&lt;br /&gt;Namanya Cuaracao&lt;br /&gt;Habib yang berani akan dibawa&lt;br /&gt;Ke Mekkah tujuan nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia berdendang riang faldera dera&lt;br /&gt;Untuk gubernemen kita&lt;br /&gt;Banyaknya sekian ribua dolar sebulan&lt;br /&gt;Tidak cerdikkah saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah membeli kebaikan musuh dengan suapan, merupakan upaya yang gencar dilakukan Belanda  menaklukkan para pemimpin Aceh kala itu. Termasuk menggaji kaum Ulee Balang sebagai kaki tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Habib Abdurrahman sudah di Mekkah, Belanda terus melakukan hubungan korespondensi dengannya, untuk mengetahui seluk beluk dan kelemahan masyarakat Aceh. Dari Mekkah, pada 3 Muharram 1302 atau Oktober 1884, Habib Abdurrahman mengirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Isinya, sebuah usulan bentuk administrasi pemerintahan Aceh nyang menurutnya akan diterima oleh rakyat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat itu Habib Abdurrahman mengusulkan agar Belanda membentuk administrasi pemerintahan yang baru di Aceh, yakni mengangkat seorang muslimin yang mempunyai pemikiran yang cemerlang, berasal dari keturunan ninggrat dan faham akan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Habib Abdurrahman dalam surat tadi, orang tersebut harus diberi gelar raja atau sederajat, sebagai administrator yang bekerja untuk Belanda atas nama seluruh rakyat Aceh. Orang tersebut juga harus mampu menjadi penyeimbang antara hukum agama dengan hukum duniawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menurut Habib Abdurrahman, bila orang seperti itu diangkat sebagai pemimpin rakyat Aceh, maka rakyat Aceh akan mengikutinya. Diakhir surat itu, Habib Abdurrahman membubuhkan tanda tangganya yang disertai stempel rijksbestuurder  dari Pemerintah Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saran Habib tidak ditanggapi Gubernur Hindia Belanda. Karena kecewa, Habib kemudian menyerahkan dokumen/naskah-naskah tentang Aceh pada tahun 1886 kepada Snouck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah itu oleh Snouck kemudian diberikan kepada Ministerie van Kolonieen (Menteri Jajahan Belanda). Sebagai ilmuan Snouck juga menawarkan diri untuk melakukan penelitian di Aceh agar bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Aceh untuk menaklukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 Juli 1891 Snouck masuk ke Aceh dan menetap di Kutaraja. Ia menjadi orang kepercayaan Van Huetz, seorang jenderal yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Aceh (1904-1909). Setelah melakukan penelitian di Aceh, Snouck kemudian menulia Atjeh Verslag yang berisi laporan kepada Belanda tentan alasan perang Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atjeh Verslag merupakan laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah  uleebalang tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik deviden et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras. Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup internal mereka, perubahan paradigma ini memunculkan konflik kepentingan yang lain yaitu tentang posisi penguasa di Aceh. Pendekatan tanpa kekerasan, otomatis pengurangan pasukan harus dilakukan. Sedangkan Van Heutsz merupakan orang yang sangat menantang itu. Ia bahkan mengusulkan status di Aceh tetap dipegang Gubernur Militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun segala taktik Snouck itu ternyata tidak sepenuhnya mampu meredam perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Malah sampai Snouck kembali ke Belanda sebagai Penasihat Menteri Urusan Koloni dan meninggal disana pada 16 Juli 1936 perang Aceh melawan Belanda masih berkecamuk.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2977650693098323497?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2977650693098323497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2977650693098323497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2977650693098323497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2977650693098323497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/proposal-snouck-untuk-aceh.html' title='Proposal Snouck Untuk Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pSwnt8tZrqg/TVikm0rlTaI/AAAAAAAAAXI/ity9rk3XdBA/s72-c/atjeh-snouck%2B%2528Christiaan%2BSnouck%2BHurgronje%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-6777473377977601498</id><published>2011-02-11T01:34:00.000-08:00</published><updated>2011-02-11T01:36:00.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Cara Gampang Menulis di Media</title><content type='html'>Artikel tentang sastra dan budaya yang masuk ke redaksi Harian Aceh, selama ini masih jauh dari bahasa. Tulisan ini semoga berguna bagi rekan-rekan yang berkeinginan terus menulis di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puluhan naskah yang saya terima setiap pekan, sebagian besar harus dirombak total bahasanya. Merombak merupakan hal yang biasa, namun menjadi tak biasa dan agak sulit adalah mencoba untuk terus mempertahankan subtansi tulisan tersebut tanpa mencederai ide dari penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah yang masuk hampir semuanya sangat ilmiah. Hal ini wajar karena mereka yang mengirim naskahnya ke Harian Aceh  selama ini didominasi oleh kalangan kampus (mahasiswa). Mereka masih terjebak dengan bahasa akademik. Jarang yang menulis dengan ragam bahasa filosofik dan literer (sastra), apalagi menggunakan bahasa jurnalistik yang merupakan salah satu ragam bahasa kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa jurnalistik memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian surat kabar dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa jurnalistik  harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat khas itu penting untuk memudahkan pembaca memahami maksud dari tulisan. Membuat pembaca mau membaca secara keseluruhan tanpa merasa terita waktunya untuk menyelesaikan bacaan tersebut. Karena itu, tulisan yang dikirim ke media haruslah singkat dengan menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meki singkat, tulisan juga harus padat, memberikan informasi yang lengkap dengan menerapkan ekonomi kata. Artinya, membuang setiap kata dan kalimat yang mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan untuk media juga harus menggunakan bahasa yang sederhana. Seorang penulis harus berupaya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk dan panjang, apalagi rumit dan komplek. Gunakanlah kalimat yang efektif, praktis dan tidak berlebihan (tidak bombastis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu upayakan menggunakan bahasa yang lugas, yang mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga dan mendayu, karena menulis artikel berbeda dengan menulis cerita pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tulisan menarik untuk dibaca, gunakanlan pilihan kata yang hidup dan hindari penggunaan kata-kata yang sudah mati. Struktur kalimat tidak menimbulkan penyimpangan atau tidak memberikan pengertian makna yang berbeda. Hal ini bisa dilakukan dengan menghindari penggunaan kata yang bermakna ganda (ambigu). Kemudian buatlah tulisan sejelas mungkin agar dapat dipahami oleh khalayak umum selaku pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis untuk media juga tetap harus mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baku. Tapi usahakan dalam menulis lebih menekankan pada daya komunikatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pakailah kata-kata yang benar sebagai modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai seorang penulis, maka semakin banyak pula gagasan yang dikuasai dan sanggup diungkapkannya dalam tulisan. Kadang kala untuk melakukan hal tersebut sering dihadapkan pada dua persoalan antara ketepatan dan kesesuaian kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, agar tulisan menjadi sempurna, lagi-lagi harus menggunakan kalimat yang efektif. Kalimat yang mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu diterima dalam pikiran pembaca. Efektif tidaknya kalimat sangat ditentukan oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat juga harus menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisah satu gagasan dengan gagsan yang lain dalam paragraf yang berbeda. Usahakan satu alinia untuk satu kesatuan pikiran, satu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya satu alinie berisi satu gagasan pokok yang didukung oleh beberapa gagasan penjelas. Ini penting untuk memudahkan penegrtian dan pemahaman dengan memisahkan satu tema dengan tema yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa cara yang umumnya digunakan untuk menulis di media. Semoga tulisan singkat ini tidak terlalu menggurui, dan bisa bermanfaat bagi yang tetap berkeinginan terus menulis di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-6777473377977601498?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/6777473377977601498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=6777473377977601498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6777473377977601498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/6777473377977601498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/cara-gampang-menulis-di-media.html' title='Cara Gampang Menulis di Media'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-3487149776173132029</id><published>2011-02-01T00:54:00.000-08:00</published><updated>2011-02-01T00:56:23.578-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Garuda Telah Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUfKrf5DgPI/AAAAAAAAAW4/-HhWx3Q4hpM/s1600/GarudaTheaterAceh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 211px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUfKrf5DgPI/AAAAAAAAAW4/-HhWx3Q4hpM/s320/GarudaTheaterAceh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568642312910897394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Garuda telah mati bersama sejarahnya. Gelombang raya menenggelamkannya ke dasar terdalam. Fisiknya bangkit dalam bentuk lain. Saban pekan hanya papan bunga yang berjejer menandakan walimah para pembesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah garuda kini, tempat Soekarno pernah berapi-api membakar nasionalisme orang Aceh. Hampir tak ada literatur yang menjelaskan bagaimana Garuda merawat sejarahnya. Nasib lebih parah dialami Atjeh Hotel yang pernah dikelola PT Aceh Baru Explotasi. Sudut-sudut sejarah di Kutaraja memang telah buram. Generasi sekarang tak lagi bisa menjelaskan bagaimana Soekarno pernah menangis di hadapan Abu Buereueh di hotel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang sahabat dari negeri jiran Malaysia menanyakan tentang Garuda, tak ada yang bisa kujelaskan selain membawanya ke sana. Katanya, Garuda benar-benar sudah tidak ada lagi—aku menyebutnya telah mati—di Kutaraja. Kawan itu memperlihatkanku sebuah catatan Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh dengan gambar sampul Seokarno sedang menyampaikan pidato dengan pakaian kebesarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Catatan yang masih ditulis dengan ejaan lama itu kata pengantarnya ditulis oleh Ali Hasjmy dengan jabatan Ketua Komisi Redaksi pada hitungan almanak Koetaradja achir September 1948. Di laman selanjutnya sepatah kata dari Gubernur Sumatera Utara, Mr M Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kawan dari Malaysia mengabadikan Garuda yang baru yang tak lagi punya cerminan sejarahnya itu, kubuka laman-laman catatan itu. dijelaskan, pada 15 Juni 1948 pukul 12.45, pesawat Seulawah RI 002 yang membawa Presiden Soekarno dan rombongan mendarat di lapangan terbang Lhoknga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara pejabat tinggi yang ikut bersama Soekarno ada Menteri Dalam Negeri Dr Soekiman, Komisaris Negara Mr T Mohammad Hasan, ikut pula Panglima TNI bagian Sumatera Djendar Major Soehardjo. Semuanya ada 17 petinggi negara yang dibawa Soekarno ke Aceh hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lhoknga mereka disambut oleh  Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin, Gubernur Militer Djendral Major Tgk M Daud Beureueh, Residen Inspektur Toekoe Mahmoed, Residen Aceh T M Daoedsjah, serta Djendral Major Amir Hoesin al Moejahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Garuda yang telah mati. Usai membakar semangat rakyat Aceh di lapangan terbang Lhok Nga, Soekarno memberikan kursus politik kepada para pejabat Aceh di Atjeh Bioskop di Kutaraja, yang oleh kawan saya dari Malaysia itu diyakini sebagai gedung teater Garuda pada kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke gedung Garuda yang tak lagi punya sejarahnya itu, kawan saya menunjuk ke arah barat. Katanya, sepengatahuannya disitu dulu ada podium  tempat Soekarno menyampaikan kuliah umum kepada 800 orang dari berbakai kalangan. Sementara di luar gedung sampai ke lapangan Blang Padang ribuan orang mendengar kursus politik Soekarno dari pengeras suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah umum Soekarno di Garuda itu disampaikan pada pukul 21.00 WIB, setelah Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin menyampaikan kata sambutan. Berbeda dengan pidato yang disampaikan siang hari di lapangan terbang Lhok Nga, kali ini Soekarno tampil tidak lagi berapi-api, tapi dengan sedikit datar dan canda. Pada laman 18 catatan itu tertulis setiap apa yang disampaikan Soekarno, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara saya ini malam mau berbicara, saya tidak harus berpidato secara agitatie, secara berkobar-kobar, tetapi terutama sekali harus berpidato secara yang menuju kepada ketenangan pikiran….jangan kita mendengar pidato yang bergelora-gelora saja, melainkan lihatlah akan isinya pidato, jikalau sekarang pada ini malam saya hendak berbicara kepada saudara-saudara tentang hal-hal yang penting sekali tentang perjuangan kita di saat sekarang ini,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai membuka mukaddimah itu, Soekarno kemudian melanjutkan kursus politiknya tentang syarat-syarat untuk pemimpin. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus berpikir panjang tanpa melupakan sejarahnya. Soekarno mengungkapkannya dalam istilah Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Soekarno, seorang pemimpin harus berpikir secara historisch feiten, berpikir dengan ukuran puluhan tahun, bukan dalam hitungan hari atau pekan. “Kita harus berpikir secara in decennia en in risch, berpikir secara garis sejarah, jangan berpikir secara kejadian sehari-hari,” tegasnya dalam kuliah umum di Garuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Jasmerahnya Soekarno tidak ada lagi di Garuda. Kini Garuda telah kehilangan identitasnya. Apa yang harus kita sampaikan ketika esok orang luar datang lagi menanyakan hal yang sama. Apakah kita harus menenggelamkan Garuda lebih dalam lagi, mati semati-matinya dalam visit Banda Aceh Year tanpa sejarah ini? Entahlah.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-3487149776173132029?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/3487149776173132029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=3487149776173132029' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3487149776173132029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/3487149776173132029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/02/garuda-telah-mati.html' title='Garuda Telah Mati'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUfKrf5DgPI/AAAAAAAAAW4/-HhWx3Q4hpM/s72-c/GarudaTheaterAceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-9034462111959929444</id><published>2011-01-29T03:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-29T03:45:34.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Tsunami Jangan di Warung Kopi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUP91bB3TEI/AAAAAAAAAWw/0Cqis0UnlbY/s1600/tsunami%2Bkopi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUP91bB3TEI/AAAAAAAAAWw/0Cqis0UnlbY/s320/tsunami%2Bkopi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567572658590534722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekadar Kata untuk Antologi Tsunami Kopi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerima antologi ini, yang terpikirkan adalah hiruk pikuk warung kopi dengan ragam fenomenanya. Namun mengeja laman-laman yang tersaji, tak kutemukan tumpahan kopi itu, apalagi menjelma bagai tsunami yang membasahi kerokongan kota mati yang coba hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutemukan hanya secuil kesendirian dalam rona merah jambu, cuil lainnya luka gelombang raya dan nestapa dari kuasa yang tak memihak yang dikuasakan. Aku lebih memilih yang terakhir untuk menyimaknya sebagai sebuah catatan himpunan kata  pengingat akan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan sejenak cinta merah jambu itu, meski ini malam minggu, mari kita baca prihatin dari “Tsunami Kopi” yang hendak menggugat kekuasaan bahwa kata masih ada untuk mencambuknya, meski dalam kalimat kecil sekalipun. Karena ketika kekuasaan telah mematikan unsur kemanusiaan, maka puisi menjadi terdakwa untuk menggugatnya. Ketika duka begitu menga-nga dari kuasa yang tak berbelas budi, maka puisi wajib menonjoknya. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu kita berlama-lama menumpahkan isi hati untuk si polan yang jelita dan si polen yang kekar mempesona. Itu sangat pribadi, tapi mari kita menulis lebih dari itu, bahwa hari ini ada yang perlu diluruskan setelah koridor ditinggalkan melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi sebagai sebuah karya mempunyai kaitan erat antara penyair dan latar belakang penciptanya. Puisi tidak lahir dari kekosongan budaya, melainkan dalam  konteks sosial dan realita di zamannya. Dan Aceh kali ini bukanlah sebuah keberesan, ada ketakberesan yang perlu diungkap lidah-lidah kata di laman-laman antologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulislah untuk menulis nama sendiri dengan HURUF HURUF KAPITAL, sebagaimana Gibran menulis nama besarnya ketika hijrah dari Lebanon ke Amerika Serikat pada 1893. Ini zaman yang masih kacau, tulislah kekacauan itu, sebagaimana Gibran pernah berkata. “Kehidupan yang kacau adalah pengasah yang paling tajam untuk imajinasiku.” Jadi jangan lagi larut dalam asahan hati yang merah jambu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulislah seperti “Mein Kampf” yang lahir dari tangannya Hitler di relung terkecil penjara, yang membuatnya menjadi hantu penebar resah, mejelma jadi patung-patung dan monumen peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lihatlan Recep Tayyip Erdogan yang dengan puisi kontroversinya mampu mengantarkan dia menjadi Perdana Menteri Turky hingga dua periode. Di negeri sekuler itu Erdogan menyatakan identitasnya sebagai muslim ia berkata: Topi baja kubah kami, Bayonet menara kami, dan muslim adalah serdadu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis yang saya sebutkan tadi adalah sedikit diantara penulis yang peka dengan kuasa yang cuma mampu menguasai. Mereka menggugat kekuasaan untuk tak sekadar menguasai tapi mengayomi. Jadi, sebagaimana Albert Einsten nukilkan dalam “Out My later Year” hidupilah gagasan dari setiap kata yang terangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghidupi gagasan itu, maka jangan pernah membunuh kata dan pertanyaan, apalagi mencampakkannya dalam ketakberhargaan. Ingat petuah penyair ternama Gerhasd Fors, “Jangan pernah membunuh pertanyaan, ia adalah benda yang rapuh. Pertanyaan yang baik pantas untuk hidup. Kapanpun ada pertanyaan biarkan ia hidup.” Jadi mari kita bertanya, apa yang harus kutulis setelah ini, masih merah jambukah, atau hitam putih yang bukan abu-abu. Mari bawa tsunami itu tidak hanya di warung kopi, tapi tumpahkan ia ke meja kekuasaan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita simak laman-laman “Tsunami Kopi” tentang secuil yang saya sebutkan tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahmed Abduh&lt;br /&gt;Pada laman lima ada Ahmed Abduh dengan Pemusnahan Budi, yang mengajak kita untuk selalu waspada terhadap rayuan kekuasaan yang ujungnya menista. Ia mengajak kita untuk tidak lena, apalagi ini masa kekuasaan diperebutkan dalam pesta obral janji. Ahmed Abduh menukilnya dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemusnahan budi tak menghiraukan akibat dari suatu perbuatan&lt;br /&gt;Karena itu sudah menjadi kebiasaan&lt;br /&gt;Malu bila tidak melakukan, hinaan sudah dianggap pujian&lt;br /&gt;Dengan suka ria dia membantai budi-budi manusia beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmed Abduh merekam kenyataan kekinian tentang watak peguasa yang sudah di luar  budi, yang merusak tatanan kekuasaan yang memihak rakyat tanpa menghiraukan dampak dari politik yang dijalankannya. Kekuasaan yang dinilainya tak lagi berbudi yang mengangap hinaan sebagai pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mencoba merekam keresahan korban tsunami, melalui coret-coret di dinding kota yang dilihatnya. Dalam Ziarah Lumpur  ia nukilkan hal tersebut.&lt;br /&gt;Lihatlah tulisan di dinding itu, mereka coba menghibur&lt;br /&gt;Mengajak kami untuk bangkit kembali dari keterpurukan ini&lt;br /&gt;Tapi, dari belakang mereka menari-nari di atas uang ziarah yang mereka curi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idrus Bin Harun&lt;br /&gt;Idrus Bin Harun juga mencoba kabarkan hal yang sama dalam puisinya Lamno&lt;br /&gt;Aku sempat mabuk dalam kopimu&lt;br /&gt;Sambil bertanya-tanya&lt;br /&gt;Tentang rumah bantuan yang tak pernah sampai&lt;br /&gt;Ke tangan si korban&lt;br /&gt;Dan berharap-harap&lt;br /&gt;Rehab rekon bukan suatu omong kosong di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Decky R Rissakota&lt;br /&gt;Kemudian ada Decky R Rissakota yang di Nusantara  merasa dizalimi bangsanya sendiri. Dengan singkat dan padat ia kabarkan kepanikannya hidup di negi yang tak jelas ini. Kepada ibunya ia megadu.&lt;br /&gt;Bu, aku dicekik bangsa sendiri.  Lalu ia merintih …..kkkhhhh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhadzdzier M Salda&lt;br /&gt;Muhadzdzier M Salda juga senada, ia yang dalam diam Diam memaki penguasa negerinya yang tak memihak pada si Minah, representasi si miskin yang diabaikan pemerintah.&lt;br /&gt;Kulirik si Minah&lt;br /&gt;Memungut nasi di tong sampah&lt;br /&gt;Kau ini memang tolol&lt;br /&gt;Tak kau hirau rakyatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhajir Pemulung&lt;br /&gt;Berlanjut kemudian pada Muhajir Pemulung dalam Damai Sebotol Pewangi yang mencoba mempertanyakan kembali derita dari petaka konflik Aceh, yang korbannya belum sepenuhnya diperhatikan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di kampungku anak-anak masih bertanya di mana jasad bapaknya&lt;br /&gt;Siapa yang telah membawa bapaknya dan siapa yang telah merobek perawan saudara perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempertanyakan itu kepada siapa saja yang menominalkan derita dalam deretan angka-angka. Kita ketahui jumlah korban perang di Aceh sampai sekarang banyak yang belum tersentuh, mereka masih tertimbun dari deretan angka-angka di kertas laporan penguasa. Bahkan aktivis sekalipun yang menjadikan angka-angka itu sebagai objek untuk memperdagangkan “darah” dalam proposalnya. Muhajir mempertanyakan itu pada:&lt;br /&gt;Bisakah kau jawab wahai penguasa?&lt;br /&gt;Bisakah kau jawab wahai Yudhoyono?&lt;br /&gt;Bisakah kau jawab wahai Irwandi?&lt;br /&gt;Bisakah kau jawab wahai aktivis LSM yang hidup dari uang darah para syuhada dengan program dan proyekmu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhajir seolah berkata pada kita semua untuk tak lupa bahwa duka dan air mata dari petaka itu belum kering. Kita semua harus membasuhnya dengan tangan-tangan cinta, bukan menambah cuka di atas luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reza Mustafa&lt;br /&gt;Terakhir ada Reza Mustafa mengajak kita semua yang memilih hidup sebagai koki kata, untuk tidak melulu larut dalam sajak merah jambu, tapi melihat fenomena dan merekamnya untuk sebuah suara. Dalam Penyair Mati, ia mengharap kita tidak mati rasa akan fenomena di sekitar kita.&lt;br /&gt;Penyair jangan mati rasa&lt;br /&gt;Dentingkan gelas damai pada gendang telinga&lt;br /&gt;Para punggawa negeri yang bertikai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengulang apa yang saya sebutkan di awal tadi, ketika kekuasaan telah mematikan unsur kemanusiaan, maka puisi menjadi terdakwa untuk menggugatnya. Ketika duka begitu menga-nga dari kuasa yang tak berbelas budi, maka puisi wajib menonjoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Pada Masa Lalu&lt;br /&gt;Mari kita belajar pada sejarah pergerakan pembebasan Asia, di mana puisi ikut menjadi bagian dari tumbuhnya teologi pembebasan, seperti Teologi Minjung di Korea, perjuangan umat kristiani di Filipina, dan teologi Dalit di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teologi Minjung, seorang penyair yang juga pegawai kerajaan, Yulogk (1582) dengan empatinya merekam dan menggugat kekerasan yang dialami masyarakat Korea dalam tradisi konfusian yang bangkit saat itu. Ia malah rela menerima kekerasan terhadap dirinya dari pada melihat rakyat mati tanpa suara. Dalam puisinya ia menulis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya aka suka rela menerima hukuman apa pun&lt;br /&gt;yang akan saya sandang &lt;br /&gt;akan lebih mudah bagi saya mati kelaparan&lt;br /&gt;di antara lubang batu karang&lt;br /&gt;dari pada melihat rakyat mati tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yulogk lewat puisi yang dikirim kepada rajanya itu, menggugat kebijakan sang raja yang memberlakukan tarif pajak terlalu tinggi, sementara rakyat terus hidup dalam kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan perjuangan umat Kristiani di Filipina pada awal 1980-an dalam revolusi EDSA yang menumbangkan pemerintahan diktator Ferdinan Marcos, juga melahirkan puisi-puisi miris tentang kegetiran hidup rakyat dalam revolusi tersebut. Puisi-puisi protes yang muncul seolah menjelma menjadi nyanian-nyanyian, mazmur-mazmur yang menggambarkan sejarah yang berlangsung saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu puisi yang kerap didendangkan rakyat Filipina sebagai mazmur itu adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak takut akan hantu&lt;br /&gt;tidak pula meratapi pembunuhan keji&lt;br /&gt;tanpa tempat istirahat yang laya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jadi soal kalau anak-anakku&lt;br /&gt;istriku, kawan-kawanku, dan keranatku&lt;br /&gt;tidak melihat aku menghembus nafas terakhir&lt;br /&gt;sebab mereka tahu bentuk kematian&lt;br /&gt;rencana jahat orang-orang berkuasa&lt;br /&gt;yang menunggu mereka yang berjuang&lt;br /&gt;agar keadilan ilahi merajai di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Detrich melalui puisinya juga merekam sejarah perjuanan emansipasi wanita di negara tersebut. Lewat puisi, Detrich berusaha melepaskan kaum perempuan dari dominasi kaum pria yang dianggapnya menjadi “mesin” penggilas kebebasan perempuan Filipina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamulah (kaum pria-red) yang telah menciptakan &lt;br /&gt;mesin-mesin bagi penyebar maut &lt;br /&gt;untuk setiap orang di bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kesusastraan dalit kontremporer India juga mencatat Gibrielle Dietrich, Waman Numborka, E V Rames Periyal, Bhimrao Ambedkar, Arun Kamble. Mereka adalah para penyair yang dalam puisinya menggambarkan tentang pengorbanan, penderitaan, dan pertumpahan darah untuk menggapai kebebasan dari sebuah penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sebagaimana ditulis kembali oleh See Eleanor Zelliot dalam buku Maleikal,  sebagai salah satu bahan untuk mengungkap wajah kekerasan di India. Zelliot tergerak untuk menganalisa kembali empati para penyair dalam merekam kekerasan lewat puisi-puisinya. Numborka menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku tak tahu apa apa&lt;br /&gt;aku tahu kastaku dihina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patil menendang ayahku&lt;br /&gt;menyerapahi ibuku&lt;br /&gt;bahkan mereka tidak mengangkat kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga ditulis penyair EV Rames Periyal dan Bhimrao Ambedkar. Kedua penyair ini melalui karyanya meningalkan catatan sejarah bahwa puisi juga merupakan pemecik api gerakan melawan diskriminasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi gugatan sosial itu penuh dengan kemirisan. Kemirisan yang kemudian menjelma menjadi sebuah kekuatan sosial. Lagi-lagi puisi dinobatkan sebagai bagian dari rekaman sejarah. Dalam buku Political Consideration Upon Revined Politic and The Master Strokes of State, Gabriel Neude (1711) menggambarkan salah satu bait yang bernada miris tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilat menyambar sebelum suara terdengar&lt;br /&gt;doa diucapkan sebelum lonceng dibunyikan&lt;br /&gt;rakyat menderita tanpa mengharap penderitaan&lt;br /&gt;dan mati sementara meyangka akan tetap hidup&lt;br /&gt;semua terjadi dalam gelap&lt;br /&gt;dalam topan dan kekecauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu penentangan yang dilakukan oleh Mahadeviakka sangat unik dan bersikap profetis dan kontra kultural, yang mengangkangi norma-norma. Bahkan kaum perempuan India sendiri merasa malu dengan cara penentangan tersebut. Mahadeviakka mengembara telanjang bulat. Tubuhnya hanya ditutupi dengan rambutnya yang panjang. Dalam pengembaraannya itu, ratusan puisi lahir merekam realitas dalam usa menggapai perubahan dari apa yang ditentangnya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-9034462111959929444?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/9034462111959929444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=9034462111959929444' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9034462111959929444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/9034462111959929444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/01/tsunami-jangan-di-warung-kopi.html' title='Tsunami Jangan di Warung Kopi'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TUP91bB3TEI/AAAAAAAAAWw/0Cqis0UnlbY/s72-c/tsunami%2Bkopi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-268360602808484470</id><published>2011-01-24T19:23:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T19:26:37.661-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Diplomasi Kerajaan Aceh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT5C5tq93MI/AAAAAAAAAWo/4NHyAE2kF7A/s1600/Diplomat%2BAceh%2BAbdul%2Bhamid%2Bditerima%2Bbelanda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 182px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT5C5tq93MI/AAAAAAAAAWo/4NHyAE2kF7A/s320/Diplomat%2BAceh%2BAbdul%2Bhamid%2Bditerima%2Bbelanda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565959748756298946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Untuk menjalin hubungan dangan kerajaan Belanda, Raja Aceh, Sultan Alauddin Al Mukamil mengutus Abdul Hamid ke negeri kincir angin tersebut. Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid meninggal di negeri Eropa itu dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persaingan dagang kemudian membuat hubungan itu renggang, karena Portugis berhasrat untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Karena itu pula Portugis berusaha menghentikan semua pengangkutan rempah-rempah dari pelabuhan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah,  pada tahun 1520 Laksamana dan Raja Muda Portugis di Goa, Dirgo Lopez De Sequeira mengancam dengan mengultimatum akan menyerang kapal-kapal yang melakukan kontak dagang dengan Aceh. Aceh dan Portugis pun menjadi musuh bubuyutan di selat Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tahun kemudian (1529) Portugis ingin merebut pelabuhan Pidie dan Pase yang menjadi bandar perdagangan rempah-rempah. Namun usaha Portugis tersebut gagal. Raja Aceh berhasil menghalau Portugis untuk kembali ke Malaka. Malah pada Desember 1529, kapal-kapal Aceh muncul di depan Canannore di Pantai barat India, membantu armada Raja Kalicut yang bertempur melawan angkatan laut Portugis di Goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya, menurut Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, dalam tahun 1599--saat itu Aceh dipimpin Sultan Alauddin Riayatsyah yang dikenal dengan sebutan Sayid Al Mukammal (1588-1604)— Belanda datang ke Aceh merintis perdagangan rempah-rempah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama Belanda yang datang ke Aceh itu adalah dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman. Keduanya diutus oleh Zeewsche reeder Balthazar de Moecheron, Belanda. Keduanya datang dengan dua kapal besar dan berlabuh di Pelabuhan Kerajaan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari adanya misi dagang Belanda ke Aceh, Portugis yang sudah duluan menduduki Malaka menghasut Kerajaan Aceh untuk tidak menerima misi dagang Belanda itu. Pasalnya, Portugis tetap berkeinginan untuk memonopoli perdagangan renpah-rempah. Apalagi waktu itu Portugis bermusuhan dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Aceh pun terpengaruh, dua utusan dagang Belanda itu, Frederick de Houtman dan Cornelis de Houtman ditahan. Karena negoisasi ekonomi yang gagal maka Cornelis pun kemudian dibunuh. Sementara Frederick ditangkap dan ditawan. Kedua kapal Belanda itu pun berlayar kembali ke Middelburg, Belanda.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;J Kreemer, seorang penulis Belanda dalam buku “Atjeh”  menjelaskan, pada November 1600 Paulus van Caerden, teman sepelayaran dengan Pieter Both memerintahkan kembali dua buah kapal dari Brabantsche Compagnie  untuk merintis hubungan dagang dengan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus van Caerden berhasil membuat suatu perjanjian dagang dengan Aceh, tapi karena saat itu Aceh masih terus dihasut oleh Portugis untuk tidak bekerja sama deangan Belanda. Muatan rempah-rempah dibongkar kembali dari kapal Belanda, mereka pun kembali ke Belanda tanpa hasil apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah Federick de Houtman berhasil lari dari tawanan orang Aceh dan naik ke kapal Van Caerden untuk melarikan diri. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menyerahkan diri kepada Sultan Aceh. Cerita tentang peristiwa tersebut terangkum dalam De Europeers in den Maleishen Archipel, dan Het handelsverdrag van V Caerden, dalam buku J.E Heeres: Corpus Diplomaticum. Sebuah catatan tentang diplomasi dagang Belanda ke Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, Belanda terus berusaha untuk merintis perdagangan rempah-rempah ke Aceh. Diminasi Portugis di Selat Malaka dalam perdagangan ingin direbut Belanda. Karena pedagang pedagang dari Belanda terus saja berdatangan ke Kerajaan Aceh untuk melakukan kontak dagang hubungan dagang antara Aceh dan Portugis jadi putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dagang Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda pun resmi terjalin pada tahun 1601. Ketika itu Raja Belanda, Print Maurist melalui utusannya ke Aceh yang merintis kembali urusan dagang, mengirim sepucuk surat serta hadiah-hadiah dari Kerajaan Belanda untuk Raja Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang-pedagang dari Belanda yang membawa surat dan hadiah tersebut datang dari misi dagang Gerard le Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa buah kapal dari maskapai Zeeuw yang merupakan sebuah eskader dari Middelburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utusan Raja Belanda itu ipun diterima dengan baik oleh Raja Aceh. Kepada mereka diberikan ijin mendirikan maskapai dagang untuk membeli rempah-rempah di Aceh. Sementara Frederick de Houtman dan teman-temanya yang ditahan oleh Sultan Aceh dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kapal Zeeuw berangkat dari Aceh membawa rempah-rempah ke Belanda, Sultan Aceh mengirim utusannya ke Belanda dengan menumpang kapal tersebut untuk menguatkan perjanjian persahabatan antara Aceh dan Belanda. Utrusan Aceh yang dikirim Sultan Alauddin Riayatsyah al Mukamil itu adalah, Abdul Hamid, duta besar Kerajaan Aceh, Laksamana Sri Muhammad, Mir Hasan, dan seorang bangsawan Aceh, serta penerjemah Leonard Werner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan ini tiba di Belanda pada bulan Agustus 1602. kedatangan mereka disambut besar-besaran. Pada 9 Agustus Duta besar Aceh, Abdul Hamid meninggal di sana dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland. Sejarah pertemuan duta Aceh dengan Raja Belanda, Print Maurist tersebut kemudian ditulis oleh Dr. J. J. F. Wap  dalam buku “Het gezantschap van den sultan van Achin (1602) aan Print Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek,” 1862.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Traktrat London&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada 2 November 1872, lima bulan sebelum perang dipermaklumkan, Belanda telah memperolah kekuasaan dari Inggris untuk berkuasa di Sumatera. Aceh pun menggeliat, karena menilai Ingris telah mengingkari perjanjian dengan Aceh pada tahun 1819 melalui Traktat London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Traktat London tersebut, Inggris menyatakan menghormati kemerdekaan Aceh dan melindungi pelayaran di Selat Malaka. Karena itu pula Aceh berlindung dibalik perjanjian tersebut. Tapi setelah 2 November 1872, Inggris memberi kekuasaan kepada Belanda untuk berkuasa di Sumatera dengan tidak akan ikut campur dengan urusan Sumatera, maka Traktat London itu seakan tak lagi punya arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda yang ingin menancapkan kekuasannya di Sumatera pun mulai tidak menghormati kedaulatan Aceh. Mereka sering menggangu kapal-kapal niaga yang akan berlabuh dari dan ke Aceh. Alasannya, memberantas pembajakan dan lalu lintas perdagangan budak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Belanda ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka.Untuk tujuan itu, Aceh harus di rebut. Berbagai surat pun dikirim ke Sultan Aceh, tapi selalau dijawab dengan tegas, menolak campur tangan Belanda dalam perdagangan di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, orang-orang Aceh sering merampas kapal Inggris, Belanda, Italia dan Amerika yang melewati Selat Malaka. Alasannya, kapal-kapal tersebut membawa rempah-rempah yang dibeli secara illegal di berbagai pelabuhan di pantai Aceh bagian barat dan utara, serta membawa barang seludupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Aceh terhadap Belanda semakin lama semakin bermusuhan. Khawatir akan terjadi perang besar dengan belanda. Pada tahun 1868 Aceh melakukan perundingan rahasia dengan Turki. Tapi Turki waktu itu sangat terikat dengan Inggris, yang membutuhkan bantuan untuk melawan Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diplomasi dengan Amerika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1872 menjaleng penyerangan Belanda ke Aceh. Utusan Aceh mengadakan perundingan rahasia dengan Konsul Jenderal Amerika dan Italia di Singapura. Dalam pertemuan itu, Konsul jenderal Amerika di Singapura, Mayor A.G Studer memberikan perhatian khusus terhadap pertikaan Aceh dengan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan ingin terlibat membantu Aceh. Untuk itu Studer mengirim kawat kepada Panglima skadron angkatan laut Amerika yang sedang melakukan patroli di Laut Cina. Ia menginginkan agar kapal tersebut terus melaju ke Singapura untuk membantu Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu angkatan laut Amerika tersebut, Studer merancang konsep perjanjian persahabatan antara Aceh dengan Amerika. Tapi usaha Studer itu gagal, karena Menteri Luar Negeri Amerika saat itu, Hamilton Fish, menolak untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan Aceh dengan Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam suratnya kepada Duta Besar Amerika di Denhaag Belanda, Hamilton menyebut Stuger sebagai konsul yang tolol. “Orang itu (Stuger-red) benar-benar tolol,” tulis Hamilton dalam suratnya. Diplomasi Aceh untuk bekerja sama dengan Amerika pun gagal. Padahal Stuger dan utusan Aceh di Singapura, saat itu telah membuat konsep perjanjian  dalam bahasa Inggris dan Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dalam pertemuan utusan Aceh dengan konsul Amerika dan Italia di Singapura waktu itu, juga hadir seorang mata-mata Belanda yang kemudian membocorkan rencana kerja sama Aceh dengan Amerika tersebut. Belanda pun memaikan peran baru, memaklumatkan perang dengan Aceh, karena tak ingin Aceh menjalin kerja sama dengan negara lainnya untuk menghadapi Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Aceh pun terus bergerak dari satu perang ke perang lainya. Belanda mencatat sebagai perang terlama dan paling banyak menguras kas negara, plus darah dan nyawa. Andai konsep perjanjian Aceh dengan Amerika ditandatangani, mungkin simpul sejarah Aceh akan bergerak ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-268360602808484470?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/268360602808484470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=268360602808484470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/268360602808484470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/268360602808484470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/01/diplomasi-kerajaan-aceh.html' title='Diplomasi Kerajaan Aceh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT5C5tq93MI/AAAAAAAAAWo/4NHyAE2kF7A/s72-c/Diplomat%2BAceh%2BAbdul%2Bhamid%2Bditerima%2Bbelanda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-2958342435057491587</id><published>2011-01-23T22:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-23T22:21:02.618-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Yang Dipuja Dalam Catatan Musuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT0aRufBCzI/AAAAAAAAAWg/4X1W5O9ftxI/s1600/marechausseeegel2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 241px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT0aRufBCzI/AAAAAAAAAWg/4X1W5O9ftxI/s320/marechausseeegel2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565633606338022194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Comes ils tombent bien…en is er één volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren nien met diepe vereering zou schrijven in het boek zijner historie?”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tinggi di dalam buku sejarahnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu diungkapkan H C Zentgraaff, mantan serdadu Belanda yang pernah berperang di Aceh, yang ketika pensiun beralih menjadi wartawan perang dengan jabatan sebgai redaktur untuk koran Java Bode terbitan Batavia (kini Jakarta-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zentgraaff mengungkapkan hal itu ketika menulis tentang potret heroisme seorang pejuang Aceh, Teungku di Barat. Sejak 1903 ulama besar Aceh ini muncul secara menonjol dalam peperangan menentang Belanda. Karena itu pula Belanda memburu untuk menangkapnya hidup atau mati.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tahun kemudian, tepatnya 22 Februari 1912 ajal pula yang menjemputnya. Pasukan marsose dibawah pimpinan Letnan Behrens berhasil mengepungnya, kontak senjata pun terjadi. Lengan kanan Teungku di Barat tertembus peluru. Dengan serta merta karaben yang tak lagi mungkin dipegangnya, diserahkan kepada istrinya, sementara tangan kirinya mencabut rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerima karaben itu, istrinya berdiri di depan untuk melindungi Teungku di Barat yang luka akibat tembakan. Dalam pertempuran sengit itu, peluru marsose kemudian menerpa dada istri Teungku di Barat, keduanya pun tewas. “Beginilah berakhirnya hidup Teungku di Barat dan ulama terkemuka lainnya di Aceh yang lebih suka memilih syahid dari pada mèl (menyerah-red) kepada Belanda,” tulis Zentgraaff. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Zentgraaff terhadap para pejuang Aceh itu sangatlah beralasan, sejak menginjakkan kakinya di daratan Aceh pada 26 Maret 1873, sampai mengangkat kakinya dari Aceh karena kedatangan Jepang, ribuan penyerangan dilakukan pasukan Aceh terhadap Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai tahun 1903, ketika perang dinyatakan telah diakhiri dengan suatu perdamaian resmi, puluhan bahkan ratusan serangan masih dilakukan rakyat Aceh terhadap Belanda. Menurut catatan Belanda dalam buku Gedenboek der Marechausses jumlah serangan terhadap Belanda setelah tahun 1903 tidak dapat dihitung, sangking banyaknya serangan itu, baik yang dilakukan per kelompok maupun perorangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, jumlah serangan perorangan terhadap Belanda menurut catatan dalam buku itu, sejak tahun 1910 sampai 1937 tercatat 161 kali. Serangan perorangan itu sangat ditakuti oleh Belanda, karena itu pula keluarga Belanda tidak pernah merasa nyaman tinggal di Aceh. Di sisi lain, selain serangan-serangan perseorangan, kelompok-kelompok pejuang Aceh juga terus melakukan gerilya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pimpinan gerilyawan itu antara lain: Teuku Raja Tampo. Ia bersama kelompoknya selama puluhan tahun terus melakukan serangan-serangan terhadap Belanda di Meulaboh, Seunagan, Tripa, Seunaan, Kuala Batee dan Blang Pidie, yang berlangsung sejak 1907 sampai 1940. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain ada Teungku Chik Mayet dan Teungku di Buket putra dari ulama terkenal Teungku Chik Saman di Tiro dan cucu Teungku Chik Maat. Pada 5 September 1910 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Alue Semie, Teungki Chik Mayet di Tiro gugur. Sementara Teungku di Buket tewas dalam perang di Gunung Meureuseu, Tangse pada 2 Desember 1911.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Jureng, pimpinan gerilyawan lainnya, gugur pada Juli 1909 dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Sementara Pang Nanggroe, suami Cut Meutia yang sudah lama diincar Belanda tewas pada 26 September 1910 dekat Lhoksukon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Rojo pimpinan gerilya Bukit gugur pada 26 November 1909 di Gayo Lues. Cut Nyak Dhien ditangkap pada 4 November 1905 di Meulaboh dan dibuang ke Sumedang. Pocut Baren seorang wanita pemimpin gerilya ditangkap Belanda pada 1910 setelah kakinya ditembusi peluru dan tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teungku Angkasah di Tapaktuan yang mengakibatkan kerugain banyak di pihak Belanda, gugur dalam pertempuran di Ujong Padang, Tapaktuan pada tahun 1925. masih di Tapaktuan, Cut Ali bersama pengikutnya Teuku Nago dan Imum Sabi, yang sering menyerang bivak-bivak tentara Belanda, tewas di Alue Beurang, Tapaktuan pada 25 Mei 1927.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Tuanku Muhammad Dawod yang menyerah pada tahun 1903, karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya setelah menyerah, kembali melakukan aksi untuk menyerang Belanda di Kutaraja. Pada tahun 1907, aksi yang diorganisirnya itu melakukan penembakan-penembakan terhadap bivak-bivak belanda di Lhokseudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa itu Sultan Dawod juga menghubungi Konsul Jenderal Jepang di Singapura meminta bantuan untuk melakukan aksi bersama melawan Belanda. Karena itu pula, Sultan Dawod kemudian ditangkap Belanda dan dibuang ke Ambon. Pada tahun 1917, Sultan Dawod diizinkan meninggalkan Ambon dan memilih tinggal di Meester Corneelis (sekarang Jatinegara) dan meninggal dunia di sana pada tahun 1939.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda kemudian mengangkat tabik, kagum terhadap kepahlawanan para pejuang Aceh tersebut dalam buku “Gedenboek van het korp Marechausse van Aceh en Onderhoorighheden.”  Dalam salah satu bagian buku itu Belanda menulis. ’’De heldhaftigheid van den Atjeher, welke hij gedurende den Atjehoorlog aan den om legde bij den strijd om zijn land te verdedigen, heeft de eebied van de Merechausse’s afgedwongen en tevens hun bewondering voor zijn moed, doodsverachting, zelfopoffering en uithoudingsvermogen.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Kepahlawanan orang Aceh yang diperlihatkannya masa perang Aceh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan tanah airnya, telah menimbulkan rasa hormat dan kagum terhadap keberaniannya, sikap tak gentar menghadapi maut, pengorbanan diri dan daya tahannya,’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terompet Tipuan&lt;br /&gt;Kejadian lain ditulis H C Zentgraaff sebagai kesadisan perang di Aceh. “Adakah peristiwa pemotongan mayat-mayat yang lebih menyedihkan dengan yang terjadi setelah kegagalan penyerbuan mendadak terhadap Gle Yueng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu untuk menumpas perlawanan pejuang Aceh, Belanda merancang sebuah serangan terencana dan mendadak ke Gle Yueng, tempat pasukan Tgk Chik Ditiro berada. Pasukan Belanda menuju ke daerah perbukitan itu malam hari. Mereka bergerak setelah mengetahui lokasi itu dari seorang wanita pelayan di rumah Letnan Boon yang pernah berhubungan dengan seorang wanita bernama Sofia, kemenakan Panglima Polem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofia telah bercerita tentang Gle Yueng kepada pelayan tersebut. Info dari pelayan itu pula yang kemudian dipakai Belanda sebagai langkah untuk melakukan penyerangan. Tapi serangan Belanda tersebut gagal total. Mereka disambut pejuang Aceh dengan kobaran api. Pejuang Aceh membakar benteng pertahannya, sehingga tak ada langkah untuk berlindung apalagi mundur, selain hanya satu langkah menyambut serangan Belanda dengan serangan yang lebih hebat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Belanda kalah total. Mayat berserakan, malah Kapten Scheuer, komandan Belanda yang memimpin serangan itu mengalami luka tembak dibagian perut. Pagi hari ia ditemukan tergeletak di rumput yang basah dengan darahnya sendiri. Ketika seorang juru rawat hendak memperban lukanya, ia berkata. “Bagi saya tak perlu lagi, tolonglah orang yang tengah mengerang-ngerang di sana.” Ia pun kemudian tewas dengan lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara seorang perwira Belanda lainnya, Kapten Yacobs tewas dengan luka tembak di bagian kepala. Puluhan pasukan Belanda tewas. Sisanya luka parah. Kegagalan Belanda itu berawal dari sebuah suara terompet dalam malam buta ketika perang berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat suara terompet itu berisi perintah untuk berhenti menembak. Terompet itu ditiup oleh seorang fusilier bernama Pauwels, seorang tentara bayaran dari Belgia. Ternyata malam itu Pauwels menyebrang ke pasukan Aceh. Ia sengaja meniup teromper itu untuk mengelabui pasukan Belanda. Sehingga ketika Belanda berhenti menyerang pasukan Aceh dengan leluasa menyerang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Belanda benar-benar terpukul, karena sejak awal memperkirakan kalau penyerangan ke Gle Yueng mudah, sehingga tidak membawa banyak perbekalan. Mereka hanya membawa beberapa tandu saja, sementara korban yang tewas 28 orang, puluhan lainnya luka berat. Banyak korba tubuhnya sudah dicincang dengan sabetan pedang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, H C Zentgraaff, mantan pasukan Belanda yang setelah purnawirawan menjadi wartawan perang, menyebutkan peristiwa tersebut sebagai peristiwa pemotongan mayat yang sangat menyedihkan. “Haruskah dikirim kabar ke bivak Indrapuri, agar dikirimkan alat-alat pengangkut mayat dan korban yang luka-luka. Mereka mengirim segala apa yang ada: daun pintu, meja-meja, papan berkelipak-kelipak, dan semua itu ternyata belum cukup untuk mengangkut tentara yang tewas dan luka-luka,” tulis Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mendapat giliran pertama untuk diangkut adalah prajurit yang luka-luka. Mereka diangkut dengan menggunkan daun pintu dan papan-papan sebagai tandu. Zentgraaff menilai hal tersebut akan memberikan penderitaan bagi para korban melebihi penderitaan akibat luka yang dialami saat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan serdadu yang tewas, kaki dan tanganya diikat pada kayu pikulan, kemudian digotong oleh para pekerja paksa (beer). Para pekerja paksa itu merupakan orang-orang hukuman yang dibawa Belanda dari Jawa ke Aceh. “Dengan mengangkut orang yang mati dan luka-luka, pasukan masih harus melalui Krueng Meunapat. Betul-betul suatu perjalanan yang berat,” lanjut Zentgraaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barisan pasukan pengangkut mayat dan korban luka-luka itu dinilai Zentgraaff sebagai arak-arakan yang mengerikan. Ia menulis, “Orang-orang yang mati bergelantungan pada pikulan, melengkung di tengahnya, dan kepala-kepala yang berlumuran darah terbuai-buai di sampingnya. Beberapa diantara yang mati itu berlumuran darah dan lumpur, bagai binatang-binatang yang dibawa keluar dari rumah potong hewan dan harus diangkut terseok-seok selama setengah hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu merupakan kekalahan telak bagi Belanda. Sepanjang perjalanan mengangkut mayat dan korban luka-luka ke Indrapuri tersebut, masyarakat Aceh melihat arak-arakan itu dengan nada mengejek kekalahan tersebut. Karena itu pula, mental para serdadu Belanda menjadi menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peristiwa itu tidak dapat dilupakan untuk selama-lamanya. Pemandangannya begitu menyedihkan. Mereka yang berjiwa jantan sekali pun dan bersemangat baja berkat pertempuran-pertempuran, kini berjalan mengiringi mayat-mayat itu diliputi rasa haru yang sangat dalam, sehingga hilang lenyap kemampuan mengendalikan diri serta perasaannya. Begitulah arak-arakan itu tiba di Indrapuri, dan semalam suntuk pasukan zeni bekerja keras membuat peti-peti mati. Sebuah lobang yang besar seakan-akan mulut raksasa kelaparan menganga menghadap ke atas, akan menelan seluruh 28 jenazah serdadu kita. Jenazah kedua orang kapten yang gugur dikirimkan ke Peucut Kerkhof (kuburan Belanda di Banda Aceh)” lanjut Zentrgaaff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Hfeutsz, komandan bala tentara Belanda ikut hadir pada upacara penguburan tersebut. Tatkala peti mati itu diturunkan ke dalam lobang, dia pun tak kuasa membentung perasaannya lagi, dan menetes air mata di pipinya. Dengan susah payah ia mengeluarkan beberapa patah kata, “Prajurit-prajurit gagah perkasa, gugur di medan kehormatan,” katanya, setelah berhenti sejenak menahan haru, ia melanjutkan “Makam ini akan diabadikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuburan massa itu kemudian disebut sebagai Kerkhof kecil di Indrapuri. Zentgraaff pernah berkunjung ke kuburan itu, akan tetapi ia tidak menemukan apa pun, karena sudah dipenuhi semak. Hanya tersisa beberapa batu nisan lama di kuburan perorangan, dan beberapa keping pagar kayu, yang menandakan bahwa di dalamnya ada mayat yang dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di tengah-tengah pekuburan ada sebatang pohon yang agak menyolok dari keadaan sekelilingnya, dan saya berfikir dalam hati bahwa di dalam tanah di mana pohon itu tumbuh, tersedia makan yang lebih banyak bagi akar-akar pohon itu dari pada disekitarnya,” jelas Zentgraaff dalam catatannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-2958342435057491587?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/2958342435057491587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=2958342435057491587' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2958342435057491587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/2958342435057491587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/01/yang-dipuja-dalam-catatan-musuh.html' title='Yang Dipuja Dalam Catatan Musuh'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TT0aRufBCzI/AAAAAAAAAWg/4X1W5O9ftxI/s72-c/marechausseeegel2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-7776989172476578574</id><published>2011-01-20T04:49:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T04:51:21.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Editorial'/><title type='text'>Presenden Baik Bagi Media</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTgvuaI9yrI/AAAAAAAAAWY/FoYQHQx_Rxw/s1600/ahmadi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTgvuaI9yrI/AAAAAAAAAWY/FoYQHQx_Rxw/s320/ahmadi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564249813953661618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 20 Januari 2011 kemarin merupakan hari yang baik bagi media di Aceh. Satu-satunya—dan yang pertama—di Aceh perwira TNI divonis sepuluh bulan penjara dalam kasus penganiayaan wartawan Harian Aceh liputan Simeulue, Ahmadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasi Intel Kodim )115 Simeulue, Lettu (inf) Faizal Amin divonis sepuluh bulan penjara. Vonis ini sesuai dengan tuntutan Ouditur Mayor Jamiun SH.  Sebelumnya kekerasan yang dilakukan oleh oknum TNI di Aceh tak pernah kita dengar di bawa ke pengadilan. Tapi kali ini, keberanian Majelelis Hakim, Mayor (CHK) Waluyo SH (hakim ketua) Mayor (CHK) Djundan SH dan Mayor (SUS) Mirtusin SH (hakim angota) patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini bukanlah untuk melihat siapa menang dan siapa kalah, tapi keadilan bagi pekerja media mulai dihargai oleh instansi militer. Pidana sepuluh tahun penjara dinilai layak untuk Faizal Amin, meski perwaira TNI kelahiran 1981 itu menyatakan pikir-pikir untung banding terhadap vonis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bagaimanapun hukum mengenal istilah  non facis reun nisi mensir rea, tiada terpidana tanpa kesalahan. Kesalahan yang telah diperbuat wajib dipertangungjawabkan. Kita tidak ingin hukum yang memandang kasus hitam putih menjadi abu-abu, hitam tetaplah hitam dan putih tetaplah putih. Hukum harus tetap menjadi panglima, karena Indonesia merupakan negara yang berdasar atas hukum (rechts staat) bukan berdasarkan kekuasaan (macht staat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap warga negara—termasuk TNI—di dalamnya mempunyai kedudukan yang sama di mata hukum. Meski kadang di Indonesia hukum masih dipengaruhi oleh politik. Tapi, kenyataan kemarin, dengan divonisnya Faizal Amin sepuluh bulan penjara, setidaknya presenden buruk hukum sedikit bergeser menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis hakim kentara tidak mementingkan kepentingan menjaga korpnya dalam kasus ini. Bukan sepuluh bulannya yang patut diapresiasikan, tapi tuntasnya kasus ini di Mahkamah Militer yang patut dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kawan-kawan di media juga kita berharap tidak mendahului hakim dalam memberitakan suatu perkara. Keberimbangan yang tidak hanya cover board side  tapi harus multy board side agar tidak adanya penghakiman oleh media (trial by the press). Media—dan jurnalis di dalamnya—harus menjadi tumpuan penegakan hukum, bukan malah menengendalikan hukum (prss controlled law enforcement) melalui informasi publik yang disiarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga berharap vonis sepuluh bulan ini bukan karena korbannya adalah wartawan, yang setiap tahapan persidangannya diliput media, tapi lebih karena pertimbangan keadilan bagi publik. Esok hari atau kapan saja, siapapun yang menghadapi kasus yang sama dengan Ahmadi harus diperlakukan sesuai dengan amanat undang-undang, baik dengan maupun tanpa media di dalamnya sekalipun. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-7776989172476578574?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/7776989172476578574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=7776989172476578574' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7776989172476578574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/7776989172476578574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/01/presenden-baik-bagi-media.html' title='Presenden Baik Bagi Media'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTgvuaI9yrI/AAAAAAAAAWY/FoYQHQx_Rxw/s72-c/ahmadi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1142833632245416638</id><published>2011-01-17T19:18:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T19:20:54.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pidie dalam History Of South East Asia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTUHCe1pw4I/AAAAAAAAAWQ/TFnpVDwvC9M/s1600/Afscheid%2BSigli%252C%2B10%2Boktober%2B1929.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTUHCe1pw4I/AAAAAAAAAWQ/TFnpVDwvC9M/s320/Afscheid%2BSigli%252C%2B10%2Boktober%2B1929.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563360653905347458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;“So extensive was its trade, and so great the number of merchants resorting there, that one of it street contain abaout 500 honderd moneychanger.” (Ludovico di Varthema)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof D G E Hall dari Inggris, dalam bukunya “A History of South East Asia,  mengambarkan Pidie sebagai sebuah negeri yang maju pada akhir abad ke 15. Hal itu berdasarklan catatan seorang pelawat Portugal, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan Varthema, sebagaimana dikutip Muhammad Said dalam “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah”  pada abad tersebut Pedir, yang masih disebut sebagai negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Malah vartheme menggambarkan, disebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing. “So extensive was its trade, and so great the number of merchants resorting there, that one of its street contain about 500 honderd moneychanger,”  kata Varhtema.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Varthema oleh Muhammad Said disebutkan sama seperti Snouck Horgronje, yang Islam untuk sebuah tujuan penelitian tentan dunia muslim. Sebelum ke Pedir, ia juga telah mempelajari Islam di Mekkah. Sesuatu yang kemudian juga dilakukan  Snouck Hourgronje dari Belanda, tapi Snouck lebih terkenal ketimbang Varthema, karena berhasil menulis sejumlah buku tentang Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatannya Varthema mengatakan takjub terhadap negeri Pedir yang saat itu sudah menggunakan uang emas, perak, dan tembaga sebagai alat jual beli, serta aturan hukum yang sudah berjalan dengan baik, yang disebutnya “Strict Administration of Justice,”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Varthema juga menulis tentang kapal-kapal besar milik nelayan yang disebut tongkang,  yang menggunakan dua buah kemudi. Ia juga mengupas secara terperinci tentang keahlian rakyat Pedir tentang perindustrian kala itu, yang sudah mampu membuat alat-alat peletup atau senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pidie awalnya dikenal sebagai negeri Poli, kemudain berubah menjadi Pedir, dan kini dikenal dengan nama Pidie. Dalam sebuah riwayat Tiongkok (Cina) disebutkan, pada tahun 413 Masehi, seorang musafir Tiongkok, Fa Hian melawat ke Yeep Po Ti dan singgah Poli (Pidie-red). Fa Hian menyebutkan Poli sebagai sebuah negeri yang makmur, yang rajanya berkenderaan gajah, berpakaian sutra dan bermahkota emas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Cina, Raja Poli pada tahun 518 Masehi mengirim utusannya ke Tiongkok. Hubungan itu terus berlanjut. Pada tahun 671 Masehi, I Tsing dari Tiongkok melawat ke Poli.  Ia disebut tinggal selama lima tahun singgah dan tingagl di enam kerajaan di pesisir Sumatera, mulai dari Kerajaan Lamuri (Aceh Besar), Poli (Pidie), Samudra dan Pasai (Aceh Utara), Pereulak (Aceh Timur) dan kerjaan Dangroian (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poli sebagai Pidie yang dikenal sekarang, menurut H. M Zainuddin  dalam bukunya “Tarikh Aceh dan Nusantara”  disebutkan oleh ahli sejarawan kuno, Winster, sebagai sebuah negeri yang makmur dan jaya. Menurutnya, setelah Sriwijaya dan Pasai, Poli lah Bandar pelabuhan yang terkenal. Pelabuhan Poli disebut-sebut berbentu genting, yang oleh H M Zainuddin kemudian diduga sebagai sebuah muara yang kini dikenal sebagai Kuala Batee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah raja di Poli atau Pedir tidak begitu jelas. Namun Zainuddin menyebutkan di Kampong Klibeut terdapat makan rja-raja diantaranya makan Sultan Ma’ruf Syah, anak dari Sulaiman Nur, yang mangkat pada tahun 916 H. (1511 M) dan Kampung Sangeue dekat Mesjid Raja Pidie (Labuy) terdapat satu makam Putroe Balee, yang mangkat pada tahun 970 H (1588 M). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam-makam ini serupa dengan makam raja-raja yang terdapat di Pasai, Aceh Besar, Daya dan Gresik (Jaya), terbuat dari batu pualam bertulis huruf Arab dan batu-batu nisannya ini di datangkan dari Negeri Hindi dan ada yang di perbuat di Meuraksa (Ulee Lheue). Karena itu pula menurut para ahli purbakala, Kerjaan Poli/Pedir serupa dengan kerajaan Pasai (Aceh Utara) dan kerajaan Lamuri (Aceh Besar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Varthema sumber Portugis mengatakan bahwa Sultan Ma’ruf  Syah Raja Pidie (Pedir, Sjir, Duli) itu pernah menaklukkan Aceh Besar dalam tahun 1479. Masa itu diangkat dua orang wakil di Aceh, seorang di Aceh sendiri dan seorang di Daya. Mula-mula Pidie dikalahkan oleh Raja Aceh Besar dan di dudukkan oleh Wali Negara (Gubernur) di Pidie, yaitu Raja Ali dan adiknya, Ibrahim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Raja Ibrahim yang menjadi Wali Negara Raja Aceh di Pidie atas Perintah abangnya menyerbu Benteng Portugis yang baru didirikan di Kuala Gigieng. Cerita lain menyebutkan bahwa, Kuta Asan, Pidie, merupakan bekas kota yang didirikan Portugis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dengan sejata yang dirampas dari Portugis, Raja Pidie menyerang Raja Aceh Besar pada tahun 1514 dan Sultan Salahuddin Ibnu Muzaffar Syah diturunkan dari tahkta. Raja Ali naik menjadi raja dengan Gelar Sultan Ali Mughayat Syah, sedang adiknya Raja Ibrahim menjadi Laksamana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Pidie pada zaman dahulu adalah kerajaan yang berbatas dari Kuala Batee sampai ke Kuala Ulim, meliputi Meureudu. Tentang susunan tatanegaranya tidak deketahui dengan jelas, akan tetapi setelah kerajaan Pidie bubar atau takluk kepada Sultan Aceh kemudian mendapat negeri-negeri yang diperintah oleh Bentara, Keudjruen, Mentroe dan Imeum.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1142833632245416638?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1142833632245416638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1142833632245416638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1142833632245416638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1142833632245416638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2011/01/pidie-dalam-history-of-south-east-asia.html' title='Pidie dalam History Of South East Asia'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TTUHCe1pw4I/AAAAAAAAAWQ/TFnpVDwvC9M/s72-c/Afscheid%2BSigli%252C%2B10%2Boktober%2B1929.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1206482084609656804</id><published>2010-12-11T02:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T02:47:24.021-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Wajah Ganda Kekuasaan</title><content type='html'>Sejak zaman dahulu, kekuasaan selalu berwajah ganda. Demikian kata Prof, Dr Franz Magnis Suseno. Ada kalanya kekuasaan itu begitu memesona, tapi tak jarang juga sangat menakutkan. Sang profesor itu menambahkan, legitimasi kekuasaan tertinggi adalah legitimasi religius. Tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu legitimasi religius ini didobrak, maka muncullah pertanyaan mengenai legitimasi kekuasaan. Selubung ghaib yang melindungi raja (baca pemimpin) dari tuntutan pertangungjawaban pun tersobek, karena raja juga juga manusia biasa, maka raja pun akan berhadapan dengan hukum sebagaimana rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menukik ke permasalahan di Aceh. Kekuasaan bak cerita roman yang bad ending  saja. Kekuasaan kerap berakhir jauh dari hal yang menggembirakan. Simaklah, Gubernur Ibrahim Hasan, meski terbukti mampu menyulap Aceh dengan berbagai pembangunan sampai ke pelosok, tapi diakhir jabatannya, ia seakan hilang segalanya, ketika mukanya menjadi sasaran tamparan seorang mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Padahal, selama kekuasaan berada di tangan Ibrahim Hasan, kemolekan pembangunan di Aceh begitu memesona. Tapi di sisi lain, kekuasaan di tangan Ibrahim Hasan pula yang sangat menakutkan bagi rakyat Aceh. Banyak piring pecah saat “kenduri” Daerah Operasi Militer (DOM) berlaku di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi saat kekuasaan berpindah ke tangan Prof Dr Syamsudin Mahmud. Ahli moneter ini juga harus keluar dari pintu belakang, ketika mahasiswa tidak lagi menaruh kepercayaan terhadapnya untuk memimpin Aceh. Berlanjut kepada Gubernur Abdullah Puteh, akhir kekuasaannya di Aceh juga pilu, ketika sang gubernur harus mendekam dalam tahanan untuk mempertanggungjawabkan prilakunya yang korup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Irwandi Yusuf juga sedang menuju ke arah itu. Beragam persoalan kini melilinya, bacalah berita-berita di media belakangan ini, cerita miring tentang orang nomor satu di Aceh itu terus saja mencuat, yang paling menusuk ulu hati kekuasaan ‘sang raja’ itu adalah kasus dugaan penganiayaan Hamidy di tahanan terkait penyebarab pesan singkat tentang dugaan perselingkuhan. Pertanyaannya sekarang, mengapa kisah pemegang kekuasaan di Aceh banyak yang tidak happy ending?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu banyak penyebabnya, yang telah menjadi mata rantai panjang, membentuk sebuah kekuasaan yang menakutkan. Setidaknya menakutkan bagi yang dikuasai, dalam hal ini rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu mata rantai tersebut yang kini menggerogoti kepemimpinan Irwandi Yusuf  Puteh adalah suburnya praktik korupsi. Saat kekuasaan berada di tangannnya kita melihat banyak pejabat teras yang berurusan dengan hukum, meski tak semuanya tak sampai ke pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bernegara, korupsi merupakan benalu sosial yang merusak sendi-sendi struktur pemerintahan. Dan menjadi hambatan paling utama dalam pembangunan. Tapi anehnya, belakangan ini malah pembangunan menjadi lahan empuk untuk korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi memang sudah menjadi sebuah gaya hidup. Bahkan mungkin akan menjadi sebuah “cabang ilmu” karena banyak orang mengatakan korupsi itu merupakan seni untuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, meski banyak pejabat teras pemegang otoritas kekuasaan telah diadili sebagai koruptor, belum ada diantara mereka yang berani menerbitkan buku tentang kekuasaan dan seni berkorupsi. Bila itu dilakukan, maka korupsi akan menjadi sebuah cabang ilmu. Dan kekuasaan akan selalu berakhir dengan ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini membuktikan telah terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat? Pergeseran nilai itu memang hal yang lumrah. Tapi untuk korupsi merupakan hal yang berbeda, karena pergeseran norma-norma dan nilai kekuasaan tidaklah selamanya dapat diakomodir, apalagi ditolerir. Kembali ke persoalan maraknya korupsi pada kekuasaan di sekitar kita. Timbul pertanyaan, apakah ini sebuah pergeseran atau memang ini budaya baru bagi kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya mungkin juga. Sebab kalau norma dan nilai kekuasaan pada masa lalu mengajarkan kita untuk merasa malu bila seorang laki-laki harus memukul seorang wanita, konon kini berani melakukan pemerkosaan. Tidak pula sendiri tapi beramai-ramai. Begitu juga dengan korupsi, meski belum ada yang berani menempatkan diri sebagai imam atas tindakan yang tercela itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sebuah jabatan atau kekuasaan itu, hanya akan mengantarkan siberkuasa menjadi celaan masyarakat. Mungkin tidak oleh istrinya sendiri. Tapi yang pasti, sang jabatan dan kekuasaan tidak pernah tercela. Yang tercela adalah manusianya. Mental korup manusia yang menduduki jabatan tersebut tidak akan membuat kekuasaan itu hina, yang hina adalah manusia yang korup karena kekuasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan kepemimpinan di Aceh, kekuasaan yang awalnya membuat sang gubernur bagai magnet yang mampu menarik banyak kalangan ke sisinya. Kini malah sebaliknya. Meski tidak serentak, satu per satu orang-orang terdekatnya mulai mengatur langkah surut. Ada pula yang mengatur ancang-ancang untuk merebut kekuasaan itu. istilahnya, “kudeta” kecil-kecilan. Apalagi setelah ‘retaknya’ duet kepemimpinan di Aceh jelang pemilihan kepala daerah yang tinggal beberapa bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali perombakan `kabinet’ di Pemerintahan Aceh mempertegas adanya keretakan antara Aceh 1 dan 2 tersebut. Banyak pihak di lingkungan kekuasaan yang memanfaatkan keretakan tersebut untuk menarik keuntungan politis dalam kemulaunya kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kekuasaan itu, ada pula orang yang agak bersih, diharapkan untuk menuju kekuasaan tersebut, tapi ragu untuk melangkah. Yang jelas, keragu-raguan yang jujur lebih baik dari pada keyakinan yang ngambang dan setengah-setengah. Benci yang terbuka secara jantan lebih baik dari jenis kesetiaan yang palsu. Musuh yang cerdas akan lebih baik dari kawan yang dungu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1206482084609656804?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1206482084609656804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1206482084609656804' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1206482084609656804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1206482084609656804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/12/wajah-ganda-kekuasaan.html' title='Wajah Ganda Kekuasaan'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8416058514123773687</id><published>2010-12-09T20:50:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T20:52:09.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Korupsi yang Bergeser</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TQGx8WTbDHI/AAAAAAAAAWE/wvrNIfCH3iQ/s1600/suap.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 178px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TQGx8WTbDHI/AAAAAAAAAWE/wvrNIfCH3iQ/s320/suap.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548911866234473586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saban hari kita membawa berita korupsi di media. Hal yang seolah menegaskan bahwa korupsi tidak akan pernah hilang, hanya bergeser dari satu ranah ke ranah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan pergeseran tersebut, saya teringat kembali apa yang dikatakan Teten Masduki pada Kamis, 30 November 2006 silam ketika kami berkesempatan berjumpa pada pelatihan jurnalistik di Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS) di Kebon Sirih, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenten yang saat itu masih menjabat sebagai Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) hadir sebagai pemateri. Pada tahun itu saja, Indonesia menurut Teten masih menjadi negera terkorup, meski saat itu belum ada kasus korupsi seheboh yang terjadi sekarang. Melihat kasus korupsi di Indonesia yang semakin semarak saja belakangan ini, boleh jadi apa yang dikatakan Teten tersebut kini semakin parah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu data dari Transparansi Indonesia (TI) meneyebutkan  Indonesia berada pada peringkat ketiga negara terkorup di Asia. Sekali lagi, korupsi di Indonesia tidak akan pernah hilang, hanya bergeser dari satu sektor ke sektor lainnya. Inilah yang menyebabkan Indonesia selalu berada dalam lingkaran setan pemberantasan korupsi yang tak ada ujungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Apalagi ketika persoalah hukum sebagai bagian dari pemberantasan korupsi kemudian digagahi oleh kepentingan politik kekuasaan. Nah, ketika hukum sudah disetubuhi politik, maka keadilan akan pincang, bahkan tak akan memberi makna keadilan yang sesungguhnya, dan karena itu pula, pemberantasan korupsi tidak pernah akan mampu ditumpas sampai ke akar-akarnya. Kasus Gayus Tambunan menajdi contoh terkini, bagaimana pemberi uang (sogok) kepada Gayus sampai sekarang belum terjerat. Gayus hanya pion yang dimainan di papan catur politik yang menggagahi hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengusaha tajir yang juga politisi elit di negeri ini, lebih memilih menggunakan dana silumannya untuk membayar pion-pion tertentu, dari pada membayar hak negara (pajak). Dana siluman sebagai “servis” bagi pejabat negara ini membuat negara rugi ratusan miliar. Ketika ini akan diungkap, lagi-lagi berbenturan dengan hukum yang tak lagi menjadi hukum karena sudah digagahi politik. Hukum tak lagi menjadi panglima ketika kepentingan politik sudah mengaduk-ngaduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam struktur politik juga sering membuat arah korupsi bergeser. Meminjam istilah Teten Masduki, ini disebut sebagai korupsi yang telah bertransformasi dari royal corruption ke fragmneted corruption. Katanya, desentralisasi kewenangan administrasi dan keuangan daerah juga telah melahirkan desentralisasi korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pergeseran korupsi di Indonesia, dulu diawal-awal kemerdekaan, seorang pengusaha cukut menyetor ke penguasa atau jenderal berpengaruh, maka bisnisnya akan lancar. Kemudian korupsi sudah lebih menyebar. Suatu partai di daerah yang menguasai parlemen, belum tentugubernurnya dari partai tersebut, karena bisa jadi partai lain lebih mampu memberi setoran ke pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari waktu ke waktu target korupsi terus bergeser. Antara tahun 1970 sampai 1980 korupsi terjadi melalui penguasaan sumber daya alam, lisensi dalam bisnis dan investasi, seperti monopoli cengkeh oleh keluarga Cendana; Tomy Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk tahun 1980 sampai 1990, korupsi terjadi melalui penguasaan kredit perbankan, kontrak-kontrak dengan pemerintah, proteksi khusus dalam perdagangan dan fasilitas ekspor, pengambilan asset negara dan lain-lain. Teten mencontohkan, Bank BNI dibangun dengan pondasi ekonomi masyarakat kecil, tapi kreditnya kemudian malah diberikan kepada 11 kolongmerat. Kredit itu kemudian ternyata macet. Inilah yang penyebab ekonomi terpuruk, yang kemudian diperparah dengan krisis moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari tahun 2000 sampai sekarang, korupsi terjadi pada penguasaan anggaran publik. Lalu bergeser lagi pada penjualan kandidat dalam pemilihan kepala daerah. sebut saja contoh di Aceh pada pemilihan Gubernur 2006 lalu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjual kadernya ke Partai Amanan Nasional (PAN) sebagai calon wakil gubernur dengan kompensasi sekian miliar rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilihan gubernur di Aceh yang akan datang, bukan tidak mungkin pratktek korupsi jual beli kandidat ini akan terulang. Ketika suatu partai sudah membeli kandidat dari partai atau kelompok tertentu dengan sekian miliar dana,  maka ketika kekuasaan ada ditangannya, tentu modal politik untuk membeli kandidat tersebut akan ditarik kembali. Dan tentu anggaran daerah yang akan digerogoti dengan berbagai cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi di Indonesia masih sulit dicegah karena strategi penangan korupsi yang masigh lemah. Korupsi selalu dipandang sebagai kegagalan fundamental pemerintah bukan penyakit.  Penyebab lainnya, ketidakseimbangan hubungan antara masyarakat dengan sektor bisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pernah diungkapkan Prof Michal Jhonson dari Harvard University, katanya, untuk menekan korupi perlu adanya penguatan masyarakat sipil. Kendala lainnya, lembaga-lembaga donor lebih fokus pada program reformasi kelembagaan, kurang memperkuat pengawasan eksternal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistim pemberantasan korupsi di Indonesia sebenarnya sudah bagus, tapi ketika badan anti korupsi disusupi kekuasaan, maka penanganan korupsi menjadi tidak berjalan sempurna. Untuk mencegah hal itu perlu adanya reformasi birokrasi, membuat birokrasi menjadi pendek, memberlakukan sistim tender yang standar untuk menghindari tender “intat linto” para kontraktor, serta perlu adanya pengawasan pembangunan dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porto Alaigre, seorang Wali Kota di Brazil, yang memulai pemberantasan korupsi dengan melakukan reformasi anggaran. Anggaran yang sebelumnya dulunya disusun oleh dewan (partai-red) dialihkan komite yang angaran yang anggotanya berasal dari masyarakat. Komite ini di setiap distrik membuat anggaran sendiri sehingga penggunaan anggaran publik mudah dikontrol. Hal ini tentu sangat bagus bila dicontoh dan dilakukan oleh penguasa. Tapi bila mental penguasa kita masih tertarik pada sekian persen fee dari suatu proyek, tentu tak akan ada Porto Alaigre di sini.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8416058514123773687?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8416058514123773687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8416058514123773687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8416058514123773687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8416058514123773687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/12/korupsi-yang-bergeser.html' title='Korupsi yang Bergeser'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TQGx8WTbDHI/AAAAAAAAAWE/wvrNIfCH3iQ/s72-c/suap.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1563283242839656747</id><published>2010-12-09T04:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T04:16:47.698-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Editorial'/><title type='text'>Menimbang Calon PA</title><content type='html'>Apa jadinya bila kakak beradik memimpin Aceh? Ini mungkin saja terjadi jika kelak partai berkuasa (Partai Aceh) berhasil memenangkan calonnya pada pemilihan Gubernur Aceh mendatang. Partai Aceh dikabarkan akan mencalonkan Zaini Abdullah berpasangan dengan Aminullah Usman sebagai calon gubernur dan wakil guibernu pada pemiulihan Oktober 2011 mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaini Abdullah merupakan saudara kandung Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sekarang. Bila nantinya Zaini katakanlah memenangi pemeilihan Gubernur, tentu Aceh akan dipimpin oleh kakak beradik. Hasbi Abdullah di lembaga legislatif dan Zaini Abdullah di eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi jika ini kelak terjadi, maka hubungan eksekutif dan legislatif Aceh tentu akan sangat mesra. Imbasnya, tentu akan sangat berbeda, bisa jadi akan harmonis dalam membawa Aceh ke arah lebih maju, pun sebaliknya, boleh jadi salah satunya akan runut, baik adik terhadap abang maupung abang terhadap adik.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah…,bila ini terjadi maka pungle DPRA sebagai lembaga pengawas kinerja eksekutif akan mandeg. Kemendekan yang akan membuat eksekutif bisa bekerja tanpa kontrol dalam menggunakan anggaran publik. Semi monarki akan terjadi di Aceh, meski tidak secara de jure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lainnya, bila benar Partai Aceh akan mengusung Zaini Abdullah dan Aminullah Usman dalam pemilihan gubernur Aceh yang akan datang, bagaimana dengan sikap mantan GAM di daerah. Apakah penetapan Aminullah Usman sebagai wakil Zaini sudah dikompromikan dengan setiap wilayah, atau jangan-jangan hanya centolan beberapa petinggi Partai Aceh semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi bila ini terjadi, maka suara Partai Aceh di daerah akan pecah. Artinnya, Partai Aceh harus siap-siap kehilangan suara, alih-alih memenangkan pemeilihan, mereka akan terpuruk. Diakui atau tidak banyak tokoh diinternal Partai Aceh yang juga bernafsu untuk mencalonkan diri. Bila partai tidak memenuhinya, maka tak ada jalan lain bagi mereka selain menyebrang atau mendukung calon lain, karena mencalonkan diri melalui jalur independen sudah hampir bisa dipastikan tidak bisa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau boleh jadi memunculkan nama Aminullah Usman sebagai wakil Zaini hanya sebagai upaya tes-tesan saja, prakondisi sebelum Partai Aceh menentukan calonnya yang pasti yang didukung oleh berbagai wilayah. Ini merupakan sebuah penjudian yang sedang dilakoni oleh Partai Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui Aminullah bukanlah seorang politisi, ia hanya seorang bankir. Namanya mencuat ketika menjabats ebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh selama dua periode. Selama ini belum pernah putra sekali pun ia terjun dalam dunia politik, meski belakangan setelah lengser dari jabatannya, nama Aminullah disebut-sebut dimasukkan dalam kepengurusan Partai Golongan Karya (Golkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafi-lagi kita berandai-andai, seandainya benar Zaini akan didampingi Aminullah, bisa jadi Aminullah hanya akan menjadi ban serap kelak. Pengalaman politiknya yang minim—kalau tak boleh dibilang tak ada sama sekali—akan membuatnya kepayahan dalam politik praktis yang dilakoninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ini hanya andai-andai, Partai Aceh sendiri belum mengumumkan secara resmi calon yang akan diusungnya pada pemilihan Gubernur Aceh yang akan datang. Tapi bagaimana pun kita tentu menginginkan agar eksekutif dan legislatif Aceh kelak bisa benar-benar berada pada fungsinya masing-masing. Tidak “bermesra-mesraan” yang pada ujungnya akan membuat fungsi pengawasan anggaran publik terkebiri.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1563283242839656747?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1563283242839656747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1563283242839656747' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1563283242839656747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1563283242839656747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/12/menimbang-calon-pa.html' title='Menimbang Calon PA'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-900817440492160607</id><published>2010-12-02T23:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T23:52:40.942-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kriteria Wali Nanggroe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TPihvntiPQI/AAAAAAAAAV4/QaTh9TO2Edo/s1600/cap%2Bsikureng.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 166px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TPihvntiPQI/AAAAAAAAAV4/QaTh9TO2Edo/s320/cap%2Bsikureng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546360780592659714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan subtansi rancangan qanun (raqan) lembaga wali naggroë kini kembali menghangat. Menariknya, ada sejumlah kriteria untuk bisa menjadi wali nanggroë, yang bisa menumbuhkan sebuah monarki baru di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pasal 15 Raqa Lembaga Wali Nanggroë, ada 19 kriteria yang ditetapkan, yang kriteria ini tak mudah untuk dipenuhi oleh politisi dan tokoh Aceh sekarang. 19 kriteria yang ditetapkan dalam raqan itu menjadikan wali naggroë benar-benar sebagai sebuah jabatan yang sangat bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria pertama adalah beragama Islam, ini sudah pasti. Kemudian pada kriteria kedua dan ketiga disebutkan harus keturunan yang baik dan mulia dari keturunan wali-wali sebelumnya. Pertanyaannya, siapa wali-wali rakyat Aceh sebelumnya. Apakah wali dari kalangan mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau dari keturunan raja-raja Aceh sebelumnya. Hal-hal seperti ini masih perlu penjelasan yang lebih jelas sebelum rancangan qanun itu disahkan menjadi qanun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pada kriteria lainnya disebutkan wali nanggroe itu harus berakal dan baligh, berahklak mulia dan tidak dzalim. Ini juga masih butuh penjelasan yang lebih rinci bagaimana mengukur ahkhal mulia seorang calon wali nanggroe tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya seorang wali nanggroë harus dikenal dan diterima oleh rakyat Aceh, nasional dan internasional, alim, berani, arif dan bijaksana, amanah, tidak shafih, baik anggota dan sempurna panca indera, kasih sayang dan rendah hati, sangat penyabar, pemaaf, terpelihara dari hawa nafsu jahat, bertawaqal kepada Alllah Swt dan selalu bersyukur, bersifat adil, serta mampu berbahasa asing secara lancar sekurang-kurangnya bahasa Arab dan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca 19 kriteria tersebut, timbul lagi pertanyaan adakah orang-orang seperti itu di Aceh sekarang? Sangat sulit untuk menemukannya ketika banyak pemimpin di Aceh sekarang lebih memikirkan perut dan kelompok, tinimbang berlaku amanah dan arif terhadap rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya adalah pada kriteria calon wali nanggroë itu harus dari keturunan dari wali-wali sebelumnya. Pada pasal 14 disebutkan Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro dengan gelar Paduka Yang Mulia Al Mudabbir Teungku Tjhik Di Tiro Dr Hasan Muhammad sebagai wali nanggroe Aceh yang kedelapan. Lalu siapa wali nangroe Aceh yang pertama sampai ketujuh, sebelum Hasan Tiro?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada BAB II Kajian Akademis, histori wali nanggroe ini dijelaskan berdasarkan catatan dalam buku Larosse Grand Dictionary Universelle, yang menggambarkan tentang Kerajaan Aceh yang berkuasa di kepulauan Melayu atau Hindia Timur pada akhir abad 16 sampai abad 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu dijelaskan bahwa apada tahun 1582, Bangsa Aceh telah memperluas kekuasaan atas di semenanjun Melayu serta mempunyai hubungan diplomasi dengan Hindia, Jepang, sampai ke Arab. Dalam buku itu disebutkan, pada tahun 1582 Sultan Aceh menyerang Portugis di Selat Malaka dengan armada yang terdiri dari 500 kapal perang serta 60.000 tentara laut dibawah pimpinan Laksamana Malahayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber lainnya adalah dari Prof Willfred Contwell Smith yang mengatakan bahwa pada abad 16 sudah ada hubungan Maroko, Instanbul (Turki), Isfahan, Agra dimana Aceh sebagai pelaku sejarah di dalamnya. Kemudian pada tahun 1819 Kerajaan Aceh melakukan perjanjian kerjasama dengan Kerajaan Inggris karena saat itu Kerajaan Aceh sebagai penguasa di Selat Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 Maret 1873 perang kemudian berkecamuk di Aceh. Sejak itulah tanah Aceh setapak demi setapak diduduki Belanda, hingga pusat istana pemerintahan Kerajaan Aceh (Dalam) dikuasai Belanda pada 24 Januari 1874. Kejatuhan Dalam itu diyakini akibat pengkhianatan  dari dalam. Empat hari kemudian dia mangkat akibat terkena wabah kolera di Lueng Bata dan dimakamkan di Pagar Aye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian jasadnya dipindahkan ke Cot Bada, Samahani karena khawatir makamnya akan dibongkar oleh Belanda. Dalam kecamuk perang itu kemudian  Sulthan Muhammad Daud Syah yang saat itu masih berusia 11 tahun diangkat menjadi raja. Karena sulthan masih muda maka dibentuklah lembaga wali nanggroë.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan itu dilakukan pada 25 Januari 1874 melalui musyawarah Majelis Tuha peut yang terdiri dari, Tuwanku Muhammad Raja Keumala, Tuwanku Banta Hasjem, Teuku Panglima Polem Raja Kuala dan Teungku Tjik Di Tanph Abee Syech Abdul Wahab. Keputusan musyawarah tuha peut itu menarik semua kekuasaan ke hadapan tuha peut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian pada 28 Januari 1874, Ketua Majelis Tuha Peut Kerajaan Aceh Tuanku Muhammad Raja Keumala mengambil keputusan untuk mempersatukan rakyat Aceh diangkatlah Al Malik Al Mukarrah Tfk Tjik Di Tiro Muhammad Saman Bin Abdullah sebagai Wali Nanggroë  Aceh yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memimpin perang selama 17 tahun Tgk Tjik Di Tiro syahid akibat diracun di Kuta Aneuek Galong pada 29 Desember 1891. Tiga hari kemudian 1 Januari 1892 diangkatlah Tgk Tjik Di Tiro Muhammad Amin Bin Muhammad Saman sebagai wali nanggroe Aceh yang kedua. Ia juga syahid pada tahun 1896 di Kuta Aneuek Galong. Wali nanggroe selanjutnya dijabat oleh Tgk Tjik Di Tiro Abdussalam Bin Muhammad Saman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya jabatan itu dipegang oleh Tgk Tjik Di Tiro Sulaiman Bin Muhammad Saman sebagai wali nanggroe keempat pada 1898 sampai syahidnya pada 1902. Sebagai penggantinya kemudian diangkat Tgk Tjik Di Tiro Ubaidillah Bin Muhamamd Saman, tiga tahun menjabat (1905) wali nangroe yang kelima itu syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan itu kemudian diwariskan secara turun temurun dalam kecamuk perang Aceh melawan Belanda. Sebagai wali nanggroe yang keenam pada tahun 1905 diangkat Tgk Tjik Di Tiro Mayiddin Bin Muhamamd Saman, ia juga syahid dalam perang melawan Belanda pada 11 Desember 1910.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemangku sementara jabatan wali nanggroe kemudian ditunjuk Tgk Tjik Ulhee Tutue alias Tgk Tjik Di Tiro di Garot Muhammad Hasan yang kemudian juga syahid dalam peperangan pada 3 Juni 1911. Sehari kemudian jabatan itu diemban oleh Tgk Tjik Di Tiro Muaz Bin Muhammad Amin yang kemudian syahid pada 3 Desember 1911 dalam peperangan melawan pasukan Belanda pimpinan  Kapten Smith. Sarakata wali nanggroe ditemukan oleh Kapten Smith dalam teungkulok Tgk Tjik Di Tiro Muaz Bin Muhammad Amin, yang kemudian disimpan di Museum Bronbeek Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1968 surat tersebut diambil oleh Tgk Hasan Muhammad Di Tiro yang diserahkan langsung oleh Ratu Beatrix penguasa negeri Belanda. Pada 1971 Hasan Tiro kembali ke Aceh dan menyerahkan sarakata wali naggroe tesrebut kepada Tgk Tjik Di Tiro Umar Bin Mahyiddin. Pada saat itulah Hasan Tiro diangkat menjadi Wali Nanggroe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  kajian akademis itulah, pada bagian keenam rancangan qanun lembaga wali naggroe pasal 14, Hasan Tiro disebut sebagai Wali Nanggroe Aceh yang kedelapan. Kemudian pada poin dua pasal itu disebutkan bahwa berdasarkan hasil rapat sigom donya di Stavanger, Norwegia pada 2 Juli 2002, apabila Hasan Tiro mangkat maka diangkat Malik Mahmud sebagai Peurdana Meuntroe, Zaini Abdullah sebagai Meuntroe Luwa, maka Malik Mahmud secara langsung menjadi pemangku jabatan (waliul’ahdi) wali nanggroe sebagai pelaksana tugas wali naggroe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Hasan Tiro sebagai wali naggroe yang kedelapan sudah mangkat pada 3 Juni 2010. Kini jabatan itu masih diemban Malik Mahmud sebagai pelaksana tugas. Pertanyaanya sekarang bila rancangan qanun lembaga wali nanggroe itu disahkan, apakah Malik Mahmud memenuhi kriteria wali nanggroe yang sudah ditetapkan qanun tersebut. Atau kepada siapa lagi jabatan wali nanggroe akan dipundakkan sebagai jabatan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-900817440492160607?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/900817440492160607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=900817440492160607' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/900817440492160607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/900817440492160607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/12/kriteria-wali-nanggroe.html' title='Kriteria Wali Nanggroe'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TPihvntiPQI/AAAAAAAAAV4/QaTh9TO2Edo/s72-c/cap%2Bsikureng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-4478095714654448901</id><published>2010-11-05T02:20:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T02:22:22.689-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Menyoal Hari Jadi takengon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TNPMx_30VPI/AAAAAAAAAVw/7BY65JK1XXY/s1600/Copy+of+1934+Takengon,+woning+assistent-resident.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TNPMx_30VPI/AAAAAAAAAVw/7BY65JK1XXY/s320/Copy+of+1934+Takengon,+woning+assistent-resident.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535993526299677938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggal 17 Februari 1902 diusulkan sebagai hari jadi Takengon. Pro kontra bermunculan. Semuda itukah ibu kota Aceh Tengah itu? Lalu bagaimana dengan sejarah panjang Gayo yang sudah jauh lebih dulu ada?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qanun tentang hari jadi Takengon itu kini mulai dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah. Banyak pihak menyayangkan munculkan tanggal 17 Februari 1902. Tanggal itu malah dinilai sebagai hari kemenangan Belanda di dataran tinggi Gayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai elemen masyarakat di negeri Malem Diwa itu menyampaikan protes terkait hal tersebut. Setidaknya ada enam lembaga yang tidak setuju tanggal 17 Februari 1902 dijadikan sebagau hari jadi Takengon, yakni Universal Development and Research (Unders), Gayo Institute (GI), Gayo Diving Club (GDC), Visit Tanoh Gayo (VTG), Forum Pake Gayo (FPK) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fisipol Universitas Gajah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernyataan sikap keenam lembaga tersebut yang disampaikan Salman Yoga mengatakan bahwa tahun 1902 merupakan tahun keberhasilan pasukan marsose Belanda pimpinan Van Daalen menaklukkan Gayo. “Sebagai orang Gayo kami keberatan jika hari keberhasilan kekejeaman imperialis Belanda membunuh masyarakat Gayo diperingati sebagai hari jadi Kota Takengon,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambalan tanggal tersebut dinilai Salman sebagai bentuk pemangkasan sejarah panjang Gayo. Apalagi munculnya tanggal 17 Februari 1902 dalam usulan hari jadi Kota Takengon hanya dilakukan dengan empat hari diskusi secara tertutup. “Ketakutan DPRK Aceh Tengah untuk menunda rancangan qanun tidak dapat disahkan pada 2010 dengan alasan deadline dan tidak adanya anggaran merupakan sikap apriori yang mencerminkan lemahnya kinerja dewan,” nilai Salman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rancangan qanun hari jadi Takengon itu tidak dirincikan secara jelas tentang silsilah dan sejarah Takengon. Tanggal dan tahun yang diajukan dalam eancangan qanun tersebut kata Salman tidak berdasarkan kajian akademik. “Jadi tanggal itu tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Salman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salman dan enam lembaga tadi meminta agar penetapan hari jadi Kota Takengon harus dilakukan melalui kajian komprehensif (menyeluruh) dan diseminarkan secara terbuka untuk umum. “Kami meminta kepada dewan untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat umum untuk mendiskusikan kembali penetapan hari jadi Takengon. Kami minta hal ini disosialisasikan seluas-luasnya terlebih dahulu,” pinta Salman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof M Din Madjid, Dosen Uviversitas Islam Nasional (UIN) Jakarta menyebutkan tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penetapah hari jadi Takengon, yakni aspek legenda, kekerasan (perang) dan aspek administrasi pemerintahan. “Jangan sampai kita terjebak, salah-salah nanti yang kita peringati malah hari kemenangan penjajah di Takengon,” jelas penulis profil Aman Dimod ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menelusuri Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi aspek yang disebutkan Prof M Din Madjid tadi, maka perlu dilihat kembali sejarah lama Gayo, yakni sejarah kerajaan Linge dan Isak yang berbilang abad sudah ada di dataran tinggi Gayo sebelum nama Takengon muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Aceh M Junus Djamil menyebutkan, ketika Kerajaan Sriwijaya menyerang Kerajaan Islam Peureulak pada tahun 375 H (986 M), banyak terjadi pengungsian penduduk, termasuk ulama dan anak-anak Raja Peureulak. Ada yang mengungsi ke pegunungan, ada juga yang lari ke Kerajaan Linge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah menurut M Junus Djamil, orang yang membangun Kerajaan Linge adalah Adi Genali dengan gelar Meurah Lingga, putra dari Meurah Tanjong Krueng Jambo Aye, saudara Raja Peureulak Mahdum Johan Berdaulat Syahir Nuwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade Genali mempunyai tiga orang putra yaitu: Sibayak Lingga yang mengungsi ke Karo dan menetap di lembah/kaki Gunung Sibayak. Ia gagal mengislamkan orang Karo di sana. Kemudian Meurah Johan yang mengikuti rombongan Syeh Abdullah Kan’an (Syiah Hudan) dari Peureulak ke Indra Purwa untuk melaksanakan dakwah Islamiah. Seorang lagi, Muerah Lingga II yang tingga di Negeri Linge menjadi Raja Linge dan memerintah secara turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mengacu pada sejarah ini, maka keberadaan Kerajaan Linge sudah ada sejak tahun 986 Masehi, malah jauh sebelum itu. Hal ini harus menjadi perhatian sebagai salah satu aspek dalam penentuan hari jadi Takengon. Pertanyaannya sekarang bagaimana kaitannya antara pusat Kerajaan Linge tempo dulu dengan pusat ibukota Kabupaten Aceh Tengah sekarang; Takengon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Takengon Masa Kolonial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kolonial, daerah Aceh Tengah disebuts ebagai kawasan Rejer dan Keujruen. Sebutan ini digunakan untuk mengatur organisasi/persekutuan hukum yang relatif besar seperti Kerajaan Linge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reje dan Keujruen dalam menjalankan pemerintahan dibantu oleh suatu majelis penasehat yang tediri dari unsur cerdik pandai, alim ulama dan orang-orang terkemuka dalam masyarakat Penghulu (reje) dibantu oleh petue, imem dan rakyat disebut dengan istilah serak opat tersebut dibantu pula oleh beberapa orang disebut dengan  hariye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reje berfungsi sebagai musuket sipit, petue berfungsi sebagai musidik sasat, imem berfungsi sebagai muperlu sunat dan rakyat berfungsi sebagai genap mufakat. pemerintahan dilaksanakan secara demokratis dengan semboya : sudere genap mufakat (masyarwarah), Urang tue musidik safat (kebijaksanaan kaum tua), pegawe muperlu sunet (Urusan hukum Agama), penghulu musuket sipet (Raja menjalankan Peraturan yang baik dan adil )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1956, secara hukum Kabupaten Aceh Tengah dibentuk melalui Undang-Undang nomor 7 tahun 1956. Walaupun demikian Aceh Tengah telah eksis sejak zaman pendudukan Belanda (1904-1942). Pada masa itu wilayah takengon (onder afdeeling Nordkus Atjeh ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onder afdeeling Takengon yang brribu negeri takengon terbagi atas empat negeri (landscape) yaitu : Lanscap Bukit beribukota Mampak, Lanscap Linge beriibukota Isag, Lanscap Syiah Utama Beribukota Nosar, dan Lanscap Cik Beribukota Kemili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berakhirnya masa penduduk Belanda diteruskan dengan masa pendudukan Jepang (1942-1945 ). Pada masa pendudukan Jepang pembagian wilayah tidak berubah. Jepang hanya mengganti nama seperti onder Afdeeling diganti menjadi Gun ( dipimpin oleh pribumi yang disebut Gunco), Lanscap diganti menjadi  sun (dipimpin oleh pribumi yang disebut Sunco)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan gun dan sun kembali diubah namanya pada masa Kemerdekaan (1945) yaitu menjadi wilayah, Selanjutnya berubah lagi menjadi kabupaten yang terdiri atas beberapa kewedanan dan sun menjadi negeri, selanjutnya berubah lagi menjadi kecamatan. Pada saat itu, Kabupaten Aceh tengah terdiri atas tiga kewedanan yaitu: kewedanan Takengon , Kewedanan Gayo Lues dan Kewedanan Tanah Alas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era kemerdekaan karena hubungan tranportasi antara kewedanan Takengon dengan Kewedanan lainnya ditempuh melalui sumatera Utara. Disamping karena luas wilayah, sulitnya Tranportasi dan aspirasi masyarakat, akhirnya Kabupaten Aceh Tengah dipecah menjadi dua bagian pada tahun 1974, melalui undang-undang nomor 4 tahun 1974. Kewedanan Gayo Lues dan Tanah Alas diubah menjadi Kabupaten Aceh Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penaklukan Van Daalen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa penaklukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke nusantara, termasuk Aceh, Belanda kemudian melakukan ekspansi sampai dataran tinggi Gayo. Setelah Sultan Muhammad Daudsyah menyerah pada Belanda pada tahun 1903, maka Gubernur Militer Aceh Van Heutsz memutuskan untuk menaklukkan seluruh Aceh. Daerah yang belum takluk waktu itu adalah Gayo Lues dan Alas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Van Heutsz memerintahkan Van Daalen untuk menaklukkan daerah tersebut. Setelah segala sesuatunya dianggap rampung maka Van Daalen mulai menyerang daerah Gayo Lues pada tahu 1904. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengalahkan Gayo Laut, Gayo Deret, akhirnya Van Daalen memasuki daerah Gayo Lues disebuah kampung terpencil yaitu kampung Kela (9 Maret 1904). Dari sinilah daerah Gayo lues ditaklukkan  benteng demi benteng. Dimulai dengan menaklukkan benteng pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904), Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf (pengarang Belanda) hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Belanda kalah dalam perang dunia II, Jepang masuk ke Indonesia. Pada tahun 1942 – 1945 Gayo Lues dijadikan Jepang sebagai salah satu daerah pertahanan dan pemusatan militer di Aceh. Pemuda-pemuda Gayo Lues dilatih kemiliteran dalam jumlah yang banyak diharapkan pemuda-pemuda ini  kelak sebagai pendukung militer Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda hasil didikan Jepang antara lain adalah Muhammad Din, Bahrin, Zakaria, Maaris, Maat, Jalim Umar, Abdurrahim, Asa, Dersat, Hasan Sulaiman, Ahmad Aman Bedus, Hasan Tejem dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah penaklukkan Van Daalen itu menjadi sebuah catatan tersendiri bagi masyarakat Gayo Lues. Malah penulis Belanda, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh”  menggambarkan penaklukan tersebut sebagai sebuah ekspansi yang mengerikan. Ia menyebutnya hantu-hantu di blang untuk ketangkasan pejuang Gayo Lues menyerang Belanda secara frontal dan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Kajian Kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menelisik fragmentaria sejarah di dataran Tinggi Gayo tersebut, terlalu naif rasanya bila hari jadi Takengon ditetapkan pada 17 Februari 1902. Alasannya, tahun tersebut merupakan era keberhasilan Belanda menaklukan satu per satu wilayah di dataran tinggi Gayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah harus membuat kajian kembali untuk menentukan hari jadi yang cocok untuk Takengon. Bila tidak, maka tak tertutup kemungkinan kelak rakyat Gayo di Takengon dan sekitarnya akan merayakan hari keberhasilan penjajah membunuh masyarakat Gayo sebagai hari jadi Kota Takengon.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-4478095714654448901?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/4478095714654448901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=4478095714654448901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/4478095714654448901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/4478095714654448901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/11/menyoal-hari-jadi-takengon.html' title='Menyoal Hari Jadi takengon'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TNPMx_30VPI/AAAAAAAAAVw/7BY65JK1XXY/s72-c/Copy+of+1934+Takengon,+woning+assistent-resident.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-312712374842081632</id><published>2010-09-28T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T18:49:34.618-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Spionase dan Penyusupan Budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para penyusup sering menjadikan budaya dan turunannya untuk tujuan tertentu. Malah budaya hanya dijadikan alat propaganda semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah memberi pengalaman, bagaimana Marghareta Zelle, penari ulung yang menjadikan tariannya sebagai kedok spionase. Kemudian ada Henry Kissingger di Gedung Putih Amerika yang berhasil bertahan dari pemecatan karena pendekatannya yang berbudaya. Sejarah komunis juga mengenal penulis John Howard yang mampu mempertahankan ideologi komunis dalam karyanya di tengah kebencian terhadap komunis di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan budaya sebagai bagian dari propaganda dan penyamaran,  pernah sukses dilakoni Marghareta Zelle, yang setelah semua terungkap publik Prancis tercengang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Marghareta datang ke Paris tahun 1904, ia hanya memiliki uang setengah franc di kantongnya. Paris waktu itu merupakan kota impian para perempuan yang ingin mengejar hayalannya. Paris kota harapan yang menjanjikan masa depan. Marghareta merupakan satu dari ribuan gadis cantik yang datang ke Paris untuk bekerja sebagai model para seniman, penari klub malam, atau pemain sandiwara bagi bangsawan di Folies Bergere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagai pekerja para wanita itu tak bertahan lama. Setiap waktu ada saja wanita lain sebagai penggantinya. Paris benar-benar jadi kota penuh persaingan. Marghareta sadar bila ia terdepak dari pekerjaannya sebagai penari, maka berarti usahanya akan gagal di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marghareta punya ambisi besar. Meski tak memiliki pengalaman menari dan belum pernah mengelar pertunjukan di teater. Ia berhasil menciptakan kesan terbaik baginya. Meski pun dengan kemampuan yang pas-pasan ia mampu bertahan. Dan tujuannya yang sesungguhya di Paris bisa tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marghareta benar-benar bukan seorang seniman tari. Masa kecil ia hanya pernah menonton pertunjukan tari di Jawa dan Sumatera ketika berkenalan bersama keluarganya. Meski demikian ia berhasil membuat sebuah tipuan di Paris dengan menyusup dalam budaya kota itu melalui tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia paham bahwa yang penting dalam tipuannya bukanlah tarian yang dibawakannya, bukan pula wajah cantik dan kemolekan tubunya, tapi kemampuan untuk menciptakan kesan dan aura misteri atas tarian yang dimainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Greene yang menyinggung Marghareta dalam The 48 Law of Power  mengungkapkan, misteri yang diciptakan Marghareta bukan hanya terletak pada  tariannya saja, kostumnya, kisah yang ia bawakan, bukan pula tentang dusta tiada akhir tentang asal usulnya, tapi terletak pada suasanya yang melingkup segala hal yang ia lakukan, sehingga penyamarannya benar-benar tersamar dalam kedok budaya dan seni tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu berubah, selalu mengejutkan penonton dengan kostum-kostum barunya, tarian baru, kisah baru. Aura ini membuat publik Paris selalu ingin tahu lebih banyak informasi tentang Marghareta dan selalu bertanya-tanya tentang tindakannya berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marghareta bukanlah penari mahir, yang membedakan dia dengan orang lain adalah caranya menarik perhatian dan mempertahankan perhatian itu. Dari situlah kehidupan dan tujuan Marghareta yang sebenarnya tersamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keudian sedikit saja kesalahan membuat segalanya buyar. Pemerintah Prancis mendeportasi Marghareta setelah dia diketahui sebagai seorang mata-mata. Bagaimana pun Marghareta berhasil menyusp dalam budaya Paris, menjadi pusat perhatian. Dari pertermanannya dengan tokoh-tokoh di Paris waktu itu ia berhasil mencuri informasi rahasia tentang Pemerintaha Perancis dan menjualnya kepada musuh-musuh Perancis di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika pada tahun 1920-an juga terkenal seorang penulis asal Jerman, Bertolt Brecht penanut ajaran komunis. Hampir semua tulisannya, esay, drama dan puisinya melambangkan semangat revolusi. Ketika Hitleh berkuasa di Jerman, Brecht dan kawan-kawannya yang beraliran komunis terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brecht memiliki banyak kawan yang bersimpati padanya di Amerika Serikat. Pada tahun 1941 ia berimigrasi ke Amerika dan menetap di Los Angeles, dimana ia bisa mencari nafkah dari bisnis perfileman. Ia mulai menulis skenario dengan tema anti kapitalis yang menyolok. Ia menyusupkan ide-ide komunis dalam karyanya untuk mempengaruhi publik di Amerika. Namun ia kurang sukses di Hollywood. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perang berakhir pada 1947 ia memutuskan untuk kembali ke Eropa. Pada tahun yang sama, Konggres Amerika Serikat, House Un-American Activities Commite menyelidiki infiltrasi komunis ke Hollywood. Mereka mulai mengumpulkan informasi tentang Brecht.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brecht yang dikenal sebagai pendukung Marx, pada 19 September 1947, sebulan sebelum ia berencana meninggalkan Amerika, harus berurusan dengan pemerintah setempat. Ia dipanggil House Un-American Activities Commite bersama sejumlah penulis, produser dan sutradara lainnya. Mereka yang dipanggil itu dikenal sebagai Hollywood 19. Mereka yakin bahwa mereka lebih cerdas dari anggota komite itu. mereka pun berdebat dengan komite tersebut tentang komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Hollywood 19 yang konfrontasi membuat mereka memperoleh simpati dari publik Amerika. Namun mereka harus berjuang belasan tahun untuk memulihkan nama dan kehilangan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Brecht bertindak lain, ia merendah dan membuat anggota komite tak bisa menebaknya. Ia tidak mengubah keyakinannya sebagai seorang komunis. Ia juga berhasil mempertahankan kebebasannya untuk menyebarkan tulisannya yang revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Marghareta penari pura-pura yang  masuk dalam budaya Perancis sebagai mata-mata untuk kepentingan asing dan Brecht yang berhasil mempertahankan ideologi komunisnya dengan tulisan-tulisan revolusionernya. Kini di zaman yang serba terbuka, penyusupan dan spionase atas nama budaya juga mulai masuk dalam kehidupan kita. Sadar atau tidak, ada yang mulai mendompleng kebudayaan untuk kepentingan tertentu.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-312712374842081632?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/312712374842081632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=312712374842081632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/312712374842081632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/312712374842081632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/09/spionase-dan-penyusupan-budaya.html' title='Spionase dan Penyusupan Budaya'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-1613742069330124899</id><published>2010-09-06T19:52:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T19:53:40.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Uang Palsu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TIWpINvpAOI/AAAAAAAAAVg/Nm49pLQga74/s1600/uang_palsu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TIWpINvpAOI/AAAAAAAAAVg/Nm49pLQga74/s320/uang_palsu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513999277378568418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jelang lebaran, peredaran uang palsu diyakini meningkat di Aceh. Tingginya transaski di toko-toko pakaian membuat uang palsu dengan mudah dibelanjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Agustus 2010 saja, beberapa kasus telah terungkap, di Takengon misalnya, Pada Rabu (18/8) empat pengedar uang palsu ditangkap setelah berbelanja di sebuah warung di Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah. Dari mereka polisi menyita pecahan uang pasu Rp50.000 senilai Rp2,2 juta. Ironisnya lagi uang palsu itu dicetak oleh salah seorang dari mereka. Uang palsu itu bukan dibawa dari luar, tapi memang dicetak di sana dengan printer warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan sebelumnya, pada Kamis, 12 Agustus 2010, dua pelajar pengedar uang palsu juga ditangkap di Aceh Utara. Mereka juga mencetak sendiri dan mengedarkan (membelanjakan) uang palsu tesrebut. Proses percetakan uang dilakukan dengan satu unit komputer dan printer merek canon MP198.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Terungkapnya tingkah tak baik dua remaja ini (IM dan MU) ketika membeli rokok di sebuah warung dengan menggunakan uang palsu. Pemilik kios curiga dengan uang yang dibelanjakan remaja itu sehingga terjadi perdebatan. Polisi yang kebetulan melintas kemudian mendatanginya. Ketahuannya bahwa uang itu palsu. Ada Rp285 ribu uang palsu yang ditemukan polisi dari dua siswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, pada 4 Juli 2010, polisi juga menangkap sepasang suami istri pengedar uang palsu di Aceh Barat. Mereka mengadarkan uang palsu pecahan Rp50.000 dan Rp100.000. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung Rp152,5 juta. Mereka ditangkap ketika berbelanja dengan uang palsu di pasar Kuala Bhe, Kecamatan Woyla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdaran uang palsu sangat merugikan negara. Karena itu negara menjerat pelaku dengan KUHP. Pada Bab X pasal 244 sampai pasal 252 jelas mengatur hukuman pemalsuan mata uang dengan ancaman pidana penjara 15 tahun. Hal ini dinilai sudah cukup untuk mencegah pembuatan uang palsu. Namun sayangnya ketika proses persidangan terhadap pelaku kejahatan terhadap mata uang ini, jarang yang vonisnya tinggi, apalagi maksimal 15 tahun sebagaimana diamanahkan KUHP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan terhadap mata uang ini sebenarnya bukanlah  hal yang baru, ketika Indonesia masih dikuasai oleh Kolonial Belanda, hal itu sudah terjadi. Untuk mencegah peredaran uang palsu, pemerintah Hindi Belanda pada tahun 1912 memberlakukan Indische Muntwet,  yakni undang-undang yang mengatur tentang mata uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang itu kemudian dicabut ketika Indonesia sudah merdeka seiring diberlakukannya Undang-undang Dasar Sementara (UUDS) pada tahun 1950. Pebcabutan Indische Muntwet dilakukan melalui Undang-undang Darurat nomor 20 tahun 1951 yang dikenal sebagai undang-undang mata uang 1951.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara nasional, dalam lima tahun terakhir peredaran uang palsu mencapai puluhan miliar. Menurut data Bank Indonesia (BI), jumlah uang palsu yang telah ditemukan oleh BI maupun hasil tangkapan polisi terhadap uang kertas rupiah yang diedarkan dalam jumlah lembar (bilyet) selama semester pertama 2007 adalah 2 bilyet persatu juta bilyet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya seorang hakim peradilan umum Republik Indonesia, Goenawan Wanaradja menilai, banyaknya uang palsu menyebabkan masyarakat kelas atas takut memiliki rupiah. Mereka akan berbondong-bondong untuk memiliki uang asing karena dianggap lebih aman. Wibawa negara akan jatuh baik di mata masyarakat maupun dunia. Pemerintah dianggap tidak mampu menangani secara preventif dan represif dan tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan ketidakpercayaan investor  asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wanaradja, secara kualitatif bentuk kejahatan uang palsu dapat dikelompokan yaitu pembuatan, mengedarkan, pengurangan nilai, memiliki atau menyediakan bahan untuk membuat uang palsu, menyimpan dan membawa atau memasukan ke suatu wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat hukum lain, yaitu UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai mana diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Undang-Undang Bank Indonesia (UUBI). Pasal 65 dan Pasal 66 hanya mengatur kewajiban bagi setiap orang untuk menggunakan mata uang rupiah. Yang melanggar diancam pidana dan sanksi administrasi. Dalam UUBI ini dimaksudkan jika ada orang yang menolak untuk tidak menggunakan uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah maka dikenakan sanksi pidana atau administratif sesuai pasal 65 atau pasal 66 UUBI tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia menilai, pasal 244 KUHP masih lemah karena hanya terdapat ancaman hukuman maksimal saja. Artinya, tersangka dapat juga dituntut dengan hukuman yang paling minimal, misal satu tahun. Tidak adanya ancaman hukuman minimal ini merupakan celah yang dapat dimainkan baik oleh penasihat hukum mereka maupun aparat penegak hukum agar tersangka uang palsu mendapat vonis serendah mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan lainnya, terdapat rumusan unsur subjektif  “dengan maksud untuk diedarkan atau menyuruh edarkan ”. Yang menjadi persoalan adalah bagaimanakah jika seseorang tersebut belum sempat mengedarkan atau membuat uang palsu hanya untuk koleksi? Perbuatan memalsukan uang telah dilakukan, namun tidak diedarkan atau belum diedarkan atau hanya untuk dikoleksi sehingga unsur subjektif tidak terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang dinilai Goenawan Wanaradja menjadi kendala, sehingga tidak sedikit tersangka yang menjadi ahli atau percetakan pemalsuan uang sulit dijerat dengan pasal ini dan akhirnya dilarikan pada pasal 250 KUHP yang ancaman pidananya maksimal enam tahun penjara, jika barang bukti lain berupa bahan dan peralatan untuk memalsukan uang tersebut ditemukan di tempat kejadian perkara.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-1613742069330124899?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/1613742069330124899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=1613742069330124899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1613742069330124899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/1613742069330124899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/09/uang-palsu.html' title='Uang Palsu'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/TIWpINvpAOI/AAAAAAAAAVg/Nm49pLQga74/s72-c/uang_palsu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-8399920488778280218</id><published>2010-09-03T21:10:00.000-07:00</published><updated>2010-09-03T21:11:56.362-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Politik Tabir Asap</title><content type='html'>Asap akan mengaburkan orang di baliknya. Begitu juga politik di balik tabir asap, menyembunyikan kehendak untuk kehendak yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabir asap mulai menyelimuti iklim perpolitikan di Aceh. Ada yang terang-terangan yang ingin maju sebagai calon gubernur Aceh ke depan, ada juga yang berlindung di baliknya. Tabir asap merupakan upaya yang sering dilakukan oleh politisi dalam menyamarkan keinginannya demi tujuan politik. Ia akan terus menyembunyikan niatnya sampai menemukan momen yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Dan saat itulah lawan politiknya akan kaget karena tidak menyadari tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Aceh sudah mulai menyiapkan beberapa nama untuk calon gubernur Aceh periode mendatang. Pesan singkat berantai beredar dari telpon seluler tentang calon-calon tersebut, meski ketika dikonfirmasikan kepada petinggi partai tersebut mereka lebih memilih diam. Ada tabir asap yang coba dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Nama-nama yang mencuat dari Partai Aceh antara lain, Meuntroe Malek Mahmud sebagai calon Gubernur didampingi tiga calon wakilnya, Dr Zaini Abdullah, Muzakir Manaf, Kamaruddin alias Abu Razak. Selain tiga nama itu mencuat juga nama Humam Hamid sebagai calon wakil gubernur mendampingi Malek Mahmud. Keempat nama itu kini masih dalam penggodokan Partai Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Demokrat juga akan memajukan calonnya. Beberapa nama yang sudah masuk daftar di antaranya:  Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, Teuku Rafli Pasya serta salah seorang anggota DPR RI asal Aceh. Namun dari nama-nama yang masuk daftar calon itu, bukan tidak mungkin mereka akan maju sendiri melalui jalur indepeden bila masih dimungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, dalam masa yang tinggal beberapa bulan lagi menuju pertarungan perebutan kekuasaan, politik penggiringan dan pembentukan opini untuk mengaburkan pemahaman lawan terhadap langkah politik masing-masing partai dan kandidat mulai dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, calon yang tidak memiliki kenderaan politik, mencoba peruntungan melalui jalur independen, meski sampai sekarang belum jelas masih bisa atau tidak calon independen maju pada pemilihan gubernur yang akan datang. Hanya sedikit calon yang mencoba memperjuangkan kran ini, meski pasal 256 Undang-undang Pemerintahah Aceh (UUPA) membatasi calon independen maju dalam Pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon lainnya lebih memilih menunggu. Andai nanti jalur independen masih diperbolehkan, mereka tinggal menaiki perahu tersebut. Perahu yang kini diperjuangkan oleh orang lain, yang kelak akan mereka hadapi di pemilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik menunggu di balik tabir asap seperti ini, sering dilakukan untuk menikmati sesuatu yang telah diperjuangkan lawan. Dalam hal ini memanfaatkan logistik lawan sebelum pertarungan sesungguhnya merupakan sebuah trik tersendiri. Mereka tinggal berjalan di koridor ketika calon lain kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang politisi yang mendambakan kekuasaan, ia akan menyamarkan niatnya melalui tabir asap, karena dalam politik tipuan sering menjadi strategi mengelabui lawan. Tabir asap dibutuhkan untuk mengaburkan perhatian lawan. Jadi, mengutip kata Balcha dari Sidamo, jangan sepelekan kekuatan Tafari, ia merangkak seperti seekor tikus, tetapi memiliki rahang seperti seekor singa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam The 48 Power of law, Robert Greene mengatakan, semaki kelabu dan suram tabir asap yang diaminkan seorang politisi, semakin baik untuk menyembunyikan niatnya. Bentuk tabir asap yang paling sempurna adalah ekspresi wajah. Di balik kedok yang membosankan dan tak bisa dibaca, berbagai langkah politik bisa dilakukan tanpa terdeteksi lawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik di balik tabir asap juga tak ubahnya pemain poker. Selagi memainkan kartunya, pemain poker yang baik jarang menjadi seorang aktor. Sebaliknya, ia memperlihatkan sikap yang membosankan untuk meminimalkan pola yang bisa dibaca lawan, membuat lawan frustasi dan bingung, sementara ia sendiri bisa berkonsentrai lebih besar terhadap langkah yang akan diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greene mencontohkan apa yang pernah diungkapkan Ninon de Lenclos, 1623 – 1706). Katanya, seorang jenderal yang cekatan tidak akan pernah mengumumkan niatnya kepada musuh untuk menyerang suatu benteng. Sembunyikan tujuan Anda, jangan ungkapkan rincian tujuan Anda hingga rencana itu tak bisa dibendung. Raihlah kemenangan sebelum Anda menyatakan perang. Dengan kata lain, tirulah orang-orang yang gemar berperang, yang rencananya tidak diketahui, kecuali oleh daerah yang luluh lantak yang telah mereka lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik tabir asap juga sering dilakoni oleh penguasa yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Untuk melanggengkan kekuasaannya, ia melakukan berbagai hal yang seolah-olah itu dilakukan oleh orang lain. Ketika itu menjadi masalah, ia akan turun tangan untuk menyelesaikannya, untuk menambah reputasinya. Dalam hal ini kadang-kadang konflik kekuasaan diciptakan sendiri oleh penguasa untuk menunjukkan nilai kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah politik seperti ini disebut  Niccolo Machiavelli (1469 – 1527) sebagai langkah pangeran bijak menciptakan musuh. Katanya, ada  banyak orang yang beranggapan bahwa seorang pangeran yang bijak jika ada kesempatan seharusnya memicu permusuhan yang cerdik, supaya dengan meredamnya, ia akan memperbesar kehebatannya. Para pangeran, terutama para pangeran baru, menemukan lebih banyak kepercayaan dan keuntungan dalam diri orang-orang seperti ini, yang pada permulaan kekuasaan mereka dianggap mencurigakan, ketimbang dalam diri orang yang mula-mula mereka jadikan orang kepercayaan. Pandolfo Petrucci, pangeran  Siena memerintah daerahnya dengan lebih banyak orang yang ia curigai, ketimbang dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Greene menyarankan jangan mainkan tabir asap bila repitasi politik Anda sudah tidak baik. Sebagus apapun penyamaran penapilan politik Anda lakukan, tak akan mampu mempengaruhi orang lain, ketika kesan tidak baik sudah melekat dengan diri Anda, korupsi atau diktator misalnya. Pesannya, tabir asap yang menghebohkan sebaiknya dipergunakan dengan hati-hati pada waktu dan tempat yang tepat. Kita lihat saja nanti siapa yang akan keluar dari balik tabir asap untuk menjadi orang nomor satu di Aceh.[]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6523889803269020267-8399920488778280218?l=iskandarnorman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/feeds/8399920488778280218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6523889803269020267&amp;postID=8399920488778280218' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8399920488778280218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6523889803269020267/posts/default/8399920488778280218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iskandarnorman.blogspot.com/2010/09/politik-tabir-asap.html' title='Politik Tabir Asap'/><author><name>Iskandar Norman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09617511813350486039</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pC-0UT8PzyM/SLGKm_zvZII/AAAAAAAAAEU/DfdQ3Rz-dFA/S220/Juli+2006.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6523889803269020267.post-7789445287849615404</id><published>2010-09-01T21:18:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T21:19:08.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Sumpah Kerajaan Aceh3 (8)</title><content type='html'>Cucuku Keumalahayati, Untuk menghadapi ancaman Belanda yang kian nyata menyerang kedaulatan Aceh, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah bersama kabinet perangnya terus mengadakan berbagai persiapan untuk menghadapi kemungkinan penyerangan Belanda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan mengemukakan ancaman Belanda tersebut kepada Majelis Mahkamah Rakyat yang beranggotakan 73 orang wakil rakyat. Hal ini sebagaimana tersirat dalam Kanun Meukuta Alam halaman 90-91, naskah lama bertulis tangan dengan huruf Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dokumen lama kerajaan Aceh disebutkan, ketika pada masa-masa tegang menghadapi ancaman Belanda, Pada Jumat 30 Zulhijjah 1289 Hijriah (1872 Masehi) Kerajaan Aceh kembali menggelar sidang istimewa di dalam Mesjid Baiturrahman Bandar Aceh Darussalam. Sidang istimewa itu disebut sebagai sidang istimewa Balai Majelis Mahkamah Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang itu disampaikan khutbah kerajaan yang dibacakan oleh Said Abdullah Teungku Di Meulek dalam kedudukannya sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Kerajaan) dan sebagai Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh dengan pangkat Letnan Jendral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sidang istimewa itu selain dihadiri oleh 73 orang anggota Balai majelis Mahkamah Rakyat juga diundang para uleebalang, para ulama, pimpinan rakyat dan para perwira angkatan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah kerajaan yang dibacakan 
